
Agil berhenti tiba-tiba saat tangan Jay menahan Agil. Tea dan Vin pun demikian, mereka menoleh saat Jay menahan tangan Agil.
Agil mendekat, "Ada apa?" bisik Agil.
"Dengar, disini tidak aman, kau dengar suara itu? menyuruh kita mengamankan diri" sahut Agil.
Jay menghelan nafasnya, "Nafasku berat, aku tidak bisa menahan sakit, kakiku sudah tidak terasa, nafasku tidak seprrti biasanya.." ucap pasrah Jay.
Tea mendekat saat mendengarkan rintih dari Jay.
"Apa-apaan kau? cepat angkat tubuh Jay..."
"Tidak!" pekik Jay.
Agil sangat khawatir, ia lalu memaksa Jay agar segera ia gendong dan pergi dari sini, tentu Jay menolak tapi Agil menegaskan kepadanya.
"Dengar! cari tempat aman dulu! aku janji aku akan mengobatimu"
Mata Jay tidak bisa bohong, Agil menatap dengan air mata yang ia tahan, kemudian mereka beranjak pergi.
"Kau bisa mengobati temanku?" ucap Tea diperjalanan.
Vin menatap tea dengan tatapan tidak yakin, "Aku bisa mengobati jika dia terkena racun, karena aku bisa mengisap"
"Aku tidak yakin dia terkena racun...."
"Awalnya bagaimana?" tanya Vin.
"Dia melawan monster dan jatuh, udah begitu saja..."
Mereka bisa melihat ada banyak warga yang berbondong-bondong menuju tempat yang dimaksut, bahkan ada banyak anak kecil dan orang paruh baya yang berusaha menyelamatkan diri.
Agil masih menatap kearah atas, para monster yang sibuk menyemburkan api dimana-mana, untung saja Agil dan yang lain sudah berada di zona aman.
Jay sangat pucat, bahkan kepalanya ia tumpangkan kepunggung Agil, rasanya kepalanya sangat pusing sampai ia tidak kuat menahannya lagi.
"Jay, sabar hampir sampai..." sahut Agil.
Ada banyak orang-orang mulai masuk kedalam ruangan yang dimaksut, sangking banyaknya beberapa kali tubuh Agil tertabrak-tabrak oleh sebagian orang.
"Minggir!!!" sahut beberapa orang.
Namun yang membuat Agil terkejut, saat Agil akan memasuki ruangan itu, beberapa orang menolak Agil dan yang lain masuk.
"Jangan!"
Agil terkejut, "Ada apa?" tanyanya.
"Ruangan ini sudah penuh!" pekik mereka.
Agil tidak melihat adanya warga yang bersamanya diluar, hanya dirinya, Jay, Vin, dan Tea. Tea yang emosi langsung mendekat.
"Kau siapa kaparat! kau siapa belagu begitu?" sahut Tea.
Seorang bapak tua, dan perut yang buncit itu tetap bersih keras mengusir mereka.
"Tidak bisakah kalian melihat sesempit apa tempat ini?" sahutnya.
Tea menyengir, "Masa bodoh sialan!" Tea menerobos masuk, namun orang-orang yang membantu bapak tua itu mendorong tubuh Tea keluar dengan keras.
"Sialan!!!" umpat Tea.
Vin mendekat, "Em...pak, bukankah kita hanya berempat, mungkin masih bisa masuk?"
Dengan lantai bapak itu menjawab, "Tidak, kalau saya bilang tidak, tidak!"
__ADS_1
Jay yang sudah sangat lemas tidak bisa melakukan apapun, ia hanya tertidur dipunggung Agil.
"Jay, tunggu sebentar..." bisik Agil.
"Buka tidak, kalau tidak aku bunuh kalian!" umpat Tea.
Mereka masih terdiam, dan menahan agar tidak seseorang pun yang masuk, hingga seseorang dari dalam ruangan meneriaki bapak tua itu.
"Hei perut buncit jelek!!!!!!" teriakanya.
Agil dan Tea seperti tidak asing dengan suara itu. Orang-orang membuka jalan agar orang tersebut lewat menuju kearah gerbang.
Betapa kagetnya Agil dan Tea saat melihat orang itu mendekat.
"Kai?!?" sahut Tea.
Tea menatap Agil yang masih melongo kaget.
"Kalian kaget kan?" ucap Kai.
Tea masih melongo dengan apa yang ia lihat didepannya.
"Kau kesini? dengan paman dan timandra?" tanya Agil.
"Tentu.... ayo masuk"
Tiba-tiba bapak perut bucit itu, mendekat kearah wajah Kai dengan membawa pisau yang tiba-tiba ia kelurkan dari saku bajunya.
"Jangan berani dengan aku, aku bisa saja membunuhmu"
Tea tertawa, karena gelagaknya yang sok berani, padahal tubuhnya bergetar ketakutan. Kai membuang muka seraya menarik tangan bapak itu hingga pisaunya terjatuh, dengan cepat Kai ambil dan ia masukan kedalam sakunya.
"Sepertinya aku yang akan membunuhmu.."
"Paman!" teriak Tea berlari dan memeluk Argus. Argus dan Timandra yang duduk ditumpukan padi kering.
Agil meletakan tubuh Jay yang tak sadarkan diri ditumpukan pafi kering tersebut.
"Kenapa Gil?" tanya Timandra.
"Aku tidak tahu? tapi aku mohon obati dia..." rintih Agil.
Argus mendekat kearah Agil, dan menepuk kedua pundak Agil, Agil yang baru tersadar memeluk Argus.
"Paman!" ucapnya.
"Ah kenalkan, ini Vin teman baru..." sahut Tea.
Lalu Vin menundukan kepalanya, salam.
"Kalian semua tidak apa-apa kan? hanya Jay yang sakit?" sahut Argus.
"Paman, tolong obati Jay..." sahut Agil.
"Apakah itu penyakit menular?" sahut salah satu warga.
Mereka berbisik-bisik dengan tatapan risih kearah Jay, membuat Agil tidak bisa menahannya lagi. Ia berdiri.
"Sialan!" umpatnya.
Semua warga terdiam, namun tatapan risih itu masih ada diraut wajah mereka.
"Disituasi seperti ini, kalian masih tega berkata seperti itu? berapa nyawa yang kalian tinggalkan disana!!!!" sahut Agil.
Argus berdiri dan, dan msmpersilahkan Agil duduk.
__ADS_1
"Gil, biarlah kata mereka, susah mau seperti apa kau jelaskan...." ucap Argus.
Jay masih tak sadarkan diri, keringat yang keluar dari tubuh Jay tak berhenti-berhenti, beberapa kali Timandra memberikan ramuan untuk diminum Jay, namun belum ada efek sama sekali.
Agim yang duduk menyendiri dipojok ruangan, seraya meneteskan air matanya, Argus mendekat dan duduk disamping Agil.
"Aku datang kesini pada akhirnya...." ucap Argus.
"Kapan kau datang kesini?"
"Baru saja, dan aku sangat terkejut kota sedang diserang....." ucap Argus.
"Apakah ini sudah waktunya seperti yang kau katakan? kau akan datang ke kota Majestic pada akhirnya?" tanya Agil.
Argus menghembuskan nafasnya.
"Kau sudah tahu kan? terlalu lama aku berpikir, pada akhirnya aku memiliki jawaban, ya kalau bukan karena mu karena siapa lagi?" ucap Argus.
"Dilihat, kau masih berusaha mencari teman-temanmu...."lanjut Argus.
Agil menatap Argus, lalu ia mengangguk.
"Sialan! apakah mereka anak buah para iblis!?!?!?" tanya Agil kepada Argus.
"Aku tidak tahu gil, tapi kalau kau berpikir begitu bisa saja kan..."sahut Argus.
"Jay sadar, Jay sadar!!" teriak Timandra.
Agil berdiri dan berlari mendekat.
"Jay....." bisik Agil.
"Aku sangat pusing...." bisiknya.
"Mandra, dia kenapa?"
"Aku tidak tahu, saat aku cek nafasnya memang sangat berat..."gumam Timandra.
Agil memejamkan matanya, "Jay kau akan sembuh bertahanlah..."
Tea berdiri seraya meremas rambut kepalanya, "Ada apa sih? kenapa Jay seperti ini...."guman Tea.
"Awalnya bagaimana?" tanya Kai.
"Saat kita menuju ke kota gila ini, kita menyerang monster, tapi Jay hanya jatuh saja dan kepleset kakinya! tidak lebih! kenapa bisa begitu!!!!" ucap Tea.
Agil memeggang tangan Jay dengan erat, ia genggam. Ia tidak berpaling dari wajah Jay, ia menatap dengan serius, lalu mencium tangan Jay.
"Jay, sudah janjikan kepadaku, ingin aku kenalkan dengan kedua sahabat aku? akan aku bawa kau dihadapan mereka, dan aku akan bilang aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku menyukaimu, tolong bertahan, kau juga janji kepadaku, kita akan keluar dari dunia ini sama-sama, kan?" bisik Agil.
Timandra yang menyaksikan, tak kuasa, ia berdiri dan menjauh seraya menahan tangis. Begitu pun Vin, yang duduk didekat Agil ia tidak bisa menatap Jay yang sudah lemas tak berdaya itu.
Jay berusaha tersenyum, "Awalnya aku berusaha untuk berdiri dan semangat, tapi rasa lemas dan sakit tiba-tiba datang, jika pada akhirnya aku akan mati, ceritakan kisah romantis kepada kedua sahabatmu tentang kita, Gil...."
Agil menyahut, "Apa, apa yang kau katakan! tidak! tidak boleh! jangan pergi! tidak Jay..."
Jay tersenyum, lalu ia memejamkan matanya, dan saat Agil memanggil namanya lagi untuk sekian kali, Jay tidak menyahut, nafasnya pun berhenti, Agil terbelalak ia memeriksa denyut nadi, dan jantung beberapa kali, tapi saat ia memeriksa tidak ada yang bergerak.
Agil menangis, seraya berulang kali memeriksa dan memanggil nama Jay, ia lalu memberikan nafas buatan untuk Jay. Tea dan Tiamandra mendekat dan mencoba membangunkan Jay.
Kai dan Argus, terbelalak kaget, saat mendengar suara teriakan Agil dan tangisannya.
"Sungguh?" gumam Argus.
"Sungguh? Jay telah tiada?"
__ADS_1