
Agil meremas dadanya, air matanya masih bisa ia tahan, tapi hatinya terasa sangat sakit, ia terdiam menatap Tea dan Timandra yang berteriak menangis dan menyadarkan Jay. Agil samar melihat warga yang terheran-heran seraya menatap Tea dan Timandra yang mencoba membangunkan Jay.
Telingannya, sangat samar penglihatannya buran, seraya tak sadar Agil melangkah mundur dan ia terjatuh, seraya menatap seseorang yang telah tiada didepannya.
Akhirnya air mata yang berusaha ia tahan, muncul dan mengalir dengan deras dipipinya, walau masih terdiam dan duduk ditanah yang kotor, ia tak perduli ia menangis. Ia sangat sakit melihat mereka yang sedang mencoba menyadarkan Jay, Ia menatap Tea dengan air mata yang muncul deras ia berteriak-teriak berharap Jay segera bangun.
Argus mendekat kearah Agil, dengan tatapan menyedihkan Argus mendekati Agil.
"Jangan mendekat, aku membenci raut wajahmu yang seperti itu lagi..." gumam Agil.
"Gil.....tenangkan dirimu...."
Agil berdiri ia berteriak, "Kau juga payah soal kehilangan! jangan mencoba menghiburku!!!!"
Disaat itu, emosi Agil pecah, ia tidak bisa melihat Jay, rasanya sakit beberapa kali, ia memukul dadanya yang sesak.
"Tidak.....tidak, TIDAK!!! TIDAK!!!" teriak Agil seraya meremas rambut kepalanya.
"Jay!!!!!! tidakkkk tidak kau harus bangun!!!!kau janji kepadaku kau, kauuu akan pulang denganku, hei Jay!!! anak bodoh!!!!!!! bangun sialan!!!!!!" teriak Tea, seraya memukul beberapa kali tubuh Jay yang terbujur kaku.
Argus tidak bisa menahan tangisannya, tapi dengan cepat saat air matanya jatuh segera ia usap. Kai mencoba menghentikan Tea yang terus memukul tubuh Jay, namun Tea menepis dengan keras, ia masih menangisi Jay dan memeluk tubuhnya.
Vin terdiam, ia lebih sering menundukan kepalanya, ia juga merasakan sedih. Timandra mendekat kearah Agil, ia menepuk pundak Agil.
"Ikhlaskan Gil, kita tidak bisa menyelamatkannya lagi...."
Agil melepaskan tangan Timandra dari pundaknya, "Aku sudah bilang, kau pintar soal menyembuhkan, tapi kenapa? tapi kenapa?!!!!!!!" teriak Agil.
Seorang pria buncit yang sempat beradu argumen dengannya saat ingin masuk keruangan, ia mendekat seraya nyengir.
"Ini baru awalan, entah bagaimana akhirnya kau pasti akan kehilangan banyak orang..."
Mendengarkan ucapan itu, Agil menatap tajam pria itu, ia mendekat dan menghantam dengan genggaman keras Agil, genggaman tangan Agil mendarat kewajah pria buncit itu, hingga tersungkur dan mulutnya penuh darah hingga beberapa giginya yang copot.
"Kau bisa diam tidak bodoh!!!!!!!! aku bisa membunuhmu disini!!!" teriak Agil.
Semua warga berbisik, dan riuh ketakutan, mereka mencoba menghindar, Agil masih sakit ia berlari dan beranjak pergi dari ruangan itu, ia membuka pintu dan berlari pergi.
Argus mencoba menyusul Agil, namun ditahan oleh Timandra, Timandra menggeleng.
__ADS_1
"Ada banyak monster disana....."
Vin lalu berdiri, "Biarlah aku yang akan menyusulnya..." ucap Vin lalu beranjak pergi begitu saja.
"Tapi...."
Timandra menepuk pundak Argus, "Biarlah, aku tahu dia tidak akan ceroboh...."
Agil berteriak, saat ia melihat semakin banyak para monster diatas langit, bahkan mereka sudah berani sampai kepermukiman warga, seraya mencari mangsa kembali, bahkan para prajurit masih sama, mereka berusaha memusnahkan mereka.
Agil tidak perduli ia tetap berlari, entah kearah manapun.
"Gil!!!!!" teriak Vin ia berlari kearah Agil.
Agil berhenti. Suasana disana sangat mengerikan banyak asap dan perumahan yang roboh dan bahkan sudah tercampur rata dengan api.
"Gil, kau ingin kemana?" ucap Vin.
Agil menoleh, "Kau tanya kepadaku? bahkan aku tidak kuasa menatap Jay disana, kau tidak lihat?!?!?!?!?" Agil berteriak.
"Aku tahu, tapi aku mohon bertahan lah sebentar saja aku mohon..." ucap Vin.
"Semua kehilangan orang yang mereka sayangi Gil, mereka ingin menyelamatkan keluarganya, kekasihnya, anaknya, tapi jika takdir berkata lain? lalu? ketika mereka kehilangan segalanya, yang harus mereka lakukan sekarang adalah menyelamatkan dirinya sendiri, hingga pada akhirnya mereka akan menemukan jawaban, ketimbang mereka mati penasaran..." ucap Vin.
Ia lalu mendekat kearah Agil, dan duduk, ia menyentuh pundak Agil.
"Kau masih memiliki orang-orang terdekatmu, mereka tidak mau kehilangan kau, kau sosok yang kuat, ku mohon jangan seperti ini, iringi kepergian Jay dengan doa, dia akan menangis disana jika kau teruz begini...."
Agil menatap Vin dengan air matanya yang sudah penuh diwajahnya.
"Aku mencintainya Vin, aku butuh dia, aku ingin pulang kerumah dengan dia, aku sudah berjanji, aku benar-benar mencintainya Vin, dia sangat menyukai langit tapi kenapa langit jahat dengannya?"
Vin menundukan kepalanya, ia ingin mendengar keluh yang Agil keluarkan dari mulutnya.
"Seadainya aku menjaganya dengan benar, ini semua tidak akan pernahh terjadi? mungkin sekarang aku masih tersenyum bahagia menatap wajah cantik Jay, kenapa aku sangat bodoh Vin?"
"Kenapa dengan dunia ini sialan!!!!" teriak Agil.
"Aku cuma ingin pulang, tidak lebih dari itu...." bisik Jay.
__ADS_1
Vin lalu memeluk tubuh Agil.
"Aku pernah kehilangan seseorang wanita, karena aku tidak menjaganya, dan sekarang aku juga kehilangan wanita yang sangat, sangat aku cintai karena aku tidak menjaganya dengan benar? dan apakah aku pantas hidup?" gumam Agil.
Membuat Vin memeluk Agil dengan erat, Vin mengeluarkan air matanya.
"Keluarkan, semuanya Gil, semuanya......"
Agil menangis seraya memejamkan matanya, ia beberapa kali berteriak, hatinya sangat sakit, perasaanya sangat campur aduk, emosi yang ia keluarkan sangat banyak.
"Jay!!!!!!!!!!!!!" teriak Agil.
Vin masih memeluk tubuh Agil dengan erat.
*Aku juga menyukai Randi Gil, tapi aku sadar aku bukan manusia sempurna, aku monster, dan aku melihat ada cinta dari Randi dan wanit itu, Lidra.
Aku sempat merasa dikhianati saat Randi menipuku, namanya Delon saat pertama kali aku kenal dia, tapi ternyata namanya Randi. Aku sakit karena dia menipuku. Dan sekarang aku ingin melihat Randi lagi, sekedar melihat saja sudah membuatku senang*.
BRUK!!!!!
Agil melempar tubuh Vin kereruntuhan rumah, Vin berdiri dengan cepat saat monster kelelawar menyerang Agil, ia mencakar tubuh Agil hingga tubuh Agil terbawa di cakar monster kelelawar itu.
Dengan cepat, Vin mendekat seraya berubah menjadi seekor monster, ia mencakar tubuh monster itu hingga cakar yang menbawa tubuh Agil terlepas.
Agil berlari dan mengambil kayu runcing dari reruntuhan rumah. Ia menyodorkan kayu itu kearah monster yang sebelumnya, Vin sudah mendorong monster itu ketanah.
Agil berhasil menusuk kayu runcing itu keleher monster, monster itu terbang dengan kesakitan, Vin lalu melepaskan cakarannya, ia berubah menjadi manusia saat ia masih diudara dan memeggang sayap kelelawar itu, lalu ia tarik dan ia buang, ia lempar tubuh monster hingga terlempar jauh kearah utara.
Vin mendarat, dengansm sedikit merasakan sakit dan tenaganya yang terkuras. Agil melotot dan membuang katu runcing itu, ia mendekat kearah Vin.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Agil.
Vin menjawab, "Tidak apa-apa" dengan suara merintih.
"Katakan dengan jujur!!!!! jika kau sakit bilang!!!!"
Vin menatap Agil, "Aku jujur, ini karena aku sudah kehabisan tenaga, aku masih bisa melawan juga..." sahut Vin.
Tiba-tiba Vin mengacungkan jempol kearah Agil, Agil terlihat bingung.
__ADS_1
"Kau sangat hebat, cara menghindarmu agar tidak dimangsa oleh monster, kau sangat keren...." ujar Vin.