
"Lepaskan dia..." sahut raja Gevarnest yang tiba-tiba datang.
Varegar berdiri dan mendekat, "Siapa?"
Raja Gevarnest masuk kedalam kamar Aleris, dan melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Aleris, Varegar marah ia menghalang aksi raja Gevar tersebut, namun raja Gevarnest berteriak.
"Apa!!!!!" teriak raja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Varegar.
"Aku ingin melepaskan Aleris, dan aku ingin Aleris yang membuka pintu sel itu, aku membebaskan anak muda itu..."
"Apa?!" pekik Varegar.
Ia mengamuk, ia meremas rambut kepalanya, seraya membanting ke lantai beberapa barang kaca yang ada dikamar Aleris.
"Kau bisa diam? karena kau tidak tahu rencanaku...." ucap raja mendekat kearah Varegar.
"Kau ingat kan? yang selalu aku katakan kepadamu? 'pelan-pelan..' mengerti?"
Tanpa menjawab, Varegar berlalu begitu saja. Raja Gevarnest mendekat kearah Aleris, ia sangat miris melihat keadaan Aleris, yang berantakan. Ia mengeluarkan kain dan menyodorkan kain itu kepada Aleris.
"Bersihkan darah-darah itu..." ucap raja.
Aleris membuang muka, ia tidak menjawab. Raja Gevarnest lalu meletakan kain itu disamping Aleris dan beranjak pergi. Dengan cepat Aleris berdiri dan mengambil kain itu, dengan langkah cepat ia membuang kain itu dijendela kamarnya.
Dengan langkah yang sangat berat Aleris menuju keruangan sel penjara itu, saat membuka gerbang ia sudah melihat sosok Agil yang sedang tertidur seraya tubuhnya menyender ketembok.
"Gil..." panggil Aleris, saat tubuhnya sudah ada didepan sel tersebut.
"Gil...." untuk kedua kalinya Aleris memanggil namun Agil masih tidak menyahut.
"Gil..." dan benar seperti dugaan Aleris untuk yang ketiga kalinya, Agil terbangun.
Saat matanya menyorot seseorang yang datang, ia langsung spontan berdiri.
"Aku... Aleris..."
"Keintinya saja...." sahut Agil tiba-tiba.
"Baiklah, Gilang bersamaku dia aman ditempatku, aku akan membawa kau kesana..."
Agil terdiam lalu menatap Aleris, "Randi?"
"Dia dikota Majestic ini, aku tidak tahu tepatnya dimana tapi dia ada disini..."
Tiba-tiba Agil mendubrak sel penjara itu dengan keras, "Jangan bohong padaku!"
Aleris menghelan nafasnya, "Pasti kau sudah berpikir aku pembohong, penipu?"
"Terserah kau apak percaya denganku atau tidak..." sahut Aleris.
"Aku percaya kepadamu!" sahut Agil.
Aleris melepaskan gembok sel itu, dan mengeluarkan Agil dari ruangan itu.
"Kau yakin? ini perintah raja?"
Aleris hanya membalas dengan anggukan kepala.
Digerbang belakang kerajaan mereka berdiri, disana mereka tidak menemukan adanya seorang prajurit.
"Kau yakin malam ini kita berkeliling mencari Randi?" tanya Agil.
Aleris hanya tersenyum, "Tujuanku ingin mempertemukan kalian, jadi harus segera mungkin.."
"Oh ya!" lanjut Aleris menatap Agil yang ada disampingnya.
"Maafkan aku, tidak langsung memberitahumu atau mengajakmu mencari teman-temanmu, aku juga diberikan perintah...."
Agil terdiam ia menundukan kepalanya. Ia hanya menbalas dengan senyuman. Aleris lalu mengeluarkan seekor elang putih miliknya tiba-tiba, membuat Agil tersentak dengan kaget, karena dengan tiba-tiba tanpa aba-aba, hewan elang raksasa yang muncul begitu saja dihadapanya.
"Sungguh?" gumam Agil.
Aleris tertawa.
Mahagaskar berlari melewati koridor menuju kearah kamar Leon, ia mengetuk pintu kamar Leon dengan keras. Leon terbangun dan membuka pintunya.
"Ada apa paman? kau memganggu tidurku sialan..."
Mahagaskar menampar wajah Leon, berharap Leon segera sadar dari efek bangun tidur yang lemas.
"Aku melihat raja dan Varegar pergi membawa pasukan, mereka pergi entah kemana.."
Leon tiba-tiba terbelalak, "Apa!!"
"Aku tidak bisa memutuskan mereka pergi menuju istana Aleris, karena ini tidak ada hubungannya..."
"Tidak ada hubungannya menurutmu? memangnya kau tahu apa rencana mereka?"
Mahagaskar menatap Leon dengan raut wajah yang penasaran.
Seraya terbang-terbang keudara, Aleris tidak berhenti untuk bercerita kepada Agil.
"Karena kau sahabatnya pasti tahu keras kepala bagaimana seorang Randi..."
"Memang, ia sangat keras kepala, dan aku sudah paham bagaimana kau membebaskannya pergi mengelilingi kota ini, entahlah aku sulit memahami Randi..." ucap Agil.
Aleris lalu mendaratkan elangnya saat ia sampai disebuah kedai yang terakhir kali Aleris dan Randi bertemu.
__ADS_1
"Terakhir kali, aku bertemu denganya disini..."
"Tapi bagaimana kita bisa menemukan Randi?" sahut Agil.
Aleris mendekat dan menepuk pundak Agil.
"Aku sudah berada disini, Randi juga ada disini tapi kenapa masih sulit untuk bertemu.."
"Kau sangat keren bisa datang, dan entah karena pikiranmu, kau yakin jika Randi dan Gilang berada disini, kenapa kau bisa yakin begitu?"
Agil menggelengkan kepalanya, "Aku hanya berusaha menepis pikiran gilaku, aku tetap berdiri kokoh memikirkan hal baik-baik saja, karena kota Majestic adalah pusat kota atau ibu kota bukan? aku memikirkan beberapa hari jika sesuatu terjadi pasti akan ada jawabanya, karena disini adalah ibukota..."
Mereka lalu melanjutkan perjalannya, menaiki punggung elang, dan terbang ke udara. Masih berlanjut hingga tak terasa mereka sudah terbang terlalu jauh dan sangat lama, diudara. Mereka masih mencari keberadaan Randi, sampai detik ini pun mereka tidak menemukannya.
"Sudah hampir berapa jam kita hanya terbang-terbang saja?" ucap Agil.
"Tidak bisakah aku bertemu dengan Gilang terlebih dahulu?"
"Tentu..."
"Aku juga sudah lama tidak kembali ke rumahku..." lanjut Aleris.
Malam itu, tidak perduli tentang malam yang curam dan petang, mereka nekat datang menuju keistana Aleris, setelah lama Aleris tidak kembali kesana, ia akan kembali dan membawa seorang yang Gilang dambakan, seorang teman yang telah lama berpisah, seorang sahabat yang pada akhirnya akan bertemu kembali setelah insiden penculikan.
Aleris tidak berhenti tersenyum dan merasakan ketenangan hati yang luar biasa, saat ia pada akhirnya melihat dan menemukan Agil, seorang yang selaku diceritakan Randi dan Gilang, dimana setiap harinya mereka tidak pernah lepas dari kata 'Agil' mereka mencurahkan hatinya kepada Aleris berharap ia menemukan Agil untuk mereka.
Tapi lihatlah, pada akhirnya siapa yang Aleris bawa saat ini? yang duduk dibelakang bersama Aleris menaiki burung elang raksasa, dua orang kembar menurut Randi, mereka akan datang. Aleris akan membawa seorang Agil yang ternyata masih hidup dan berusaha untuk tetap hidup, dan akan menemui Gilang.
DEG.
Seperti jatung yang copot tiba-tiba, Aleris yang masih terbang diatas awan melihat dibawahnya, sebuah istana yang hancur lebur, hanya ada sebuah bongkahan bangunan yang berantakan dan berserakan ditanah.
Agil melotot saat melihat sebuah istana yang hancur dibawah sana. Aleris mendaratkan ekor elangnya, ia turun begitu saja dari punggung elang saat elang itu sudah mendarat ketanah.
"Kenapa? apa ini? kenapa?" ucap Agil.
Aleris terdiam tak bersuara, yang ada dihadapanya adalah sebuah bangunan yang sudah hancur lembur, bangunan indah yang selama ini ia pandang sebelah mata, hancur tak beraturan didepan matanya.
"Gil, ini istanaku...." gumam Aleris.
Agil masih kebingungan karena yang ada didepan matanya adalah sebuah bangunan yang roboh.
Aleris menjatuhkan diri, ia memejamkan matanya, ia sangat hancur melihat apa yang ada didepan matanya, dimana semua manusia yang berada didalamnya? dimana mereka?
Dengan kekuatan penuh, Aleris mengeluarkan kekuatan anginnya, dengan kekuatan Angin yang ia keluarkan ia mencari manusia, berharap mereka masih hidup disana. Angin itu menerbangkan bongkahan bangunannya itu. Aleris dengan penuh emosi membuang bongkahan bangunan itu, dan melempar kearah hutan, ia membongkar dengan kekuatan angin yang ia punya, ia mendekat saat bongkahan bangunan itu sudah tak tersisa.
Bahkan ia tidak melihat satu pun manusia yang mati ataupun jasad, ia tidak melihat jejak sama sekali. Agil yang kaget tambah syok apa yang ia lihat.
"Ris....apa yang terjadi!!!"
Aleris menoleh kearah Agil, "Gil...maafkan aku....maafkan aku...." ucap Aleris seraya menjatuhkan diri.
Agil lalu mendekat, "Siapa yang melakukannya" bisik Agil.
Aleris masih tidak yakin, apakah ini ulah raja dan Varegar, atau kah seorang iblis yang masih tidak puas dengan permainanya, Aleris hanya diam. Namun tiba-tiba Agil memeluk tubuh Aleris.
"Ini semua salahku...." gumam Aleris.
Dengan cepat Agil menyahut, "Tidak! ini bukan salahmu"
"Gara-gara aku kau tidak bertemu dengan Gilang, gil...."
Agil menatap Aleris, ia hanya terdiam.
"Aku kehilangan semuanya disini..." rintih Aleris.
Seraya menatap matahari yang masih malu-malu untuk memunculkan seluruh tubuhnya, hanya aura cahaya yang sedikit demi sedikit mengeluarkan warna orangenya. Aleris dan Agil duduk lesehan tanpa alas, mereka sedang berada disebuah atas tembok kota Majestic.
Sebuah tembok yang melingkari dan menutupi kota Majestic yang sudah menjadi ciri khas kota tersebut, mereka bisa melihat pemandangan yang sangat indah diatas sana, tembok tinggi yang menjulang tidak membuat mereka berdua merinding saat berdiri diatasnya, mereka malah menikmati hawa pagi yang sejuk dan melihat sang surya yang masih malu-malu.
"Maafkan aku...." gumam Aleris.
Agil menatap Aleris, "Tidak kau tidak salah..."
"Setiap hari, yang aku dengar dari mulut mereka berdua adalah dirimu, sampai aku bisa membayangkan wajahmu, sampai saat pertama kali aku bertemu denganmu aku sangat mengenalinya...." ucap Aleris.
Agil mengembuskan nafasnya, "Aku sangat menikmati suasana ini, bagaimana orang-orang bisa membangun tembok besar ini?" ucap Agil.
"Gil, saat kau perjalanan kemari, apakah tidak ada monster yang menyerangmu?"
Agil menggeleng cepat, "Tidak..." Agil berbohong.
"Sungguh?" Agil mengangguk.
"Aku penasaran, pada akhirnya kau datang, setelah aku pikir kau bisa saja mati..."
"Aku juga berpikir demikian, aku sempat berpikir Randi, Gilang, dan Malucia mati dimangsa oleh elang hitam itu, tapi ternyata elang hitam itu bukan hewan buas tapi hewan suruhan..."
Aleris mengangguk, "Yang masih mengganjal dari diriku, kau pasti tidak sendiri datang kemari..."
Agil menatap Aleris.
"Aku datang dengan dua wanita perkasa.."
"Siapa mereka?"
"Saat turun aku perkenalkan untukmu, dua wanita cantik" ucap Agil menggoda.
Mereka pun tertawa lepas.
__ADS_1
"Jika kau sedang banyak pikiran seperti ini, apakah kau biasa datang kesini?"
Aleris terdiam, ia menatap kearah depan.
"Tidak juga, aku pernah sekali kesini dengan Malucia..."
Tiba-tiba Agil terdiam dan menatap Aleris.
"Aku mengajaknya, berlari dari ujung tembok sana sampai sini.." ucap Aleris menujuk.
Agil menundukan kepalanya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Agil.
Pertanyaan itu membuat Aleris terdiam lalu menatap Agil, seperti mereka saling paham dengan bahasa tubuh mereka, bahwa ada seorang wanita yang mereka kenal dan memiliki hubungan.
"Aku sangat senang tentunya..." Aleris tersenyum.
"Kau menyukainya?" tanya Agil, entahlah ini adalah pertanyaan dilar rencana Agil.
Aleris tertawa, "Kenapa suasanya jadi serius seperti ini?"
"Tidak, aku hanya ingin bertanya..."
Aleris hanya memjawab dengan senyuman saja.
"Apa yang pertama kali, akan kau lakukan ketika pada akhirnya kau, Randi, dan Gilang bertemu.." tanya Aleris mengalihkan pembicaraan.
"Hal yang pertama kali aku lakukan adalah, memeluk mereka dan tentunya menangis..."
Entahlah membayangkan saja membuat Agil meneteskan air matanya, ia tak sadar jika air matanya sudah mengalir kepipinya.
"Aku berusaha bagaimana pun, agar bisa datang kemari, berambisi untuk menyelamatkan teman-temanku dan mencari jawaban, tapi pada akhirnya ini diluar ekpentasiku..."
Aleris menepuk pundak Agil, "Aku yakin, habis ini kau bisa menemukan Randi dan Gilang..."
"Kau yakin Gilang masih selamat karena insiden itu?" tanya Agil.
Aleris menundukan kepalanya, "Aku yakin ini adalah penculikan yang direncanakan, karena aku tidak merasakan adanya hawa monster atau iblis disana..."
"Aku ingjn bertanya..." tanya Agil.
"Kau memiliki kekuatan Angin?"
Aleris mengangguk, "Yap"
Ini menjadi beban pikiran Agil, dimana saat ia datang ke kota Lander dan menyelamatkan pamar Argus, ia melihat ada kekuatan angin yang bahkan sama persis yang ia lihat saat Aleris membongkar bangunan itu.
Namun ia kembali untuk menepis pikiran itu, ia tidak akan bertanya lebih jauh lagi tentang ini.
"Ayo turun..." sahut Aleris.
Sudah ada Mahagaskar dan Leon yang berdiri didepan pintu kerajaan, mereka menunggu Aleris turun dari ekor elangnya, hingga Aleris turun bersama dengan Agil.
"Ada apa dengan mata sebabmu?" tanya Leon.
"Tidak ada...."
"Kau sudah makan?" tanya Mahagaskar kepada Aleris dan Agil.
Agil hanya menatap Aleris.
"Aku dan Agil belum makan dari kemarin paman..."
Leon lalu segera mengajak mereka untuk masuk kedalam kerajaan, dan menyuruh mereka untuk duduk dimeja makan, dan menyantap masakan buatannya.
"Maklum tidak ada wanita disini, hanya ada para selir tapi ya sudahlah...." sahut Mahagaskar.
Sejujurnya Agil merasa sangat gugup dan takut untuk makan didalam kerajaan, apalagi kemarin ia dikurung didalam sel. Seperti tahu aoa yang ada dipikiran Agil, Mahagaskar lalu menepis.
"Tidak usah seperti itu, Aleris lebih dekat dengan aku dan si Leon, jadi kau tidak usah khawatir kita tidak menyakitimu..."
Agil lalu dengan pelan melahap makanan itu, hingga pada akhirnya ia pamit untuk pergi.
"Aku ingin paman dan kau, membantunya..."
Aleris tahu, Mahagaskar dan Leon paling tidak bisa untuk saling membantu seperti ini, karena mereka adalah seorang menteri yang sangat dikenal oleh warga.
"Aku tidak meminta kalian membantu Agil dengan susah payah, aku ingin kalian membantu mencarikan ku, ahli lukis..."
Agil tersentak, ia juga kaget dengan ucapan Aleris.
"Apa maksudmu?" tanya Mahagaskar.
"Sudah carikan saja..." ucap Aleris beranjak pergi diikuti Agil.
Agil menghentikan langkah Aleris ia menghadang langkahnya.
"Jelaskan padaku..."
"Sepertinya aku harus menyuruh para prajurit ini untuk mencari Randi, salah satu caranya adalah melukis wajah Randi.."
Agil membuka mulutnya, ia tak menyangka jika rencana yang Aleris ucapankan itu, adalah cara pencarian dalam mode modern.
"Baiklah, kau bisa kembali ketempatmu, aku berharap segeraaa mungkin menemukan Randi dan Gilang..." ucap Aleris.
"Istanamu?" tanya Agil.
Aleris tidak menjawa ia hanya tersenyum, hingga Agil melangkah dan membuka gerbang, hingga Aleris sudah tidak melihat wujud Agil lagi.
__ADS_1
Seraya mengusap-usap tanganya, Aleris bergumam.
"Oke baiklah, perang dimulai, dimana kalian menyimpan wanitaku dan anak buahku...."