
Leon duduk disebuah kursi diruangan yang megah, pondasi-pondasi tinggi yang dilapisi berlian, lampu hias yang bergelantungan besar berwarna kuning menyinari ruangan itu, kursi raja yang besar dilapisi emas, didepan kursi raja terdapat karpet yang bergaya dengan klasik kuno, dan sebuah kursi yang sudah disiapkan untuk beberapa orang-orang bawahan raja.
Leon adalah orang pertama yang tepat waktu datang keruangan tengah kerajaan, dengan tersenyum kegirangan ia tidak memperdulikan sekitarnya, ia sibuk menatap ruangan yang mewah, sudah lama ia tidak masuk ke ruangan raja.
Beberapa orang-orang prajurit datang, seraya membawa atasanya, Tentu majagaskar ikut serta, dan penguasa lokal lainnya, tentunya Putra mahkota, pangeran arvand, raja gevarnest, dan ratu carlota istri raja yang sedang mengandung.
Banyak orang-orang yang datang, seperti para datuk, mentri, adipati, tabib, dan para prajurit yang menjaga tempat itu, banyak orang-orang yang datang berpertisipasi, acara yang dihadirkan adalah sebuah upacara penggantian mahkota untuk raja, memang benar disetiap tradisi kerajaan tentunya memiki banyak tradisi yang berbeda-beda, disetiap tahun raja akan mengganti mahkotanya setiap satu tahun sekali, dan hal itu akan dihadiri beberapa orang-orang tinggi disana.
Semua yang sudah duduk dikursi yang sudah disiapkan lalu nerdiri dan menunduk karena kedatangan raja gevarnest, pangeran arvand, dan ratu carlota, leon tersenyum tanpa melepaskan senyumanya, baginya ini adalah sebuah kehormatan baginya diundang ke upacara ini.
Raja gevarnest duduk, diikuti anak dan istrinya, raja menerima salam dari orang-orang yang ada didepannya.
"Senang sekali akhirnya bisa berada diwaktu ini, dalam upacara yang sudah aku tunggu-tunggu" ucap raja gevarnest dengan bijaksana.
Seperti raja-raja pada kerajaan lainnya, gevarnest adalah sosok yang seperti raja pada umumnya, dan postur tubuhnya seperti mahagaskar namun raja lebih muda.
Pangeran arvand memiliki bentuk tubuh yang kekar dan tinggi, wajahnya tampan, bersinar dan natanya yang biru, rambutnya sedikit gondrong, dan memilili mata yang sayu, banyak putri-putri dikerajaan lain yang terpesona dan terpikat olehnya, namun lagi-lagi pangeran arvand selalu menolak, untuk saat ini ia tidak ingin fokus kepada dunia percintaan.
Sedangkan ratu carlota, cantik menggunakan gaun berwarna biru cerah seperti langit, dan mahkota putih seperti kristal, ia tidak peenah lepas dengan senyumannya, ia selalu bersikap ramah, perlakuannya lembut dan untuk siapa saja yang melihatnya membuat seseorang itu merasa tenang dan jatuh dalam senyumanya, sepertinya pangeran arvand memiliki wajah yang turun langsung dari ratu carlota.
"Sudah satu tahun yang lalu upacara ini dilaksanakan, hari ini kita akan melaksanakan upacara kembali, terima kasih hadirin semuanya" raja gevarnest lalu turun dari tangga kursi.
Ia seperti membaca ritual, semua orang memejamkan matanya, para pelayan istana membawa nampan yang berisi sebuah mahkota, mahkota transparan berwaran hitam dan putih, mengkilap disana, membuat orang-orang melongo takjub.
"Aku ingin mahagaskar meletakkan mahkota ini dikepalaku" ucap raja seraya tersenyum.
"Dengan senang hati tuan....." mahagaskar menundukkan kepalanya lalu berdiri disamping raja, pelayan itu menyodorkan nampan, lalu mahagaskar mengambilnya dan meletakan mahkota itu kekepala raja.
"Terima kasih gaskar.... kau adalah teman dan saudara yang sangat dapat aku andalkan..."
"Ini adalah sebuah kehormatan...."
Lalu orang-orang bertepuk tangan meriah.
Raja lalu kembali duduk, pelayan kerajaan menyiapkan sebuah makanan meriah yang sudah disiapkan, makanan khas kerajaan pada umunya, orang-orang menerima makanan itu dengan hormat.
"Silahkan pesta ini dimulai..."
Disaat semua orang sedang sibuk dengan makanannya, raja gevarnest lalu mengeluarkan suaranya, menghentikan keheningan.
"Leon bukankah baru saja kau bertemu aleris?" ucap raja seraya melangkah mendekat kearah leon.
Leon berdiri dan menundukan kepalanya, "iya tuan baru saja...."
Mahagaskar yang penasaraan tentang percakapan raja dan leon, ia menyipitkan matanya melihat apa yang ada didepannya.
Raja membisikan leon, "Kau tidak menyuruhnya untuk bergabung?"
Masih dengan posisi menunduknya, leon mengangkat kepalanya menatap mahagaskar, mahagaskar lalu menyuruh leon untuk diam dengan apa yang ia lakukan tadi bersama aleris.
Leon tersenyum, "Ada banyak urusan yang ia kerjakan tuan jadi ia tidak bisa lama-lama berada disini"
Raja governest lalu tersenyum, "Kau tidak memberitahu tentang bravogar?" ucap raja dengan suara yang keras, sengaja ia lakukan karena meminta perhatian kepada orang-orang disekitar, orang-orang lalu tiba-tiba terdiam.
"Bahwa dia mati?" raja tersenyum.
"Tidak tuann..."ucap takut leon.
Seorang perdana mentri yang tiba-tiba berdiri, bernama varegar berdiri dan angkat bicara.
"Maaf tuanku saya menyela, saya ingin bertanya kenapa dia mati?" ucap varegar tersenyum miring.
Mahagaskar membuang muka saat varegar berbicara, ia tahu mulut busuk apa yang akan varegar bicarakan, mahagaskar hafal betul dengan sifat licik varegar, sebenarnya varegar tahu persis kejadian ini, tapi seperti biasa ingin menambah masalah ia pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Dan yang kau maksud apakah adik dari leon? anak bontot itu?" ucapnya dengan wajah seperti menghina.
Raja gevarnest tertawa terbahak-bahak memenuhi ruangan itu.
"Apakah tuan ingin aku untuk memberitahunya, bahwa pangera telah membunuhnya? wahh apa yang akan terjadi jika anak bontot itu tahu?" ucap varegar seraya melirik mahagaskar.
Pangeran arvand berdiri dan berlari menuju raja gevarnest.
"Ayah... aku tidak membunuhnya aku.."
Raja gevarnest lalu menutup mulut arvand membuat orang-orang didepannya kaget, mahagaskar juga tentunya, ia melotot kaget dengan apa yang dibicarakan pangeran arvand.
Raja tertawa, "Semua yang ada disini.... aku sangat bahagia karena sudah alama aku menanti ini"
"Sayang kembali lah kekamar..."
Dibantu dengan para pelayan ratu carlota lalu kembali kekamarnya, ia tidak begitu mengurusi masalah yang menimpa para orang-orang tinggi itu, ini bukan urusannya, karena hamil besar yang sekarangia fokuskan adalah anak didalam kandungannya.
"Arvand kembali kekamarmu juga...." ucap raja gevarnest.
Karena tidak ingin terlibat, arvand lalu beranjak pergi.
Diruangan itu tersisa beberapa orang-orang bawahanya, dan para prajurit, tiba-tiba tidak angin tidak ada badai, raja menonjok wajah leon hingga tersungkur, orang-orang yang disana terlihat melotot kaget, terkecuali varegar ia tersenyum girang.
"Kau ingin bernasib seperti bravogar? bisa-bisanya ia tidak memberi salam kepadaku? anak bontot itu?"
Dipikiran mahagaskar ia menduga-duga bahwa seseorang telah memberitahu raja, mata mahagaskar menatap mulut varegar yang tersenyum, apakah dia? batinnya.
Leon berdiri dan menundukkan kepala, "Maafkan saya tuan mungkin saya ceroboh tapi kali ini saya tidak akan mengulanginya lagi"
"Hanya kalian disini yang tahu tentang bravogar, siapa pun yang bertanya tentang dirinya palsukan....." ucap raja seraya beranjak pergi.
Orang-orang pergi diikuti para prajurit, terkecuali leon, mahagaskar, dan varegar yang masih mematung diruangan itu.
"Untung saja aku tidak begitu mendengar diskusi kau dengan anak bontot itu..." ucap varegar mendekat kearah leon.
"Yang ku tahu hanyalah aleris datang menemuimu itu saja...." ucapnya seraya beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Paman......" ucap leon seraya memeggangi wajahnya yang memar.
Dikamar mahagaskar leon duduk, ia sedang diobati oleh mahagaskar karena luka memar diwajahnya, "Kau tahu siapa yang memberitahu ini?" tanya mahagaskar.
"Siapa lagi kalau bukan dia?" ucap leon, yang dimaksud adalah varegar.
Mahagaskar mengangguk.
"Seberapa kotornya aleris dikerajaan ini ya?" mahagaskar bertanya.
Leon hanya tersenyum kecut, "Kau sudah bahagia paman karena diundang diupacara itu... tapi ternyata ada maksud lain"
Sudah sejak lama, sebenarnya raja memiliki dendam tersendiri kepada aleris namun ia sembunyikan selama ini, ia selalu memuji aleris ketika didepanya, namun ia akan sangat menghina ketika tidak ada aleris dihadapanya, setahu leon yang membuat raja dendam dengan aleris adalah lima tahun lalu, sebuah perlombaan berbagai macam bela diri diselenggarakan di kerajaan.
Aleris dan pangeran arvand ikut serta, karena raja ingin anaknya selalu menang dalam pertandingan, raja melakukan hal curang, menyuap juri disana, karena ia raja, semua yanh dilakukan seolah miliknya, kebetulan aleris melihatnya, karena aleris adalah anak yang tidak suka basa-basi dengan ucapannya, ia memberitahu orang-orang disana bahwa raja berbuat curang, harga diri raja seketika hancur dihadapan rakyatnya, karena pada masa itu aleris menjadi lebih dikenal karena baik hatinya kepada orang-orang.
Sudah banyak masalah yang menimpa raja karena aleris, membuat raja muak dengan tingkah aleris, karena hal itu juga yang membuat harga diri raja hancur, apa lagi untuk masalah kali ini dimana bravogar berkhianat, ia tahu barvogar adalah teman dekat aleris.
"Kau ingin mengunjungi makam bravogar?"
Leon mengangkat kepalanya, leon membuka mulutnya untuk berbicara tidak namun sudah dipotong mahagaskar.
"Kalau kau tidak ikut, kau mati ditanganku" mahagaskar beranjak pergi.
Leon memutar bola matanya, lalu ia mengikuti mahagaskar.
__ADS_1
Mahagaskar duduk dan menyentuh bati nisan itu, sudah sejak lama ia tidak bertemu memang, karena kesibukan mereka, dikerajaan saja tidak pernah melihat apa lagi aleris yang jauh disana.
Leon berdiri dengan tatapan yang terlihat kesal dan malas, "Kau terlihat menyedihkan..." ucapnya.
"Aku berdoa untuk keselamatan diriku untuk kedepanya, dan mendoakan bravogar yang MENJAGA KAU DAN ALERIS SAAT KECIL" ucapannya berubah setelah pelan lalu ia berbicara dengan keras.
Leon kaget, ia dengan spontan lalu duduk.
"Kau meninggal karena mencari kebenaran, belum sempat kau pecahkan tapi takdir berkata lain semoga kau tenang disana"
mahagaskar melirik leon, leon hanya diam mematung, ia berdiri dan beranjak pergi diikuti leon.
"Aku bingung aku ingin mendoakan bagaimana paman, aku hanya berdoa mengucapkan terima kasih"
Mahagaskar mengangguk.
Arvand berdiri dengan marah dibalkom kamarnya, ia menatap pemandangan perumahan dibawah sana, entahlah emosinya terguncang, ia seperti tidak tenang karena membunuh orang yang tidak bersalah, sebenarnya ia merasa terpukul setelah membunuh bravogar, tapi disatu sisi, kenapa ia ingin membunuh dia? karena berkhianat dengan ayahnya.
Arvand memikirkan apa yang membuat bravogar berkhianat, dan apa kejahatan yang similiki ayahnya.
"Arvand..." suara lembut itu terdengar memenuhi ruangan.
"Bunda?" suara serak akhirnya keluar juga dari mulut arvand, selain wajah tampan arvand memiliki suara yang merdu dan berat.
"Kenapa kau berdiam disitu?" ucap ratu carlota.
"Aku hanya sedang memikirkan perkataan ayah tadi"
Ratu carlota dengan lembut, berbicara tentang apa yang arvand alami, itu semua bukan salah arvand, dan kenapa ia lakukan itu karena seseorang telah berkhianat, tidak mungkin mereka melakukan pembunuhan tidak ada asal usulnya.
Tapi tetap saja bagi arvand, ia ingin tahu lebih lanjut tentang masalah kerajaan ini lebih detail lagi, tapi entahlah rasanya dia tidak punya energi yang canggih untuk melakukan itu.
"Kau ingin memberi nama apa untuk adikmu?" ratu mengalihkan pembicaraan.
Arvand mengangkat alisnya, ia tidak pernah tahu tentang nama-nama yang bagus.
"Kau ingat putri meriana? kau tidak suka dengan nama itu?" ucap ratu carlota langsung tertuju pada anak perempuan
Arvand memutar bola mata, berusaha mengingat siapa putri meriana itu.
"Putri yang kau tolak sebanyak sepuluh kali" ratu carlota tertawa.
Arvand teringat kejadian satu tahun lalu, dimana keluarganya sedang berlayar untuk bisnis, disebuah kerjaan lain, ia bertemu dengan putri itu, betapa memalukannya ketika harus mengingat kejadian itu, dimana ia langsung terpikat oleh wajah tampan arvand, karena beberapa bulan harus menginap dikerajaan itu, membuat putri meriana sering melakukan pendekatan kepada arvand berharap arvand akan luluh kepadanya.
Namun sayang sekali jurus jitu itu tidak mempan untuk arvand, ia tidak bisa menerimanya, memang benar putri meriana cantik dan anggun, karena kecantikannya, sering kali orang-orang yang sedang mengandung meminta air yang didoakan langsung oleh sang putri, konon agar anaknya nanti terlahir cantik seperti putri meriana.
Arvand tertawa terbahak-bahak, hal memalukan itu akhirnya terbayang lagi dipikiranya.
"Ah tidak bunda, aku tidak ingin nantinya kalau dia perempuan dia akan ditolak pangeran tampan nantinya..."
Ratu carlota tertawa, "kenapa begitu banyak yang meminta air darinya.."
"Kenapa kau menolaknya?" lanjut ratu carlota.
Arvand menahan senyumanya, matanya tidak bisa berhenti menatap kemana-mana karena rasa malu.
"Aku menolaknya karena dia tidak cocok untuku..." ucap polos pangeran.
Tidak seperti para pangeran lainnya, yang dimabuk oleh para putri, arvand justru tidak begitu menyukai hal-hal yang berbau cinta, memang benar umurnya sudah dua puluh tahun, tapi untuk soal cinta ia tidak begitu tertarik, rasanya belum ada yang cocok mengisi hatinya.
"Sudah dua puluh tahun tapi kau belum mempersunting siapa-siapa, beneran?" ucap ratu carlota menggoda.
Dengan senyuman yang manis ia berkata, "Mau aku tiga puluh tahun atau empat puluh tahu kalau belum ketemu seseorang yang cocok aku belum akan menikah..."
__ADS_1
Ratu carlota sebenarnya tidak memaksakan hal itu kepada anaknya , ia hanya bisa berharap semuanya akan berjalan lancar sesuai yang dijadwalkan arvand, mungkin ia tidak pernah tahu jika selama ini ada seseorang dihatinya dan tidak mau di publiskan kesiapa pun, karena semuanya adalah masalah anaknya, dan tidak mungkin ibunya ikut serta dalam hubungan asmaranya, ratu carlota hanya bisa memberi semangat kepada anaknya, ia sibuk dengan perjalanan bisnisnya, hal itu yang membuat arvand tidak tertarik keepada siapapun, batin artu carlota, namun entahlah ia hanya bisa menduga-duga.
Arvand berdiri dan beranjalan kearah balkon, ia membayangkan tipe wanitanya, seseorang yang kuat dan seseorang yang terlihat sangat menyeramkan, hal itu terbanding terbalik dengan arvand, karena tipe wanitanya adalah bukan seorang putri atau yang lebih besar jebatannya, ia mencari seseorang siapapun itu dimana pun itu, entah orang miskin disana, ia akan tetap menyukainya, tapi untuk saat ini sepertinya ia belum menemukan seseorang yang seperti itu.