
Mahagaskar dan Arvand berlari menuju ketembok, mereka melihat jika raksasa normal itu masih berusaha membangunkan para anak buahnya, yang berubah menjadi patung, mereka berdua mendekat kearah tembok yang sudah hancur.
Mereka melihat para raksasa yang sudah menjadi patung ini, dan memeriksa sebagian tubuh dari para raksasa yang berubag menjadi patung.
"Tapi memang iya paman, kau bisa lihat teksturnya, jika dihancurkan maka ya sudah mereka akan musnah dan hancur..." ucap Arvand.
Mereka seraya berhati-hati berjalan meneliti setiap penjuru ketempat para raksasa itu berdiri, mereka juga berusaha diam-diam agar raksasa normal itu tidak melihat keberadaan mereka.
"Kenapa dia masih berusaha membangunkan mereka ya? padahal kan dia tahu kan? jika patung ini jika dihancurkan maka ya sudah hancur, dia juga sudah melakukannya tadi, kenapa masih berusaha seprrti itu." ucap Arvand seraya masih terdiam menatap raksasa normal itu.
Mahagaskar yang masih sibuk menyentuh tubuh raksasa keras itu berhenti dan mendekat kearah Arvand.
"Entahlah, sepertinya dia juga sedang memikirkan rencana juga..."
"Dia iblis itu?" sahut Arvand tiba-tiba.
Membuat Mahagaskar membeku, seperti dugaanya jika iblis Auvamor adalah raksasa normal itu.
"Apakah memang iya? aku juga berpikir seperti itu..."
"Kenapa tidak serang sekarang saja paman, aku harap pertahanan yang dibuat Aleris disana sudah kuat, aku yakin aku paham dengan kekuatan Aleris...."
Mahagaskar memutar bola matanya, "Kau sungguh akan menyerang raksasa normal itu? kau bahkan tidak bisa melawan monster diluar tembok kan?"
Arvand tersenyum seperti meledek, "Paman, maaf itu dulu yah.. sekarang aku semakin kuat jangan salah.." ucap Arvand.
Tiba-tiba tanah bergetar, Arvand melihat jika raksasa normal itu berlari mendekat kearahnya, Arvand dengan cepat bersembunyi dibalik tubuh raksasa patung itu, seraya menarik tubuh Mahagaskar untuk bersembunyi bersama.
Raksasa normal itu masuk kedalam tembok, dan mengamuk berteriak ia melempar bebatuan runtuh dari tembok kearah perumahan warga.
"Sialan, bagaimana ini?" sahut Arvand.
"Kita masuk kedalam, ayo ayo!" ucap Mahagaskar.
Dengan mendengap-edap dibawah kakinya, Arvand dan Mahagasjar berlari, untungnya raksasa itu tidak melihat kearah bawah, dengan cepat Arvand dan Mahagaskar berlari menuju ketempat Leon dan Jangsal.
"Sepertinya dia bingung para anak buahnya nasih menjadi patung." sahut Mahagaskar yang baru saja datang.
"Bukankah ini kesempatan kita membunuhnya?"
Tiba-tiba terdengar suara hantaman keras, Arvand naik keatap rumah, dan ternyata raksasa itu melempar batu kearah benteng yang dibuat Aleris, benteng untuk menghalangi para raksasa tidak normal itu, dan benteng itu hancur membuat para raksasanya keluar seraya berteriak dengan kencang.
__ADS_1
"Aleris! dimana Aleris!" teriak Leon.
***
Teriakan raksasa itu kembali terdengar lagi, para warga yang berada didalam rumah tersebut ketakutan dan suasana mulai gaduh. Argus mencoba menenangkannya, namun salah satu warga menyahut.
"Apa kalian akan diam saja! kalian para kesatria! saya sudah kehilangan istri dan anak saya, apakah kalian masih ingin diam disini saja?!"
Aleris menatap pria itu, ia memejamkan matanya seraya berpikir.
"Dengar, ini saatnya kita bertarung, jadi aku mohon kerja samanya, dan tetap jaga diri dengan baik, aku harap...." Aleris terdiam.
Lalu ia melanjutkan, "Aku harap jangan ada yang mati..." sambungnya.
"Aku, Fay, dan..." Aleris menatap Agil dan Gilang.
Agil menoleh, "Aku dan Gilang ikut..." sahut Agil.
"Baik, Aku, Fay, Agil dan Gilang, akan menuju kekerajaan, dan kalian, Malucia, Lidra, Vin, Kai, Timandra, Silas, Ace, Ned, dan lima anak buahku, tentu paman Argus dan Tea, kalian akan tetap menyerang para raksasa itu, jika pada akhirnya mereka tidak bisa diajak kerja sama, maka bisa kita serang dengan sendiri-sendiri..." sahut Aleris.
Tak lama, mereka akhirnya beranjak pergi, setelah mempersiapkan rencana dan beberapa stamina dan persenjataannya mereka, mereka keluar dari dalam rumah persembunyian itu. Aleris, Fay, Agil dan Gilang berpisah diperempatan jalan.
Malucia hanya melirik kearah Aleris, Aleris menyadari itu lalu ia berlari mendekat kearah Malucia.
Agil memalingkan wajahnya, begitu pun Fay, raut wajahnya menjadi jealous. Bahkan Vin juga sempat berhenti sebentar menunggu Malucia yang berhenti karena Aleris memanggilnya pun terlihat memalingkan mukanya, tak kuasa ia melihat sesuatu yang romantis didepannya.
"Kau juga...karena aku hanya punya dirimu..." Mata malucia sempat melirik Agil, yang menundukan kepalanya.
Gilang tiba-tiba menyahut tangan Agil, membuat Agil tersadar dan mendongakkan kepalanya. Agil bisa melihat raut wajah ketakutan dari Gilang.
"Lang, tetap dibelakangku jangan lepaskan genggamanku ya? kita akan segera bertemu Randi, jangan takut ada aku...."
Gilang hanya mengangguk, Aleris berlari mendekat, "Ayo!"
***
Saat mereka menuju ketempat para raksasa yang sudah bebas tersebut, kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi, reruntuhan batu dari tembok hancur tiba-tiba melayang diatas dan jatuh tepat di lima anak buah Aleris yang masih berlari, membuat mereka tertimbun.
Malucia dan Vin yang berada dibelakangnya tersungkur jatuh kaget saat batu itu menimbun kelima anak buah Aleris. Argus, Silas, Ace, dan Ned mendekat.
"Hei!!!!! ya!!!!!" sahut Silas.
__ADS_1
Namun saat mereka mendekat, kelima anak buah Aleris sudah tidak bisa diselamatkan, mereka mati tertimbun batu besar itu, hingga tubuhnya tercampur dengan tanah. Ace dan Ned menundukan kepalanya.
"Sungguh, bukan ini yang aku mau..." sahut Ace.
Argus berlari mendekat menolong Malucia dan Vin yang tersungkur jatuh.
"Tepat didepan mataku..." gumam Malucia masih syok.
"Sepertinya kita harus cepat-cepat pergi dari sini, aku khawatir raksasa itu terus melempar batu kearah sini..." sahut Argus.
Setelah mendoakan teman-temannya, mereka melanjutkan perjalanannya. Lidra yang ada dibaris depan tiba-tiba menhentikan langkahnya.
"Tunggu..." ucap Lidra.
Lidra kembali memejamkan matanya, "Kenapa telinga ku sangat berdeming kencang sekali? bahkan tiba-tiba kekuatan jarakku mengajaku melihat kearah kerajaan.." ucap Lidra.
Malucia berlari mendekat kearah Lidra, "Apa? apa yang terjadi?"
Tiba-tiba muncul dari balik menara kerajaan, seperti seorang monster yang muncul dengan sayapnya, ia keluar dari balik menara sehingga membuat menara kerajaan hancur karena kemunculannya.
Seraya dengan teriakan yang keras membuat, para manusia yang mendengar menutup telingannya.
"Siapa? siapa itu?" sahut Tea.
Monster itu muncul dengan tubuhnya yang setengah masih manusia, dan setengah bersayap dipunggungnya, wajahnya seperti drakula dengan sorot mata berwarna merah, dan dikelilingnya sebuah asap hitam, bahkan dari kejauhan pun masih bisa dilihat dengan jelas.
"Randi..." gumam Malucia seraya menatap monster itu.
Lidra menatap Malucia, "Tidak, apa yang kau katakan!"
"Aku tidak mendengar Aleris bercerita?" tanya Malucia.
"Bukankah, dia kesana untuk menyelamatkan Randi? aku terlihat tenang-tenang saja karena hal itu!"
Malucia menghelan nafasnya, "Kau pasti tidak mendengarkannya sampai akhir jika..." ucap Malucia terdiam.
"Apa!" teriak Lidra.
"Jika Aleris sudah telat..."sambung Malucia.
Vin terdiam saat mendengar perdebatan itu, ia menatap Lidra.
__ADS_1
Saat itu aku ingin menyadarkanmu, karena sepertinya kau sibuk dengan telingamu yang aku pikir aku sedang kesakitan? aku juga berpikir kau sedang mengendalikan kekuatanmu, kekuatan jejakmu makanya aku tidak berani mengaggumu...