
Kejadian yang menimpa kerajaan saat itu membuat berbagai isu tidak benar tersebar dikota Majestic. Banyak yang mengatakan jika apa yang mereka lihat adalah perlakuan yang sengaja raja dan ratu lakukan, mereka mengundang warganga karena ingin mendapatkan tumbal untuk kesejahteraan kerajaan, itu adalah salah satu isu yang raja dengar.
Ada pula isu tentang monster atau iblis di dalam kerajaan, isu gila itu sampai ditelinga aja Gevarnest. hal itu tentu membuat geram raja, ia harus melakukan penjelasan yang masuk akan kepada mereka agar mereka tidak terus mengada-ada isu.
Tentu jika banyak yang menyebar isu palsu raja tidak segan-segan akan membunuh mereka.
"Bukankah separuh hidupku adalah mereka?" pekik raja.
Varegar lalu berdiri dari kursinya.
"Sudah saatnya untuk menjelaskan kepada mereka, kau undang mereka lagi atau kau akan datang ke rumah masing-masing"
Karena ucapan Varegar seperti meledek, raja lalu dengan cepat menarik kerah baju Varegar.
"Kau seperti meledekku? kau hidup sampai saat ini juga karena aku membutuhkanmu, jika aku sudah tidak membutuhkanmu aku sudah membunuhmu...." ucap raja seraya melepaskan genggamanya.
"Maafkan aku tuan..." gumam Varegar.
"Bisa-bisa isu gila itu sampai diberbagai pojok kota Majestic, ini tidak bisa dibiarkan, kau tahu? aku juga sudah memikirkan akan membatalkan acara ini.. tapi istriku...." pekik raja.
"Aku tahu tuan, aku tahu...."
"Lalu bagaimana?" lanjut Varegar.
Raja melirik Varegar sebentar lalu ia berjalan melangkah kedepan seraya menatap luas hamparan kota Majestic.
Bersama para prajuritnya raja Gevarnest dan Varegar turun ke kota Majestic, ia sudah berada di sebuah panggung seperti panggung istana yang terbuat dari bebatuan khusus untuk membacakan sebuah pidato dimana jika terjadi sesuatu para prajurit akan memberitahu info lebih lanjut ditempat itu, dimana tempat itu adalah inti dari kota Majestic.
Semua orang berlarian menundukan kepalanya saat raja Gevarnest datang, semua prajurit berbaris dihadapan raja dan Varegar. Raja lalu turun dari kudanya dan melangkah menaiki panggung itu bersama Varegar.
Semua orang terkejut saat raja memperlihatkan wajahnya yang geram. Lalu mereka tak henti-hentinya menundukan kepala. Dimana semua orang masih sibuk bekerja dipasar Majestic namun karena raja tiba-tiba datang mereka dengan cepat menghentikan aktifitasnya.
"Saya kesini karena geram...." pekik raja seraya menatap tegas semua warganya.
Panggung itu dipenuhi oleh warga sekitar.
"Saya berusaha mendirikan kota Majestic dengan sangat baik, namun wargaku menghianati apakah saya akan diam saja?" lanjut raja.
Tiba-tiba ada seseorang pria setengah tua yang berani mengeluarkan perkataannya seraya mengangkat satu tangannya agar raja melihatnya.
"Tuan, apakah benar isu-isu tersebut?!" pekiknya.
Raja Gevarnest menunduk, lalu ia menyahut.
"Akan saya jelaskan dengan sangat terperinci agar isu-isu tidak benar itu tenggelam...."
Raja menghelan nafasnya seraya menatap Varegar sebentar disampingnya.
"Saat ini masih ada begitu banyak monster-monster yang berkeliaran, saya pernah mendapati monster disungai Gon.."
Semua orang terkejut dan suasana tiba-tiba sangat keruh.
"Karena hal itu, kita sebagai orang yang tidak mau rakyatnya celaka berusaha untuk menjaga kota Majestic yang luas ini. Kenapa saya membuat tembok besar yang mengelilingi kota Majestic? agar suatu saat jika terjadi hal seperti ini kita jadi semakin bisa mempersiapkan diri dan waspada dadi para monster ini..."
"Tuan....keriuhan macam apa ini tuan? saya tidak bisa mengerti dan mempercayainya jika ada monster disungai Gon? saya berkerja diladang tapi saya tidak melihatnya...." ucap pria berjenggot dipojok.
Tiba-tiba seorang ibu-ibu berdiri seraya masih membawa caping dikepalanya dan sebuah keranjang belajaannya.
Sambil mengangkat tanganya untuk memberikan waktunya sebenyar untuk berbicara.
"Maaf saya lancang, saya adalah orang yang juga menemukan jasad monster aneh disungai Gon...." sahut ibu itu seraya menatap semua warga disekelilingnya.
"Saya menemukannya saat saya sedang mencari ikan disungai..."
Namun ucapan itu dibantah oleh seorang pria pemabuk yang tiba-tiba berdiri dan menepis pembicaraan ibu itu.
"Hei nenek tua, kita tetap tidak akan percaya dengan omonganmu, tuan...maaf kami lancang kami hanya butuh bukti bukan penjelasan kata-kata, karena masalah tadi malam, kami benar-benar mendapatkan isu yang sangat gila, apakah memang benar kau bersengkongkol dengan para iblis?"
Wanita seraya menggendong anaknya menyahut, "Jelaskan ciri-cirinya!!"
Ibu itu menjelaskannya, "Berbentuk seperti duyung, wajahnya sangat terlihat pucat dan kasar, ekornya berwarna hijau lumut, giginya sangat runcing"
Varegar melirik salah satu prajurit ia mengisyaratkan agar mereka kembali kekerajaan dan mengambil jasad makhluk aneh yang ia simpan diaquarium besarnya. Lalu prajurit itu beranjak pergi.
"Saya tidak akan sengan-sengan membunuh seseorang yang berani menepis pembicaraanku..." pekik raja.
Mereka semua tiba-tiba terdiam, sambil beberapa dari mereka masih berbisik-bisik.
__ADS_1
"Tahu apa kalian dariku? jika sesuatu terjadi apakah kalian yang akan melindungiku?...."
"Dengarkan wahai masyarakatku yang terhormat! semoga yang menyebarkan isu pantas mendapatkan hukuman yang berat, apa yang kalian saat malam perayaan adalah bukan kesengajaan, kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu, kalian melihat serpihan kaca yang terbang mengenai seorang pria bukan? mari kita lihat pria itu akan berbicara tentang apa yang ia lihat." pekik raja.
Seorang pria yang masih diperban dilehernya datang dari sudut perumahan, ia menundukan kepalanya karena ia sangat gugup untuk berbicara didepan banyak orang. Bahkan ia akan membohongi semua orang.
Ia melangkah kearah tangga dan berdiri disamping raja, tidak lupa ia menundukan kepalanya.
Raja merangkul pria itu, "Saatnya mendengarkan bukti..." sahut raja.
Varegar menatap sinis pria itu, wajah pria itu sangat bersalah dan khawatir ia menatap Varegar sebentar, namun Varegar mengisyaratkan pria itu agar tetap berbicara apa yang sudah direncanakan raja dan dirinya.
"Sssaa...yyaa..." ucap gugup pria itu.
Hingga raja meremas lengannya, agar ia cepat menyelesaikan pembicaraannya.
"Ssaaa..yaa.. yang terkena serpihan kaca itu, hingga tubuh saya terlempar jatuh hingga pingsan, tapi saya bsrsyukur karena saya tidak mati karena itu, yang akan saya jelaskan disini adalah saya tidak melihat adanya serpihan kaca yang terbang dan mengenai saya, saya melihat serpihan itu bukan terbang tapi ia juga terlempar karena terinjak oleh kaki saya, hingga ia memantul dan mengenai leher saya"
Semua orang berbisik dan gaduh karena argumen pria itu, sedikit masuk akal namun ada beberapa orang yang tidak mempercayainya.
"Bicaralah kepada kami jika ada sesuatu yang kau sembunyikan!" ucap pria pemabuk itu.
Raja gevarnest tertawa.
"Seorang pemabuk seperti itu apakah bisa adu mekanik denganku?" pekik raja.
"Saya mohon kubur dalam-dalam isu tidak benar itu, saya berkata dengan jujur apa adanya, raja dan semua orang kerajaan sama sekali tidak ada hubunganya dengan monster atau iblis, mereka juga sedang mengawasinya karena akhir-akhir ini ada banyak para monster yang berkeliaran" ucap pria itu.
"Kalian dengar?" sahut Varegar.
Ucapan pria itu sebenarnya membuat rasa bersalah pria itu. Dimana saat ia sudah pulih dan siap untuk kembali kerumah raja menemuinya, ia berbicara empat mata kepadanya. Ia hanya meminta untuk pria itu menjelaskan kepada warga tentang isu yang beredar, raja meminta jika ia harus mengatakan kalimat yang sudah raja siapkan, kalimat yang sudah dikarang dengan tidak nyata oleh raja, jika tidak anak dan istrinya akan ia bunuh. Ia baru saja tahu sifat asli raja.
Hal itu yang membuatnya sangat terlihat stres, bahkan ia harus mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataanya, ia harus mengatakan hal yang bohong yang sudah raja siapkan untuk dibicarakan.
Ia sempat menolak, bukankah hal itu yang membuatnya harus diperban seperti ini, apakah ia pantas berbohong kepada warga sekitarnya, ia tahu maksud raja baik, tapi bukankah ia harusnya jujur apa adanya, bukannya menjelaskan hak yang tidak benar adanya.
Pria itu segera turun dan pamit untuk pergi. Semua orang masih ramai-ramai berbisik. Hingga salah satu prajurit tiba-tiba melempar tubuh jasad makhluk aneh yang sudah bau dihadapan warga membuat warga tersentak kaget.
BRUKKKK!!!!
Jasad makhluk itu tergeletak dihadapan semua warga mereka terlihat sangat terkejut saat apa yang dikatakan ibu tua itu sangat benar.
"Sekarang beritahu aku, siapa yang menyebar isu gila ini?" sahut raja.
Mereka semua terlihat masih melototi makhluk dihadapannya.
Pria gemuk sedikit tua, dengan jenggot putih yang hampir memenuhi wajahnya.
"Saya percaya dengan pendapat anda tuan, kami disini terlalu percaya dengan isu yang beredar tanpa tahu aslinya, saya yakin mana mungkin raja gevarnest menghianati kami dan berkerja sama dengan para iblis, saya mewakili warga Majestic meminta maaf!" pekik pria itu.
Seseorang wanita seperti istrinya menepuk tubuh laki-laki itu, ia sedikit tidak setuju dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Jika masih ada isu gila aku berharap segera lapor kepadaku, akan aki bunuh penyebarnya, kau tahu siapa?"
Pria itu menggeleng.
"Akan saya jelaskan lebih lanjut lagi, bukannya raja sudah berjanji akan menjelaskan jika kita sudah menyelidiki monster ini!" sahut Varegar.
Lalu ia menjelaskan tentang asal-usul monster ini secara terperinci.
Aleris menatap heran, karena dijauh sana ditengah-tengah kota Majestic ada banyak orang-orang berkumpul. Tidak begitu jelas apa yang ia lihat hanya saja ia bisa melihat orang-orang kecil seperti semut sedang berkumpul, ia bisa meliahat dari gedung tinggi kerajaan disebuah balkon.
"Ada apa?" ucap Aleris menyipitkan matanya.
Seraya memeggangi lengannya, ia lalu melepaskan perban yang seharusnya sudah mulai diganti. Ia bisa melihat bekas jahitan dimana jahitan itu lumayan panjang.
"Karena kelalaianku, kekuataan ku sendiri yang mengenai tubuh indahku..." sahut Aleris seraya memuji dirinya sendiri seperti biasa.
"Apakah mereka tidak akan menyusul? bukankah aku terlalu lama dikerajaan? mereka akan sangat penasaraan jika aku terlalu lama disini karena mereka tahu bukan aku benci kerajaan ini?" gerutu Aleris.
"Kenapa aku tidak membawa mereka saja kemari?" lanjutnya.
Bukankah sudah menjadi kegemaraan Aleris berbicara dengan diri sendiri dan memuji dirinya sendiri? ia sangat bersemangat jika harus memuji dirinya sendiri.
"Apakah raja sedang menujukan sifat aslinya disana?" Aleris kembali kearah balkon dan menatap orang-orang yang masih ramai ditengah kota.
"Ah ia sedang sidang? tentang apa yang terjadi malam itu? apakah ia akan jujur jika bayinya adalah seorang iblis? ia bahkan tidak akan membunuh bayinya ia akan merawatnya dengan setulus hatinya..." ledek Aleris.
__ADS_1
Tiba-tiba mata Aleris kabur, kepalanya sangat berat, ia mencoba menghelan nafas dan melangkah pelan kearah tempat tidur. Saat duduk pun ia masih merasakan kepalanya yang berputar, seolah-olah kerajaan ini akan runtuh.
Tubuhnya sangat lemas, dan ia pingsan begitu saja. Fay yang kebetulan membuat janji dengan Aleris akan masuk untuk menjemput Aleris namun saat ia membuka pintu, ia melihat tubuh Aleris yang tergeletak tidak berdaya, ia segera berlari kearah Aleris dan berusaha membangunkan Aleris, hingga Arvand datang dan segera membantu tubuh Aleris yang tergeletak dan ia bawa ketempat tidur.
Sudah hampir lima belas menit Aleris tidak sadar, ia sangat pucat.
"Ada apa dengannya" ucap Arvand.
Fay menggeleng, "Saat ku periksa, ia hanya kelelahan..." ucap Fay.
Akhirnya Aleris tersadar, ia membuka matanya pelan seraya memeggangi kepalanya. Ada sesuatu yang tiba-tiba datang dari pikirannya.
Tentang pertemuanya dengan seorang berjubah, yaitu iblis. Ia tidak begitu percaya dengan apa yang ia ingat, tapi sekarang ingatan itu kembali membuatnya sangat tidak percaya.
Aleris masih melotot, dan ia segera membenarkan posisi duduknya.
"Ada apa, ada apa..." sahut Fay seraya menyentuh kedua tangan aleris.
Arvand, "Kau jangan menakut-nakutiku...."sahut Arvand.
Ia masih syok, bahkan kepalanya masih terasa sangat sakit.
"Tidak! kau tahu kenapa ada banyak orang disana" pekik Aleris mengalihkan pandangan.
Mata Arvand dan Fay saling bertemu dengan perasaan yang sangat kebingungan karena tingkah aneh Aleris.
"Apa?" tanya Arvand seraya melangkah kearah jendela balkon.
Ia menyipitkan matanya melihat jauh disana orang-orang yang berkumpul seperti semut. Fay mengikuti langkah Arvand dan melihatnya juga.
"Ada apa?" tanya Fay.
"Sepertinya ayah sedang melakukan sidang karena isu tidak jelas itu" ucap Arvand menunduk.
"Karena isu itu?"
"Yah, bukannya isu itu sangat merugikan kita? eh dia bukan kita" gumam Arvand.
Fay menggeleng lalu ia kembali menoleh melangkah kearah Aleris, Aleris masih merintih kesakitan dibagian kepalanya.
"Akan aku ambilkan obat!" ucap Fay namun Aleris menolak, ia memeggang tangan Fay agar ia tidak usah repot-repot mengambilkan obat.
"Tidak usah, aku baik-baik saja...."
Arvand mendekat, "Kau kenapa?"
Aleris memejamkan matanya, "Ambilkan aku minum saja..."
Fay lalu segera menuangkan cangkir dimeja dekat tempat tidur Aleris, ia lalu membantu Aleris untuk menenggaknya. Hal itu membuat Aevand sedikit terlihat aneh, karena aksi itu dilakukan didepannya.
"Aku hanya mengingat satu kejadian yang sudah lama aku tdiak ingat, kejadian ini ada hubungannya dengan apa yang sedang ramai diperbincangkan dikerajaan..."
Arvand dan Fay terbelalak kaget.
"Apa?" sahut mereka berdua secara bersamaan membuat Fay melirik kearah Arvand membuat Arvand tidak nyaman.
"Apa lihat-lihat?" pekik Arvand.
Fay tidak terima ia menyahut, "Lihat-lihat? hello... jangan sok tahu dong!" ledek Fay.
Arvand kaget jelas-jelas ia melihat jika Fay menatap aneh kearahnya.
"Jangan sok tahu? tidak salah dengar? aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kau menatap aneh kearah ku setelah ucapan kita keluar secara bersamaan!" pekik Arvand.
Fay menentengkan kedua tanganya dipinggang.
"Hahahahah, memangnya kau sangat suka aku menatap aneh kearahmu hingga kau bahas seperti ini?"
Ucapan ini tentu membuat Arvand terlihat sangat muak.
"Gila! aku hanya bertanya baik-baik! kau sudah nyerocos sampai langit ketujuh!" pekik Arvand.
Fay tersenyum sinis, "Apa maumu?" ia mendongakkan daginya hingga terlihat seperti menantang Arvand.
"Teman-teman......" ucap lirih Aleris.
Bahkan sampai Fay dan Arvand lupa, jika ada hal yang penting yang harus Aleris bicarakan.
__ADS_1
"Aku bertemu dengan salah satu iblis, ia datang keistanaku....." ucap Aleris.