Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Jatuh


__ADS_3

Fay menahan tubuh Gilang yang masih berusaha melarikan diri menyusul Agil dan Aleris, namun Fay kuat menahannya.


"Hentikan!" sahut Fay.


Ia melepaskan genggaman dari tubuh Gilang. Gilang menoleh seraya dengan raut wajah yang penuh emosi dan air mata.


"Jangan memperkeruh situasi, ini diluar rencana karena Agik yang tiba-tiba meloloskan diri.." ucap Fay.


Gilang tergeletak dilantai seraya meremas rambut kepalanya, rasanya sangat sakit, sedih, dan marah secara bersamaan.


Tak lama, Ratu Carlota dan Raja Gevarnest turun tangga serays mengendong anaknnya, mereka seperti tergesa-gesa dan menyembunyikan bayinya didalam kain baju ratu.


"Fay!" sahut ratu Carlota mendekat.


Namun sang raja, menahan istrinya untuk mendekat kearah Fay.


"Pergi.." bisik raja kepada ratu.


Tentu sang ratu terheran, seraya menggendong anaknya, ia menepis suaminya itu ia lalu mendekat kearah Fay.


"Fay... bersembunyi cepat.." ucap ratu.


Ia menatap bayi yang ia gendong.


"Kau bisa bawa anakku..?" sambungnya.


Namun dengan cepat sang raja mendekat ia mendorong tubuh Fay hingga tersungkur kebelakang.


"Kau ingin mati?" ucap sang raja.


Fay hanya terdiam, ia menoleh kearah Gilang uang masih tergeletak dilantai.


"Bukankah aku sudah menyelamatkan kalian? membiarkan kalian pergi dari kerajaanku.." ucap raja.


"Tuan... aku kemari hanya ingin mengatakan ini kepadamu"


Fay mengigit bibirnya, "Tolong hentikan ini, apakah kau sangat menyukai kerusuhan ini? awal-awal kita hidup damai dan tentram..."


Raja Gevarnest justru tertawa.

__ADS_1


"Kau ingin menghentikanku? lewati dulu mayatku.."ucapnya.


"Fay, tujuanku awalnya tidak berakhir seperti ini, singkat saja, aku ingin menguasai dunia dan memiliki duniaku sendiri dimanapun, pada akhirnya aku menemukan sang surya yang menjadi tempat tujuan utamaku, tapi kerusuhan ini terjadi bukan karena tujuanku ingat!" ucap sang raja lalu ia beranjak mengandeng istrinya untuk pergi dari tempat itu.


"Setidaknya hentikan ini, banyak korban berjatuhan disana! perintahkan mereka kirim para bantuan.."


Raja Gevarnest berhenti dan menoleh, "Kirim para bantuan? bukankah aku sudah mengirim banyak? toh percuma kekuatan prajurit tidak sebanding dengan monster-monster itu.."


Sang raja lalu beranjak pergi diikuti sang ratu, namun ratu Carlota melepaskan gengamannya dengan suaminya itu.


"Lepaskan aku.."


Raja Gevarnest menoleh, "Ada apa!"


"Dimana Arvand!" sahutnya.


"Kau mengatakan jika Arvand dengan Fay didalam kerajaan ini, namun yang aku lihat Fay hanya dengan anak itu saja!" pekik ratu Carlota.


"Benar ratu, Arvand pergi dan nenyerang para monster-monster itu, jika raja tidak menghentikan ini, maka anakmu bisa mati!" ucap Fay.


Karena geram dengan ucapan Fay, raja Gevarnest tiba-tiba mengangkat tangannya dan nengeluarkan elemen air dari jari tangannya, elemen air itu tertuju kearah Fay dan menyerangnya. Air itu mengikat tubuh Fay keudara hingga Fay tidak bisa bergerak karena ikatan air dari kekuatan sang raja.


Gilang tersentak, ia melotot saat melihat Fay diserang hingga melayang diudara. Ratu Carlota hanya terdiam seraya menangis.


Ada salag satu pelayan yang datang seraya ketakutan, namun ia mendekat dan membawa sang ratu pergi, awalnya ratu Carlota menolak, tapi ia melihat kembali anak yang ia gendong, sepertinya akan lebih baik ia pergi dari tempat itu.


Fay mencoba melepaskan eleman air yang mengikat tubuhnya, secara harfiah ini hanyalah air yang bergerak mengikat disekuruh tubuhnya, namun bagaimana kita tubuh kalian dibawa arus? apakah bisa untuk mengendalikannya.


***


Aleris memejamkan matanya, ia sedang berusaha untuk mengeluarkan jurus bayangan, ia akan mengeluarkan satu bayangan dari dirinya untuk mengirimnya untuk menyerang para monster kelelawar yang tiba-tiba datang dengan serentak.


Namun yang membuat aneh, setelah ia berusaha memejamkan matanya dan berusaha mengeluarkan bayangan dirinya, lagi-lagi ia gagal. Agil yang menunggunya dibelakang seraya waspada jika tiba-tiba Varegar datang untuk menyerang lagi.


"Bukankah kita harus segera menyerang sang raja? sebaiknya ayo kita kejar dia!" ucap Agil.


Tentu hal itu menganggu konsentrasi Aleris, ia menghelan nafasnya dan membuka matanya, ia menoleh kebelakang.


"Seperti yang aku katakan kepadamu, memang musuh kita ada didalam kerajaan ini, tapi kau tahu? kita tidak bisa seratus persen memeggang teguh rencana yang aku buat, ingin bekerja sama dengan para montser itu memang sedikit mustahil, jadi kita bisa menyerang mereka terlebih dahulu, mereka juga membahayakan kota.."

__ADS_1


"Jika awal-awal kau memang tak yakin dengan rencanamu, jangan mengatakan itu!" ucap Agil.


Ia beranjak pergi, namun saat ia membuka pintu. Sesuatu seperti monster masuk kedalam kamar menerobos tembok kerajaan hingga jebol, tubuh monster itu menabrak tubuh Agil hingga tersungkur.


Aleris melotot saat ia melihat monster drakula, dimana ia adalah Randi. Agil berdiri saat reruntuhan tembok mengenail tubuhnya hingga tersungkur, ia kaget saat siapa yang ada didepannya. Seorang monster mengerikan.


Monster itu masih terdiam, ia hanya meraung serays menatap kedua tangannya seperti menahan sakit.


"Ris katakan kepadaku jika dia bukan Randi!" pekik Agil.


Monster itu masih meraung, sekarang ia mencabik-cabik tubuhnya seperti kesakitan, ia mengamuk menabrak dirinya beberapa kali ditembok, Agil berlari mendekat kearah Aleris. Aleris masih berdiri terdiam menatap monster didepannya.


"Serang dia!"


Aleris menoleh kebelakang, "Dia Randi..."


Agil membeku seketika, ia terkejut saat mengetahui jika monster drakula mengerikan itu adalah sahabatnya, Randi.


"Sungguh dia? tidak! tidak mungkin, Randi!!!!" pekik Agil.


Teriakan Agil membuat monster itu terdiam lalu ia menatap kedua orang yang ada didepannya. Seraya meraung tak henti ia berjalan mendekat kearah Aleris dan Agil.


"Randi!!!" pekik Agil lagi.


Dan untuk kedua kalinya, monster itu terdiam, ia sudah tidak meraung lagi ia hanya menatap kedua orang tersebut. Tak sadar Agil mengeluarkan air matanya, iar mata itu terus jatuh kepipinya.


Aleris menghadang tubuh Agil, agar Agil tidak melarikan diri dari pertahannya.


"Kalau memang kau Randi, perlihatkan wujud aslimu.." ucap Aleris.


Namun monster itu mengamuk kembali, ia mencakar-cakar beberapa barang atau benda disekitar seraya mengaum.


Aleris mundur, Agil masih terdiam menangis. Hingga ia mengeluarkan belati miliknya dari saku celana, ia berhasil lepas dari pertahanan Aleris.


Ia berjalan maju kearah monster tersebut, dan dengan cepat menusuk lengan monster itu dari ujung pundak hingga ujung jari dengan belatinya, Hingga mengeluarkan darah dan kulitnya terbelah.


Karena kesakitan, lengan monster itu menampar tubuh Agil hingga tubuh Agil terlempar menabrak tembok hingga tak sadarkan diri. Aleris yang melihat itu tersentak.


Ia kemudian menyerang monster itu, ia mendekat dan menghantam kearah perut monster itu dengan gengamannya, memang sedikit mustahil namun tak disangka hantaman itu berhasil membuat monster itu terlembar kebelakang.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Aleris mengeluarkan elemen angin yang dimiliknya dengan bentuk angin yang tajam, ada banyak yang keluar dari tangannya, dan langsung ia mengarahnya kearah monster tersebut.


Angin tajam itu berhasil menusuk tubuh monster itu, hingga ada banyak dafah yang keluar dari monster tersebut, monster itu hanya berteriak kesakitan dan terus mengamuk.


__ADS_2