Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Masa lalu


__ADS_3

Aku terdiam menatap jendela yang sengaja tak ku tutup, gorden berterbangan tak beraturan, hujan angin yang begitu deras membuat percikan air masuk ke dalam rumah, pohon-pohon pinus diseberang yang menari-nari karena hujan disertai angin yang lebat, semuanya kabur dimataku seakan angin membawa bencana pada hari itu, sepertinya hujan itu akan reda jika aku tertidur dan tidak bangun lagi.


Aku hanya menatap jendela itu, berdiam tak bersuara, petir menyambar hamparan luas depan rumah, seakan menyapu bersih daun-daun yang sudah lama bersinggah disana, suara petir itu tidak membuatku beranjak dan pergi dari kursi kayu tua ini, aku tetap menatap jendela itu, isi pikiranku begitu bising ketika aku duduk sendiri diruangan yang sepi.


Ibu datang seraya membawakan susu hangat untukku, aku masih dengan posisi melamun, dan ibu menyadarkanku, ibu paham denganku diusia yang masih kecil seperti ini rasanya kehilangan sesosok ayah adalah hal yang sangat berat, bagaimana tidak? ayah yang selalu membuatku bahagia ketika dirumah, rumah seakan seperti pasar malam ketika ayah pulang kerja, pada saat ini juga ibu berjanji ibu tidak akan pernah menikah lagi, lalu aku memeluknya, berpikir bahwa ibu selalu setulus ini mencintai ayah.


Aku divonis mengidab penyakit gangguan bipolar, entah karena pada saat itu aku merasa sangat berat ditinggalkan oleh ayah, atau karena pikiranku sendiri, tak begitu menganggu ku saat itu, tapi ibu sangat kawatir denganku.


Aku beberapa kali keluar masuk rumah sakit untuk menjalani terapi, bagiku terapi saja tidak cukup, karena saat itu yang aku pikirkan hanya ayah yang bisa menyembuhkan aku, dan itu adalah ayah bisa hidup kembali, walaupun itu tidak masuk akal, bagiku setelah kepergian ayah aku sering mengalami emosional yang berlebihan, aku bisa sangat bahagia dan diwaktu yang singkat aku juga bisa langsung merasakan sedih luar biasa, dimana hal itu membuatku susah menjalani perasaanku sendiri.


Beberapa tahun aku merasakan kesusahan menjalani perasaanku sendiri, aku hanya bisa berdiam diri menahan semua amarah, hingga ibu yang selalu mengerti aku dimana keadaannya, setelah aku sembuh dari penyakit itu aku merasa seakan semua telah hilang beban dari pikiranku, semua seakan lenyap tak tersisa, dan aku sangat senang.


Aku mengajak ibu bermain ditempat bermain ancol, karena sudah beberapa hari ini ibu sering duduk sendiri lalu melamun, aku masih SMA karena aku selalu pulang sore aku tidak bisa menemani ibu seharian, dan itu membuatku kawatir, walaupun ibu menjadi guru dan tidak pernah merasakan kesendirian, aku dan ibu bermain hingga petang, tidak sesadar itu, jika waktu sudah berputar dengan cepat.


Tak pernah aku hilangkan senyuman dari wajahku, aku selalu tersenyum ketika didepan ibu, dan ibu selalu mengatakan "Kau sangat tampan ketika tersenyum" itu adalah perkataan ibu yang selalu membuat hatiku berdegub kencang sekali dan ibu selalu menjahiliku "Pasti jantung lagi disko"


"Kamu tahu ya kalau dulu ayah selalu mengajak ibu ketaman bermain disini"


Aku meraih hamburger ku lalu segera melahapnya.


"Ayah pernah cerita ya?" tanya ibu.


"Iya bu, tidak henti-hentinya ayah membicarakan ibu, ia selalu mengatakan ibu cantik setiap saat"


Ibu tersenyum tipis.


"Gil, Kamu lain kali ajak dirandi sama gilang datang kesini"


Aku hanya memutar bola mata, karena mereka akan menganggu momen kemesraan aku dengan ibu.


Ibu tertawa seperti tahu apa yang aku pikirkan, "Malah ramai kalau mereka ikut, nanti ibu tidak henti-hentinya ketawa"


Aku ikut tertawa karena sudah membayangkan seperti apa mulut mereka.


"Kapan-kapan aku ajak mereka bu"


"Mereka kan teman kecil kamu gil, yang selalu membuat kamu tertawa terus-terusan"


"Hahaha kalau ada mereka selalu sakit perut"


Entahlah kenapa ibu membicarakan mereka tiba-tiba? apakah ada sesuatu? atau hanya bahas biasa?


"Kenapa bu?"


"Kenapa tiba-tiba bahas randi sama gilang?" lanjutku.


"Lhoh gapapa, kan biasa ibu begitu"


Aku kembali kerumah, dan menyiapkan teh untuk ibu, tapi ternyata ibu sudah lebih dulu tertidur aku pikir aku tidak ingin menganggunya, aku tak memikirkan terlalu soal itu karena memang ibu selalu menanyakan random seperti itu.


Aku membuka laptobku dan bermain game, dilayar laptob aku melihat pesan yang belum aku baca aku membuka pesan itu, ternyata dua bocah biang kerok, aku hiraukan karena mereka selalu membahas soal hal yang tidak penting, tapi kenapa mereka menyepam pesan tanpa jeda waktu, dan aku lalu membalasnya, "apa?"


"Aku melihat ibumu pergi kesekolah di smp dijakarta, dan membawa anak laki-laki masuk ke mobil, siapa itu?" tanya gilang.


Saat itu aku tepis karena aku pikir, menjadi guru di sekolah adalah kewajiban itu seperti itu, aku menjelaskan semuanya ke randi dan gilang.


"Lupakan saja" kataku, mereka mengiyakannya.


Aku mendengar suara pintu terbuka, aku pikir oh ibu mungkin keluar, aku keluar untuk melihat apakah itu ibu, ternyata memang ibu ia duduk seraya menyeruput kopi di ruang makan didapur, aku mengikutinya dan duduk disampingnya.


"Kenapa bu? kalau belum ngantuk nonton tv dulu sama agil" tanyaku.

__ADS_1


Ibu hanya tersenyum.


"Ibu lapar gil, boleh buatkan mie, ada dikulkas itu masih ada dua atau tiga, kamu bisa buat dua kalau kamu mau juga"


Entah aku tidak sadar atau apa, wajah ibu terlihat seperti menyimpan sesuatu, tapi aku pikir ibu sedang merindukan ayah, aku membuat mie dengan porsi yang sedikit banyak, aku juga sangat lapar malam ini, ibu berjalan ke depan tv dan menyalakannya.


Pada saat itu kenapa aku sangat bodoh, kenapa aku tidak mengerti tentang apa yang ibu pikirkan, aku hanya berpikir bahwa ibu sedang rindu ayah.


"Bu? rindu ayah ya?"


"Tentu sayang, ibu selalu merindukan ayah, sangat rindu, ibu berharap ayahmu juga ikut berkumpul disini"


"Ibu selalu merindukan ayah, apa lagi aku? sampai saat ini aku tidak bisa melupakanya bu"


"Ibu sangat berterima kasih kamu sembuh dari penyakitmu" ibu mencium keningku.


"Ayah sangat bahagia diatas sana bu, melihat kita berdua selalu seperti ini merindukannya, aku tidak minta macam-macam bu, yang ku minta selalu seperti ini saja, berdua dan tetaplah menjadi ibu yang selalu aku kenal bu"


Air mata ibu keluar, ibu memelukku dengan erat.


"Iya sayang ibu tidak akan pernah berubah"


Itu adalah kata-kata yang selalu aku pikirkan dan tidak akan pernah aku lupakan, hanya ibu satu-satunya yang aku punya, yang ada didunia ini yang selalu menemaniku hanya ibu hanya dia seorang.


Malam itu hanya ada suara jangkrik yang menjadi saksi, aku menangis didekapan ibu, aku takut, aku sangat takut untuk pergi terlalu jauh dan berpisah dengan ibu, aku sangat butuh ibu dimana pun, sampai aku dewasa sampai aku sukses aku akan bersama ibu, melewati semuanya, menjalani rintangan bersama sampai ajal menjemput.


Aku tidak ingin mengulangi rasa itu lagi, rasa dimana aku kehilangan sosok pria tangguh, pria yang menjadi tongak aku dan ibu bangkit, aku kehilangan tongak itu, aku tertampar hingga ke lautan yang luas aku seperti merasakan dentuman hebat di hatiku, pikiranku, dan didepan mataku, aku tenggelam sampai kedasar dan tidak bisa bergerak, aku menangis berteriak, tapi sesuatu dari dalam yang menyuruhku diam, aku merasakan penyiksaan luar biasa saat itu, ketika mendengar kabar ayahku telah tiada.


Aku tersungkur, menangis habis-habisan dikolong kasur, percuma aku tidak mengeluarkan air mata dan suara, yang aku rasakan hanya nyeri di dada, dan tidak bisa aku keluarkan, aku menyetuh dadahku, aku dorong dengan tanganku dengan keras, tapi hatiku masih terasa sakit aku hantam habis-habisan hingga aku tidak merasakan kesakitan difisik, tapi aku merasakan sakit luar biasa didalam, kenapa? kenapa aku tidak bisa menangis? kenapa? kenapa ayah pergi secepat ini?


Aku berteriak, aku mengamuk dikamarku, saat itu aku menyalahkan tuhan kenapa semua ini diperlakukan dengan tidak adil? kenapa hanya aku yang diberi hal semacam ini tuhan? aku tidak bisa menerimanya aku tidak ingin ini terjadi dihidupku kenapa aku harus menyaksikan ayahku disana? apa aku punya salah? ambil nyawaku dan kembalikan ayahku, seperti mimpi aku benar-benar hancur dan aku benar-benar merasakan hampa, aku putus asa dan aku sangat ingin mendengar jawaban dari tuhan bahwa ini adalah adil, namun tidak selalu pikiran ku menyebutkan bahwa ini tidak adil.


Esoknya aku pulang dari sekolah, karena hari saat itu sangat panas aku memutuskan mengajak randi dan gilang ke kebun ayah, hanya sekadar duduk dan minum-minum, merokok tentunya? tentu itu hal yang wajar bagi remaja seusia ini, tapi tidak dengan ku, beberapa kali ingin mencoba namun entahlah hati masih ragu, tempat ini adalah tempat yang sejuk dibukti belakang rumah, perkebunan teh dan ada beberapa rumah pohon dan itu adalah tempat nongkrong kami bertiga.


Ibu menangis tanpa sebab malam itu, kenapa? apakah ada sesuatu yang penting? aku hanya bisa berlari dengan kencang.


Mobil sedan terparkir didepan rumah, sepertinya ada tamu batinku, aku melangkah dengan cepat menuju rumah, ada seorang laki-laki dan satu anak perempuan yang duduk berhadapan dengan ibu diruang tamu, aku menyapa menundukan kepala, aku pikir oh ini kepala sekolah sd yang selalu ibu ceritakan kah?


"Gil sini" ibu menyuruhku untuk menjabat tangan kedua orang asing itu.


Aku menatap ibu, tapi matanya sayu dan berair, "Ada apa bu?"


"Sebelumnya minta maaf ya dek agil, menyuruh dek agil kesini mendadak padahal lagi dibukit belakang rumah" laki-laki itu berbicara.


"Ah tidak apa-apa om, saya juga sering bolak balik dari bukit kerumah kok" aku masih santai.


"Sebelumnya...."


"Tunggu!" ucapan laki-laki itu dipotong oleh ibu.


"Aku akan berbicara padanya, berdua dikamar" lanjut ibu.


Masih dengan perasaan yang campur aduk, aku mengikuti langkah ibu dan berhenti didepan kamarnya, aku bingung ada apa ini, kenapa ibu seperti ini.


"Dengarkan baik-baik" ibu menghelan nafas.


"Dia om Salman, dia....."


Aku menyampingkan kepala, "Kenapa?"


"Dia ayah tirimu...."

__ADS_1


Deg, seperti ditusuk jarum yang sangat banyak, hatiku langsung merasakan sakit yang luar biasa, tanpa butuh waktu lama, hatiku seperti diremas, ditusuk, ditali dengan erat sampai tidak ada ruang untuk bernafas, aku ingin marah, aku ingin menangis.


Aku tertawa, "Mana janji ibu"


Ibu menunduk.


"Mana janji ibu!!!!!!!" baru kali ini aku membentak ibu dan membuat ibu kaget.


"Kenapa baru sekarang? kenapa aku baru tahu? selama ini?"


"Ibu sudah menikah dengannya! selama ini yang membiyayai sekolahmu dia gil!!"


"Terus kenapa? aku harus berterima kasih dengannya?"


"Hahahah sudah menikah" lanjut aku.


"Ibu tidak bisa harus selalu sendiri, berkerja sendiri, apa-apa sendiri, apa kamu tega ibu berkerja keras sendiri?"


"Loh? kenapa? ada aku bu ada aku!!"


"Apa kamu saja cukup gil dipikir gil"


Baru kali ini ibu seperti itu, aku bisa melihat dia begitu menginginkan sosok lagi dihidupnya, sosok yang menggantikan ayah, rasanya aku percuma untuk tetap hidup, rasanya aku kehilangan semua dalam hidup.


Aku pergi begitu saja meninggalkan mereka, aku menangis tidak perduli dengan orang-orang yang berpapasan denganku, aku masih terus berlari entahlah tujuanku kemana, yang terpenting aku butuh sendiri.


Aku kecewa, benar-benar kecewa, kenapa ibu? ibu sudah berjanji tidak akan menikah lagi dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah, rasanya sakit.


"Ayah!!!" aku berteriak.


"Ibu menghianatiku, dia tega denganku"


Rasanya aku kembali merasakan hantaman yang luar biasa seperti saat aku ditinggalkan oleh ayah, rasanya sesak luar biasa, aku mencoba berteriak untuk menghilangkan sesak ini, tapi masih terasa sakit, aku menangis seperti waktu aku kecil aku memukuli dadaku yang terasa sesak.


Bisa-bisanya ibu berbicara seperti itu? didepanku? apakah ia tidak bisa berpikir anaknya baru saja kehilangan ayahnya? kenapa ia ikut-ikutan ingin meninggalkan ku?


Sampai petang aku masih duduk dibatang pohon yang tumbang dikebun teh, aku menatap matahari yang sudah ingin tertidur, aku tidak menangis kali ini, aku hanya melamun dan masih dengan rasa sakit, tapi entah kenapa aku berhenti menangis mungkin sudah mati rasa.


Aku mengeluarkan bungkus rokok yang aku simpan di saku celana, aku menatap sebentar, mengingatkan ku kepada ayah, dimana dia selalu menawariku rokok ketika masih kecil, aku selalu menolaknya dan menjawab," masih kecil tidak boleh ngerokok yah" ayah cuma tertawa seraya menghidupkan korek lalu ia merokok didepanku.


"Sebatang rokok mengatakan: hari ini kamu mengubahku menjadi abu, tapi besok giliranku" katanya, waktu itu aku tidak paham tapi hari ini aku paham.


Bukankah merokok adalah cara bunuh diri yang berkelas? atau merokok adalah mencicil untuk bunuh diri? kenapa aku suka itu.


Aku menyalakan koreng dan menempelkan koreng itu ke rokok ku, aku menghisapnya dan betapa bahagia ketika melakukan itu, bahkan ayah sendiri yang menyuruhku untuk merokok saat masih kecil.


"Kau butuh merokok karena jika tidak maka tidak candu" lalu ia tertawa.


Aku menikmati rokok ku, aku memejamkan mata, masih dengan rasa sakit, beberapa kali tertawa karena lucu dengan apa yang ia dengar tadi dari mulut ibu, semudah itu memberitahu aku, dan tidak pernah merasakan iba kepada anak sendiri, betapa kecewanya ayah diatas sana, betapa sakitnya ayah melihat ibu menghianatinya.


Aku menghisap rokok ku berkali-kali sampai aku tidak sadar putung rokok sudah mulai habis, aku mengambil batang rokok lagi dan menyalakanya, sampai tak terasa bungkus rokok itu mulai habis padahal tadi bungkus ini sangat penuh, sepertinya aku butuh rokok lagi.


Aku berdiri, sepertinya aku butuh beberapa bungkus rokok lagi, aku akan membelinya dan kembali kesini.


"Hentikan gil"


Randi dan gilang menghadang diriku di belakang, mereka menyuruhku untuk berhenti, berhenti untuk?


"Kau sudah menghabiskan satu bungkus penuh" ucap randi.


"Kenapa? satu bungkus? hahahahah tidak ngaruh"

__ADS_1


"Aku tahu, tapi kau tidak pernah seperti ini gil sebelumnya"


Aku tertawa.


__ADS_2