
Mahagaskar menyuruh aleris untuk datang ke kerajaan majestic, aleris sempat menolak karena ia tidak akan peduli dengan urusan raja gila itu, namun mahagaskar tetap bersikeras meminta aleris datang, karena selamat ini suara dirinya dan leon tidak ada artinya dikerajaan itu.
"Tidak!!" teriak aleris.
Mahagasjar berdiri, "Jangan mentang-mentang kau sudah memiliki istana sendiri kau melupakan tempat lahirmu!!" sahut mahagaskar.
Seperti dugaan aleris ini akan menjadi tugasnya, karena ketegasan dan keberanian aleris terhadap raja, mahagaskar meminta aleris untuk menghentikan para prajurit itu sebelum terlambat, mahagaskar begitu menghargai setiap nyawa, dan seperti yang diceritakan leon, teluk alaska adalah neraka dimana disaat kau melangkah sekali, kau akan mati.
Mahagaskar awalnya tidak begitu percaya sebegitu mengerikannya teluk alaska, ia hanya beranggapan banyak monster besar dan itu bisa dibasmi oleh orang-orang seperti kita.
Ia sampai merasa stres ketika melihat orang-orang yang tidak menghargai setiap nyawa seseorang, traumanya kembali muncul.
"Lalu jika aku datang kesana dan memberitahu raja untuk menghentikan ini, apakah tetap akan didengar?" tanya aleris.
Mereka terdiam, lalu leon bersuara.
"Maksud paman, kau perlu jujur dengan apa yang kau temui juga"
Tidak ada waktu banyak, dengan rasa yang sedikit malas dan ragu-ragu ia tetap mengikuti perkataan mahagaskar dan leon untuk datang kekerajaan.
Malucia dan lidra tidak tahu siapa yang datang, karena mereka tidak punya hak untuk itu, tapi seperti dugaan malucia, ini ada hubungannya dengan makhluk aneh itu.
Satu prajurit datang dengan tergesa-gesa mengetuk pintu kamar raja, dengan kaget raja beranjak dan membuka pintu, prajurit itu mengatakan, hanya satu prajurit yang kembali dengan satu tanganya yang terpotong, prajurit itu menangis terdapat bantak darah ditubuhnya.
Raja gevarnest lalu beranjak turun menemui prajurit itu, ia kaget begitu banyak darah ditubuh prajurit itu, prajurit itu lalu bersujud.
"Maafkan saya tuan saya tidak bisa menyelamatkan para prajurit lainnya....dan saya tidak membawa sedikit pun informasi" ucapnya seraya menangis.
"Apa?" ucap raja.
"Karena saat pertama kali melintas ada banyak monster di daerah itu didasar laut aku yakin itu, teluk alaska dan lautannya menghitam.... memang terlihat biasa saja ketika pertama kali kami muncul, namun satu persatu para prajurit itu ditarik oleh seekor gurita besar didasar laut, saya selamat karena tentakel itu hanya mengenai tangan kiriku ini dan dengan spontan saya potong dengan pedang saya, lalu saya pergi begitu saja"
"Kau tidak mendapatkan infomasi?"
"Tidak tuan maafkan saya.... saya sangat menyesal"
Raja gevarnest memutar bola matanya, bahkan prajurit itu tidak bisa diperintah dengan benar.
Aleris datang dan meletakan kudanya ditempat parkir kuda kerajaan, ia lalu segera masuk ke kerajaan diikuti mahagaskar dan leon, dengan kasar aleris masuk dan mendobrak pintu, para prajurit yang berada diruangan itu menyodorkan pedang, namun ditahan oleh raja.
Diruangan itu sudah ada raja dan varegar disana, dengan berat hati, aleris sujud, dihadapan raja, varegar tertawa.
"Tidak salah lihat kau melakukan itu?" ucap varegar.
Aleris tidak mengubris, "Tuan.....gevarnest yang terhormat, tujuan saya kemari adalah meminta izin untuk membatalkan aksimu itu yang tidak masuk akal, saya mewakili semua orang yang menghargai setiap nyawa"
Raja tersenyum miring, "Kau rela sujud dihadapanku karena hal ini? bukankah kau selalu anti sujud seperti ini kepada orang yang lebih tinggi darimu"
Aleris menahan emosinya, ia menunduk.
"Tapi kali ini, aku mohon padamu untuk membatalkan aksi itu, sebelum terlambat, aku ingin menyusul mereka dan mengajak kembali"
Varegar tertawa terbahak-bahak memenuhi ruangan itu, ia melirik mahagaskar dan leon yang berdiri dibelakang aleris.
"Ternyata ada yang bocor sampai ke luar kerajaan ya?"
"Karena ini soal nyawa seseorang" sahut mahagaskar.
Raja gevarnest lalu mengisyaratkan varegar, varegar masuk kedalam sebuah ruangan, lalu ia kembali membawa kepala prajurit yang sudah dipenggal, mata mahagaskar dan leon membelalak melihat apa yang dibawa varegar, darahnya masih bereceran dilantai, ia membawa kepala prajurit tanpa beban, dan ia jatuhkan kehadapan aleris.
Aleris membelalak melihat apa yang dijatuhkan varegar dengan kasar didepannya, seorang kepala prajurit.
"Seperti ini kan menghargai nyawa orang?" ucap varegar.
Raja gevarnest turun, dan menendang kepala itu semakin mendekat kearah aleris, aleris masih terdiam dan menunduk.
"Kenapa kau lakukan itu bodoh!!!!" mahagaskar berlari menuju varegar dan menarik bajunya dengan kedua tangan.
Wajah varegar terlihat santai, lalu raja gevarnest menyahut.
__ADS_1
"Apakah aku tidak akan melakukan apa-apa ketika dia tidak mendapatkan informasi?"
Aleris masih bersujud terdiam menahan emosi, leon lalu mendekat.
"Apa yang dikatakannya tuan?"
"Teluk alaska berubah total...lautan menjadi hitam dan lebih banyak monster"
Leon melotot kaget, karena sebelumnya teluk alaska tidak seperti itu, leon mundur, ia tidak bisa lupa bagaimana monster itu menyerang dirinya, tidak bisa ia bayangkan bagaimana prajurit itu bisa selamat, ia mungkin bersyukur bisa selamat namun ia tidak pernah tahu jika kembali ia juga akan mati.
"Tuan....kenapa kau lakukan ini?" ucap mahagaskar.
"Karena ini salah satu caranya kan?"
Aleris berdiri dan berteriak, "Salah satu caranya? dan kau mendapatkan informasi kah dari mereka?"
"Tidak kadi kuputuskan ku penggal hidup-hidup kepalanya" ucapnya santai.
Aleris ingin berkata, namun dipotong oleh varegar.
"Hargai setiap nyawa" ucapnya seakan itu yang akan kelaur dari mulut aleris.
"Diam kau, kau tidak ada apa-apanya jika tidak ada raja" ucap aleris.
Tiba-tiba raja gevarnest menyerang aleris, menghantam wajahnya.
"Hanya karena seperti ini kau rela bersujud didepanku, itu artinya tidak sesuai dengan kemauanmu"
"Padahal aku sudah berusaha mencari tahu informasi, tapi kau masih menyalahkanku?"
"Ini semua juga untuk kebaikan bersama-sama, memang benar mahagaskar dan leon memberitahu info ini kepadamu bukan untuk berbeda pendapat denganku, jika berbeda denganku pergi ke teluk alaska itu, cari tahu sendiri!!!!!" teriak raja, lalu ua beranjak pergi, diikuti varegar.
Aleris masih terdiam mematung mantap kepala perajurit yang penuh darah dibawahnya, matanya menahan air mata, leon menepuk pundak aleris.
"Kita tidak salah"
"Benar kan? ia tidak akan mendengarkanku!!! apa bedanya aku dengan kalian?? aku rela sujud memberi salam dihadapan raja gila itu!!!!!!! ini tidak akan menjadi urusanku lagi!!!!!!" ucap aleris beranjak pergi.
Mahagaskar menghelan nafas panjang, ia mengangkat kepalanya, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ia selalu merasa kesakitan ketika melihat seseorang yang akan mati.
Ia bahkan tak kuat menatap kepala itu, bahkan masalah ini belum diselesaikan dengan baik, kenapa aleris sudah ingin mengakhiri saja.
Leon mendekat, "Paman ayo kembali ketempatmu"
Sampai detik ini juga, ia bahkan tidak tahu penyebab kematian kedua orang tuanya, diperjalan aleris tidak henti-hentinya meneteskan air mata, ia tidak ingin ikut campur urusan ini, karena ia tidak menghadapi luka lamanya lagi.
Leon masuk kedalam ruangan raja gevar, ia menceritakan bahwa makhluk itu juga muncul di istana aleris, dan tubuhnya sama persis dengan apa yang muncul disungai gon itu, raja gevar semakin yakin bahwa ini adalah salah satu rencana dari suku itu, seperti mereka ingin balas dendam.
Mahagaskar duduk termenung ditaman, rasanya ia tidak bisa lagi untuk tetap terdiam, perang dunia akan dimulai lagi, ia akan menghadapi nyawa berharga orang-orang, bahkan untuk saat ini mahagaskar tidak bisa memberitahu aleris, bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh raja gevarnest, dimana mereka adalah penghianat kerajaan, pola pikir mereka tidak bisa dengan mudah dicuci oleh raja gevarnest, lalu dengan mudahnya raja gevar menebas kepala orang tua aleris dan leon, leon mengetahuinya, ia menyaksikan kengerian itu, ia menangis seraya memukul-mukul kepalanya.
Bravogar memeluknya, mencoba menenagkannya, tapi pada akhrinya bravogar juga melakukan hal yang sama, penghianatan dan ia dibunuh, dimana untuk saat ini raja dan semuanya di kerajaan ini mencari buku, buku tentang kejahatan raja yang sebenarnya, yang dibuang oleh bravogar.
Raja gevarnest, mencari seorang yang pintar dalam masalah untuk mencari persoalan ini, namun selalu mendapatkan info yang nihil, ia akan tetap bersikap tenang, namun menghanyutkan.
Raja gevarnest duduk dengan marah, "Anak tidak tahu apa-apa seolah-olah ingin berkuasa"
"Tuan...tentang buku itu, aku sedang mencari seseorang yang pintar mengatasi ini"
"Kau masih percaya dengan orang-orang itu? mereka hanya menginginkan emas tapi tidak fokus mencarinya"
"Tapi kali ini aku yakin bisa...." sahut varegar.
"Gar.... cari dukun yang bisa menjelaskan tentang petunjuk gila ini....munculnya makhluk aneh....awalnya aku sempat ragu mengundang dukun, karena aku selalu tidak percaya namun kali ini aki tidak ingin kalah dari aleris!!" ucap raja gevarnest dengan geram.
Varegar mengangguk, lalu ia melangkah pergi namun dihentikan oleh raja gevarnest.
"Kau tahu? makhluk itu juga muncul di istana aleris"
Mata varegar terbelalak kaget, dimana membuat mereka yakin siapa yang melakukan ini dan apa tujuannya.
__ADS_1
"Karena aku ragu dengan jalan pikiranku, tetap panggil dukun itu kemari"
Disebuah taman bungan dibelakang kerajaan, ratu carlota membawa keranjang untuk tempat bunga yang ia petik, tiba-tiba pangeran arvand mendekat seraya matanya membendung air, ratu carlota mengerutkan dahi tanda bertanya-tanya.
"Kenapa kau diam saja? saat prajurit itu dipenggal kepalanya"
Ratu carlota menghentikan aktifitasnya, ia lalu menunduk.
"Aku tidak berhak ikut campur urusan ayahmu?"
"Apa? kau bisa memintanya untuk tidak melakukannya, kau tidak pernah tahu perasaanku dipaksa membunuh paman bravogar!!!!!!!!, kau tidak pernah tahu perasaanku!!!!!! bukan begitu caranya menghukum seseorang yang salah"
"Dan kau ingin kejahatan ayahmu terkuak?!?!?!?" teriak ratu carlota, dimana untuk pertama kali dalam hidupnya ia berteriak didepan anaknya.
Arvand kaget, ia meneteskan matanya.
"Ini sifat asli bunda? sama seperti dengan ayah? kau bisa berpikir tidak? untuk tidak membunuhnya tapi bisa kan dihukum saja?"
"Kenapa kau mau saja disuruh membunuh bravogar? ha?" ucap ratu carlota.
Arvand tertawa, baru pertama kali ia mendapati kelakuan ibunya, arvand mengangguk.
"Andai kau tahu perasaanku saat itu, andai kau mengerti dan menyuruhku mundur meletakan pedang ku tapi kau malah duduk mengelus-elus perutmu seaakan yang kau tatap didepanmu bukan manusia melainkan hewan!!!!!" teriak arvand, lalu tanpa basa-basi ratu carlota menampar wajah arvand.
"Hentikan omong kosongmu!!!!!!!!!!!!"teriak ratu carlota.
"Setiap kali aku selalu patuh terhadap kalian, tapi kenyataannya aku salah, aku selalu menyalahkan diriku sendiri setelah kematian paman bravogar, dan sekarang aku tahu alasanya, alasan yang masuk diakal" ucap pangeran arvand beranjak pergi.
Ratu carlota terdiam, ia memejamkan matanya, menghelan nafas, kenapa ia melakukan itu kepada arvand, kenapa emosinya keluar disat yang tidak tepat, ia menatap tangan kanannya, kenapa tangan ini menampar anaknya kenapa tangan ini melakukan hal itu, rasanya ia tidak bisa untuk melihat wajahnya lagi, wajah yang baru saja ia tampar.
Arvand masuk diam-diam kedalam ruangan ayahnya, ia menyembunyikan pedangnya dibelakang tubuhnya, ia mengendap-endap, ia masuk kedalam, ia bisa melihat ayahnya yang masih tertidur pulas, lalu dengan pelan ia menyodorkan pedangnya keleher sang raja, siap untuk menebasnya, namun dengan cepat raja terbangun dan menepis pedang itu dengan kakinya, hingga pedang itu tersungkur.
"Ada apa ini!!!!!!!!!!" teriak raja gevarnest.
Tangan arvand bergetar, matanya menahan tangis sekuat tenaga, ia tidak bisa menatap wajah ayahnya, raja gevarnest lalu memeggang wajah arvand dengan kedua tanganya, membuat arvand bisa menatap jelas wajahnya.
"Kenapa kau ingin membunuhku?"
Arvand menangis, rasanya ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kalau kau ingin membunuhku, apakah kau bisa mengurus pekerjaan ini"
Disaat seperti ini ia tidak pernah mengerti tentang perasaan anaknya, dan seperti dugaan arvand, yang akan ia keluarkan pertama dari mulutnya adalah 'mengurus pekerjaan ini'
"Ayah tahu jika aku sangat merasa bersalah harus membunuh oaman bravogar?"
Raja gevarnest menyipitkan matanya.
"Karena dirimu aku menjadi gila!!!!" arvand melepaskan kedua tangan ayahnya yang menyentuh wajahnya.
"Karena dirimu aku menyalahkan diriku sendiri!!!!!!!!"
"Apakah kau tahu dimana buku yang ditulis bravogar?"
Arvand berhenti, "Apa?"
"kenapa kau menyalah diri sendiri? karena kau tidak bisa menemukan buku itu kan?" ucap raja tersenyum ketus.
Raja gevarnest mendekat dan berbisik ke telinga arvand.
"Karena kejahatanku juga termasuk kejahatanmu juga" ucap raja gevarnest beranjak pergi.
Arvand lalu menjatuhkan tubuhnya, ia meneteskan air matanya, selama ini ia selalu salah mengira, ia selalu diancam, seakan semuanya juga kesalahannya.
Apakah ayahnya pantasi disebut seorang raja? bahkan rakyatnya mendambakan ayahnya, seakan setengah nyawanya untuk raja, apakah pantas ia disebut raja? dimana wajah tangguhnya itu menyimpan banyak kejahatan, apakah saat ini ia harus membunuhnya saja? tapi kenapa ia tidak bisa melakukan itu.
Ia berteriak, membuat suaranya memenuhi ruangan itu, kenapa tidak ada yang menghentikan dirinya saat itu, saat tanganya mulai memenggal kepala bravogar, kenapa mereka malah senang aku melakukan itu, kenapa ia tidak dihukum saja? kenapa harus arvand bunuh, kenapa arvand melakukan itu? pikirannya selalu menghantuinya, ia selalu merasa bersalah ketika mengingat itu.
Ia masih menangis diruangan itu, padahal bravogar adalah seseorang yang baik hati, ia tidak pernah melakukan kejahatan semasa hidupnya, apakah bisa ia menghidupkan kembali bravogar? dan membenarkan keadilan? rasanya ingin sekali ia melakukan itu, tapi sia-sia.
__ADS_1