Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Randi bertemu agil


__ADS_3

Aleris berjalan dikoridor istananya, ia akan kembali kekamarnya, meletakkan tubuhnya, ia sangat merasa banyak mengeluarkan tenaga, tapi ia tidak melakukan apa-apa, pasti ia merasakan lelah karena pikirannya.


Setelah datang menjenguk silas, ned, dan yang lainnya diobati, aleris tidak bisa menemani mereka lama, karena rasa kantuk dan tubuhnya dan sudah sangat lelah.


Dikoridor langkah aleris berhenti, ia terkejut saat malucia terdiam menunggu aleris datang, ada sedikit yang berbeda dari malucia rambutnya digerai, bukankah tipe aleris adalahrambut panjang yang digerai? aleris kaget karena selama ini malucia tidak pernah suka rambut digerai.


"Ada apa ini?" batin aleris.


Malucia mendekat seraya melipat kedua tanganya didepan dada, ia tersenyum.


"Akhirnya kau tidak sia-sia..." gumam malucia.


Aleris terlihat bingung ia cukup lama bengong menatap malucia.


"Selama ini kau telah melatih kami dengan kerja keras yang luar biasa, ini bukan hal yang terlalu meriah tapi aku ingin mengajakmu...."


"Mengajak ku?" ucap aleris.


Ia masih tidak mengerti apa yang dikatakan malucia, ia sadar ia sedang berusaha melupakan malucia, namun sepertinya pondadi hatinya roboh saat ia mendengar malucia berkata demikian.


Aleris lalu berjalan beriringan dengan malucia, mereka melewati kebun buah dan bunga yang ada disamping istana aleris, entahlah aleris tidak paham kemana malucia mengajaknya.


Namun aleris langsung paham jalan ini, sepertinya malucia mengajaknya pergi ketempat biasa, tempat menonton sunset dan sunrise ditempat yang bersamaan yang biasa mereka lakukan.


Namun aleris merasa aneh karena malucia tidak seperti biasanya, apakah ada sesuatu yang akan terjadi? apakah pada akhirnya aleris tidak bisa melupakannya? ia terus menggandeng tangan aleris. Aleris nyaris pingsan karena hal ini, ia harus berusaha tenang karena bukankah ini yang diharapkan aleris selama ini?


Benar, malucia berhenti ditempat seperti biasa, ia melepaskan genggamannya, lalu ia duduk dibatang pohon, aleris mengikutinya.


"Kenapa?" tanya aleris.


"Tidak ada...." ucap malucia seraya tersenyum menatap matahari yang akan segera tenggelam.


"Jika tidak ada yang harus aku lakukan, aku akan kembali karena aku sangat lelah..." gumam aleris.


"Tunggu..." pekik malucia.


Malucia mengisyaratkan aleris untuk duduk disampingnya, aleris menuruti hal itu.


"Kau sudah melakukan hal yang terbaik, selama ini anak-anak yang telah kau jadikan tempat keluh kesah akhirnya bisa menjadi hebat karenamu.."


Aleris mengangguk ia sangat terharu mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut malucia. tiba-tiba kepala malucia jatuh kepundak aleris, membuat aleris terkejut, dimana saat aleris menatap wajah malucia ia bisa melihat dengan jelas wajah cantiknya itu.


"Aku belum menjawab kan?" sahut malucia.


"Apa?" tanya aleris.


Wajah malucia mendongak, menatap wajah aleris dengan dekat, aleris bisa merasakan nafas malucia dengan dekat.


"Waktu itu..... kau masih menyukaiku???" tanya malucia dengan tersenyum.


Dimana membuat pipi aleris terlihat sangat merah. Bagaimana aleris harus menjawab, ia benar-benar ingin melupakan malucia tapi ia tidak bisa jika malucia sering melakukan hal seperti ini.


"Ah tidak, aku sudah tidak menyukaimu lagi...." ucap aleris spontan, seraya memalingkan wajahnya.


"Yah...padahal aku sebenarnya menyukaimu juga.." ucap malucia.


Aleris terkejut, ia langsung tersedak ludahnya sendiri. Malucia tertawa.


"Kau pikir ini bercanda?" gumam malucia.


"Aku tidak salah dengar?" ucap aleris.


"Tidak, aku benar-benar menyukaimu, tapi katamu kau sudah tidak menyukaiku? berarti aku mencintai seseorang secara sepihak.." ucap malucia.


Aleris berdiri, "Tidak, aku berbohong aku sebenarnya masih menyukaimu!" pekiknya.


Malucia ikut berdiri, ia lalu memeluk aleris.


"Aku tidak mimpi?" batin aleris.


"Kau sangat terlihat bodoh, saat sedang jatuh cinta..." bisik malucia.


Sesuatu yang sangat langka malucia seperti ini, aleris tidak menyangka ia bisa mendengar jika malucia menyukainya, langsung didepan matanya.


Bhkankah selama ini, aleris ingin melihat ia bisa mencinta satu sama lain, akhirnya harapannya tercapai.

__ADS_1


Aleris melepaskan pelukan malucia, ia memeggang kedua pundak malucia.


"Memangnya ada apa, tiba-tiba begini?" ucap aleris.


"Ya memang sebenarnya hal yang membuatku bisa bangkit adalah kau, selama hidupku yang hancur dan berantakan, kau selalu ada untukku..." gumam malucia.


Namun ada yang menganggu pikiran malucia, aleris yakin, ia bisa melihat dari mata malucia.


"Kau sebenarnya jatuh cinta dengan agil? teman randi?" entahlah ini akan menjadi pertanyaan aleris yang terlihat bodoh atau tidak.


Malucia memalingkan wajahnya, ia menghelan nafasnya, lalu ia duduk dibatang kayu.


"Aku tidak pernah menyukai seseorang sampai seperti ini, pertama kali aku bertemu dengannya aku sepertinya memang jatuh cinta, kau mengirimkan aku untuk tugas ini, jadi aku sangat berterima kasih kepadamu karena tugas ini aku bisa bertemu dengan agil, disetiap perjalanan aku selalu menatap wajahnya, entahlah aku merasakan hawa yang nyaman ketika berada didekatnya..." ucap malucia menghelan nafas.


Lalu ia melanjutkan, "Karena aku yakin aku benar-benar menyukainya, aku berusaha untuk melakukan apa yang harus aku lakukan untuknya, namun tragedi terjadi, dimana aku sangat merasa bersalah kepada randi dan gilang, hal itu yang membuatku sangat hancur, karena keegoisanku kau harus menerima hukuman kan?" ucap malucia.


"Tidak, hukuman apa?" tanya aleris.


"Kita membunuh para prajurit itu, bukankah itu suruhan tuan leon?"


Aleris tertawa lalu ia duduk disamping malucia.


"Sebenarnya aku memang harus dihukum karena itu, waktu aku datang kekerajaan, leon tahu kita membunuh mereka, tapi ya... ia marah, tujuannya kan untuk melindungi istanaku, aku pikir waktu itu leon mengirimkan para prajurit karena suruhan varegar, jadi jika aku membunuh mereka atau melakukan kesalahan dengan para prajurit kita semua akan mati, maaf waktu itu membuatmu kawatir....." ucap aleris.


"Tidak kau memang seharusnya mengatakan itu, karena posisiku yang berantakan dan egois waktu itu..."


Aleris merangkul pundak malucia, "Ceritakan lagi, tentang agil..." bisik aleris.


"Aku mengakuinya aku menjaga perasaanku untuk agil, aku tahu betul agil juga menyukaiku aku yakin itu, tapi setelah aku renungkan, bukankah agil sudah mati?"


Aleris melolot ia menatap malucia, ia masih mendengarkan ocehan malucia.


"Dia sudah mati bukan? dikeadaan yang seperti ini? bukankah seharusnya ia sudah dimakan monster?"


Aleris menghelan nafasnya.


"Aku selalu berpikir seperti itu karena aku sadar aku dan dia tidak bisa bersama..."


Aleris menatap mata malucia yang sudah sangat basah air mata.


Ocehan malucia aleris hiraukan, ia menarik tubuh malucia untuk memeluk tubuhnya yang besar, aleris memeluk dengan erat, ia membiarkan ocehan yang selama ini malucia pendam didalam dadanya.


Malucia mendongak, aleris membersihkan sisa air mata yang berjatuhan, ia tersenyum.


"Tapi....aku memang menyukaimu, memang benar menyukaimu, kau memang seperti agil, sifat dan wajahmu yang tegas, tapi aku menyukaimu bukan karena kau memiliki sifat dan wajah yang sama dengan agil, justru karena kau akhirnya aku melupakan agil...." gumam aleris.


Lalu kedua tangan aleris memeggang kepala malucia, wajahnya mendekat, malucia tahu apa yang akan aleris lakukan, ia memejamkan matanya.


Bibir aleris mendarat dibibir malucia yang lembut, malucia menerima ciuman itu, kedua tangan malucia meraba punggung kekar aleris, mereka berciuman dibawah pohon yang berguguran seraya matahari yang berjalan untuk siap tertidur.


Randi keluar dari kamarnya, walaupun malam tiba tidak membuatnya takut untuk mencari angin. Ya, benar memang yang dilihatnya banyak hutan dihadapannya, namun ia tetap akan duduk dikursi taman belakang istana, sekadar hanya melamun menikmati angin malam.


Tidak gelap memang karena istana aleris ini serba lampu dan banyaknya lampu hiasa yang menempel di batang pohon membuatnya seperti tempat pesta.


Tidak lupa randi membawa air hangat, ia beberapa kali menyeruput minuman itu, ia memejamkan matanya, bisa-bisanya ia terbangun saat malam tiba, ia sangat begitu lelah karena menonton pertandingan itu, aneh memang ia tidak ikut bertarung tapi ia merasakan sangat lemas, jadi randi memutuskan untuk tidur awal.


Bahkan gilang juga ikut tidur awal-awal, bukankah malam seperti ini identik dengan overthingking. Randi tidak habis berpikir ia terus kepikiran tentang otak buruknya, pikiran itu adalah agil yang sudah mati.


Tapi selalu randi tepis, tapi pikiran itu muncul lagi membuatnya sangat muak, tapi bukankah memang benar? disituasi yang seperti ini, apa itu menjamin ia masih hidup?


"Tidak! agil masih hidup!" teriaknya.


Randi mematung saat ia melihat sebuah cahaya senter yang sedang menyinari didalam hutan, hal itu tidak membuatnya takut, randi mencoba mendekati, ia masuk kedalam hutan, ia berjalan mendekati tempat cahaya itu berada.


Betapa kagetnya randi, betapa ingin berteriaknya dia, betapa ingin menangis, randi bertemu dengan agil. Randi berteriak dan berlari menuju sosok agil berada.


Mereka saling bertemu akhirnya, agil tak henti-hentinya berteriak, ia berlari dan tubuh mereka bertemu, mereka berpelukan. Mata randi tidak bisa ia bendung ia menangis sejadi-jadinya, begitupun agil.


"Ran sekarang kita harus pergi dari sini!!!!!" ucap agil.


Ia hanya seorang diri dihutan itu, nafas agil terengah-engah, dan tubuhnya yang sangat kotor.


"Tapi kita akan aman jika kau ikut aku gil, diistana itu..."


"Tidak!" teriak agil, membuat randi terkejut.

__ADS_1


Anehnya randi melihat agil yang seperti menyimpan balas dendam.


"Kau akan kemana bodoh?!" pekik randi.


"Pergi dari sini!!!" ucap agil menarik tangan randi, randi melepaskannya.


"Kau gila? disini dengan banyak monster berkeliaran sial, kau ikut denganku maka kau aman!" pekik randi.


Yang membuat aneh randi adalah, agil sama sekali tidak menanyakan keadaan mereka, menanyakan gilang ada dimana, ia hanya terus berteriak dan seperti ketakutan, sempat terlintas dipikiran randi jika ini bukan agil.


"Kau bukan agil?" tanya randi, namun agil justru menampar randi.


"Ini aku sialan!" umpatnya.


Dengan cepat agil segera menarik tangan randi, keanehan lagi-lagi terjadi, bahkan randi tidak bisa melepaskan genggaman erat dari agil, bukankan selama ini randi yang paling kuat dari agil?


"Lepaskan...lepaskan..." rintih randi.


"Kita harus pergi rann, pergi..."


"Gilang bodoh, gilang masih ada diistana itu....."


Agil menghiraukan ucapan randi, ia terus berlari menarik tangan randi. Beberapa kali randi berteriak untuk berhenti dan kembali membawa gilang, namun agil hanya diam.


Hingga tiba saatnya mereka didepan sebuah tebing.


"Gil.....gilang, kenapa kau tega..." rintih randi.


Karena beberapa kali agil menghiraukan ucapan randi, randi yang sudah muak menonjok wajah agil, agil tersungkur ia malah tertawa.


"Kau tidak tahu? gilang sudah menjadi bagian dari mereka, pasti yang menyelamatkan kalian aleris? ia sebenarnya iblis!! dan gilang sudah menjadi pengikutnya!"


Randi tersentak, tidak, tidak mungkin itu terjadi. Seorang yang baik hati menolongnya itu adalah iblis itu sangat mustahil.


Randi menolak jika aleris atau gilang adalah seorang iblis, selama randi hidup ditempat itu, randi tidak pernah sama sekali merasakan adanya tanda-tanda iblis dari mereka.


Randi lalu berlari melarikan diri, namun agil berhasil menghalangi jalan randi, sesuatu yang keluar dari tangan agil, seperti kekuatan aleris agil bisa mengeluarkan kekuatan tanah, ia menghalangi jalan itu dengan kekuatan tanahnya.


Randi terjatuh karena ia sangat terkejut, ia menatap agil, ia sangat kaget karena agil yang bisa mengeluarkan kekuatan dari tubuhnya.


Agil mendekat menyodorkan tangannya, untuk membantu randi bangkit, namun randi tepis ia bisa berdiri sendiri.


"Jangan kaget kalau aku sudah kuat...."


"Kau kemana saja?..." ucap randi, kata-kata ini akhirnya bisa ia keluarkan setelah lama ia pendam.


"Aku mencari tempat tinggal dan bertemu dengan seorang kakek tua, aku berlatih dengannya, dan sekarang aku harus membawamu kesana...." gumamnya.


"Tapi kau yakin, gilang?" ucap randi, ia sudah sangat berantakan, ia ingin menyelamatkan gilang, dan pergi bersama.


"Kau janji kepadaku kan, kita akan pergi dan pulang bersama-sama?" pekik randi.


"Tapi bagaimana bodoh!!! dia menjadi pengikut iblis, dan sudah seratus persen ia bisa berubah menjadi iblis!!!" teriak agil.


Randi mengacak-acak rambutnya, ia masih tidak percaya dengan ucapan agil, ia menangis histeris disana.


Agil menepuk pundak randi, namun randi menepisnya, ia mengumpat kepada agil, bukankan selama ini randi ingin bertemu dengan sosok agil yang ia kenal? menyelamatkan satu sama lain? ini bukan pertemuannya dengan agil yang ia harapkan, bukan seperti ini.


Rasanya sia-sia bertahan hidup dengan gilang disana, dan sering berandai-andai bertemu agil dan berjalan mencari jalan keluar bersama. Ini bukan hal yang ingin randi inginkan.


Ia sangat berterima kasih bertemu agil, tapi yang ia temui bukan seperti yang randi kenal, sosok agil yang keras kepala, dan ia tidak pernah percaya kalau belum melihat sesuatu.


Ini bukan akhir yang randi inginkan, ia sudah berjanji dengan gilang untuk mencari jalan keluar bersama, tapi kenapa ia harus berpisah, apakah benar jika gilang memang seorang iblis, dan aleris selama ini? lalu siapa yang harus randi percayai saat ini.


Ia sangat bahagisa akhirnya ia bertemu agil, waktu itu randi sudah membayangkan jika randi berhasil membawa agil ke istana dan memperkenalkan aleris kepadanya, dan pergi kekerajaan majestic seperti yang aleris ceritakan kepadanya.


Agil memejamkan matanya, randi masih mencaci maki agil didepannya, ia masih menangis dan menyalahkan agil. Tiba-tiba agil membuka matanya, matanya merah dan sangat bersinar, membuat randi tiba-tiba tersentak kaget, terdiam menatap agil, ia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya.


Agil mendekat kearah randi, ia mencekik leher randi dan ia angkat, randi menggelitik ngeri melihat mata agil, ia berusaha melepaskannya karena ia sangat susah untuk bernafas, Namun tangan agil mencekiknya sangat erat, sampai randi tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.


Wajahnya memerah, ia sulit bernafas dan sangat gelagapan, kedua tangan randi berusaha untuk melepaskannya namun tenanganya kian habis, ia sangat lemas.


Tiba-tiba agil melepaskan cengkramanya, namun yang membuat randi kaget, agil melepaskan tubuhnya tepat diatas jurang, hal itu membuat randi terjatuh dari jurang yang sangat tinggi, tubuhnya melayang-layang, ia beberapa kali meminta bantuan agil, namun yang ia lihat agil tersenyum dengan matanya yang masih bersinar.


Baiklah mungkin ini saatnya randi mati, tubuhnya terjatuh dari ketinggian, dan hal ini pasti membuatnya langsung mati saat mendarat kebawah, ia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Entah yang aku temui agil atau bukan tapi tolong selamatkan mereka berdua, aku sudah tidak bisa menyelamatkan mereka karena aku memang akan mati habis ini, tolong jaga farhan kakaku, jaga ibu, jaga ayah, aku mohon bahagiankan mereka..." gumamnya.


__ADS_2