
Aleris menghentikan langkahnya saat ia menyadari ada yang semakin tidak beres diarah utara kota, ia memanjat sebuah pohon dan melihat sebuah raksasa yang saling bertarung, diikuti kekuatan energi yang terkumpul disana.
"Aku yakin, naga itu milik Varegar..." gumamnya.
Aleris menoleh kembali kearah depan, dimana menara kerajaan sudah terlihat didepan mata.
"Aku berharap tidak ada yang menjadi korban sekarang, sebentar lagi akan selesai!" ucapnya.
Tak butuh waktu lama, ia turun dari pohon dan mencoba menggunakan lagi dan lagi kekuatan teleportasinya, namun kembali lagi Aleris mengeluarkan darah dari hidungnya, entah karena ia kekuarangan tenaga atau bagaimana, yang pasti saat ini Aleris tidak bisa menggunakan kekuatan teleportasinya.
Ia berlari jauh dari tempat ia berdiri tadi, berlari tanpa henti. Hingga seseorang yang ia kenal menghadang mnya tepat didepan wajahnya, dengan wajah seperti menahan tangis.
"Arvand?" ucap Aleris.
Arvand mengigit bibirnya, ia tak meenyangka Aleris masih hidup berada didepan matanya sekarang, walaupun wajah dan tubuh Aleris yang sudah berantakan.
"Kau dari mana saja sialan!" sahut Arvand.
Ia langsung memeluk tiba-tiba tubuh Aleris itu dengan erat.
"Katakan padaku apa yang terjadi!" sahut Arvand.
"Aku sudah kehilangan banyak orang, aku sangat trauma jika kita berpencar-pencar seperti ini!"
__ADS_1
Aleris tersenyum, pipinya mengembang ia menyetuh pundak Arvand.
"Sudah sangat lama aku tidak bisa tersenyum dengan riang seperti ini, aku sangat merasa diberkati saat melihat kau masih selamat sampai detik ini, memang siap atau tidak siap semua ini akan terjadi..." ucap Aleris.
Tiba-tiba segerombolan pria datang dari balik rumah, Aleris kenal itu mereka adalah segerombolan para Zero yang selamat, dan ada sesuatu yang mereka bawa.
Mereka menundukan kepala mereka kepada Aleris.
"Ris, Kau tahu kan? ini apa?" ucap Arvand.
Aleris mengangkat alisnya, ia memang tidak asing dengan benda itu, yaitu pedang. Seperti Aleris pernah melihatnya. Aleris mendekat dan menyentuh pedang itu, namun saat Aleris menyentuh pedang tersebut, besi dari pedang itu mengeluarkan cahaya.
Arvand melotot saat melihatnya.
"Tuan, ini dari raja Jasper untuk tuan, ia sengaja membuat pedang ini untuk peperangan ini, ia sudah tahu ini akan terjadi..." ucap salah satu Zero tersebut.
Aleris menepis, "Apa yang kalian katakan? kalian sudah hebat sampai detik ini, kalian sudah membasmi para kelelawar yang susah mati itu..." ucap Aleris.
Arvand mendekat dan menepuk pundak Aleris, "Ris, kalau bisa bunuh saja sekalian dia..."
Aleris menoleh, "Siapa?"
"Ayahku..." ucap Arvand.
__ADS_1
Aleris menatap tajam kearah Arvand.
"Padahal aku sudah berjanji kepada dirimu dan diriku sendiri, walaupun aku membenci ayahmu tapi tetap saja aku tidak ingin membunuhnya, namun..."
Arvand menyentuh kedua tangan Aleris, "Suuuttt...tidak ada alasan lain, kau hanya perlu membunuhnya..." ucap Arvand.
Aleris tersenyum, entah ini adalah momen bahagia atau sedih, yang pasti Aleris tidak bisa mengexpresikannya.
Para zero itu menjelaskan kepada Aleris, jika pedang kesatria ini harus diaktifkan dengan kekuatan mereka. Aleris melihat pedang itu tergeletak ditanah seraya para zero itu memejamkan matanya seraya membaca mantra mereka. Mereka membundar mengelilingi pedang itu.
Tiba-tiba pedang itu menyala dan melayang, cahaya putih mengelilingi pedang kesatria itu. Hingga angin kecil datang dan debu-debu didekat mereka berterbangan.
Tak lama, ritual itu selesai salah satu zero itu melangkah mendekat seraya membawakan pedang.
"Tuan, ini..." zero itu menyodorkan pedang kesatria.
Aleris menerimanya, ia tidak bisa berpaling dari pedang ini, sungguh sangat cantik dan menawan.
"Kau tidak boleh ikut aku, kau tahu tentang Matrix itu bukan? maka akan aku hancurkan itu terlebih dahulu, kalian tunggu disini. Kau, Agil, Malucia dan yang lainnya, karena aku yang tahu tentang Matrix itu!"
Arvand menoleh kearah dimana para raksasa itu masih bertarung, ada raut wajah ketakutan. Aleris menepuk pundak Arvand.
"Tenang, ada Varegar yang menghadang..."
__ADS_1
Arvand terbelalak saat mendengar nama Varegar keluar dari mulut Aleris.
"Apa?! Varegar?"