Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Janggal


__ADS_3

Aleris akhirnya bertemu dengan leon, ia menunggang kuda miliknya menuju ke kerajaan, sebenarnya menunggang kuda membuatnya trauma karena kejadian satu tahun lalu, ketika ia menjalani tugas bersama kudanya, lalu ia kecelakaan membuat kudanya jatuh bersama dengannya, hal itu membuatnya sedikit trauma, tapi dengan terpaksa ia harus mengendarai kuda lagi kali ini menuju ke kerajaan.


Dengan semangat yang membawa aleris membuka pintu, di masuk ke sebuah ruangan, dimana leon sudah duduk manis di ruangan itu, bersama dengan burung gagak di pundaknya, ia masih sibuk bermain dengan burung itu.


"Akhirnya setelah bulan purnama seratus tahun kita bertemu" ucap aleris seraya duduk didepan leon.


Leon hanya terseyum jahat, "Telat satu menit..."


"Tidak mempengaruhi hidupmu bukan?"


"Kenapa kau membunuh para prajuritku?" ucapnya seraya melepaskan burung gagak itu.


Postur mengerikan tubuh leon tidak membuat aleris ketakutan, matanya yang tertutup seperti bajak laut, rambut panjang dengan ikat tali melingkar didahinya, tidak lupa kumis yang selalu menempel dibawah hidungnya, lawak tubuhnya dan gaya bajunya seperti bajak laut Jack sparrow difilm Pirates of the Caribbean.


"Kau memaksaku untuk datang kesini hari ini untuk pertanyaan bodoh ini?" aleris melangkah kedepan wajah leon, mata leon masih melotot dihadapan aleris.


"Bodoh?"


"Kau mengirimkan para prajurit yang gila jabatan tanpa tidak paham soal sikap asli prajurit...."


Leon tertawa membuat suaranya memenuhi ruangan itu.


"Aku tidak peduli dengan kuat atau hebatnya para prajurit itu, aku mengirimkannya untuk menjaga istanamu bodoh dan memata-matai!!!" teriaknya seraya melangkah dekat dengan wajah aleris.


"Ha?"


"Apa?" aleris melanjutkan.


"Dikerajaan ini ada banyak rahasia yang aku sendiri saja bahkan tidak tahu, karena rahasia tersembunyi ini aku mengirimkan para prajurit abal-abal bodoh" leon lalu membelakangi aleris, wajah aleris masih terlihat kebingungan.


"Rahasia?"


"Kau tahu mengapa banyak orang-orang tersesat dinegeri ini?"


Aleris lalu duduk dengan wajahnya yang terlihat sangat penasaraan.


"Aku ingin kau memcari tahu juga, selama ini aku menjadi mata-mata disini, jangan salahkan aku jika aku tidak bisa bertemu dengan kau sesering ini"


Dengan apa yang diucapkan leon membuat aleris berpikir, siapa dalang dari semua permasalahan ini.


Aleris lalu beranjak, ia membuka pintu dengan keras.


"Mau kemana kau!!!" leon menghentikan langkah aleris, ia menghalangi jalan aleris.


"Mau kemana kau?"


"Kau berlagak seperti mata-mata tapi kau tidak bisa bekerja seperti mata-mata, kau hanya bisa menyuruh prajurit untuk memata-matai?"


Leon tertawa seraya memutar bola matanya, "Kau tidak tahu kenapa mataku bisa buta?"


Aleris mengerutkan dahi.


"Karena rasa penasaraanku, aku berusaha untuk mencari tahu, tapi mereka menyiksaku dan membuatku seperti ini"


Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sedang menuju kearah aleris dan leon, datanglah seseorang seraya membawa para prajuritnya dibelakangnya, ia berhenti seraya menatap aleris.


"Sudah lama kita tidak bertemu?" ucapnya.


Sebuah mahkota silver dikepalanya, dan pakaian resmi kerajaan, tampilannya kasual, ia memilik jenggot putih, dan tubuhnya yang besar dan tinggi.


Aleris dan leon dengan siggap, menunduk kepala tanda menghormati.


"Aku baru saja datang kesini beberapa jam yang lalu paman..." jawabnya.


Ia adalah penguasa lokal atau datuk, namanya adalah Mahagaskar, ia sudah lama bekerja di kerajaan ini, sebelum aleris lahir kedunia.


Mahagaskar menatap tajam leon, berharap leon pergi dari hadapanya, tanpa sepatah kata, leon menyadarinya.


"Jangan kau macam-macam dikerajaan ini sekarang, sat kau kecil sampai dewasa perbedaannya seratus persen ingat itu" ucap leon seraya beranjak pergi.


Prajurit itu juga ikut pergi karena perintah mahagaskar, lalu ia berjalan bersama aleris berbincang-bincang ki koridor kerajaan.


"Terakhir aku melihatmu ketika umur lima belas tahu ketika, kakakmu leon membuat kisruh dikerajaan, kau sempat datang kesini karena mewakili keluarganya.


Aleris tersenyum paksa.


"Bagaimana dengan pekerjaan barumu?" mahagaskar merangkul pundak aleris.


"Seperti yang paman bayangkan, susah menjadi orang berkuasa disebuah kerajaan"


Mahagaskar tertawa hingga memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


"Paman dimana Bravogar?" aleris mengalihkan perbincangan.


Mahagaskar menghentikan langkahnya, ia lalu menghadap kewajah aleris.


"Kau lupa?"


"Karena kecerobohannya sendiri, ia mati ditangan Putra Mahkota.." lanjutnya.


Bravogar adalah manusia kerdil yang buruk rupa, tugasnya adalah menyebarkan undangan kerajaan, dan sepanjang hidupnya ia menjaga sebuah tempat, dimana tempat itu adalah tempat persembunyian bravogar, ia berkhianat dan akhirnya mati ditangan Putra Mahkota, Pangeran Arvand.


"Sudah lama aku tidak mengunjungi kerajaan ini lho pamannnn aku tidak tahu" jawabnya.


Mahagaskar memukul kepalanya, karena ia lupa seorang aleris tidak pernah menginjaknya kakinya disini setelah ia diangkat menjadi Penjabat Istananya dengan mendirikan istananya sendiri.


"Belum lama ini...."


Aleris kaget, ia membuka matanya lebar.


"Apa yang membuatnya begitu?"


Mahagaskar tidak menjawabnya, ia hanya menunduk, "Kau ingin mengunjungi makamnya?


Aleris mengikuti langkah mahagaskar, hingga mereka berhenti disebuah makan dibelakang kerajaan.


Aleris duduk dan menyetuh nisan, "Sudah lama tidak bertemu" aleris tersenyum tipis.


"Aku tidak tahu dengan jelas al, yang ku tahu selama ini yang mengumpulkan bukti kejahatan Raja Gevarnest" ucap mahagaskar.


Aleris terdiam, ia kaget dengan apa yang dikatakan mahagaskar, seperti ada yang janggal.


"Kenapa harus dibunuh? jadi benar banyak kejahatan sang raja? karena sang raja takut itu terbukti benar jadi ia membunuhnya?"


Mahagaskar menarik nafasnya, "Justru membunuhnya karena penghianatan itu al, kau....."


"Jelaskan padaku paman" aleris memotong perkataan mahagaskar, ia berdiri dan menatap mahagaskar seraya wajahnya yang terlihat marah.


"Apa yang disembunyikan dari kerajaan ini?"


Mahagaskar terlihat bingung, ia balik bertanya, pertanyaan itu tidak masuk di otaknya.


"Kau jelas tahu tentang orang-orang asing tersesat dan datang kedunia kita?"


Aleris berkali-kali menanyakan tentang persoalan ini, namun mahagaskar tetap menjawab tidak tahu, sampai ia bersumpah demi raja gevarnest.


Aleris menyetuh kepalanya, seketika kepalanya sakit, hal semacam ini tidak cocok untuk dicari tahu oleh aleris, ini bukan pekerjaannya, ia lalu beranjak pergi meninggalkan mahagaskar.


"Seperti waktu kau kecil kau selalu lupa menunduk kepada orang yang lebih tua ketika pergi..." ucap mahagaskar.


Leon masih terlihat berjalan dengan bolak-balik ia kawatir aleris membahas tentang persoalan yang ia katakan dengan aleris waktu itu, ia memukul-mukul kepalanya.


Sejak kecil kebiasaanya saat terlihat panik adalah memukul kepalanya, baginya itu adalah gerakan refleks, dan ia tidak merasakan sakit, leon melihat aleris keluar dari sebuah pintu dikerajaan, wajahnya terlihat marah, ia berjalan menuju kudanya yang ia letakan disebuah pohon.


Leon berteriak memanggil aleris namun aleris terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun, lalu leon berlari ke arahnya.


"Apa yang terjadi bodoh!!!!" leon menghentikan langkah aleris, aleris menepis tangan leon yang sempat menghentikan tubuhnya untuk berhenti.


"Kenapa?"


"Kenapa?" ucap leon terlihat kebingungan.


"Minggir aku ingin pulang..." aleris menggeser tubuh leon dengan kasar.


"Kau tidak memberitahu paman kan kalau aku mata-mata disini?"


Aleris berhenti setelah sempat melangkah beberapa detik, "Jika aku memberitahu, nasibmu akan seperti bravogar?"


Leon menyipitkan matanya tanda ia seperti tahu apa yang mahagaskar lakukan kepada anak itu.


"Kau tidak bertanya kepada ku kenapa ia mati?" leon tersenyun miring.


Aleris menghiraukan pertanyaan itu, ia lalu naik ke pundak kuda, "Karena kau akan menambah-nambahkan penjelasanmu itu"


Tanpa berpamitan ia pergi begitu saja menunggangi kudanya, leon masih menatap aleris yang sudah jauh dari hadapanya, dipikira leon, leon tahu mengapa anak itu terlihat marah, pasti mahagaskar memberitahu tentang kematian bravogar.


Leon lalu membalikan badannya untuk masuk ke kerajaan namun, mahagaskar berdiri dibelakangnya dengan menatap kosong didepannya.


"Paman?" ucap leon kaget, dan dengan cepat ia menundukkan kepala.


"Berapa umurnya?" tanyanya.


"Aleris? emm dua satu tahun paman" ucapnya seraya masih dengan posisi menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Kau?" mahagaskar menatap leon dengan tatapan sadis.


Batin leon, kenapa mahagaskar selalu terlihat ketus jika bertemu dengannya atau berbicara dengannya.


"Aku dua tujuh paman"


Lalu tanpa merasa bersalah mahagaskar meninggalkannya tanpa berpamitan, leon yang masih menunduk tanpa sadar kehilangan sosoknya didepan, ia mengumpat beberapa kali, memang ia dan mahagaskar tidak pernah akur, selain malas bertemu dan berbicara dengannya, leon sering mendoakan agar mahagaskar mati ditangannya, namun entahlah ketika ada kesempatan ia selalu merasa takut untuk menyerangnya.


Dihutan aleris masih menunggangi kuda dengan wajahnya yang marah, tidak habis pikir, setelah dia pergi dari kerajaan itu hampir enam tahunan banyak kejanggalan yang terjadi, sering ia datang kekerajaan itu, namun ia tidak pernah menetap setelah hampir enam tahun.


Ia masih memikirkan tentang apa yang ia dengar dari mahagaskar, matinya seorang mata-mata yang sudah dekat dengan aleris sejak dulu, kenapa ia tidak mendengar kabar itu? bukankah seharusnya ia mendapatkan kabar begitu dia dibunuh?


Aleris meneteskan air matanya, ia tidak bisa membendung emosi dan tangisanya dihatinya, dipikirannya bertanya apa yang dikhianatinya hingga nyawa menjadi taruhanya, ia mempercepat kudanya agar segera sampai diistananya.


Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang harus ia tanya kepada mahagaskar disana, namun seperti yang dikatakan leon, bahkan pertayaan itu akan cuma-cuma, semuanya seolah tuli dan tidak tahu apa-apa apakah mereka pantas memiliki kekuasaan itu.


Saat kecil dulu aleris sering menangis karena teringat mendiang kedua orang tuanya, ia sering merengek kepala leon, namun leon selalu memukul-mukul kepalanya jika aleris menangis, membuatnya semakin takut, hal itu membuat bravogar tidak tega melihat nasibnya dengan leon, yang menemaninya saat nerasa sedih adalah bravogar walaupun ia jarang menemaninya tapi yang selalu melakukan itu adalah dia.


Aleris sempat menangis ketika bravogar keluar kerajaan, dan banyak komentar negatif yang ia dengar dari warga, tapi yang ia lakukan hanya tersenyum, katanya ia tidak pernah membenci mereka.


Setelah beranjak dewasa aleris tidak pernah tahu keberadaan bravogar, karena ia sudah ditugaskan disuatu tempat, dan aleris juga sudah mendapatkan jabatanya.


Sejak saat itu, aleris hanya bertegur sapa ketika ia mampir kekerajaan dan melihat bravogar yang masih sibuk karena pekerjaanya, ia sempat menghelan nafas karena ia masih bisa melihat bravogar.


Aleris menjatuhkan tubuhnya ketanah, membuat kudanya menjerit, ia memejamkan matanya seraya menangis, ia berteriak, semua seolah bungkam dan tuli tidak ada satu pun orang yang bisa diajak bekerja sama.


Aleris berdiri ia berjalan kearah depan, ia bisa melihat pemandangan dan rumah-rumah rakyat dari kerajaan, pemandangan itu membuat hatinya tenang walaupun hanya sementara.


Sekarang yang harus aleris lakukan adalah mendapatkan informasi tentang kejanggalan ini, walaupun butuh waktu yang lama, tapi ia tidak akan pernah mengubur semangat ini, semangat untuk membela kebenaran.


Kesalahan dan kejahatan tidaklah pantas berdiri dipuncak, semuanya akan ia korek, walaupun semua orang-orang kerajaan menganggapnya aneh, ia tidak akan mati ditangan orang-orang tinggi.


Ketegasan ini berbeda dengan kakaknya leon yang sibuk menganggur dan mencari tahu sesuatu walaupun tidak ada hasilnya, sudah sejak dulu kelakuan leon ini berbanding terbalik dengan aleris, leon yang tidak pernah peduli dengan dirinya sendiri apa lagi dengan orang lain, ia hanya sibuk dengan pekerjaannya yang tidak ada hasilnya.


"Aaaaaaaaaahhhhh!!!!!" aleris berteriak.


Aleris kembali keistananya tanpa kudanya, kudanya lari ketika ia menjatuhkan dirinya, dan entah kuda itu lari kemana.


"Kuda sialan" gerutunya.


Lidra yang masih berjalan santai dikoridor melihat aleris yang berjalan kepanasan, lalu lidra berlari kearah aleris.


"Tuann.... apa yang kau lakukan? bukankah kau tadi pergi dengan menunggangi kuda? kenapa sekarang kau berjalan?"


Aleris menyipitkan matanya karena kepanasan, "Tidak bisahkan kau tanya pas aku sudah merasa baik?"


"Oh iya tuan mari aku bantu" lidra membantu aleris masuk.


Aleris duduk dikursi kamarnya, ia membuka bajunya dan beberapa peri mengipasi tubuhnya yang banyak keringat karena kepanasaan, lidra mengambil secangkir minuman untuk aleris.


"Dimana malucia?" tanya aleris.


"Tadi dia jalan-jalan sebentar ketaman bunga tuan....."


"Aku sudah kembali......" ucap malucia diambang pintu.


Ia kaget setelah melihat apa yang didepanya, sebuah roti sobek dan keringat yang menyatu menjadi satu disana, matanya melotot.


Dengan perasaan malu, aleris langsung menutup tubuh bidangnya dengan kain, ia langsung menyuruh lidra dan beberapa para peri itu untuk pergi, malucia masih dengan gaya mematungnya dipintu.


"Kenapa kau mencopot bajumu?" tanya malucia.


"Emmm aaaakuu kepanasan" ucap aleris canggung.


Malucia mendekat dan tertawa, "Sejak kapan kau memiliki tubuh bagus seperti itu" tanyanya.


Seperti nada yang mengejek aleris menjawab, "Aku olahraga!"


Malucia memiringkan mulutnya, "Kau satu-satunya anak buahku yang berani seperti ini, kalau bukan kau sudah aku bunuh..." aleris berdiri seraya merapikan kain bajunya.


Aleris lalu beranjak untuk mengambil cangkir gelasnya, kain bajunya yang belum rapi dan masih menglawer kebawah terinjak oleh malucia yang sempat ingin melangkah kedepan, karena hal itu kain itu lalu terjatuh dan membuat dada bidang aleris terlihat lagi.


Posisi wajah malucia persis didepan dada bidang aleris, matanya melotot melihat apa yang ada didepannya, aleris masih terdiam mematung ia kembali merasaakan malu yang luar biasa.


Mereka berdua masih mematung, dan keheningan datang tiba-tiba, "Bisakah kau mundur" ucap aleris.


Dengan cepat malucia mundur seraya pipinya yang terlihat merah.


Aleris tertawa, "Kau belum pernah melihat perut yang berotot seperti ini?"


Malucia masih merasa malu, untuk berbicara lun rasanya tidak ada tenaganya.

__ADS_1


__ADS_2