Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Malucia yang baik


__ADS_3

Randi meletakan buku itu disebuah laci meja, ia lapisi kain berwaran putih agar tidak terkenal debu, ia kembali merebahkan tubuhnya kasur kecil itu, ia menatap kearah depan, sebuah atap yang sangat tinggi, dan mustahil untuk bisa disentuh, ruangan yang dingin dan bergema, randi bersuara dengan berbisik saja rasanya seperti berteriak.


Randi memejamkan matanya, tidak begitu mengantuk memang namun rasanya tubuhnya lelah, tapi tidak lama randi terlelap juga.


Tiba-tiba ia bangun dan sudah berada ditengah-tengah hutan sendiri, gelap dan hari pun sudah malam, randi mendengar suara agil yang memanggil-manggil namanya, ia berusaha mencari dan memanggil nama agil, namun yang randi dengar sekarang adalah suara tertawa agil yang begitu keras.


Randi berlari mencari jalan keluar, betapa kagetnya dia, agil tiba-tiba muncul dan menghalangi jalan randi.


"Gil dimana saja kau!?!?!?" teriak randi, namun yang diterima agil hanyalah tersenyum kecut.


"Ayo kita pergi sama-sama jangan perpisah lagi, kita cari gilang"


"Kau percaya aku masih hidup?"


Randi membuka mulutnya kaget.


"Aku sudah mati ran, ini hanya rohku, kita semua disini? tidak akan bisa selamat kita tidak akan kembali ke dunia kita..."


Suara Agil keras, dan terus mengucapkan bahwa agil sudah mati, ramdi berlari namun suara itu selalu mengikutinya, hingga ia terjatuh disebuah jurang didepannya, ia tidak melihat adanya jurang, yang randi lihat hanya ada jalan lurus hutan, kenapa tiba-tiba muncul?


Randi memejamkan matanya, pasrah, dan mungkin ini saatnya meninggalkan dunia, namun saat randi mempasrahnya diri randi mendengar suara gilang yang memanggilnya, Ia lalu membuka matanya, dan...........


"Ran!!!!! ran!!!!!!" gilang menggerakan dengan kasar tubuh randi, tubuh randi berkeringat sekujur tubuhnya.


Randi membuka matanya, tubuhnya bergetar, rasa ketakutan yang randi rasakan, ia kemudian bangun dan duduk, randi ditenangkan oleh gilang, gilang mengambil sebuah gelas yang berisi air putih.


Nafas randi masih terengah-engah seperti sedang melakukan olahraga, "Kau mimpi apa hingga bisa kayak gitu?" tanya gilang.


"Aku mimpi agil..." ucap singkat randi.


Gilang melotot, "Apa?"


"Aku tidak begitu mengingatnya tapi yang aku ingat aku mimpi agil sudah mati"


"Ha!!!!"


"Ini hanya mimpiii tenangkan dirimu.."lanjut gilang.


Gilang lalu beranjak dan pergi meninggalkan randi sendiri, gilang ingin randi menenangkan diri, nafas randi masih terengah-engah, ia membenarkan posisi duduknya, dan ia mengusap wajahnya yang penuh keringat menggunakan kain, ia kembali minum dan menghelan nafasnya.


"Mimpi hanya bungan tidur kan...." ucapnya menenagkan diri sendiri.


Hari ini ada kebebasan dalam istana yang menjadi tempat tinggal randi dan gilang, dimana mereka sekarang bebas melakukan hal semau mereka, berjalan-jalan disekitar istana dan pergi ke kebun dan taman istana, gilang tidak tahu pasti kenapa ini terjadi, yang ia tahu hanya orang-orang seperti prajurit yang menculik mereka sudah tidak ada diistana ini, gilang lega karena hidupnya tidak sembunyi-sembunyi lagi.


Ia keluar dan berjalan ke koridor istana, ia berhenti dibalkon, dan sibuk memamdangi taman bungan didepannya, ia bisa merasakan hawa segar, gilang memejamkan matanya, bak seperti pangeran yang bangun tidur dan sedang mencari angin dibalkon istana, gilang bisa merasakan hawa seperti dinegeri dongeng, ia tidak menyangkan bisa menjadi peran difilm fantasy.


"Langg..." tiba-tiba terdengar suara lembut memanggilnya, ia menoleh.


"Cia?" ucap gilang kaget.


Malucia melangkah dan berhenti didepan wajah gilang yang masih melototinya.


"Kemana saja kau? aku pikir kau sudah mati"


"Maaf ya, ada urusan mendadak..."


"Mendadak? apaaa?..."


Malucia tersenyum lalu menunduk, "Bagaimana kabarmu?" mengalihkan pembicaraan.


"Masih tanya, bagaimana kabarmu? aku selama tersesat disini aku tidak baik-baik saja"


"Maafkan aku...."


Gilang bisa melihat raut wajah malucia yang tiba-tiba mendadak berubah.


"Tidakk.... tidakkkkk ini bukan salah siapa-siapa ini adalah takdir"


Tanpa gilang memberitahu malucia akhirnya membuka suaranya, terjadi pertumpahan darah beberapa waktu lalu, semuanya yang telah terjadi hari ini adalah akibat dari tragedi beberapa waktu lalu, malucia berusaha meyakinkan aleris untuk melenyapkan para prajurit itu yang entah dari mana asalnya dikirim keistana ini, para peri laki-laki yang diperintah aleris menyusup dan membunuh mereka, dengan begitu tidak ada aturan disini.


"Kau tahu setelah lidra menyelamatkan kalian waktu itu, prajurit itu mengumpulkan semua para peri laki-laki tanpa ijin aleris, semuanya telah dikuasi mereka"


Aleris juga sebenarnya tidak begitu mengerti tujuan apa mereka dikirim ke sini, ia juga sedang memata-matai para prajurit itu karena kecerobohan malucia, tujuan sebenarnya aleris telah musnah.


"Kau ingin menyelamatkan agil?"


Malucia menatap gilang, "Aku sudah mencarinya lang"


"Apa?"


"Ditempat itu lagi, dan kesuatu tempat lainnya, tidak ada yang tahu tentang seseorang yang bernama agil..."

__ADS_1


Pikiran gilang menjadi tidak karuan, kenapa agil tidak ada disana? apakah dia mati? tidak ag adalah orang yang kuat, tidak mungkin dia mati secepat itu, agil tidak akan menyerah begitu saja.


"Aku menjadi orang yang sangat bodoh akhir-akhir ini"


"Kau melakukan dengan baik kok, dan kau melakukan dengan benar, mungkin jika kau tidak menyuruh tuan aleris membunuh para prajurit kita mungkin tidak bisa sebebas ini, dan semuanya akan menggangu"


"Tapi karena aku tujuan sebenarnya aleris musnah, dan sekarang ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan"


Gilang menatap taman bunga itu lalu ia tersenyum, "Aku belum pernah melihat tuan aleris...." gilang mengalihkan pembicaraan.


"Dia tidak tampan lang, ia hanya punya tubuh yang kekar saja dan cerdas juga"


"Kau mungkin menganggapnya tidak tampan tapi untukku sepertinya tampan"


"Tampan agil....." tiba-tiba malucia mengatakan dengan spontan.


Gilang menatap tajam malucia, melotot kaget, "Apa?"


"Ah maksutku lebih tampan dirimu..." pipi malucia tiba-tiba memerah, jantungnya berdetak kencang, suasana menjadi canggung dan hening seketika, malucia memejamkan matanya.


"Bodoh bodoh apa yang kau lakukan?" batin malucia.


"Semoga agil baik-baik saja ya, walaupun kita tidak tahu dimana posisinya" ucap gilang, seraya merasa canggung yang tiba-tiba.


"Randi dimana?" tanya malucia.


"Dia sedang tidur" ucap singkat gilang.


Mereka lalu berjalan turun dan melihat-lihat taman bungan disitana itu terdapat banyak tanaman bunga disana, bungan matahari, kembang sepatu, lavender, bougenville dan lain-lainya. Ada banyak jenis tumbuhan bunga yang tersusun rapi disini, sampai hidung gilang mati rasa karena mencium bau harum semerbak berbagai bungan disini.


"Aleris sangat cinta dengan bunga jadi seperti ini lah perkebunannya"


Gilang hanya mengangguk dan masih sibuk menatap indahnya perkebunan bunga ini, gilang berpikir jika menjual tumbuhan bungan ditempatnya harga satu bunga ini akan sangat mahal.


Malucia lalu mengajak gilang, untuk menelusuri tempat bunga itu dan mereka akhirnya sampai disebuah tempat dimana mereka bisa melihat hamparan perbukitan padang rumput yang hijau dan segar, seperti tempat teletubis batin gilang.


Ditambah hari semakin sore mereka bisa melihat sunset diujung langit, matahari yang bulat indah berjalan melambat menutupi dirinya, namun membawa cahaya jingga dan orange yang menyatu, membuat tempat didepanya terlihat memukai indah seperti berlian.


"Kau sering mengunjungi tempat ini?"


"Tidak, aku hanya dua kali datang disini, bersama mu dan aleris waktu itu"


Gilang masih menatap surya didepanya, walaupun membuat mata sakit, tapi hal itu tidak bisa membuatnya berpaling, ia terus menatap indah, ia sering melakukanya disaat didunia mereka, namun ia tidak pernah melihat secantik ini.


"Kau menaruh hati kepada agil?"


"Jadi yang kau bicarakan dengan randi waktu itu adalah tentang agil?" lanjut gilang.


Mata malucia melotot, ia kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut gilang.


Dengan singkat malucia menjawab tidak, entahlah saat ia mendengar kata agil, jatungnya berdebar.


"Jangan menyerah, udah itu aja" gilang menatap malucia.


Gilang seperti tahu apa yang dipikiran malucia.


"Ia anak yang tidak mudah...."


Gilang melanjutkan, "Dia memang sulit didekati"


Matahari semakin menutup tubuhnya, membawa suasana menjadi gelap, malucia menyuruh untuk kembali ke istana, mereka menaiki tangga istana dan berjalan ke koridor, namun mereka kaget randi sudah berdiri menatap tajam didepan mereka.


"Kau mengagetkan ku woy" sahut gilang.


Tanpa menatap dan membalas pertayaan gilang, randi masih menatap tajam malucia, ia melewati gilang.


"Ada apa?" suara lirih malucia.


Randi tertawa, "Kemana saja kau?"


Karena gilang tahu apa yang akan dilakukan randi, ia mengalihkan perhatian namun tidak mempan.


"Kau bisa pergi ke kamar lang kalau masih mau menghalangiku"


Tiba-tiba randi mencekik leher malucia hingga ia gelagapan, dengan cepat gilang menghentikan tangan randi gilang berusaha menarik tangan randi dari malucia, namun karena kekuatan gilang tidak sekuat randi ia sama sekali tidak bisa menariknya, karena menganggu randi akhirnya menendang perut gilang dengan kaki kirinya hingga gilang terpental tang tersungkur.


"Ran hentikan!!!!!!" ucap gilang seraya merintih kesakitan.


Seperti dirasuki setan, randi benar-benar tidak bisa menahan dirinya, emosinya tidak terkontrol, wajahnya terlihat sangat marah dan mengerikan.


"Kau yang membuat aku dan agil berpisah, kau yang membuatku gila diruangan ini" mata merah melotot menatap malucia yang masih lemas terberdaya karena randi yang mencekiknya dengan kuat.

__ADS_1


Gilang berdiri dengan sempoyongan, ia kemudian mencekik leher randi dengan lengannya, ia tarik dengan kuat hingga randi gelagapan seperti malucia, randi melepaskan tanganya dari malucia, malucia lemas tersungkur, nafasnya berat tak beraturan.


Randi berusaha melepaskan tangan gilang, namun karena randi lebih kuat dari gilang, randi lalu mengangkat tubuh gilang membanting tubuh gilang kedepan, hingga gilang terlempar ketanah dengan keras.


Tanpa perduli dengan gilang yang sekarat, randi berjalan menuju kearah malucia yang sedang sekarat, nafasnya masih terlihat kesusahan.


Sebelum randi mengangkat tubuh malucia, aleris datang dan mengeluarkan kekuatan anginnya mengarahkan ke tubuh randi, randi terpental jauh dan terjatuh dibangunan istana hingga runtuh.


Randi tersungkur dan mulutnya penuh darah, ia berdiri dengan sempoyongan, dari jauh aleris sudah mengendalikan kekuatan anginnya, siap untuk menyerang randi, namun malucia berdiri dengan tak berdaya menghalangi aleris.


"Jangan dia temanku" suaranya lemas dan tak berdaya.


"Tidak! dia penghalang, dia musuh" aleris menyingkiran tubuh malucia namun malucia tahan.


"Jangan!! Dia Temanku!!!!!!!!!!!!!" teriak malucia, walaupun untuk teriak saja tidak membuatnya semakin tak berdaya.


Randi tersenyum sengak, mendengarnya.


Aleris menatap randi dan malucia bergantian, lalu ia membawa malucia dan beranjak pergi dari tempat itu, namun malucia menahannya.


"Tunggu mereka juga harus diobati" sahut malucia, tanpa berbicara aleris lalu membawa pergi malucia.


Lalu para peri laki-laki datang membawa gilang dan randi, dan masuk kedalam ruangan mereka, lidra yang sedari tadi mengintip diambang pintu lalu masuk keruangan randi dan gilang seraya membawa kotak obat.


"Terima kasih" ucap lirih gilang.


Mereka sudah sedikit siuman dan sudah merasa baikan, karena lidra melayani dengan baik, walaupun banyak luka dalam namun lidra bisa mengobatinya dengan mudah.


"Ada apa denganmu?" tiba-tiba lidra mengeluarkan suaranya.


Randi menatap lidra tanpa menjawabnya, lalu lidra melanjutkan, "Apakah semua ini salah malucia?" sahut lidra.


Gilang berdiri dengan sempoyongan dan berjalan kearah lidra, menepuk pundak lidra, "Dra aku mohon pergilah dari sini..."


Lidra melepaskan tangan gilang, "Renungkan ini, dia rela menyakiti dirinya sendiri demi kalian!!!" lalu lidra berlalu begitu saja.


Randi masih menatap kosong, "Maafkan aku lang....." ucap randi.


"Kau kan selalu seperti ini...." gilang pasrah dan tersenyum.


"Kau selalu seperti itu" mata randi rembes.


"Lakukanlah dengan lapang dada, kan katamu"


Randi lalu berdiri dan memeluk gilang, "Aku terbawa emosi lang karena lihat dia berjalan denganmu tersenyum tanpa beban"


Gilang tersenyum dan menepuk pundak randi, "Its okay, jangan lakukan lagi ran.... demi agil"


Aleris menatap wajah malucia yang masih tertidur, ia mengelus-elus rambutnya, lalu memeggang tangan lembut malucia.


"Kenapa kau selalu keras kepala?"


Malucia tertidur dengan lelap, "Sudah aku katakan mereka tidak dapat kita percayai"


Aleris sampai saat tidak bisa mengeluarkan solusi dari pikiranya, ia selalu buntu, sejak awal ia tidak bisa terus memendam sendiri tentang semua masalah, aleris menyesal membuat para peri diistana ini melakukan pekerjaan untuk mengarahkan orang-orang tersesat, pada akhirnya apa yang dipikiran aleris benar nyatanya, malucia berteman dan jatuh cinta.


Tujuan untuk memata-matai sudah leyap, ia masih tidak tahu tentang permasalahan dunia mereka, setiap harinya yang ia lakukan hanyalah mencari tahu, tapi ketika ia datang ke kerajaan itu, terlihat tidak ada yang sesuatu yang mencurigakan semuanya terlihat berjalan semestinya.


Malucia terbangun, lalu aleris membenarkan posisi duduk malucia.


"Kau baik-baik saja?"


Malucia hanya mengangguk, "Maafkan aku ya" ucap aleris.


"Kenapa?"


"Aku kekuasaan saja yang besar tapi tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini, sejak awal aku hanya menuruti perintah saja dari Leon"


"Kalau aku jadi kau, aku juga akan seperti itu, bagaimana kita tahu? akan menjadi seperti ini"


Aleris berdiri dan mengambil secangkir teh, lalu ia membantu malucia untuk meminumnya.


"Teh buatan lidra?"


Aleris mengangguk, "Dia selalu pintar membuat ramuan"


"Dimana dia?"


Aleris tidak pernah tahu akan menjadi seperti ini, yang ia lakukan hanyalah perintah, dari yang lebih besar kekuasaanya darinya, yang bisa dipercaya adalah kelompok miliknya, tapi ia tidak pernah tahu apa tujuan itu, yang aleris tahu adalah banyak portal yang terbuka membuat lara manusia yang berbeda tersesat dinegeri ini.


Aleris takut dunia akan hancur, ia tidak pernah tahu apa yang direncanakan, oleh orang-orang besar dari kerajaan itu

__ADS_1


__ADS_2