
Varegar terbangun dengan kaget, ia terbelalak kaget karena ia terbangun tidak dikamarnya melainkan diruangan mahagaskar matanya menyelusuri sekitar, didepannya sudaha da mahagaskar yang menatap tajam dan leon yang sudah siuman menatap malas ke arah varegar.
Varegar terdiam, lalu ia merasakan sakit dipunggung dan matanya, matanya bengkak dan banyak luka memar di wajah, begitu juga dengan leon, mereka berdua banyak luka di tubuh, bahkan mereka telanjang dada dan diperban di lengan mereka masing-masing.
"Kenapa aku disini..." tanya varegar.
"Seharusnya aku yang tanya, ada apa dengan kau?"
Varegar menatap mahagaskar lalu melirik leon sebentar, leon masih sibuk menali perbannya dilengan, varegar menghelan nafas panjang seraya memejamkan mata.
"Maaf.." ucapnya singkat.
"Apa" ucap mahagaskar.
"Ya karena salahku kan? aku yang memulai dulu....?" tanyannya, nada bicara varegar tidak enak didengar hingga mahagaskar mendekati wajah varegar.
"Aku sudah hafal gar, kau seolah berani denganku jika ada raja, tapi kalau disaat seperti ini kau seperti kucing saat ditangkap banyak serigala..." gumam mahagaskar.
Varegar mengakui itu, memang ia sok berani didepan mahagaskar ketika bersama dengan raja, tapi jika dia sendiri melawan mahagaskar sepertinya ia akan pergi duluan karena takut.
"Kau itu sebenarnya tidak ada apa-apanya denganku..." tutur mahagaskar.
"Tapi kau sok kuat ingin melawan leon seorang diri, dimana ia adalah saingan terberatmu kan? kau ingin membunuh leon agar kau bisa hidup dengan tenang" gerutu mahagaskar, matanya tidak berpaling sama sekali dari wajah varegar.
Varegar membuang muka, seraya merasakan sakit ia beranjak untuk mencuci wajahnya, ia merintih kesakitan saat air itu mengenai luka wajahnya, leon tersenyum kecut.
"Memang!!!! saingan terberat ku adalah leon, masalah? aku ingin membunuhnya..."
"Kau tidak ingat? orang tuaku!!!!!!!! kau dibesarkan oleh mereka bodoh!!!!!!" pekik leon beranjak, mahagaskar lalu menepis leon agar leon menjauh.
"Lalu? jika penghianat itu merawatku? jadi kenapa? apa ada hubunganya dengan aku yang ingin membunuhmu?" ucap varegar.
"Kau menghina orang tuaku kaparat!!!!" teriak leon memenuhi ruangan itu.
"Hentikan bodoh!!!" pekik mahagaskar.
Varegar tertawa, "Andai saat itu.....orang tuamu tidak menghianati raja, aku tidak akan menganggapmu saingan terberatku.." ucap varegar beranjak pergi, membuka dan menutup pintu dengan keras.
Leon terduduk lemas, rasanya baru kali ini varegar melakukan hal buruk terlalu jauh kepada dirinya, mahagaskar lalu menepuk pundak leon.
"Jangan dipikirkan.... kau paham betul dengan sikap varegar bukan?" gumam mahagaskar.
Leon memejamkan matanya, ia teringat kejadian itu, dimana mereka hidup dengan bahagia, tapi kebahagian itu hancur seketika saat leon tahu orang tuanya telah menghianati raja dan kerajaan, mereka memilih berbeda jalan, saat itu leon berharap dengan berbeda jalan pikiran, orang tuanya bisa bebas hidup jauh dari kerajaan, tapi raja tidak terima, ia ingin jika ada seseorang yang menghianatinya harus mati dengan tanganya sendiri.
Saat itu leon ingin membunuh raja, namun ia sadar kekuataanya tidak bisa untuk membunuh raja itu, sesuati dalam kitap kerajaan leon mengetahui jika seseorang yang berada di kerajaan berpenghianat, makan konsekuensinya adalah mati.
Ditambah lagi, belum lama ini ia melihat seorang yang dekat dengannya harus mati karena penghianatan lagi, dari situ tumbuh rasa ingin balas dendam dan mencari tahu kebenaran, tapi leon tidak akan menamai hal itu dengan sebutan balas dendam atau penghianatan, karena ia tidak akan meneruskan sifat penghianat dari orang tuanya.
Sampai saat ini juga, adiknya aleris, ia tidak tahu kematian orang tuanya, entahlah apakah ia sudah tahu ia pendam, tapi leon berharap aleris tidak tahu tentang masalah ini, sampai ia mati, leon berharap leonlah yang harus memecahkan teka-teki ini.
Leon tersentak saat mahagaskar meneriaki namanya didepan telinganya, membuat leon tersentak.
"Bukan saatnya untuk melamun" ucap mahagaskar.
"Kau obati dulu luka mu sampai sembuh, setelah sembuh mari kita latihan lagi.." gumam mahagaskar.
Aleris masih dalam perjalanannya, dia atas udara, ia juga sambil mencari keberadaan teman randi yang bernama agil itu, tidak henti-hentinya matanya menelusuri tempat-tempat yang ada dibawahnya, walaupun sebenarnya aleris tidak tahu betul dengan penampilan agil, yang randi ceritakan waktu itu hanya, agil manusia tampan, tinggi dan sedikit kurus, matanya sayu seperti aleris.
Aleris menanggapi cerita yang disampaikan randi tertawa, bukankah orang-orang juga memiliki ciri fisik seperti itu, mata sayu aleris dan mata agil hampir sama, sesuai yang dikatakan randi, tapi menurut aleris, banyak mata sayu yang dimiliki oleh orang-orang.
Walaupun aleris tahu, perjalanan ini tidak ada hubungan dengan pencarian agil, tapi setidaknya ia akan mencari-cari dengan mata sayunya itu, jika suatu saat tiba-tiba seseorang muncul dibalik hutan, dan ternyata itu agil, aleris juga bersyukur.
Namun dalam perjalanan aleris kali ini, yang ia lewati hanyalah sebuah lembah, hutan, dan perkampuan, dimana tempat ini sangat jauh dengan posisi agil menghilang.
"Walaupun aku tahu tidak akan ada disini...tapi tidak masalah kan cari-cari, bisa saja ia berjalan jauh dari hutan lembab itu ke daerah sini, walaupun mustahil.." gumamnya.
__ADS_1
Perjalanan aleris membuatnya terasa lelah dan lapar, karena ia terus terbang tanpa henti diudara, angin yang membuatnya sangat lapar, ia lalu mendaratkan elangnya disebuah padang rumput cukup luas ditempat itu, ia berharap tidak akan ada monster mengerikan disini.
Ia mengikat tali ke leher kuda dan ia sambungkan ke batang pohon, seraya ia bergumam.
"Jangan hilang tiba-tiba ya sayang, aku belum meditasi mengumpulkan chakra elang dariku karena kesibukanku.." gumamnya.
Ia duduk seraya meletakan sebuah tas kain, ia mengambil sebotol air, lalu ia menegguknya, benar-benar sangat menyegarkan.
Jika dilihat-lihat aleris ini memang sangat tampan, lihat dari sudut wajah kemana pun, aleris ini memiliki wajah yang kuat, membuat beberapa wanita saat melihatnya langsung jatuh cinta.
Aleris merebahkan tubuhnya didaun-daun kering yang gugur ditempat itu, ia berhenti didalam hutan yang menurutnya cukup tenang, dimana tidak akan ada monster atau hewan buas.
Tidak sadar ia memejamkan matanya.
Ia terbangun, tapi anehnya ia terbangun dalam posisi terlanjang bulat, tubuhnya sudah basah keringat, aleris tersentak ketika ia sadar ia bangun ditempat yang aneh, seperti didalam goa yang sangat besar, dimana disekelilingya terdapat banyak ritual seperti dupa, bunga-bunga, dan kain kematian.
(Kain kematian: kain bewarna kuning bersimbol segitiga)
Dimana kain itu adalah kain untuk mendoakan orang mati, aleris lalu berdiri ia sangat ketakutan, lalu ia berlari menuju pintu goa, namun anehnya ia sudah berlari kemana pun ia mencari, ia tidak menemukan pintu keluar.
Nafasnya terengah-engah, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak aleris, aleris menoleh ia kaget ada randi disana, namun anehnya mata randi seketika berubah berwarna hijau mengkilap membuat aleris menyipitkan matanya, ia tidak bisa melihat akrena sinar itu terlalu mengkilap membuat mata aleris sakit.
Namun ketika aleris membuka matanya karena sinar itu sudah menghilang, randi malah tertawa, matanya yang hijau menghilang membuat aleris tersentak.
"Hei apa yang kau lakukan disini.... kau tahu kenapa aku bisa ada disini?"
Namun randi tidak menjawab, "Ran....ada apa dengan matamu?"
Randi memeluk aleris tiba-tiba, dan membisikan, "Tolong cari agil...jika tidak aku bisa saja membunuhmu"
Aleris melepaskan pelukan randi, ia lalu menampar pipi randi, namun randi malah mengeluarkan air matanya.
"Jangan takut, aku bantu kau cari kok"
Aleris terlihat sangat bingung, karena perkataan yang dikeluarkan dari mulut randi, perkataan yang tidak masuk diakal.
"Argh!!!!!" teriak aleris.
Lagi dan lagi aleris bermimpi buruk, ia terbangun dengan nafasnya yang terengah-engah, ia sangat takut dengan mimpi itu, lalu ia mengambil botol minumannya dan segera ia teguk minuman itu.
Ia terdiam sebentar, ia menatap elangnya ia kawatir jika elang miliknha pergi, ia masih ketakutan karena mimpi itu sangat nyata, entahlah aleris akhir-akhir ini sering bermimpi buruk membuatnya tidak ingin tidur lagi, karena ia takut mimpi mengerikan seperti ini muncul lagi saat ia tertidur.
"Gila mimpi apa itu...." gumamnya, aleris masih terheran-heran, karena pertama kalinya bermimpi randi.
Mimpi yang sangat tidak masuk akal, tujuannya turun disini adalah beristirahat, ia malah tanpa sadar tertidur, dan ia bermimpi hal buruk lagi.
Apakah ini ada tanda-tanda? tapi pikiran buruk aleris ia tepis, ia menganggap mimpi aleris adalah bungan tidur saja, ia bermimpi buruk karena memang fisik aleris sedang lemah membuatnya bermimpi yang aneh-aneh.
Aleris tidak memikirkan tentang hal itu, ia lalu segera beranjak pergi, ia melepaskan ikatan tali yang ia sambungkan kebatang pohon, lalu terbang dengan elangnya.
Didalam perjalanan ia teringat tentang mata randi yang tiba-tiba mengelurkan cahaya yang sangat mengkilap membuat mata aleris sakit saat melihatnya.
"Kenapa harus randi? apa hubunganya? ah tapi bukankah ini hanya mimpi? bukankah mimpi itu ada-ada saja?"
Baiklah sesuai janji aleris ia harus fokus dalam tugasnya, ia tidak akan terlalu memikiran mimpi ini, bisa saja ini karena aleris terlalu memikirkan masalah randi, dimana randi terus mengeluh dengan aleris.
Didalam perjalanan, aleris melihat sebuah pemukiman, ia terkejut karena ada beberapa zero yang ada disana, pemukiman itu terlihat sangat berantakan seperti telah dihancurkan oleh monster.
Aleris menepi dan mendarat ke pemukiman itu, para zero kaget karena aleris yang tiba-tiba datang tanpa diundang, ia turun dari punggung elangnya dan mendekati tiga zero itu.
Zero itu langsung menundukan kepalanya, mereka langsung tahu siapa yang datang, pangeran aleris, anak dari bangsawan arthur.
"Tidak...tidak usah terlalu formal aku disini hanya ingin bertanya, karena dalam perjalanan aku melihat pemukiman ini hancur lebur dan aku melihat kalian bertiga disini" ucap aleris.
"Maaf tuan membuat anda tidak nyaman karena ini, kami menemukan monster yang sedang mengamuk dipemukiman ini, karena kecerobohan kami dan keterlambatan kami, tidak ada orang-orang yang tersisa disini"
__ADS_1
Aleris terbelalak, ia terheran-heran karena tidak ada satu pun manusia yang tersisa disini.
"Bukankah ini desa....." ucap aleris mencoba mengingat.
"Desa aku tidak tahu desa ini tapi bukankah ini tempat tinggal manusia woresham?"
(Woresham: manusia bersisik ikan di bagian tubuh mereka)
Para zero itu menunduk, mereka megangguk.
"Maafkan kami tuan....membuat orang-orang yang berada disini mati tanpa tersisa.."
Aleris meneliti setiap tempat itu berharap ada manusia yang tersisa, namun tidak ada sama sekali, memang desa itu terletak ditengah hutan dan tidak begitu luas.
"Kau menangkap monster itu?"
Para zero itu terdiam, mereka seperti sangat kecewa, karena kesalahan mereka.
"Kalian tidak menangkap monster itu?"
Para zero itu terus menunduk, tapi ada yang aneh dari para zero itu, aleris membatin, ia baru pertama kali mendengar jika tugas para zero ini sangat berantakan, gelagak mereka juga terlihat aneh, pria yang ada dibalik jubah itu memang tidak ada yang aneh, dari segi wajah juga, namun yang membuat aleris merasa aneh, ia baru pertama kali menemui para zero ini sangat lemah.
Ia tidak menggubrisnya, ia masih sibuk menggeledah setiap rumah yang rusak berharap menemukan potongan tubuh manusia itu.
Namun aleris mendengar suara aneh seperti auman monster, dan ia juga mendengarkan seperti hewan yang menggibaskan sayapnya, aleris menoleh, betapa kagetnya ia.
Tiga zero itu berubah menjadi monster kelelawar raksasa, dengan taring yang hampir mengenai lehernya, matanya merah, seperti kelelawar namun ini sangat besar dan mengerikan.
Aleris tersungkur, ia melangkah mundur, kelelawar itu terus mengaum didepan aleris, monster itu lalu mencakar dengan cakar yang runcingnya, mencakar aleris namun aleris tepis dengan kekuatan tanahnya, membuat ia terhalang.
"Tunggu apakah monster itu tahu aku? bukankah tadi ia menundukan kepalanya?"
Monster itu menghancurkan penghalang dari tanah, lalu ia mencakar burung elang milik aleris mengambilnya lalu memakanya, aleris terintimidasi, ia bersiap melawan monster itu walaupun ia tidak yakin bisa melawanya karena fisiknya yang melemah karena kejadian raksasa itu.
Aleris berlari memancing monster itu, lalu aleris mengeluarkan kekuatan tanahnya, tanahnya itu terlihat lancip ia lempar namun monster itu bisa menepisnya dengan tanganya, namun karena tanah buatan aleris yang lancip membuat kuku dari cakar monster itu terpotong.
Monster itu terdiam sebentar lalu mengamuk kembali menyerang aleris dengan cakaranya, aleris tanah dengan kekuatan tanahnya, namun tanah itu dihancurkan dengan mudah oleh monster.
Aleris terjatuh, dimana cakar monster itu menahan tubuh aleris, membuat aleris tidak bksa bergerak, cakar besar itu benar-benar menahan tubuh kecil aleris.
Wajah monster itu mendekat, menatap tajam wajah aleris, aleris berusaha melepaskannya, wajah monster kelelawar semakin mendekat kearah tubuh aleris, taringnya mengkilap siap menusuk tubuh aleris yang masih berusaha keluar dari cakar besar yang menahan tubuhnya.
Namun tiba-tiba, terdengar suara yang keluar dari monster itu.
"Tuan pergi!!!"
Aleris tersentak, bukankah ia tidak salah dengar? ada suara seseorang yang menyuruhnya pergi, monster itu terus mengaum, nafasnya terlalu dekat dengan tubuh aleris, membuat aleris bisa merasakan nafasnya yang keluar dari mulut monster itu.
Tanpa aba-aba monster itu membuka mulutnya lebar, siap menerkam tubuh aleris, aleris dengan berusaha mengeluarkan tubuhnya namun yang keluar hanya tangannya, lalu ia mengeluarkan kekuatan tanahnya, mengenai langsung leher monster itu membuat ia melangkah mundur kebelakang, aleris berhasil keluar dari cakaran maut kelelawar raksasa itu.
Aleris terus menambah elemen tanahnya mengelilingi tubuh monster itu, hingga penuh mengubur tubuhnya, membuat kepalanya mendongak menahan elemen tanah itu yang semakin naik mengubur tubuh monster itu.
Monster itu terus mengaum, berusaha melepaskan elemen tanah aleeis yang mengubur tubuhnya, monster itu berusaha menaikkan kepalanya, namun aleris terus menambah ketebalan tanahnya, hingga tidak ada yang tersisa dari tubuh monster itu.
"Druarkkk!!!!"
suara tanah yang aleris ciptakan hancur, membuat tubuh aleris terpental jauh, monster itu telah menghancurkan segel yang dibuat oleh aleris.
"Bahkan mosnter itu bisa menghancurkan segel tanah yang tebal yang sudah kubuat dengan susah payah"
Aleris ingin memunculkan elang dari chakranya namun ia sadar, ia tidak bisa selamat juga kerena monster yang ada didepanya juga memiliki sayap, bukankah lebih sulit lagi melawan monster diudara.
Tubuh aleris melemah, sudah banyak luka ditubuhnya, karena tubuhnya yang terpental jauh mengenai pohon, ia berusaha bangkit, dan melihat jika monster itu mendekat berlari kearahnya.
Namun aleris melihat, didalam mata monster itu, seperti ada seseorang, ia bisa melihat dengan jelas jika mata monster itu didalamnya ada sebuah kepala manusia, aleris berharal tidak salah melihat, tidak mungkin itu pupil matanya, yang ia lihat jelas adalah sebuah kepala manusia.
__ADS_1
"Kepala manusia.....dan sebuah jubah?....zero itu?!!!!"