
Setelah ia berkencan abal-abal dengan Vin, walaupun tidak lama, Randi memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya, ia akan tidur, rasanya tubuhnya penuh dengan luka dan rasanya kantuk sudah mulai berdatangan.
Vin memberikan tempat tidur yang sempit, dimana tempat itu adalah gudang bekakas tak terpakai, sangat cukup untuk Randi, hanya ada sofa disana dan sebuah bantal yang bersih, mungkin bantal itu milik Vin.
Dikasir Vin mendekati Jhony yang masih sibuk membuat bir, Jhony menghentikan aktifitasnya saat Vin mendekat.
"Kau tidak trauma bertemu dengan laki-laki asing lagi?" tanya Jhony.
Seraya mengambil gelas dan menuangkan birnya, Vin menjawab.
"Kenapa harus trauma?" sahut Vin.
Jhony melanjutkan aktifitasnya.
"Aku pikir kau tidak akan mau memberikan tempat istirahat pria asing lagi..."
Tiba-tiba Vin seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu ia menyahut.
"Delon sepertinya bukan pria jahat, dia baik-baik saja..."
Jhony menghelan nafas.
"Kau baru kenal beberapa jam...." tepis Jhony.
Vin memutar bola matanya.
"Aku bisa lihat kok...."
Jhony tersenyum.
"Vin, acara perayaannya nanti malam, kau yakin tidak akan datang?" ucap jhony.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? jelas aku tidak akan datang orang-orang seperti kita pastinya tidak akan diterima disana!" Vin membuang muka.
"Tidak diterima bagaimana?" sahut Randi tiba-tida datang dari balik pintu.
Ada yang berbeda dari Randi, sepertinya langkahnya menjadi sedikit pincang.
"Kau kenapa?" tanya Vin mendekat.
Seraya kesakitan Randi duduk dikursi seraya merintih kesakitan, Randi menjelaskan jika ia baru saja bangun dari tidurnya namun saat ia melangkah pergelangan kakinya sangat sakit untuk menginjak tanah.
Jhony tersenyum lalu mendekat.
"Kau tahu? ada banyak teman-temanku yang melawan preman yang kau lawan itu, saat melawan temanku patah tulang karena, sejak saat itu mereka tidak berani datang kemari..."
Randi hanya bisa menyimak dengan terkejut ucapan Jhony, ia sangat ketakutan jika ia harus sakit karena patah tulang, maka rencana yang ia bangun akan gagal jika ia harus jatuh sakit.
"Oh ya! acaranya nanti malam..." sahut Vin.
Jhony dan Randi menoleh kearah Vin bersamaan.
"Sekarang? masih sore?" pekik Randi.
Jhony kemudian menyentuh pergelangan kaki Randi, namun tanpa aba-aba Jhony memutar berlawan arah pergelangan kaki itu, hingga tulang kaki Randi berbunyi, Randi berteriak memenuhi ruangan itu, hingga orang-orang melihat aneh kearah Randi.
Namun hal itu, membuat kaki Randi tidak terasa sakit atau nyeri lagi, bahkan ia bisa melangkah tanpa pincang.
"Terima kasih..." ucap Randi.
Jhony hanya tersenyum lalu ia beranjak untuk membuat bir kembali. Vin duduk seraya menatap kaki Randi.
"Bagaimana?"
Randi mengangguk, tandanya urusannya dengan kaki sudah selesai dengan sekejap.
"Kau akan datang ke perayaan itu?"
Oh iya, Randi sampai lupa jika ia harus memberikan alasan yang tepat, karena nanti malam ia akan memulai aksinya.
"Tidak! nanti malam aku akan pergi kearah selatan kota.."
Ucapan itu membuat Vin terlihat bingung.
"Mau mencari temanmu itu?" tanya Vin, Randi mengangguk.
Rencana matang yang sudah Randi siapkan, namun biasa saja ia berubah pikiran tentang rencananya.
"Maka aku ikut!" sahut Vin.
"Tidak! ini urusanku tidak ada hubungannya denganmu..." ucap Randi lalu beranjak pergi.
Sore itu Randi sudah menyiapkan beberapa barang yang harus ia bawa, ia sudah menyiapkan tas yang tidak begitu besar agar mudah ia bawa.
"Aku akan sangat berterima kasih kau sudah memberikan tempat tinggal untukku..." sahut Randi.
Vin yang masih terdiam duduk disofa menatap Randi.
"Kau yakin tidak akan tinggal lebih lama lagi sini?..."
Randi hanya menggeleng.
"Tujuanku disini mencari temanku, jika tidak ada dikota Majestic lalu akan mencari lagi dimanapun....."
Vin menunduk. Randi mendekati Vin lalu ia menyentuh kepala Vin, membuat Vin terkejut dan mendongak keatas, ia bisa melihat jelas wajah Randi sedekat ini.
Pipi Vin sangat merah, segera ia tepis lalu ia berdiri walaupun Randi sangat tahu wanita didepannya ini sedang salah tingkah.
__ADS_1
"Kau tidak pernah diperlakukan seperti ini dengan mantan pacarmu?" ledek Randi.
Vin menatap Randi, "Apa katamu?"
"Yang jelas aku hanya mengusap kepalaku kenapa kau sangat salah tingkah..."
"Salah tingkah katamu?"
Randi mengangguk.
Tiba-tiba Jhony datang, tidak lupa Randi menundukan kepalanya salam.
"Baiklah, bagus kalau begitu kau cepat pergi, maka Vin tidak akan sibuk mengurusmu lagi...." ucap Jhony seraya bercanda.
"Tapi aku tidak masalah!" sahut Vin.
"Aku juga terima kasih telah memberikan tempat tinggal dan memberikan sedikit makanan hahahah, dan terima kasih sudah menolong aku saat diserang oleh preman-preman itu..."
Jhony dan Vin tertawa.
Didepan pintu restauran Randi memberikan salam perpisahan dengan Vin dan Jhony, ia menundukan kepalanya dan menyentuh kepala Vin untuk salam perpisahannya.
Randi pergi, sempat ia menyahut beberapa pakaian yang sedang dikeringkan didekat rumah-rumah namun dengan santainya Randi mengambil tanpa merasa bersalah. Ini akan menjadi baju gsnti nanti jika baju yang ia kenakan sudah sangat kotor.
Rencananya, rencana pertama yang Randi pikirkan adalah, ia akan pergi ke kerajaan itu dan menerobos masuk begitu saja untuk membasmi, ia sudah kekeh dengan hal itu, tapi entah ada rasa hati yang menghalanginya untuk melakukan itu.
Apakah tidak terlalu bahaya jika aku melakukannya? aku tidak memiliki apa-apa aku hanya membawa belati.
Apa aku ganti rencananya?
Dibawah pohon beringin, seraya menyantap roti yang sempat ia ambil begitu saja disebuah warung, ia sampai tidak sadar jika hari semakin petang. Ini akan jadi kenangan indah jika Randi kekeh dengan rencananya karena hari ini bertepatan dengan perayaan.
Ia segera berdiri dan melangkah menuju kerajaan Majestic tersebut. Ia menutupi wajahnya dengan jubah, dan topeng yang ia ambil disebuah toko diam-diam.
Randi kaget saat tubuh kecilnya menatap gedung besar didepannya, benar-benar seperti kerajaan dongeng pada umumnya, bahkan matanya tidak bisa berpaling, rasanya ingin ia masuk dan merasakan seperti seorang pangeran. Randi tersadar ia lalu segera menyembunyikan dirinya, ia bisa melihat ada banyak orang yang datang kekerajaan tersebut, Randi mengintip disela-sela batang pohon.
Randi menyipitkan matanya, walaupun tidak begitu dekat namun Randi masih bisa mengintai, ada lima prajurit digerbang dan dipintu masuk kerajaan. Acaranya sangat meriah tentunya ia bisa melihat cahaya yang sangat terang dan berkelip-kelip didalam kerajaan tersebut.
Sepertinya Randi harus menunggu, seraya duduk. Ia sangat merasakan ketakutan saat musuhnya sudah ada didepan matanya, beberapa kali ia menghembuskan nafanya untuk menenangkan diri.
Tidak lama, ada kericuhan yang terjadi dimana membuat Randi terkejut mendengarkan suara kericuhan tersebut, ia menatap dengan saksama apa yang terjadi, namun yang bisa ia lihat hanyalah orang-orang yang berlarian dan menyebutkan iblis dan monster.
Hal itu tentu membuat hati Randi tambah bergelojak, ia tetap diposisinya seraya masih menatap dengan saksama.
Akan aku tunggu, ada apa? apa yang sebenarnya terjadi.
Benar, tidak lama orang-orang keluar dengan suara ricuhnya. Randi melepaskan jubah dan topengnya lalu mendekat kearah warga yang baru saja keluar dari gerbang kerajaan. Mereka tidak henti-hentinya ricuh.
"Maaf, kalau boleh tahu apa yang terjadi?" sahut Randi tiba-tiba datang.
Ibu-ibu setengah tua, dengan riasan menor dan pakaiannya yang glamor bak ratu kayangan menjawab.
"Entah aku harus percaya kepada siapa, tapi dek yang aku lihat serpihan kaca itu benar-benar terbang mengenai tubuh seorang pria!" ucapnya.
Tentu Randi sangat bingung, ia lalu mengatakan agar ibu-ibu itu menjelaskan dengan teliti apa yang terjadi.
"Kau tahu kan saat ini masih ada monster-monster yang berkeliaran, aku takut monster itu tiba-tiba datang dan menyerang kami....raja menjelaskan itu jika itu bukan mereka yang mereka lakukan, tapi aku percaya memang raja tidak pernah sepertu itu.."
"Jadi saat perayaan, lampion atau lampu kaca besar diatap tiba-tiba jatuh untungnya tidak mengenai orang-orang yang dibawahnya, namun tiba-tiba serpihan kaca itu terbang mengenai seorang pria, raja menjelaskan jika ini diluar pikiran mereka, bahkan mereka tidak tahu apa yang terjadi, aku berharap raja segera mengatasi hal-hal ganjal seperti ini...."
Ucapan itu membuat Randi terdiam, ia sibuk memikirkannya.
Rencanaku bukan disini berarti, yang akan ku lakukan adalah menyebarkan berita kepada masyarakat, bukankah pikiran mereka masih labil? ini tentu sangat menguntungkan untukku.
Ini adalah awal yang menguntungkan untuk Randi, setelah ia tahu kebenarannya. Ia merubah rencananya, ia memang benar-benar pria sejati ia tahu segalanya dari buku yang ia temui, bahkan ia tahu anak yang dilahirkan ratu adalah seorang iblis, bukankah sangat mengasyikan jika ia harus menyebarkan berita yang bagus?
Ia akan menjalankan rencananya dengan pelan-pelan, dan memberikan hal yang maksimal, menjatuhkan raja, dan pulang dengan selamat bukankah itu yang Randi mau?
Lalu bagaimana dengan Agil, tentu Randi akan mencarinya, setelah ia membunuh raja dengan pelan-pelan, lalu menghancurkan kota Majestic dan mencari jawaban dari mulut raja langsung, ia akan sangat bahagia nantinya ia tidak akan membawa beban sampai dirumah.
Malam itu sangat ramai dan gaduh, banyak warga yang keluar sengan perasaan yang kecewa karena perayaan tidak berjalan dengan lancar, Randi mengintip dibalik beberapa warga yang ramai disana, yang ia lihat hanya ruangan yang glamor penuh cahaya saja.
Ia lalu menutup topengnya kembali dan berjalan menjauh, ia duduk disebuah batu dipinggir rumah seraya memeriksa beberapa barang didalam tasnya.
"Jadi? mereka masih percaya dengan nenek moyang mereka menggunakan ilmu hitam? jelas-jelas aku lihat kaca itu melayang..." bisik seseorang dengan temannya yang melintas didepan Randi.
Randi mencoba menguping beberapa bisikan para warga yang lewat, ada yang mengatakan jika mereka percaya argumen raja, dan ada yang tidak percaya dengan argumen raja, mereka berasumsi jika raja mengendalikan ilmu hitam.
Randi tersenyum, karena kali ini ia menemukan rencana yang matang. Tiba-tiba Randi tersentak saat seseorang dari belakang menarik tubuhnya dengan menutup mulutnya dengan kain, mencoba menyembunyikan Randi.
Randi memberontak, ia berusaha melepaskan dan melihat siapa yang menarik tubuhnya.
"Lidra?" pekik Randi.
"Suuutt...." sahut Lidra.
"Kenapa kau kemari?" tanya Randi.
Lidra memutar bola matanya, seraya membuka jubahnya.
"Seharusnya aku yang tanya kenapa kau kesini?"
Randi memalingkan wajahnya.
"Ada urusan...."
Wajah Lidra mendekati wajah Randi.
__ADS_1
"Urusan apa itu?"
Randi tersentak saat wajah Lidra mendekat, Randi segera mundur.
"Kau tidak perlu tahu kan?"
Lidra menghelan nafas.
"Dengar, aku akan mendapatkan masalah jika kau diam-diam pergi seperti ini..."
"Bagaimana? Gilang bagaimana?" sahut Randi.
"Mereka mencarimu...."
"Lalu bagaimana?"
"Aku mengatakan jika kau dikota Majestic, dan aku menyuruh mereka untuk diam disana, biar aku saja yang menusulmu?"
"Kau tahu aku pergi ke kota Majetic?" tanya Randi.
Lidra hanya mengangguk, lalu ia beranjak, diikuti Randi.
"Sekarang kau akan membawaku pulang?"
Lidra tidak menjawab ia hanya fokus berjalan, hingga Randi menyenggol lengan Lidra.
"Sepertinya tidak, kau ada urusan bukan?" jawab Lidra tanpa menoleh keatah Randi.
Malam itu Lidra mendapatkan sebuah penginapan yang cukup luas dan bertempatan didekat perkebunan dimana membuat mereka tenang tanpa gaduhan warga sekitar.
Penginapan yang cukup sepi karena harga yang cukup mahal, namun penginapan itu sangat indah bahkan saat membuka jendela mereka bisa melihat pemandangan perkebunan dan sawah yang luas.
"Mahal!!" pekik Randi seraya berjalan disebuah koridor mengikuti Lidra.
Lidra berhenti saat Randi berteriak, ia memutar bola matanya seraya menoleh kebelakang.
"Diam.." sahut Lidra.
Lidra membuka pintu dengan kunci yang ia bawa.
"Ini, ini kamarmu...." ucap Lidra menyodorkan kunci kearah Randi, Randi menerimanya dengan bingung.
Karena kamar yang ia lihat sangatlah sederhana dan enak dipandang.
"Ini kamar kita?" sahut Randi.
Lidra terbelalak seraya memukul lengan Randi.
"Kita...kita, kau saja mana mungkin aku tidur denganmu? najis" ucap Lidra seraya beranjak.
Kamar mereka hanya bersebelahan, tidak jauh, berbisik saja mungkin terdengar oleh mereka.
Randi menelusuri kamar itu, sebuah kamar yang sangat sederhana namun bersih dan elegan, mengingatkan dirknya kepada kamarnya dirumah.
"Seandainya kita bersenang-senang disini..." ucap Randi seraya merebahkan diri.
Namun pikiran kotor datang, yang ia maksut dengan perkataannya adalah bersenang-senang dengan Agil dan Gilang, kenapa pikiran kotor muncul, dimana kalimat yang dimaksut adalah bersenang-senang dengan Lidra.
Randi memukul kepalanya.
"Sialan, apa-apaan ini?" pekiknya.
Randi beranjak, ia membuka pintu dipojok ruangan, ada sebuah kamar mandi, lalu ia segera membersihkan diri.
Tak lama, Randi mendengar suara ketukan kamarnya, untungnya ia sudah selesai membersihkan diri. Ia lalu membuka pintu dengan tubuhnya masih telajang hanya ada anduk yang melingkar diperutnya.
Deg.
Lidra melotot seraya pipinya memerah.
"Kenapa?" ucap Randi santai.
Lidra memalingkan wajahnya.
"Kau sedang mandi? lihat ku telanjang seperti itu..." sahut Lidra.
Randi hanya menggeleng tak masalah.
"Apa ini?" pekik Randi seraya meraih nampan berisi mangkok yang berisi buah-buahan.
"Masuk!" lanjut Randi.
"Tidak!" ucap Lidra.
Randi berhenti lalu menoleh.
"Kenapa? tenang, aku akan pakai baju habis ini...." ucap Randi.
Lidra masuk kedalam, ia duduk disebuah tempat duduk kayu, seraya mengambil buah yang ada dimangkok tersebut.
Seraya duduk tiba-tiba disamping Lidra, Randi mengambil buah tersebut, bahkan ia masih seperti tadi, telanjang dada.
Spontan Lidra menghindar.
"Kenapa sih? aku masih merasa gerah, santai saja....."
Hal ini yang sangat membuat Lidra sangat gugup, ia tidak bisa melihat hal yang semacam ini, karena pipinya akan memerah dan tubuhnya akan sangat kelihatan jika bergetar.
__ADS_1