Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kepasrahan Agil


__ADS_3

Randi terengah-engah saat ia berhasil naik dari trowongan tangga ruangan tempat tinggalnya, ia kembali menutup dengan padi yang sudah kering lalu ia segera beranjak.


"Aku akan mati jika aku kehilangan buku itu" gumam Randi.


Ia kembali ke kedai itu, kedai dimana Aleris mengajaknya untuk makan, ia meminta izin untuk melihat-lihat tempat sekitar kepada para pekerja kedai tersebut.


Hampir setengah jam Randi hanya bolak-balik menelusuri sekitar, tapi ia tidak menemukan apapun.


Seraya berjalan kearah kasir, Randi bertanya.


"Maaf, apakah kemarin anda melihat ada sebuah buku dimeja sana?" ucap Randi seraya menunjuk tempat duduk yang ia singgah dengan Aleris kemarin.


Kasir itu menjawab jika saat semua orang telah pergi dan kedai ini akan ditutup, mereka sama sekali tidak melihat adanya suatu barang atau buku yang tergeletak begitu saja ditempat mereka.


Randi pergi dari kedai itu, ia sangat frustasi ia meremas rambut kepalanya ia berteriak.


Apa, apa yang harus aku lakukan? apa? apa selanjutnya? kenapa? buku itu bisa hilang dari genggamanku.


Aleris menutup pintu kamar, ia melangkah seraya membuka laci meja belajarnya, ada sebuah buku yang sengaja ia ambil dari Randi, ia melihat selembar demi selembar namun tidak ada tulisan sama sekali.


Sempat Aleris berpikir, kenapa Randi menyimpannya.


"Ada apa?" ucap seseorang tiba-tiba datang.


Dengan cepat, Aleris memasukan buku itu dilaci, ia berdiri dan melangkah mendekat.


"Ya paman?" sahut Aleris.


"Bukankah masalah ini sudah selesai? kau bisa pulang ke istanamu, toh ratu Carlota sudah sehat sekarang, dan tidak ada gejalan mengerikan dari bayinya..." ucap Mahagaskar.


Aleris mengangguk, "Memang, tapi rasanya entah aku berat untuk pergi dari sini..


Randi adalah salah satu alasan Aleris harus tetap disini. Mahagaskar tertawa.


"Kenapa kau? tiba-tiba berubah? kau biasanya sangat bersemangat untuk mengangkat kaki dari sini.."


Aleris menghelan nafas, "Karena bayi itu, aku harus stay disini...."


Mahagaskar lalu beranjak pergi, diikuti Aleris ia mengunci kamarnya.


*Ada banyak alasan aku disini. Berlatih, tidur, berpikir, lalu bangun. Selalu seperti itu setiap harinya, setelah hilangnya warga Serafina, aku memutuskan untuk bisa membangun senyum paman lagi, karena sejak saat itu yang aku lihat hanyalah tatapan kosong.


Selama aku disini, aku tidak banyak pergi jauh, paman menyuruh kami untuk diam disini tidak melakukan perjalanan kemana pun, karena bukan saatnya. Aku berlatih habis-habisan sejak aku melihat warga Serafina menghilang, karena itu aku sangat merasakan kekecewaan yang luar biasa.


Mungkin Randi dan Gilang akan menanyakan kepadaku, kemana saja aku selama ini? apakah aku baik-baik saja? aku hanya daun layu yang tidak banyak gerak, aku hanya fokus kepada latihannku, aku tidak perduli tentang bagaimana kita harus mencari tempat yang aman dan butuh sosialisasi kepada orang-orang. Karena memang, memang kita tidak ingin melakukan itu, kami hanya ingin menyendiri dan fokus kepada latihan, memanahku, bela diri, dan pedang.


Sempat Jay dan Tea membujuk paman untuk pergi dari sini dan kita akan tinggal di kota Lander, namun lagi-lagi aku melihat tatapan kosong paman, mungkin hatinya belum sangat ikhlas untuk meninggalkan tempat ini, hingga sampai sekarang pun yang aku lakukan hanyalah berlatih, berlatih, dan berlatih*.


"Kau baik-baik saja?" ucap Argus menepuk pundak Agil.


Agil menyender kepalanya disebuah botong pohon, ia sudah berlatih lima jam tanpa istirahat.


"Kau sudah sangat keren, kau bisa istirahat.." ucap Argus.


Tiba-tiba suara elang mengglegar diatas mereka, mereka semua terkejut melihat seekor elang putih raksasa yang datang tiba-tiba, elang itu mendaratkan dirinya disebuah lapang yang luas didepan mereka semua.


Ada seseorang yang menunggangi diatas.


"Raja Jesper?" sahut Agil.


Argus mendekat seraya diikuti Agil. Raja Jesper turun dari punggung elang, dengan tatapan kebingungan.


Seraya menjabat tangan Argus, Jesper bertanya.


"Kenapa? kenapa hanya ada kalian disini.."


Jay, Tea, Kai, dan Timandra membuka kain tenda mereka, melihat siapa yang datang, mereka langsung menundukan kepalanya.


Raja Jesper lalu melihat suasana tempat itu, ketika ia sangat terkejut warga Serafina yang hilang.


"Katakan padaku? apa yang terjadi Gus?" tanya Raja Jesper.


Argus menundukan kepalanya, ia lalu menyuruh raja Jesper duduk disebuah kursi kayu yang Argus sediakan didepan tenda mereka.


"Aku senang kau mampir kesini, tapi apa yang membawamu kesini?" tanya Argus.


Jesper menunduk.


"Aku datang ke kota Majestic..."


Ketika mendengar kata Majestic, mata Agil melotot menatap raja Jesper, bukankah itu adalah tujuan Agil selama ini.


"Maaf tuan, saya memotong pembicaraan anda, tapi saya ada satu pertanyaan yang harus saya tanyakan kepada anda..."


"Baik, katakan saja...."


"Aku hanya ingin tahu seperti apa kota Majestic itu"


Memang sebelum Agil mengatakan kalimat tersebut, Argus sudah melototi Agil, mengisyaratkan agar Agil tidak menanyakan sesuatu yang aneh-aneh.


"Sama seperti kota Lander, hanya saja kota Majestic lebih indah..."


"Jes, kenapa kau kesini?" Argus mengalihkan pembicaraan.


"Aku dadi Majestic, aku tidak bisa dong setelah dari Majestic lagsung pulang, sepertinya aku harus mampir, tapi yang aku lihat...."


Kai melirik tangan kiri raja Jesper, karena tidak seperti biasanya, ia menutupi tangan kirinya dengan baju yang sengaja ia buat besar. Kai hanya terdiam ia menunggu hingga waktunya tiba.

__ADS_1


"Kau bisa lihat? aku kembali dan aku juga melihat seperti mu, sudah tidak ada lagi keluargaku... yang tersisa hanyala Kai dan Timandra" sahut Argus.


"Kenapa bisa begitu? apakah memang ini kelakuan monster?"


"Lebih tepatnya monster plus iblis, tapi tuan maafkan saya memotong pembicaraan, saat kami sangat merasa sedih ketika kehilangan keluarga kami, kami didatangi oleh iblis, saya bisa ingat itu...." sahut Timandra.


"Lalu? apa yang terjadi setelah itu? kalian tidak apa-apa kan"


Argus mengangguk.


"Aku datang dan pulang bersama para prajurit teman-teman, mereka juga akan segera datang kesini, ayo ikut aku ke kota Lander..."


Tiba-tiba Agil berdiri dengan spontan.


"Saya setuju, tapi saya tidak bisa kembali ke kota Lander tuan, sepertinya saya harus ke kota Majestic..."


Argus ikut berdiri, dan menyenggol dengan keras lengan Agil.


"Kau pikir, kota Majestic indah seperti yang dikatakan oleh Jesper?" bisik Argus.


Jesper yang tahu apa yang dipikirakan Argus ia berdiri.


"Apakah kau masih kepikiran dengan dulu?"


"Aku bahkan tidak bisa menjelaskan bagaimana lagi, kau tetap tidak akan percaya"


"Apa, ada apa?" Kai menyahut.


"Dulu banyak gosip, yang menculik para wanita Serafina adalah penduduk asli kota Majestic, namun raja Gevar sudah menjelaskan jika mereka tidak ikut campur masalah ini, dan mereka tidak tahu, tidak ada hubungannya.."


"Paman! kenapa kau baru memberitahu kita sekarang, bahkan bukan kau yang memberitahu kita tapi raja Jesper!" sahut Timandra.


Jay menepuk pundak Timandra menenangkannya.


"Jangan salah paham...." ucap Argus.


Agil terdiam, rasanya ingin memberontak.


"Duduk, biarkan aku menjelaskan semuanya sekarang, jika kalian memotong pembicaraanku berati kalian sedang tidak sopan denganku, aku bisa menghukum kalian..."


Agil memasukan beberapa alat yang ia beli dikota Lander didalam tasnya, seraya dengan raut wajah yang penuh dengan emosi.


Argus yang baru saja datang menghampiri Agil langsung menepis tas Agil dan membuangnya ke tanah, syok Agil langsung tersentak.


"Ada apa!" Sahut Agil.


"Kau masih susah dibilangin? Sudah berapa kali aku katakan, kau masih butuh tenaga yang kuat untuk datang kesana, mereka... disana sangat berhati-hati dalam melihat seseorang yang baru datang" bisik Argus.


"Lalu kenapa?" Ucap Agil.


"Lalu kenapa?" Argus mengulangi kalimat yang Agil ucapkan.


Argus hanya diam, ia tidak berkutik.


Disebuah gundukan tanah yang sudah dilumuri rumput Agil duduk, ia tidak bisa menahan air matanya, ia menangis hingga Argus datang. Ia datang hanya ingin membuang tas milik Agil.


Agil berdiri.


"Aku tidak ingin mengajakmu, aku hanya ingin datang kesana sendiri..."


Argus menatap Timandra, Kai, Jay, dan Tea yang sibuk bercerita dengan raja Jesper dibawah, lalu ia kembali menatap Agil.


"Kau tidak mengerti perasaan mereka? Sampai kapan kau akan egois?" Sahut Agil.


"Egois? Aku memikirkan semua orang disini berusaha membantu mereka..."


"Kau tidak bisa terus bersedih karena kehilangan saudara-saudaramu!!!! Aku juga kehilangan semua orang disini!!!!" Teriak Agil.


Teriakannya membuat beberapa orang dibawah tersentak dan menatap Agil dan Argus diatas. Dengan penuh emosi Agil turun dan mengambil tasnya, ia mendekat ke tenda.


"Saat fajar muncul besok, kabari aku jika ingin ikut aku ke kota Majestic..."


Argus meremas rambutnya, dengan kecewa ia kembali duduk diatas tumpukan tanah tersebut.


Agil masuk kedalam tenda.


Raja Jesper tersenyum, "Aku tahu perasaannya..."


"Aku ingin bertanya deh, pikiran apa yang pertama muncul diotak kalian saat mendengar kalimat Kota Majestic?" Lanjut raja Jesper.


Kai menundukan kepalanya, ia melirik sebentar kearah Timandra.


"Mungkin tuan tahu? Rumor jaman dulu itu?" Ucap Timandra.


Dengan spontan raja Jesper mengangguk.


"Jaman dulu aku juga mendengar isu itu, tapi kalian mau percaya atau tidak isu itu tidak benar..."


"Kenapa ya banyak sekali orang-orang yang memganggap kota Majestic itu sangat mengerikan? Padahal ada banyak orang disana yang sangat tentram hidup di kota Majestic..."


"Mungkin karena isu tersebut, jujur aku tidak tahu isu tersebut tuan, dan mungkin ketambahan dengan manusia asing seperti aku, jay, dan Agil yang tersesat disini, dan mereka beranggapan bahwa ini adalah salah satu ulah kota Majestic karena kota Majestic adalah ibu kota negeri ini..." sahut Tea.


Raja Jesper membuka mulut lebar-lebar, ia terheran saat salah satu manusia yang tersesat bisa beranggapan seperti itu.


"Jujur dikota Lander, ada banyak manusia yang tersesat, mereka kebanyakan datang dengan sendirinya kesana, untung saja saat itu tidak ada para monster yang berkeliaraan seperti sekarang ini...."


"Iya tuan! Mereka diantar oleh para peri, di tinggalkan begitu saja..." sahut Jay.

__ADS_1


Raja Jesper mengangguk, "Sampai saat ini tidak ada orang-orang yang tersesat lagi ya disini?"


Jay dan Tea mengangguk, "Yang terakhir, Agil dan teman-temannya..."


Para pajurit raja Jesper mengingkat beberapa kudanya dibatang pohon, Jesper juga mengingat seekor elangnya dengan tali dibatang pohon.


"Kalian bisa mendirikan tenda, sekarang kita sementara tinggal disini..."


"Baik tuan!" Ucap serentak para prajurit tersebut.


"Karena kau tidak mau untuk tinggal dikota Lander, maka dari itu aku memutuskan untuk menginap disini sementara waktu.."


"Kau membawa para prajurit banyak" ucap Argus.


"Hanya sepuluh orang saja" gumam Jesper.


"Aku juga takut ada para iblis lagi yang datamg kesini.."


"Eh tapi setelah itu kau tidak lagi didatangi oleh iblis?"


Argus menggeleng.


Hanya ada mereka berdua yang duduk diswbuah batang kayu, mereka menghangatkan diri dengan api unggun didepannya.


"Aku ingin bertanya kepadamu..."


Argus mengangguk.


"Apa yang kau anggap mengerikan dari kota Majestic?"


Argus menghembuskan nafasnya.


"Entahlah... aku hanya sangat-sangat khawatir dan mungkin trauma, aku tidak menyalahkan kota Majestic, aku hanya beranggapan saja sejak isu beredar...."


"Tapi banyak orang-orang atau kota manapun yang ingin berkerja sama dengan kota Majestic sekarang jelas sudah berbeda, Majestic sudah modern, Majestic sudah sangat baik"


"Iya Jes, aku tahu aku sudah mendegarkan dari beberapa orang, tapi aku jelas masih ketakutan"


Raja Jesper menepuk pundak Argus.


"Aku tahu perasaanmu..."


Agil sudah bangun pagi sekali, bahkan matahari pun belum sama sekali mengeluarkan cahaya ciri khasnya, ia menyiapkan beberapa barang yang harus ia bawa. Tiba-tiba seseorang membuka tendanya, ia masuk begitu saja.


"Kau ingin pergi?" Ucap Jay seraya duduk disamping Agil duduk.


Dengan memasukan beberapa bahan makanan Agil menjawab.


"Kau kesini karena kau akan ikut aku kan?"


Dengan cepat Jay mengangguk.


"Aku dan Tea akan ikut, karena ini kan tujuan kita kan?"


"Bagus kalau begitu ayo sekarang pergi, Tea sudah siap?"


Jay hanya mengangguk.


Saat Agil keluar dari tenda bersama Jay, semua orang sudah berada didepan tenda Agil. Argus, Kai, Timandra, raja Jesper dan para prajuritnya.


"Undang tea" bisik Agil.


Raja Jesper mendekat.


"Kau sudah siap?"


Dengan raut wajah yang sedikit sinis, Agil hanya mengangguk.


"Kau tidak bisa pergi dengan kakimu, aku akan memberimu tumpangan kuda, dan beberapa para prajuritku akan menjaga kalian"


"Tidak usah, terima kasih.." ucap Agil beranjak, namun dengan cepat Jesper menghadang.


"Kau berani menolakku? Aku berusaha membantu lhoh"


Agil lalu berjalan melewati Kai dan Timandra, namun mereka tiba-tiba memanggilnya hingga Agil berhenti dan menoleh.


"Maafkan aku, pada akhirnya aku tidak ikut mambantumu, padahal aku dulu mengatakan jika aku ingin membantumu.." sahut Timandra.


Kai menyahut, "Benar, maafkan kami, kami harus disini dan kau harus melanjutkan perjalananmu, maaf sekali lagi, dulu pernah mengatakan jika ingin mencari jawaban bersama-sama tapi pada akhirnya...."


Agil tersenyum tipis, "Aku tahu kok"


Lalu ia berlalu, ia berhenti persis didepan wajah Argus.


"Terima kasih selama bimbingannya, terima kasih ilmu yang sudah kau ajarkan, terima kasih untuk semuanya, tapi kali ini aku akan tidak nurut dengan omonganmu, aku akan pergi, karena aku merasa tenaga ku sudah cukup kuat, selama aku diam disini aku tidak istirahat, aku selalu berlatih tanp berhenti, aku sangat-sangat berharap untuk pergi maka dari itu aku tidak lelah untuk berlatih, kau dulu juga berjanji akan mencari jawaban bersama-sama, tapi pada akhrinya aku melepaskan diri dengan sendiri karena ini sudah waktunya tapi kau masih tidak yakin, kau ingin menunggu sampai kapan?"


Argus mendongak menatap Agil.


"Kau bahkan sudah ku anggap sebagai anakku sendiri, dulu aku sangat benar-benar bisa menjagamu dengan baik dan melatihmu dengan sangat antusias, tapi setelah aku kehilangan saudara-saudaraku, benar katamu, aku melemah dan sangat bodoh saat itu, oke baiklah silahkan pergi cari jawaban, semoga kau bisa bertemu dengan temanmu yang sempat berpisah, semoga kau bisa kembali ke duniamu..."


Agil tersenyum, lalu ia memeluk Argus. Jay dan Tea keluar dari tenda ia sudah membawa tas yang besar.


"Kalian bawa kuda-kuda ini, dan kedua para prajuritku akan mengantarkan kalian" ucap raja Jesper.


Jay dan Tea mengangguk. Agil menaiki punggung kuda bersamaan dengan Jay dan Tea lalu mereka berlalu begitu saja diikuti kedua para prajurit.


Tubuh mereka sudah menghilang begitu saja masuk kedalam hutan.

__ADS_1


"Tenang, aku tahu Agil adalah seorang pemberani" ucap raja Jesper menepuk pundak Argus.


__ADS_2