Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Perkelahian Aleris dan Varegar


__ADS_3

Agil tersadar dari tidurnya yang pulas saat ia mendengar suara riuh didepan penginapan, seperti seseorang yang berdebat disana. Segera Agil beranjak dan membuka jendela ia mengintip dibawah sana.


Lima pria yang saling berdebat entah apa yang diberdebatan oleh mereka karena suara itu hanyalah suara yang terdengar gemuruh saja. Agil membuka pintu kamarnya, tujuannya ia akan datang dan melerai lima pria itu, bahkan orang-orang dirumah mereka tidak melerai mereka, mereka malah sibuk menonton keriuhan tersebut.


"Maaf, maaaf ikut campur tapi ada apa ya?" sahut Agil tiba-tiba datang dan memisah kelima pria itu.


Pria itu melepaskan dengan kasar tangan Agil yang masih memeggang lengannya untuk memisahkan.


"Lihat! kau tidak lihat? pakaianya!"


Agil menatap pria yang disebutkan, "Prajurit?" gumam Agil.


"Prajurit apanya!" teriak pria itu.


Agil sudah menduga pasti akan ada banyak oknum yang mengaku-ngaku menjadi seorang prajurit yang sedang ia cari itu. Agil bisa langsung percaya dia adalah palsu saat melihat tato pedang yang ada di lehernya, tato yang sangat berbeda.


"Hei bocah! aku yang kau cari!" sahut prajurit abal-abal itu.


"Mana serahkan kristal emas itu..." lanjutnya.


Agil memutar bola matanya.


"Bagaimana agar aku percaya, jika kau adalah prajurit yang aku cari itu?"


Seperti dugaan Agil ia pasti sangat kesusahan untuk menjawabnya.


"Aku yang menyebar isu itu, kalau raja dan iblis saling berkerja sama!"


Beberapa pria itu saling berteriak untuk mengusirnya dari tempat ini, mereka sudah sangat yakin ini adalah penipuan untuk mendapatkan kristal emas itu.


"Diam!" teriak prajurit abal-abal itu.


Karena teriakan itu, ada salah satu pria yang tidak terima, ia langsung memukul wajah prajurit abal-abal itu hingga tersungkur ketanah. Karena prajurit itu tidak terima ia membalas memukul wajah pria itu, tak terjadilah empat lawan satu, mulai berkelahi.


Dengan cepat, Agil melerainya menarik tubuh prajurit abal-abal itu dan pergi dari tempat itu, Agil membawanya disebuah tempat, tempat yang sepi, seperti disebuah sawah, dan mereka berhenti disebuah gubuk.


"Jujur padaku...."


Prajurit abal-abal itu menyahut, "Yah, saya bukan prajurit yang anda cari..." sahutnya.


"Kenapa kau menipu?"


Prajurit itu menundukan kepalanya, Agil bisa melihat raut wajah yang tiba-tiba berubah, raut wajahnya sedih.


"Saya pikir, saya bisa melakukannya, menipu semua orang agar mendapatkan kristal yang anda katakan kemarin, saya hanya butuh itu..."


"Untuk apa?" tanya Agil.


Prajurit itu menghelan nafasnya, "Istri saya sakit, dan anak pertama saya yang pergi membawa istrinya, pergi keluar dari tembok...."


"Kenapa kau tidak kerja saja?" ucap Agil.


Seperti sesi interview disana, Agil terus bertanya tanpa jeda, dan mendengarkan jawaban yang menurut Agil, ia sangat tersentuh.


"Saya kerja, tapi kerajaan saya hanya menjual barang-barang dipasar tapi, masih sepi...."


"Karena usaha itu butuh proses..." sahut Agil.


Prajurit abal-abal itu, hanya mengangguk mengerti.


"Aku tidak bisa memberimu kristal emas itu, tapi aku harus memberimu dua kristal ini..." Agil menyodorkannya kearah prajurit abal-abal itu setelah merogoh saku bajunya.


Kristal yang tidak terlalu besar itu, sudah sangat mahal harganya, bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan jika perlu bisa untuk membeli tanah.


"Ah, sungguh?" pekiknya.


Agil hanya mengangguk.


"Sekali lagi, saya meminta maaf karena menipu, saya janji saya tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi, terima kasih..." ucap pria itu, seraya bersujud didepan Agil.

__ADS_1


Agil yang tidak nyaman dengan aksinya, membantu pria itu berdiri.


"Kau bisa gunakan dengan baik untuk keluargamu..."ucap Agil.


Lalu Agil pamit pergi.


Ia kembali kepenginapan, dan masuk kedalam kamar ia menjatuhkan tubuhnya, seraya menghembuskan nafasnya.


"Padahal.....sudah sama-sama ada dikota Majestic, tapi kenapa kita tidak bertemu? sesulit ini kah?" gumam Agil.


Tiba-tiba Jay datang ia mengentuk pintu, seraya membawa nampan berisi roti isi.


"Gil, makan..." gumamnya seraya meletakannya dimeja.


Agil bergegas membenarkan posisi duduknya.


"Tadi ada apa?" tanya Jay seraya duduk disebuah kursi.


"Hanya orang-orang yang mengaku prajurit yang aku cari..."


"Sudah aku duga..." jawab Jay.


Agil menatap Jay yang masih sibuk mengomel, tak sadar ternyata Agil tersenyum saat ia menatap Jay.


"Gil? kenapa? ada sesuatu ya diwajahku?"


"Tidak, aku hanya sangat terpesona melihatmu..."


Jay tersenyum malu.


"Kenapa ya? aku bisa sangat menyukaimu?"


Ucapan Agil membuat Jay tersipu malu, ia bahkan tak kuasa menatap Agil. Agil lalu beranjak dan duduk didepan Jay ia memeggang kedua tangan Jay.


"Aku benar-benar ingin menjagamu..."


Jay tersenyum. Agil lalu menyentuh kedua pipi Jay.


Tiba-tiba Agil memeluk tubuh Jay dengan erat, Jay lalu menerima pelukan dari Agil.


Mahagaskar datang seraya membawa minuman yang berisi ramuan untuk pengobatan rasa lemas yang pernah Aleris katakan tadi, jika akhir-akhir ini ia sangat lemas dan tidak ada sama sekali tenaga.


"Terima kasih..." gumamnya.


Aleris menyeruput ramuan itu, rasanya sangat pahit bahkan sangat pahit lebih dari obat-obat biasanya.


"Jadi? setelah kau datang kesana? istanamu hancur lebur?"


Aleris hanya mengangguk, "Semuanya rata bercampur dengan tanah, istana yang sebesar itu pun pada akhirnya akan hancur..." gumam Aleris.


"Kau tahu siapa yang melakukanya?"


"Siapa lagi? siapa lagi kalau bukan mereka? seperti yang kau katakan tadi, mereka pergi pada malam itu..."


"Lalu kenapa? kenapa kau diam saja? kenapa tidak menyerang mereka ada banyak anak buahmu yang diculik mereka..."


Aleris tertawa, membuat Mahagaskar terkejut dengan suara tertawa Aleris yang seperti meledek.


"Apa yang harus aku lakukan?" Aleris tersenyum pasrah.


Seperti sangat sudah kehilangan tenaganya, ia hanya bisa tertawa, menertawai tingkah Varegar dan Raja yang sudah sangat berlebihan kepadanya.


"Aku ingin istirahat sebentar dari semua keburukan yang ada, tapi sepertinya tidak bisa, aku harus mengembalikan orang-orangku..." gumamnya.


"Aku tahu perasaanmu Ris, yang hanya aku lakukan disini hanyalah diam menunggu perintah, tapi sepertinya aku tidak bisa lagi seprrti itu..." ucap Mahagaskar.


Aleris terdiam, ia menundukan kepalanya.


"Paman, kau urus pencarian Randi..." ucap Aleris, ia lalu beranjak pergi meninggalkan Mahagaskar.

__ADS_1


Mahagaskar hanya melihat Aleris beranjak pergi dengan sedikit terkejut karena tiba-tiba Aleris beranjak pergi.


"Aku akan membantumu Ris.." gumam Mahagaskar.


Dengan emosi dan langkah yang dipercepat, ia datang ketempat ruang kerja Varegar, ia melihat ada beberapa orang disana, tentunya Fay dan Arvand yang duduk disofa ruang kerja Varegar.


Tak butuh waktu lama dan tak butuh basa-basi, Aleris membuka pintu dengan keras membuat Varegar, Arvand, dan Fay terkejut.


"Aleris?" pekik Fay, saat melihat Aleris datang dengan raut wajah yang marah.


Aleris mendekat kearah Varegar yang terduduk masih memeggang buku ditanganya, ia lalu menarik kerah baju Varegar hingga tubuh Varegar terangkat naik.


"Katakan padaku! dimana anak buahku!" pekik Aleris.


Varegar yang mendengar ucapan Aleris ia tertawa.


"Kau sudah tahu kah?" tanya Varegar santai.


Aleris melepaskan genggamannya dengan kasar, membuat Varegar tersungkur dikursinya. Arvand mendekat.


"Ris, ada apa!" pekiknya.


Aleris menatap Arvand.


"Vand, Fay, kalau kalian ingin tahu? mereka?" ucap Aleris menujuk kearah Varegar.


"Ia menculik anak buahku, dan menghancurkan istanaku.." lanjut Aleris.


Arvand dan Fay yang mendengar, terkejut mereka tidak berhenti terbelalak saat apa yang Aleris katakan.


"Sungguh? paman?" tanya Arvand kepada Varegar.


Varegar hanya membuang muka, acuh tak acuh. Fay yang mulai memanas ia mendekat kearah Varegar.


"Kak!" pekik Fay.


"Kenapa?" tanya Varegar santai.


"Apa hubunganya kau dan si Aleris?"


Jelas ucapan Varegar membuat Fay sangat marah, ia lalu menampar wajah kakaknya itu. Varegar tersenyum.


"Kenapa kau seperti ini? apa sih? kesalahan Aleris?" pekik Fay.


Namun yang tidak terduga terjadi, Varegar mendorong dengan keras tubuh Fay hingga tubuh Fay menabrak sebuah kursi kayu dibelakangnya, dimana kepala Fay mendarat dan mengenai kursi kayu yang keras membuatnya tidak sadarkan diri dan pingsan.


Aleris dan Arvand tersentak.


"Fay!" ucap Arvand, ia lalu berlari mendekat.


Aleris yang melihat itu, langsung menghantam dengan kekuatan penuh kearah wajah Varegar, Varegar pun mengeluarkan darah dimulut dan dihidungnya.


"Bawa dia pergi..." ucap Aleris kepada Arvand.


Arvand mengangguk dan mengendong tubuh Fay kelyar dari ruangan itu. Tiba-tiba dengan kekuatan penuh, Varegar menyekik leher Aleris dengan satu tanganya hingga tubuh Aleris melayang keatas.


"Coba, keluarkan kekuataanmu..." gumam Varegar.


Masih berusaha melepaskannya, dan menahan nafasnya, cekikan Varegar sangat kuat membuat Aleris tidak bisa apa-apa. Namun Varegar akhirnya melepaskannya membuat Aleris terjatuh.


Tak henti-hentinya Aleris batuk karena cekikan Varegar yang sangat kuat, namun tiba-tiba Aleris mengeluarkan kekuatan anginnya dan membuat tubuh Varegar terdorong mundur, hingga tubuhnya menabrak beberapa meja kursi yang ada disana.


Bahkan Varegar masih bisa tertawa, menertawai kekuatan Aleris.


"Begitu saja kah?" ucap Varegar.


Aleris tidak menghentikan kekuatannya, ia terus mengelurkannya sampai Varegar tidak bisa menahannya lagi. Tapi seseorang menghentikannya.


Mahagaskar datang dan merubah kekuatan angin Aleris menjadi beku, dengan kekuataannya, Aleris tersentak kaget saat hal itu terjadi. Varegar tersungkur jatuh saat kekuatan angin itu sudah berubah menjadi beku. Pada akhirnya ia terbebas dari angin yang menahanya.

__ADS_1


Varegar tertawa terbahak-bahak saat dirinya bahkan tidak memiliki luka karena serangan Aleris tadi. Aleris menatap Mahagaskar ia tahu apa yang diisyaratkan Mahagaskar seperti 'Berhenti lawanmu bukan dengan orang lemah seperti varegar'


__ADS_2