
Didalam sebuah ruangan yang tidak begitu gelap, hanya ada beberapa sorotan sinar matahari yang masuk karena celah jendela yang kecil, arvand duduk seraya menyeruput teh hangat, matanya lelah namun ia tipe seseorang yang tidak bisa memejamkan mata setika disuatu tempat.
Hari ini adalah hari pertama dia datang di kerajaan Victoria, sebelumnya ia tidak pernah ikut serta dalam kegiatan bisnis milik ayahnya, namu kali ini ia datang bersama dengan ayah dan bundanya, ratu carlota bundanya memaksa arvand untuk ikut serta, karena hal ini bisa berpengaruh kedalam masa depannya, memang benar, batinnya.
Sudah satu jam yang lalu lamanya setelah perjalanan jauh menaiki kapal, waktu yang digunakan arvand sebenarnya masih panjang, karena acara tentang bisnis ayahnya masih satu hari lagi, namun arvand tidak gunakan dengan baik, ia hanya duduk di jendela kerajaan seraya membaca buku.
Sejujurnya untuk beradaptasi keluar kerajaan dan jalan-jalan di kota-kota victoria membuatnya lelah, ia memang anak yang tidak begitu menyukai dunia luar, ia lebih mementingkan dirinya sendiri.
Pelayan membuka pintu kamar arvand, seraya menunduk pelayan itu berkata.
"Tuan semua orang telah menunggu diruang tengah...."
Arvand memutar bola matanya, "Baiklah...." ucapnya malas.
Arvand berjalan dengan malas, ia lalu telah sampai disebuah ruangan megah, banyak dilapisi emas, mengkilap, dan pondasi kerajaan yang begitu kokoh dan cantik.
"Kau telat pangeran...." ucap laki-laki setengah tua, postur tubuhnya sama persis seperti ayahnya.
Diruangan itu sudah dihiasi meja panjang yang diisi dengan berbagai macam makanan dan minuman, acara itu dihadiri oleh raja Edward dan anaknya putri meliana, istir raja edward telah meninggal satu tahun yang lalu ketika terjadi kebakaran disebuah gereja kota victoria.
Arvand duduk disamping ratu carlota, dan didepan putri meliana, putri meliana tidak pernah membuang muka sedikit pun ia selalu menatap wajah tampan arvand.
"Gevar... akhirnya kau datang kesini membawa pangeran dan istrimu, ini adalah suatu kehormatan bagiku..." ucap raja edward.
Raja gevarnest tersenyum, "Bagaimana tidak? aku mengajak mereka kesini karena ingin aku perkenalkan kepadamu...."
Sesi percakapan itu dilakukan hampir tiga jam, membuat arvand merasa tidak nyaman.
"Kau tidak nyaman?" ucap putri meliana tiba-tiba.
Arvand yang masih menunduk tiba-tiba mendongak, ia hanya menatap wajah putri meliana tanpa menjawab, lalu putri meliana berdiri.
"Saya meminta izin untuk pergi dengan pangeran dan berjalan-jalan sebentar" ucapnya.
Jelas arvand kaget, karena ia juga sebenarnya tidak ingin jalan-jalan.
Raja edward menatap raja gevarnest dan ratu carlota dengan wajah seperti bertanya-tanya apakah mereka memperbolehkannya.
"Silahkan tuan putri....."ucap raja gevarnest.
Arvand berjalan membelakangi putri meliana, tubuhnya loro matanya merah karena mengantuk.
"Sepertinya aku akan kembali untuk tidur..." ucap arvand menoleh.
Namun reaksi putri kaget, karena mereka sudah berjalan lima belas menit menuju ke sebuah goa ditepi pantai.
"Kau serius?"
Arvand sedikit tidak yakin karena jalan yang ia lewati menanjak dan untuk tenaganya saat ini seperti tidak memungkinkan.
"Baiklah......"
Akhirnya mereka sampai disebuah goa tepi pantai, seperti goa-goa pada umumnya banyak terumbu karang disana, dan yang membuat beda adalah air didalam goa tersebut terdapat banyak cahaya yang indah, wajah mereka dihiasi pantulan cahaya semakin terlihat begitu menganggumkan.
Disana arvand juga bisa melihat kerajaan victori dari bawah yang berdiri kokoh menjulang tinggi, kerajaan itu berdiri disebuah bukit yang besar, arvand bisa melihat rumah-rumah penduduk dan bernagai dermaga, yang tersusun rapi.
Kerajaan victoria memiliki sebuah kubah kecil di puncak menaranya, memiliki poros-poros komposisional pada bangunan utama, yang menyerupai sebuah tatanan seremonial dari kejauhan yang seakan-akan bergerak maju ke depan. Selain itu tubuh bangunan victoria dilapisi besi dimana ketika terkena cahaya akan mengkilap sampai atas langit.
"Sebegitu indahnya tempat tinggalmu" ucap arvand masih sibuk menatap bangunan megah itu.
Meliana tertawa, "Masih indah milikmu, tempatku ini kecil, hanya ada istana dan rumah penduduk yang tidak sampai beribu-beribu"
"Aku ingin tahu apakah kerajaan milikmu indah seperti milikku?" meliana bertanya.
Arvand menoleh lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kota majestic.....kau bisa bayangkan? sebuah kerajaan yang dikelilingi kota besar dan ditutup oleh tembok tinggi" arvand menjelaskan seraya meraih langit-langit goa.
Arvand melanjutkan, "Kerajaan Majestic dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi, yang memiliki satu pintu gerbang formal utama, yang berdiri kokoh, implikasinya, pada hampir semua Istana adalah sebagai monument kekuasaan resmi terletak bukan pada ciri-ciri arsitekturalnya, tetapi lebih pada kehadirannya sebgai tempat yang dikelilingi tembok-tembok besar yang memisahkan dua dunia" ucap arvand seraya masih menghayal.
__ADS_1
Meliana menyipitkan mata, ia masih belum jelas gambaran kerajaan majestic.
"Aku tahu kau masih bingung, tempat tinggalku luas, saat kau datang kesana kau akan mendapati tembok besar seperti gerbang, dimana kau akan masuk, lalu kau berjalan dan kau akan melihat sebuah lahan perkebunan atau sawah yang mengelilingi tempat itu, kau menyipitkan mata karena kerajaan ku terlihat kecil, kau lalu maju dan menyebrangi sungai dengan kapal kecil, dan kau akan dihadapi tanah luas yang ditumbuhi berbagai macam tumbuhan buah-buahan, lalu kau maju lagi, melihat gerbang yang kecil, kau membukanya, kau masih menyebrangi sungai lagi dengan kapal kecil, kau masih berjalan lagi melewati kota atau rumah-rumah penduduk, dan kau akan sampai di kerajaanku, kerajaanku dilapisi berlian dan ada banyak kristal yang terdapat dipucuk kerajaan, kau akan merasa lelah ketika berjalan menuju ketempatku, butuh dua jam kau bisa melihatku di kerajaan"
Meliana berdiri dan berteriak, "Aku akan ikut denganmu pulang!!!!!!"
Arvand menggelengkan kepalanya, "Tidak mel, kau tidak boleh melakukan itu....."
"Aku tahu, aku harus menjadi istrimu dulu kan jika ingin melakukan itu"
Arvand menatap heran wanita didepannya, ia lalu berjalan keluar goa, meliana mengikutinya.
"Kau pernah menyukai wanita?" ucapanya terlihat lucu, tanganya dia lambai-lambai seperti anak kecil, ia melangkah disamping arvand.
"Apakah itu penting?"
Arvand bisa mendiskripsikan wanita yang ada disampingnya, berawakan lucu postur tubuh yang kecil dan pendek, rambutnya pirang panjang yang ia biarkan terherai, matanya bulat, dan kulitnya yang putih, seperti anak-anak raja pada umumnya, itu bukan tipe wanitanya karena ia lebih menyukai wanita yang Alpha Woman, tentunya tomboy dan pemberani.
"Itu penting bagiku!!!" pekiknya.
Arvand berhenti lalu menoleh kesamping menatap meliana, mata indah meliana melotot kebingungan karena reaksi tiba-tiba itu, wajah arvand mendekat menatap mata meliana, membuatnya tersungkur kebelakanng, hingga jantung meliana berdetak dengan cepat karena apa yang arvand lakukan.
"Pangeran aaaapa.... yang... kaaa...uu lakukan?" ucapnya gagap.
"Pipimu merah" sahut arvand, lalu ia beranjak meneruskan langkahnya.
Ucapan arvand membuat meliana salah tingkah, jantungnya berdebar.
"Kau tidak ingin melihat matahari tenggelam disini?" ucap meliana.
"Aku akan melihatnya....."
Meliana bertanya wanita idaman arvand berkali-kali namun selalu arvand hiraukan, ia tidak pernah membahas seperti ini sekali pun dengan orang tuanya.
"Aku tidak begitu memikirkannya" ucapnya singkat.
Mereka duduk dipasir putih, menatap cahaya metahari yang tenggelam mengeluarkan cahaya jingga dan oren membuat wajah mereka terlihat hidup.
Sepertinya ini adalah cerita yang menarik batin arvand, ia terdiam mendengarkan setiap detail cerita yang meliana ceritakan.
"Setiap pagi aku selalu duduk menunggu dia didermaga, karena aku sering melakukan itu, dia akhirnya mendekat, saat itulah aku dan dia menjadi dekat" ucap meliana terdiam
Arvand menatap meliana, ia masih mendengarkan dengan saksama, namun meliana tiba-tiba diam membuatnya kaget.
"Kenapa kau tidak melanjutkan?"
"Aku dan dia sudah saling menyukai, tapi ternyata dia lebih menyukai pria..."
Arvand tersentak dengan kaget, "Apa katamu?"
"Dia gay"
Arvand menghela nafasnya, ternyata ada banyak hal itu terjadi disini.
Mereka menghabiskan waktu mereka dipantai, hingga malam tiba, mereka kembali menuju kekerajaan, namun ditengah perjalanan mereka menaiki tangga bukit, meliana menghentikan langkan arvand, ia memeggang pundak arvand walaupun ia harus mendongak menatap keatas wajah arvand.
Lalu tanpa disadari arvand, meliana mencium mulutnya, dan tanpa bersalah meliana beranjak begitu saja, berlari meninggalkan arvand yang masih terdiam mematung.
"Apa ini....." ucap arvand dengan suara pasrah.
Ia berjalan tanpa energi, sesuatu telah terjadi dengannya, ia masuk kemar lalu mengambil secangkir teh, ia membasuh mukanya, dan melepaskan pakaian beratnya, ia hanya menggunakan celana transparan, tubuh bagian atasnya ia biarkan telajang.
Ia menatap dirinya dikaca, sebuah postur tubuh yang membuat gila para wanita, dada bidang dengan roti sobek dibawahnya, otot lengan dan bahu yang melebar, bukankah itu adalah pria idaman?
Arvand tidak begitu menggubris ia lebih fokus pada mulutnya, ia tidak menyangkan wanita itu menciumnya, tidak habis pikir, ia baru saja mengenal dirinya kenapa ia melakukan sejauh itu.
"Apa yang ada dipikiranya? ia pikir aku akan menyukainya?"
Arvand seperti gila sendiri dikamarnya malam itu, seperti merasakan malu dan marah dengan perlakukan meliana itu, membuatnya tidak bisa tidur, ini adalah hal baru yang pertama kali ia rasakan, kenapa ia melakukan hal yang sangat memalukan itu? kenapa wanita itu menciumnya.
__ADS_1
Jam tidur arvand berantakan, ia sama sekali tidak tidur, hari ini adalah hati yang ditunggu-tunggu, acara bisnis ayahnya, setidaknya arvand harus menghormatinya untuk tetap hadir dalam acara itu, walaupuan hanya rapat seperti biasa.
Bawah matanya yang hitam, dan jantungnya berdetak dengan kencang, seluruh tubuhnya mengigil, ini bukan sakit karena dia kelelahan, ini seperti ingin menghadapi seseorang atau seperti ingin presentasi.
Arvand duduk disamping ibunya, ia berusaha tidak mempedulikan sekitar, ia beberapa kali meneguk secangkir teh untuk menghilangkan rasa gugupnya, benar meliana akan datang dengan senyuman yang mengerikan seolah ia tidak merasa bersalah.
Mungkin ini adalah hal yang arvand lakukan pertama kali, ciuman pertamanya dengan putri meliana, arvand tidak fokus mendengarkan sidang rapat yang ada di acara itu, ia lalu memutuskan untuk pergi keluar sebentar disebuah balkon jendela kerajaan, ia masih terlihat gugup, ia menatap hamparan lautan yang indah, matanya harus fokus pada lautan itu sehingga ia bisa menghilangkan rasa gugupnya.
"Pangeran kenapa kau keluar?..." suara lembut itu menganggetkan arvand.
Arvand menoleh, seseorang yang ingin dia hindari, malah menyusulnya kemari, "Tidak aku hanya ingin mencari udara segar"
Dalam hati, arvand memikirkan tentang putri meliana, perwatakannya adalah imut dan lucu, namun ternyata jika soal seperti ini, tidak ada tandingannya.
"Kau tidak malu?" ucap arvand.
Wanita itu memiringkan kepalanya, tanda kebingungan, tiba-tiba ia melotot teringat kejadian tadi malam.
"Ahhh pangeran maafkan aku..." ucap putri meliana menundukan kepalanya.
"Bisa-bisanya kau membuatku tidak tidur semalam..." batin arvand.
"Itu memang kesalahanku....tapi setidaknya aku bisa menyentuh bibirmu walaupun sekali"
Mata arvand menatap wajah meliana yang tiba-tiba murung itu.
Meliana melanjutkan, "Kau menolakku kan kemarin? maka dari itu aku bersyukur bisa menciummu"
Arvand kembali menatap lautan luas didepannya, ia merasakan hawa angin pantai yang terbang mengelilingi tubuhnya.
"Kenapa kau begitu ingin menjadi istriku?"
Meliana mendekat, "Karena aku menyukaimu, tidak ada alasan....."
"Perasaan tidak bisa dipaksakan putri....kau akan merasakan cinta tidak sepihak nantinya jika kau memaksaku untuk menikahimu"
Arvand bisa melihat dengan jelas raut wajah meliana yang tiba-tiba menjadi murung, arvand menatap wajah meliana lalu ia bertanya, entahlah ini terlihat terlalu vulgar atau bersifat terang-terangan.
"Kau pernah melakukan hal itu?"
Wajah meliana yang tadinya terlihat murung berubah kebingungan, "Apa maksudmu?"
Wajah arvand kembali panas, pipinya merah, "Itu....."
Mata meliana menatap sekitar tanda ia sedang memikirakan sesuatu, namun terlintas ia paham maksudnya, "Melakukan hubungan yang itu?" tanya meliana seraya tertawa.
"Kenapa kau menanyankan itu?" lanjut meliana.
"Aku hanya penasaran"
"Apa kau ingin melakukan itu denganku?" goda meliana, advand menatap sadis meliana.
"Aku pernah melakukan sekali dengan laki-laki didermaga itu...."
Mata arvand membulat, wanita polos yang terlihat imut dan lucu ini berbeda 100% dengan sifatnya, ia tidak menyangkan putri meliana tidak suci lagi.
"Apakah setelah tahu kau masih ingin berteman denganku?"
"Memangnya itu urusanku? kau masih bisa berteman denganku"
"Aku pikir kau akan menjawab 'aku akan menikahimu...' tapi ternyata tidak"
Arvand kembali kekamarnya, ia akan tidur kali ini, ia meninggalkan acara itu, entahlah bagaimana marahnya ayahnya, mungkin jika aku menjelaskan kenapa aku tidak hadir pasti ayahnya tidak akan mempercayainya.
Ia lalu tertidur, namun selang beberapa menit ia terbangun karena tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh dadanya, memang benar arvand lebih nyaman melepaskan bajunya ketika tidur, ia terbangun dan melihat kepala seorang wanita yang tidur di dadanya, ia bisa menebaknya karena warna rambut itu pirang, dia adalah putri meliana, arvand kaget dan berdiri namun ia lebih kaget dengan pakaian yang pakai meliana, hanya menggunakan pakaian dalam, arvand berlari membuka pintu namun pintu itu tak kunjung terbuka.
Meliana berjalan mendekat, seraya mengucir rambutnya dengan gaya yang menggoda, arvand menutup matanya, keringat dingin keluar dengan deras diseluruh tubuh, ia baru sadar ternyata dia juga hanya menggunakan ****** ***** saja, lalu ia berlari mengambil kain, tapi putri meliana dengan cepat menyerang tubuh kekar itu hingga terjatuh kekasur empuk.
Arvand kehilangan kesadarannya, ia pasrah ia menutup matanya, putri meliana terus mendekatkan wajahnya ke wajah arvand, lalu ia menciumnya.
__ADS_1
Arvand membuka matanya seraya berteriak, ia terbangun seraya nafasnya terengah-engah, ia bangun dari mimpi buruknya, ia menghelan nafas panjang karena merasa lega, itu hanya sebuah mimpi, kenapa ia bermimpi seperti itu, benar-benar tidak ada harga dirinya.
Ia tertawa terbahak-bahak karena mengingat mimpi buruk itu, kenapa saat itu ia berlari? seharusnya terima dan diam saja, biarkan meliana melanjutkan atraksinya.