Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
"Bahkan saat matamu terpejam, kau masih cantik."


__ADS_3

Gilang sudah beberapa hari tidak sadarkan diri, ia akan sadar namun ia kembali memejamkan matanya karena lemas, bahkan para warga kerajaan tidak memberikan makanan ataupun minuman kepada para orang yang disandera diruangan tersebut.


"Aku tidak bisa melihat Gilang..." ucap Silas seraya menundukan kepalanya.


Malucia bersikeras membuka rantai yang mengikat dikedua tanganya, namun sampai kedua tangan bersimbah darah, rantai itu masih kuat mengingat kedua tangan Malucia.


Ia berteriak.


"Percuma, sudah beberapa hari disini, kau terus berusaha melepaskan rantai itu, sampai kau tidak sadar? ada luka dikedua tanganmu..." ucap Lidra.


Ada banyak anak buah Aleris yang disanderan diruangan tentu malucia, Lidra, dan yang lain disandera bersama disel tersebut, kecuali Gilang.


Ia disandera disel, yang berbeda.


"Kekuatanmu sangat kuat! kenapa kau diam saja bodoh!" teriak Malucia kepada Silas.


Silas hanya diam, menatap Ace.


"Kau tidak lihat kita? selama beberapa hari ini apa yang kita lakukan kalau bukan berusaha melepaskan ini? lihat lantainya! banyak darah!" teriak Ace.


Malucia menangis, ia tidak bisa melihat Gilang yang sudah lemas tak sadarkan diri itu.


Dimana Aleris? kenapa dia masih diam saja? dimana dia? kenapa ia tidak menolong kami? apakah dia masih mengingatku?


"Bahkan aku sampai tidak tahu apa yang terjadi diluar" sahut Silas.


Dengan lemas Gilang mengeluarkan suaranya untuk pertama kali, "Aku butuh air minum...." ucapnya.


Malucia, Lidra dan yang lain, mendongak kaget saat Gilang mengeluarkan suaranya.


"Lang, tunggu, aku akan menyelamatkanmu...." ucap Malucia.


Tiba-tiba Ned berteriak seraya menarik rantainya yang mengikat kedua tangannya, seraya otot lengannya muncul karena rantai itu sangat kuat.


"Hentikan Ned!" teriak Lidra saat melihat kedua tangan Ned penuh darah.


"Aku ingin perhi dari sini sialan!" ucap Ned.


"Cia, kau mengingat sesuatu tidak?"


Malucia menatap Lidra, "Apa?"


"Sudah lama aku ingin mengatakan ini, aku teringat tentang masalah beberapa bulan yang lalu, dimana sempat Randi terus mengatakan ini kepada kita.."


Malucia terbelalak, "Ah! aku ingat! ada iblis yang datang dari balik hutan? dia membawa manusia kelelawar bukan? menyerang kita?"


Lidra mengangguk, "Ledakan, dan keriuhan yang kita dengan dari ruangan ini, apakah masalah itu?"


Semua orang hanya menatap Lidra.


"Kapan ingatan kalian kembali?" tanya Ace.


Lidra mencoba mengingat, "Entahlah, ini mengalir begitu saja, aku da Malucia tidak mendengar perbincangan Aleris dan Iblis itu..."


Malucia mengangguk, tiba-tiba prajurit yang menjaga mereka diruangan datang.


"Diam!" pekiknya.


"Suruh kita diam? tidak bisa bodoh!" pekik Ned.


Prajurit itu menggertak mereka.


"Aku juga setuju dengan Lidra, suara auman dan teriakan warga, membuat aku curiga..." ujar Silas.


"Apakah Aleris masih dipenjara? disituasi semacam ini? apa maunya mereka?" ucap Malucia.


"Pak prajurit apa yang terjadi diluar sana?" ucap Ace tiba-tiba.


Awalnya prajurit itu masih terdiam, lagi-lagi Ace bertanya dengan nada tinggi, membuat prajurit itu menoleh dan menjawab.


"Pasukan iblis dan monster menyerang kota...."


Semua orang terbelalak setelah mendengarkan ucapan prajurit itu.


"Kenapa kita ada disini sialan? bukankah kita harus ikut membantu?" pekik Silas.


Ia memberontak, dan mengamuk berusaha melepaskan rantai yang mengikat kedua tangannya, sayangnya rantai itu terikat dilantai membuat mereka tidak bisa berdiri.

__ADS_1


Malucia menatap Gilang, air matanya jatuh.


Apa gara-gara aku? semuanya terjadi sampai separah ini? aku tidak ingin ini terjadi, kenapa sampai seperti ini?aku tidak kuasa melihat Gilang, bagaimana tersiksanya dia?


"Kenapa kau masih menyandera kami? bukankah kami harus mambantu mereka?" ucap Ace.


Prajurit itu menoleh, "Saya hanya mengikuti perintah sang raja!" ucapnya.


Membuat Ace, Ned, dan Silas sangat muak.


"Sudah berapa hari kita disini?" tanya Ned.


Lidra hanya menundukan kepalanya, lalu ia menatap Gilang.


"Lang, sebentar saja, bertahan sebentar saja aku mohon...." ucap Lidra.


***


Sempat ada debat, saat Timandra membawa Fay datang keruangan itu, namun ia berhasil masuk dan membawa Fay kedalam. Fay kaget saat melihat ada jasad didalam ruangan itu. Semua orang menatap kedatangan Fay, dengan tatapan yang tidak mengenakan.


"Ini Fay, putri kerajaan..." ucap Timandra.


Tea, dan Kai berdiri dan menundukan kepalanya.


"Dimana Agil? dimana mereka kenapa kau hanya datang dengan dia saja?" ucap Tea.


Timandra menepuk pundak Tea, "Sepertinya masalah ini belum selesai, kau dengar suara mengerikan itu tadi?" ucap Timandra.


Tea mengangguk, "Apakah monster itu masih berdatangan?"


"Raksasa?" sahut Kai.


Timandra mengangguk, Kai meremas rambut kepalanya, ia sangat pasrah ternyata permainan ini baru saja dimulai.


"Siapa, siapa ini?" Sahut Fay.


Tea mendekat, "Temanku, dia sudah mati"


Fay mendekat, dan mencoba memeriksa kembali. Benar jika ia sudah mati, Fay kemudian meraba seluruh tubuhnya, hingga tanganya berhenti dikaki kiri Jay.


"Ada apa? ada apa?" sahut Tea.


Tea menundukan kepalanya, ia kembali menangis lagi untuk sekian kalinya, Timandra hanya bisa menenagkannya.


Fay berdoa untuk kepergian, Jay.


"Kalian menunggu apa? tidak dikubur?" ucap Fay.


"Menunggu Agil..." sahut Kai.


Fay tidak bisa berkata-kata, ia berat hati harus berkata.


"Jika menunggu, jasadnya akan membusuk..."


"Benar kubur saja dia! tubuhnya sudah nengeluarkan bau!"


"Benar..."


"Benar, kubur sekarang juga.."


Semua orang yang berada diruangan itu, bersuara.


"Bagaimana te?" gumam Timandra.


"Apakah disini ada senjata tajam? untuk mengubur"


Kai menyahut, "Tidak ada...."


Fay terdiam seperti berpikir.


"Ada yang ingin ikut aku masuk kedalam kerajaan? aku harus mengambil beberapa senjata...."


Tiba-tiba Tea mengangkat tanganya, "Izinkan aku ikut denganmu..." sahut Tea.


"Baiklah..."


"Dra, jaga Jay..."

__ADS_1


Kai menyahut, "Aku ikut dengan kalian!"


Fay mengangguk, lalu mereka tanpa basa-basi beranjak pergi. Timandra mengelus rambut Jay.


"Bahkan saat matamu terpejam, kau masih cantik."


***


Levaron masih terdiam memerintah ditengah-tengah banyaknya pertempuran didepannya, ia hanya memerintah para prajuritnya untuk menjaga kerajaan, dengan todongan senjata sepanjang garis depan kerajaan.


Hingga Fay, Tea, dan Kai datang.


"Izinkan kami masuk!" ucap Fay.


Salah satu prajurit itu memberitahu Levaron, lalu ia memerintahkan para prajurit untuk membuka barisan agar, Fay masuk.


"Putri Fay?" ucap Levaron.


Fay menundukan kepalanya, "Maaf lancang, saya membawa teman saya, saya harus mengambil beberapa senjata.."


Levaron menepis.


"Senjata?"


"Anda tidak bisa melihat? ada raksasa yang datang ke kota?"


Levaron menyengir, "Bukan tugasku untuk bertengakar disana..."


Fay membuang muka, ia sudah hafal dengan sifat Levaron.


"Saya hanya ingin bertanya, pakaian Aleris bukan?" ucap Levaron mengambil kain disampingnya.


Tea dan Kai hanya menatap Levaron dengan tatapan Aneh. Fay memutar bola matanya.


"Apakah penting disituasi seperti ini?"


Levoron lalu menyahut, "Baiklah, masuk saja, ambil senjata dan kau bisa bertempur dengan mereka" ucap Levaron.


Membuat Fay kebingungan, karena semudah itu, biasanya jika berurusan dengan Levaron maka tidak akan ada selesai-selesainya.


"Varegar yang menyuruhku..." gumam Levaron.


Fay terdiam, "Apa?"


"Dia bilang kepadaku, 'Biarkan Fay melakukan apapun' itu yang ia katakan"


Fay menghelan nafasnya, lalu ia beranjak pergi begitu saja, namun Levaron menahan Kai.


"Kau dari suku mana?" ucap Levaron saat melihat tanduk dikepala Kai.


"Serafina..." Tea menyahut.


Levaron lalu mengangguk saja.


"Ayo!" ucap Fay.


Mereka masuk kedalam kerajaan, Tea dan Kai dibuat takjub dengan kerajaan yang mewah ini, ada banyak ruangan yang sangat megah disepanjang mereka berjalan.


Aku tidak akan menemukan rahasia apapun disituasi macam ini, walaupun aku sudah berpikir akan mendapatkan sedikit info ketika aku masuk kedalam kerajaan.


"Kerajaan ini memang sangat besar..." sahut Fay saat melihat tatapan Tea dan Kai yang menganggumi isi kerajaan.


Tea dan Kai tersadar.


"Aku sangat mengangguminya, putri..." gumam Kai.


Tiba-tiba Fay, berhenti, ia menoleh kebelakang, Tea dan Kai berhenti.


"Ada apa?" tanya Tea.


"Ada banyak anak buah Aleris yang disandera disuatu tempat, kita akab menyelamtkan mereka!"


Tea dan kai terkejut, lalu Fay beranjak namun ia kembali menoleh.


"Dan, ada Gilang disana..." ucap Fay menatap Tea.


Tea terbelalak, "Gilang? teman Agil?!" sahutnya.

__ADS_1


Fay mengangguk.


__ADS_2