Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Dua Wanita penganggung


__ADS_3

Randi tak henti-hentinya menggelogok bir yang ada didepannya bahkan ia sudah menengguk dua botol bir, ya walaupun seperti itu Randi belum merasakan mabuk. Hal itu membuat Vin dan Lidra menggeleng dengan aksi gila Randi.


Bahkan Lidra berusaha untuk diam-diam tidak mengenali Randi. Tandi pun demikian ia sangat merasakan gugup hingga membuat ia menengguk bir banyak, entah karena pertemuan Vin dan Lidra secara bersamaan, atau karena isu yang beredar ia harus stay cool, atau bahkan ia merasakan canggung bertemu Lidra setelah ia melakukan hal terlarang bersamanya malam itu.


"Apakah temanmu selalu seperti ini?" tanya Lidra kepada Vin.


"Aku pikir iya, karena aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu" sahut Vin.


Ada banyak makanan didepan mereka, bahkan Lidra tak muat memasukan banyak-banyak kedalam perutnya setelah ia sarapan dipenginapan tersebut.


"Ah aku harus menjawab pertanyaanmu" sahut Vin.


"Isu yang beredar adalah tentang raja Gevar yang melakukan kerja sama dengan para iblis, dan anaknya yang baru saja lahir ia juga melakukan kerja sama dengan iblis, bahkan tentang manusia asing yang kemari juga ulah raja...."


Lidra terbelalak dan melirik sebentar kearah Randi.


"Aku tidak tahu apakah hal ini benar, tapi aku akan cari tahu disini..."


Tiba-tiba Randi meletakan botol bir dengan keras dimeja, membuat Lidra dan Vin kaget.


"Dari tadi kau diam kenapa?" ucap Lidra.


Randi menghelan nafas.


"Maaf, karena aku baru saja melihat peri sepertimu..." ucap Randi.


Vin tertawa.


"Kau tahu isu ini kah?" ucap Lidra, seraya menginjak kaki Randi dengan sengaja.


Randi menahan sakit lalu ia mengeluarkan suaranya.


"Tahu!"


"Baiklah apa yang akan kau lakukan habis ini?" tanya Vin.


Lidra dan Randi saling melirik.


"Aku akan kembali kepenginapan Vin, maaf aku tidak bisa menemanimu.." ucap Randi beranjak lalu meninggalkan Lidra dan Vin yang masih terduduk didepan restauran.


"Bagaimana bisa kalian kenal?" tanya Lidra.


"Aku kenal karena aku menyelamatkannya saat ia mampir ke restauranku, dia hampir babak belur karena ulah para preman..."


"Aku pikir kau juga salah satu darinya?"


Vin tersenyum.


"Baiklah makananku sudah habis, aku harus kembali ke tempat kerjaku, senang bisa berkenalan denganmu...." ucap Lidra.


Lalu Lidra beranjak pergi.


Didalam penginapan Randi ingin cepat-cepat masuk kedalam kamarnya, meletakan tas yang berisi topeng dan jubah penyamarannya. Ia membuang tas itu kebak kamar mandi menenggelamkannya begitu saja.


Randi menoleh, namun ia kaget saat Lidra sudah berdiri didepannya seraya melipat kedua tangan didadanya.


"Ini rencanamu?" ucap Lidra.


"Kenapa?" sahut Randi.


"Kau tidak bisa begini!!!!" pekik Lidra.


"Lalu bagaimana yang harus aku lakukan?"


"Ya lakukan hal yang baik tidak menyebar iau yang belum tentu, kau tahu siapa yang kau lawan?"


"Lalu? kau akan tetap membantuku?"


Lidra terdiam, ia memalingkan muka.


"Kembalilah keistana Aleris, kau akan menjadi pengganguku disini..." gumam Randi melewati Lidra begitu saja.


Ia menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur.


"Bukan begini caranya balas dendam" sahut Lidra.


"Maka! berikan info yang jelas kepadaku!!!!" teriak Randi membuat Lidra melangkah mundur.


Lidra menghelan nafas.


"Kenapa kau selalu seperti ini? kenapa kau tidak memikirkan konsenkuensinya? kenapa kau diam-diam seperti ini?"


"Lalu jika aku mengatakannya kau akan mengizinkanku? membantuku? tidak kan?" sahut Randi.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


Randi memejamkan matanya.


"Bukan urusanmu.." gumam Randi.


"Bukan urusanku? lalu apa yang kau katakan tadi malam?"


Randi menatap Lidra.


"Aku bukan orang yang spesial untukmu? lalu kenapa kau menciumku dan meniduriku? seakan kau menyukaiku?"


Randi menghelan nafasnya, lalu ia membenarkan posisi duduknya.


"Ini tidak ada urusannya dengan hal ini, entah aku menyukaimu atau tidak ini bukan masalahnya, kalau kau tidak ingin membantuku, kembali saja.."ucap Randi berpaling.


Lidra mengigit bibirnya.


"Aku menyukaimu..." ucap Lidra.


Dimana Randi langsung terkejut, bukankah Lidra adalah seseorang yang dingin dan keras hatinya, bagaimana bisa Lidra mengatakanya jika ia menyukai Randi.


"Aku benar menyukaimu...." ucap Lidra.


Hal itu membuat Randi terdiam membeku.


"Memang benar aku menyukaimu...."

__ADS_1


Randi berusaha untuk menggerakan tubuhnya, ia berdiri dan melanglah dengan cepat menuju kearah Lidra, lalu spontan Randi menciumnya.


"Kau?"


Randi hanya tersenyum.


"Aku adalah orang yang tidak masalah kau akan membantuku atau tidak..."


Lidra menundukan kepalanya.


"Iya aku tahu, kau tidak akan membantu maka kembalilah..."


Spontan Lidra memeggang baju Randi.


"Aku takut...."


Randi memiringkan kepalanya tanda kebingungan.


"Aku takut kau akan bersamanya"


"Vin?"


Randi tertawa.


"Kau kenapa?" tanya Randi meledek.


"Ya aku cemburu..."


Walaupun secara langsung Randi tidak membalas perkataan Lidra bahkan ia juga mencintainya, tapi Lidra tahu Randi juga menyukainya tapi akan sulit untuk mengatakan secara langsung.


Untuk kembali ke istana Aleris saja, Lidra sangat khawatir tentang Vin dan Randi dan tentang rencana yang Randi lakukan lagi. Ia juga harus patuh kepada Aleris menjaga Randi hingga perasaannya juga ikut menjaga Randi.


"Apa yang Aleris lakukan dikerajaan sana, kau tahu kan?" tanya Randi.


Lidra mengangguk.


"Dia sangat benci dengan raja dan benci jika harus masuk kedalam kerajaan, entah ia kerasukan apa hingga ia harus kembali kekerajaan itu..."


Randi mengangguk.


"Apa yang akan kau lakukan jika Vin datang lagi?"


Randi menatap Lidra disampingnya.


"Ya apa? kan dia teman baruku aku harus menyambutnya...."


Lidra mengangguk.


"Aku sangat cemburu jika kau banyak yang tahu tentangmu, banyak wanita yang menginginkanmu, jika kau tiba-tiba terkenal..."


Randi hanya tertawa.


Hari ini ia akan membeli sebuah baju disebuah toko didepan penginapan. Ia juga harus menyetok beberapa baju kedepan bukan? karena hari ini dan seterusnya ia akan tinggal disini, ya walaupaun entah kapan Gilang akan menyusulnya disini.


Saat perjalanannya menuju toko baju, ia melihat Vin yang menatap Randi jauh disana, ia melambaikan tangannya, dan berlari mendekat.


"Kau menginap dipenginapan ini?" ucap Vin.


Entah Vin sangat menganggu Randi, memang Vin adalah tipe anak yang periang, tapi sangking periangnya justru membuat Randi merasa terganggu, karena setiap ia melangkah ia mendapati Vin.


"Kau kenapa kemari? kau tidak pulang?"


"Aku sudah mencari tahu, dan hei memang benar, tapi aku pulang saat ada rombongan orang-orang datang ke pusat kota"


Randi menghentikan tangannya saat memilah baju, ia menatap Vin.


"Kenapa kau malah kesini?"


"Dipusat kota memang kerap ada rapat kan?"


Randi memutar bola matanya.


"Gayamu swag tapi tidak dengan isi otakmu!" ucap Randi beranjak pergi diikuti Vin.


Dipusat kota sudah ada beberapa para prajurit disana, sama seperti yang Randi lihat malam itu, dimana mereka memiliki stempel pedang dileher, disana juga ada banyak warga yang berkumpul.


"Raja?" bisiknya.


Ia bisa melihat ada seseorang berpakaian berbeda dengan orang-orang disekitar pakaianya sangat mewah, Randi yakin itu adalah Raja. Ia berjalan dan berdiri diatas panggung.


Ah mau mengklarifikasi tentang isu ini ya? ah ternyata sudah sampai ditelingamu?


Randi menatap tajam dua orang yang berdiri diatas panggung, rra tersebut berbisik kepada orang disampingnya, Randi yakin ada sekenario yang dibuat-buat oleh mereka.


Disamping kiri-kanan Randi dan Vin banyak warga yang beranggapan bahwa argumen yang akan diucapkan raja adalah mengada-ada, dimana hal itu diperjelas dikejadian kemarin malam.


Raja itu melontarkan argumennya, namun banyak para warga yang tidak langsung mempercayainya, mereka berani menepis argumentasi raja.


"Kau percaya?" ucap warga didepan Randi.


Temannya menggeleng, "Lihat kejadian tadi malam kan? kau pikir kita akan percaya dengan omonganmu!" sahut mereka.


Randi yang menyadari perbincangan dua orang yang didepannya, mereka sama juga, memang ini ada yang janggal. Walaupun Randi tidak hadir, tapi argumentasi itu sangat tidak logika baginya.


Vin menghelan nafas. Randi pun menoleh.


"Kau percaya?" tanya Vin.


Randi menatap Vin dengan tatapan tajam, lalu ia kembali menatap raja yang masih sibuk dengan argumentasinya.


Lalu Randi mengangguk.


Tiba-tiba ekor mata Randi melihat disela perumahan, seseorang yang siap untuk berjalan menuju kesebuah panggung, dan tak lama kemudian raja menyinggung orang tersebut, dimana itu adalah korban yang menjadi isu besar di kota Majestic.


Orang tersebut, naik keatas panggung tidak lupa ia menudukan kepalanya kepada raja dan satu orang yang menemani raja. Yang membuat Randi aneh ketika melihat mereka, orang tersebut menatap takut kearah orang yang ada dibelakang raja, ia hanya membalas dengan bisikan yang bahkan Randi tidak tahu apa bisikan itu.


Orang tersebut siap melontarkan penjelasaannya, tak lama semua orang dibuat heboh ketika apa yang dikatakan orang tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiran warga.


Raja menambahi jika kejadian tadi malam adalah suatu efek energi yang terbentur didalam kerajaan, karena sesungguhnya ada banyak kekuatan dan energi yang sedang mereka kerjakan.


"Kalian tidak tahu apa yang terjadi didalam kerajaan!" pekik raja.

__ADS_1


Ada banyak warga yang memberanikan diri untuk mengusulkan pendapat atau melontarkan kalimat ketidak percayaan mereka.


"Bagaimana bisa? orang itu dibayar berapa berani berbicara yang bukan faktanya?" ucap wanita tua disamping Randi berdiri.


Randi tidak sengaja mendengarkannya.


Ucapan itu disahut oleh bapak tua.


"Aku percaya, kau tidak mempercayai raja? berarti kau bukan warga Majestic!"


Setelah penjelasan korban tersebut, suasana semakin gaduh, ada banyak warga yang percaya dan tidak dengan kejelasan itu.


Vin kaget setelah ada banyak adu argumentasi terhadap warga disekitarnya. Dengan spontan Randi menyentuh pundak Vin, agar tubuh mungilnya tidak terlempar kemana-mana karena kerusuhan tersebut.


Raja berteriak, menyuruh warga agar tetap tenang.


Vin melepaskan sentuhan Randi, karena ia merasa sangat gugup.


"Tidak, tidak apa-apa"


Randi tersenyum.


Tidak lama hanya selang beberapa menit, para prajurit itu membawa sebuah jasad yang tertutup kain. Tak butuh basa-basi mereka melempar jasad tersebut dihadapan para warga.


Para warga terkejut, dan menutup semua mulutnya saat jasad itu terlempar dan jatuh tepay dihadapan mereka, mereka semua berbisik dan bertanya-tanya apa makhluk itu.


Randi dan Vin yang ada dibaris belakang mencoba untuk maju kedepan, menyingkirkan beberapa warga yang menghalangi jalan mereka.


Randi melotot.


Kenapa? monster ini? apakah Aleris membawa monster ini kemari? kenapa ada disini?


Randi menatap raja.


Raja mengatakan jika apa yang terjadi tadi malam ada hubungannya dengan monster ini, ia juga menjelaskan asal-usulnya, dan beberapa warga menjadi sanksi, karena pada saat penemuan ini memang ada beberapa para petani yang mengetahuinya.


Ternyata, ada banyak monster yang seperti ini?


"Bagaimana? kalian ingin menyangkal lagi? kalian tidak tahu apa-apa..." sahut raja.


Bagaimana bisa? apakah Aleris bersengkongkol dengan raja gila itu? lalu bagaimana rencanaku selanjutnya?


Dijalan, Randi tidak henti-hentinya memikirkan rencananya, dan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Kau kenapa?" sahut Vin menyadarkan Randi.


Randi tersentak, lalu ia tersenyum.


"Tidak apa-apa aku hanya memikirkan apa yang terjadi tadi..."


"Kau pertama kali bertemu monster seperti itu kah" tanya Vin.


Randi hanya membalas dengan menggelengkan kepala. Vin tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan menatap Randi. Randi kaget dan kemudian menatap Vin yang spontan berhenti.


"Ada apa?"


Vin menggeleng dan tidak berhenti menatap Randi yang ada didepannya. Randi terlihat bingung.


"Terima kasih ya!" sahut Vin.


Randi terbelalak, "Untuk?"


"Karena aku bisa kenal kamu lon, berkat kamu aku bisa percaya diri lagi, walaupun hanya beberapa hari saja aku bertemu denganmu.."


Randi menundukan kepalanya.


"Aku berharap masalah dikota Majestic segera terselesaikam, karena aku pikir aku tidak waktu untuk mencari tahu juga..."


Randi mengangguk.


"Aku tidak ada sesuatu yang harus aku kasih ke kamu, karena aku juga memiliki apa-apa, sampai disini ya! semoga kamu bertemu Agil segera.."


"Kenapa? apa yang akan kau lakukan kenapa kau mengatakan hal itu."


Vin menunduk.


"Tidak, karena sepertinya memang pertemuan kita hanya sampai disini, kau tidak mengizinkan aku untuk membantumu kan? kau juga kemari karena sebuah pencarian, aku tidak bisa terus bergantung kepadamu" Vin menghelan nafas.


Randi tersenyum hangat seraya menatap Vin.


"Aku juga terima kasih kau sudah membantuku, jika ada waktu luang aku akan datang ke kedaimu, mengajak Agil, aku sangat senang bisa kenal denganmu..."


Tiba-tiba Vin menabrakan diri ke dada bidang Randi, memeluk dengan erat tubuh Randi, kedua tanganya melingkar kepunggung Randi, ia terpejam didada hangat Randi, memejamkan matanya seraya tak terasa air matanya jatuh.


Randi membalas pelukan itu, bahkan ia bisa mencium harum rambut Vin.


"Kenapa sampai seperti ini? kau akan pergi dari kota Majestic kah? karena aku pikir aku tidak tertarik dengan isu yang beredar dari kemarin?"


Vin melepaskan pelukannya dan membersihkan sisa air mata.


"Tidak, aku hanya baru pertama kali menemukan pria tampan yang benar-benar tampan dihadapanku dan bisa kenal denganmu aku sangat bangga..."


"Tidak!" Randi menepis.


"Kenapa kau ini?" tanya Vin seraya tertawa.


"Aku hanya akan kembali dan memang sepertinya kan kita tidak akam bertemu lagi kan? jadi aku putuskan akan berpisah disini!"


Randi menatap tajam kearah Vin.


"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa terpesona karena itu..."


Randi dan Vin tertawa.


"Kau janji? kau akan datang ke kedaiku? bersama Agil"


Randi menunduk setelah mendegarkan ucapan Vin, karena ia belum tentu bisa bertemu Agil.


Vin memeggang kedua tangan Randi.


"Tenang, Agil akan cepat bertemu, semoga lelahmu terbayarkan...."

__ADS_1


__ADS_2