
Setelah kegiatan tadi malam yang sia-sia kali ini aleris mulai menyibukan dirinya, hari ini ia akan meneliti dan memeriksa bangkai makhluk ini, penelitian ini sudah sering aleris lakukan ketika dikerajaan majestic dulu, tapi entahlah apakah ia akan berhasil kali ini, memang sudah sangat lama ka tidak penelitian dengan tangannya, ia sebenarnya tidak yakin, tapi karena hal ini muncul dengan mendadak, ia akan melakukan sebisa mungkin.
Aleris menyelidikan dengan hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga nantinya diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut, ia harus pintar-pintar dalam mengerjakannya.
Dulu saat tinggal di kerajaan majestic tugasnya adalah penelitian mayat-mayat prajurit, monster, atau makhluk seperti ini, aleris tidak begitu kaget ketika pertama kalinya ia mendapati makhluk itu, karena sudah beberapa tahun lamanya ia sudah bergabunh dengan para peri diistana ini, jadi ketika melihat makhluk yang mati, rasanya ia harus benar-benar menjaga anak buahnya.
Tubuh berlendir, giginya yang rancing, beberapa sisik dan kulitnya mengelupas, tah heran karena mungkin sudah lama didalam air, aleris membuka matanya, ia terpesona karena matanya bersinar seperti berlian berwarna biru kehijauan, apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah sepuluh jam lamanya aleris melakukan exsperimen, yang didapat adalah, yang pertama aleris akan menyebutkan makhluk ini adalah putri duyung, tempat tinggal putri duyung ini jelas disebuah lautan, lebih tepatnya sebuah teluk, yang didapat aleris ada banyaknya koral.
Yang kedua, ini adalah makhluk yang sentimental namun ada beberapa makhluk yang kejam, riset aleris putri duyung yang ia aplikasikan adalah makhluk yang kejam, dilihat dari jenis aliran darahnya, jadi yang membedakan antara sentimental dan kejam adalah dengan perbedaan darah, darah biru dan merah, tentu merah adalah untuk putri duyung yang sentimental, dan mereka bisa berbicara dan beepikir layaknya manusia, aleris tahu putri duyung ini spesies dengan para peri yang hidup diistana ini.
Yang ketiga adalah ekornya menunjukan bahwa ia tidak mudah mengelupas, karena bersifat kasar dan keras, berbeda sengan ekor ikan pada umumnya, hal ini membuktikan bahwa putri duyung ini dibunuh, aleris tahu betul potongan ekor itu sama persis yang aleris lakukan saat penelitian, dimana ia memotong ekor itu dengan belati.
Aleris masih menduga-duga bahwa teluk yang dimaksud adalah teluk alaska, aleris tidak pintar seperti para penelitian pada umunya, ia hanya standar, tahu dan mengerti tapi tidak terjerumus detail seperti para penelitian yang sudah senior, ia hanya pemula, jadi riset yang dikeluarkan aleris tidak begitu detail dan aleris hanya menemukan tiga hasil dari experimennya.
Aleris mencuci tangannya, lalu ia beranjak pergi, ia berhenti dan berdiri dikoridor istana.
"Apa yang kau temukan" tanya malucia yang ternyata sudah berdiri sejak lama dikoridor.
Aleris menghelan nafas, "Aku masih kurang yakin karena risetku..."
"Tidak, tapi setidaknya kau mendapatkan jawabannya kan"
Aleris menyodorkan kertas, malucia membacanya.
"Aku belum tahu pasti dimana teluk itu yang dimaksud tapi memang, tapi pikiranku menjerumus keteluk alaska, tempat dimana putri duyung ini tinggal"
"Mereka spesies dengan kami?" ucap malucia, aleris mengangguk.
"Jadi dia dibunuh?"
"Aku yakin ia dibunuh, ekornya keras dan tidak mudah terpotong begitu saja, dan alat yang digunakan adalah belati"
"Kenapa kita tidak datang langsung ke teluk alaska, kita exspor disana mencari tahu..."
Aleris menggelengkan kepalanya, "Tidak, teluk alaska bukan tempat wisata yang indah"
"Kau tahu siapa yang melakukan ini?"
Aleris menggeleng, "Ada banyak musuh disana, dan aku tidak tahu siapa diantara mereka.."
Aleris meninggalkan malucia dikoridor istana sendirian, lalu randi menyusulnya, mendekati malucia, randi sudah berdiri diambang pintu lama, berusaha mendengar apa yang dibicarakan aleris dan malucia, namun jelas karena jauh hal itu sia-sia.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya randi yang tiba-tiba datang.
Malucia kaget, lalu ia menjelaskan tentang putri duyung itu.
"Teluk alaska?" tanyanya.
"Aleris belum tahu pasti...."
"Kenapa dengan teluk itu"
Malucia menunduk, "Selain sering terjadi tsunami, teluk alaska banyak menyimpan misteri, dan disanalah menjadi tempat tinggal para monster"
"Mereka spesies denganmu?"
Malucia mengangguk, "Aku peri dan mereka putri duyung"
Randi melongo terheran-heran ternyata hal semacam itu benar adanya.
"Terus apa tujuan orang membunuhnya dan meletakan jasadnya ke sungai itu"
Malucia menggeleng.
Randi berpikir kenapa keadaan semakin rumit, tujuannya hanya satu menyelamatkan agil, tapi kenapa ia harus terjerumus kedalam hal semacam ini.
Hari ini leon akan datang ke istana, aleris menghubunginya untuk datang dan melihat apa yang ada diruangan penelitian, dengan menunggangi kudanya, raut wajah leon bersemangat, dimana akhirnya ia bisa melihat istana adiknya itu setelah sekian lama.
Lidra, malucia, dan para peri lainya memberi salam, dan menundukan kepala, leon lalu beranjak menuju ruang yang dimaksud tanpa basa-basi, namun aleris menghalanginya ketika leon akan masuk kedalam.
"Kau benar-benar membunuh para prajuritku, untung saja kalian tidak kubunuh, varegar tidak mengetahuinya"
__ADS_1
"Apa yang akhirnya kau katakan?"
"Karena mereka bukan murni prajurit mereka adalah orang-orang yang tersesat..." ucapan leon sedikit keras, dengan sigap aleris menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kenapa?" leon melepaskannya.
Aleris menggeleng, "Kau terkenal dengan kesombongan dan berbohong"
Aleris membuka pintu, diikuti leon, leon kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Aku harap kau jangan membawa kabar ini sampaii ketelinga raja gevarnest"
Leon menggeleng-geleng kepalanya seraya menatap tajam jasad makhluk itu.
"Luar biasa....kau menemukan dimana?"
Aleris menjelaskan secara detail tentang pertama mereka menemukan jasad makhluk itu, sampai aleris menjelaskan tentang hasil risetnya.
"Bukan para zero yang membunuh?"
"Aku harap tidak, para zero itu hanya membasmi para monster tapi ini bukan monster, memang terlihat seperti monster namun ini sejenis dengan para anak buahku"
"Aku tahu aku tahu..."
"Apa yang terjadi dengan teluk alaska"
"Kau pernah kesana bukan" aleris membuka baju leon tiba-tiba ia memperlihatkan luka jahitan yang panjang didadanya.
"Lihat ini adalah luka yang kau terima setelah kau kembali dari teluk alaska"
"Aku melakukan pekerjaan ku saat itu, para bawahan mahagasjar yang ikut mati, tapi untungnya aku selamat, yang ku tahu dari teluk alaskan adalah banyaknya monster, itu saja yang kutahu"
"Kau tidak melihat para putri duyung ini?"
Leon menggeleng.
"Seharusnya kau bawa ke varegar, ia akan menyukai mayat ini untuk di tiduri!!!"
"Hentikan!!!!"
"Aku akan cari tahu tentang teluk alaska, akan aku tanyakan kepada mahagaskar atau viregar" ucapnya teriak, ia lalu menunggangi kuda dan pergi begitu saja.
"Kita tunggu saja apa yang akan ia lakukan lagi...." gerutu aleris.
"Teluk alaska apakah sebahaya itu?" ucap randi seraya melakukan gerakan pusp up.
Aleris duduk dengan nafasnya yang terengah-engah karena pusp up.
"Kau sedang melakukan gerakan pompa bumi, kenapa kau berbicara jangan sok kuat"
Randi menghentikan gerakan pusp up nya dan tertawa karena mendengar kata pompa bumi.
"Apa yang kau tertawakan? baru pertama kali kau olahraga denganku sudah banyak omong" gerutu aleris.
"Diduniaku pompa bumi itu namanya pusp up"
Aleris hanya mengangguk.
"Teluk alaska lebih berbahaya dari yang kau bayangkan" sahut aleris.
"Dimana kau akan langsung ketakutan ketika datang ke teluk itu" lanjutnya.
"Kau pernah?"
Aleris menggeleng, "Tapi kakakku pernah datang kesana"
"Apa yang ia lakukan?"
"Entahlah dia adalah orang yang aneh...."
"Jadi kapan kau akan menemukan temanku?" ucap randi mengalihkan pembicaraan.
Aleris menghelan nafas, "Tidak untuk saat ini"
__ADS_1
Aleris membersihkan badannya, sebenarnya ia sedang sangat malas untuk mandi, tapi jika tidak ia tidak akan terlihat tampan, aleris berjalan mengambil pakaian, tapi perasaan aleris aneh ia lalu memutuskan untuk pergi keruangan penelitiannya, namun terkejutnya dia ketika mendapati makhluk itu sudah tidak ada didalamnya.
Masih dengan dada telanjang, dan handuk yang menempel di pinggal kebawah, aleris berlari menuju belakang istananya, dan benar makhluk itu hidup kembali dan sedang berusaha untuk pergi.
Aleris berteriak, membuat semua orang berlarian termasuk randi dan gilang, mereka terkejut dengan apa yang dikenakan aleris namun mereka lebih kaget ketika makhluk itu hidup dan mencoba pergi.
Semua anak buah aleris memanah dan menggunakan kekuatanya untuk menghentikan makhluk itu namun dihentikan oleh aleris, "Sebelumnya aku ragu makannya aku memanggil kalian tapi, aku akan mencoba kekuatan ku yang sudah lama aku kubur dalam-dalam" ucapnya berteriak seraya terengah-engah.
Makhluk itu terus berkipat-kipat bergerak mencoba pergi menjauh, aleris berhenti ia memejamkan kepala, lalu ia melakukan teleportasi, dimana hal itu berhasil ia lakukan, ia langsung sampai didepan makhluk itu dan menonjot tepat kepalanya, namun yang membuat aneh aleris adalah, makhluk ini sudah mati, tapi ia bisa bergerak.
"Bukankah sudah ku belah juga saat penelitian kenapa masih hidup"
Aleris mencekik leher makhluk itu, tapi makhluk itu masih saja bergerak, matanya memang tertutup, disaat aleris mencekik ia merasakan denyut nadi yang aneh, ia berulang kali menampar, menonjok, namun tetap saja makhluk itu bergerak berkipat-kipat seperti ikan yang berenang, tapi dengan posisi tutup mata.
"Al.....apa yang terjadi.." teriak malucia.
Aleris terus berpikir hingga ia kepikiran tentang ekor potongan itu, aleris meminta lidra mengambil belati miliknya, lidra mengambilnya lalu ia berlari kearah aleris, ia kaget dengan apa yang terjadi didepannya
"Apa yang terjadi tuan? dia masih hidupkah? tapi matanya tertutup"
"Dia sudah mati, jantungnya tidak berdetak, tapi nadinya masih berdetak" Lidra melotot kaget menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
Aleris memotong ekor duyung itu dengan belati, dan benar saja, duyung itu berhenti, aleris dibantu dengan lidra meletakan tubuh duyung ini keruangan aleris.
Aleris meneliti kembali bagaimana bisa mayat ini kembali hidup, aleris menemukan denyut nadi yang berbeda, entah aleris bisa menyebutkan makhluk atau monster, dimana denyut nadi itu akan kembali berdetak setelah tiga jam, kecuali mayat itu terbuang didalam air.
Ia bisa bergerak tanpa bantuan jantung dan kesadaran, yang menggerakan tubuhnya adalah denyut nadi.
"Aku tidak bisa nenyebutkan ini spesies sepertimu ataukah monster" ucap aleris.
"Kenapa?" tanya malucia.
"Dia bukan hidup, yang menggerakan tubuhnya adalah denyut nadi, tanpa ia merasakan kesadaran, ia memang sudah mati"
"Sebenarnya apa yang terjadi"
Aleris menggeleng.
"Denyut nadi ini bergerak cepat, dimana itu tidak sewajarnya bagi manusia atau spesies seperti mu"
"Oh ya akhirnya kau memakai kekuatanmu itu lagi"
Aleris tersenyum.
Aleris duduk termenung dimeja kamarnya, pikirannya hanya tentang teluk alaska, sebenarnya apa yang terjadi, sudah lama aleris ingin datang kesana melihat langsung teluk alaska, namun sepertinya ia tidak memiliki cukup mental yang kuat, walaupun ia memiliki berbagai kekuatan namun hal itu tidak akan bisa membuahkan hasil, lihatlah leon, bahkan dia saja terluka bagaimana dengan dirinya.
Ingin sekali ia tanyakan kepada varegar, yang ahli dalam penelitian, namun aleris sadar hal itu tidak membuatnya tahu jawabanya, malah varegar akan mempamerkan hasilnya dan semua orang akan merusak penelitian ini.
Aleris tidak bisa untuk membuktikannya sendirian, tapi sebenarnya apa yang terjadi, pikirannya seolah buntu ia tidak mendapatkan solusi yanh tepat, apakah harus datang ke teluk alaska itu? tapi tidak ini bukanlah saatnya.
Apakah aleris harus menunggu? dimana sesuatu sepertinya akan terjadi akhir-akhir ini, secara logika lawan akan terus memasang petujuk jika benar ada maksud yang disembungikan, tapi jika tidak ada maksud apapun, berati kejadian ini hanyalah sebuah kejadian biasa.
Tapi aleris kembali berpikir, makhluk ini tidak bisa ia namai makhluk, karena denyut nadi yang kecepataannya lebih dari manusia normal, ia bergerak dengan sangat cepat, dimana hal itu membuat jasad itu bergerak.
Aleris memejamkan mata, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, aleris menyetuh tangan itu, aleris menoleh ternyata malucia, aleris berdiri seraya masih memeggang tangan malucia tanpa melepasnya.
Malucia tersenyum, "Kita tunggu saja..."
Aleris mengangguk, "Kau lucu saat lari mengejar makhluk itu, sedang apa kau kenapa kau masih memakai handuk"
Pipi aleris memerah, kenapa akhir-akhir ini ia selalu terciduk saat sedang telanjang, "Aaa... aku sedang menganti pakaian tapi entah rasanya ada yang aneh, jadi aku memutuskan untuk ke ruangan penelitian dan tenyata ia menghilang"
Malucia menyentuh pipi aleris dengan lembut, "Aku senang bisa mengenal tuan...." ucapnya.
Malucia adalah teman sekaligus anak buah kesayangan aleris, sampai terlalu dekatnya aleris tidak ingin malucia memanggilnya dengan sebutan tuan, tapi kali ini? kenapa ia memanggilnya tuan.
"Lhoh kok?" tanya aleris.
Malucia tertawa, "Karena aku sudah lama tidak memanggilmu dengan sebutan tuan..."
Aleris menatap hangat wajah malucia, tak lama wajah aleris mendekat, malucia memejamkan matanya, tiba-tiba bibir aleris mendarat ke bibir malucia, aleris menciumnya, malucia membalasnya dengan hangat.
Malam itu, ditemani obor dan kunang-kunang yang bertebaran diluar jendela menemani ciuman mesra mereka, sudah lama aleris tidak merasakan ini, kedua tangan aleris menyentuh leher malucia, kedua tangan malucia memeluk pinggang besar aleris.
__ADS_1
Dimana semuanya terjawab oleh aleris malam ini, ia mencintai malucia, ia tidak bisa melihatnya menderita seperti waktu itu, apakah malam ini sudah waktunya mengungkapkan rasa? tapi bagaimana jika malucia menolaknya?