
"Apa katamu!!!!!!" teriak ratu carlota diambang pintu, emosinya menggebu-gebu, seakan yangada dihadapanya musuh bukan anaknya.
"Memang kan? kau hanya anak buah ayah, kau selalu patuh dengannya" ucap arvand, wajahnya banyak darah dan luka kebam, ia hiraukan.
Memang kesalahan arvand harus kembali ke rumahnya padahal ia tahu sendiri apa yang akan terjadi jika dia kembali.
"Kenapa kau patuh dengannya? kau takut kan? takut jika kau tidak patuh dengannya kau akan diceraikan dan di buang kau tidak akan bisa menjadi ratu lagi?"
Ratu carlota mendekat dengan cepat ia lalu menampar arvand posisi wajah masih banyak luka, arvand tertawa.
"Lalu kenapa kau kembali?!!" ucap ratu carlota.
"Karena ini rumahku"
Ratu carlota diam, ia menghela nafas lalu memeggang kedua pundak arvand.
"Dengar bunda tidak ingin ini terjadi tapi tolong untuk saat ini jadilah arvand seperti dulu...."
Arvand melepaskan kedua tangan ratu carlota, "Iya makanya aku kembali.."
Ratu carlota lalu memeluk arvand, ia menangis.
"Kenapa kau berubah tuba-tiba seperti ini....." ucapnya menangis.
Ratu carlota mengambil kotak berisi obat-obatan, ia akan mengobati luka lebam diwajah arvand, dimana ia tidak bisa melihat wajah biru dan mata yang bengkak seperti itu.
"Bahkan kekuatanku tidak bisa aku gunakan" sahut arvand.
Ratu carlota tiba-tiba menghentikan gerakannya.
"Sepertinya kekuatanku diambil oleh ayah..."
Ratu carlota diam ia lalu meneruskan kegiatanya, mengobati luka diwajah arvand, ia menyiram alkohol dan menaruh perban di mata kiri arvand yang sobek.
"Kau sudah makan?" ucap ratu carlota seraya berdiri.
Arvand hanya mengangguk, ia menyuruh ratu carlota untuk pergi dari kamarnya.
Arvand menjatuhkan diri kekasurnya, ia memejamkan matanya, tapi tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan membukanya, seseorang itu memanggil nama arvand namun arvand masih memejamkan matanya menghiraukannya, karena yang datang adalah raja gevarnest.
Raja gevarnest duduk, "Baiklah aku tidak akan melakukan hal semacam ini lagi jika kau patuh kepada ayahmu ini....."
Raja gevarnest melanjutkan, "Ayah sangat kecewa kau berubah, bukan arvand yang ayah kenal dulu....."
Arvand tersenyum lalu terbangun, "Iya" ucapnya singkat.
Ia tahu mau berusaha seperti apa ucapanya tidak akan didengar oleh ayahnya, mau ia peringatkan tentang perlakuan jahat ayahnya percuma, yang arvand dapatkan adalah wajah arvand akan semakin banyak luka lebam.
"Iya?" ucap raja gevarnest.
"Kau belum tahu rencana ayah kedepannya......jika kau sudah tahu ayah harap jangan kembali, butuh ayah lagi setelah menjadi penghianat"
"Karena saat ini kau berjalan sangat berbeda dengan ayah"
"Ayah sok tahu seaakan aku akan menjadi penghianat?" ucap arvand.
"Apa memangnya ayah ingin aku menjadi penghianat"
"Ayah melihat apa yang lakukan saat ini?" sahut raja gevarnest.
"Aku hanya bermain dengan mereka!!!!!" teriak arvand.
Raja gevarnest menatap tajam, "Dulu kau tidak seperti ini, jalan pikiranmu selalu seperti ayah, katakan kepadaku siapa yang menghasutmu?"
Arvand menatap aneh kepada raja gevarnest, "Ayah bukan anak kecil lagi kan? aku juga kan? hanya bermain dengan anak-anak itu kau permasalahkan, lalu jika arvand melakukan kesalahan yang besar, ayah akan membunuhku?"
"Bukankah kau yang ingin membunuhku?"
" Benar!!!!! karena kau tidak mengerti tentang perasaanku saat membunuh bravogar!!!!!!! kau tidak menenagkan diriku yang setiap harinya ketakutan karena membunuh bravogar!!!!"
"Dia hanya manusia kerdil yang buruk rupa!!!!!!"
"Lalu kenapa jika dia manusia kerdil buruk rupa, kau anggap dia hewan!!????!!!!!!"
"Lalu kau terima penghianatan bravogar kepadaku!!!!!!" teriak raja, ia geram, ia berdiri seraya melotot menatap arvand.
"Aku tidak ingin memperpanjang urusan ini!!!!!" ucap raja gevarnest beranjak pergi.
Lagi-lagi arvand merasa bersalah, ia menangis dan mengamuk dimana barang-barang didekatnya ia banting, ia berteriak.
"Sialan!!!!"
Leon tidak sengaja menguping percakapan itu dimana leon sedang berdiri dibalkon kamarnya, ia mendengarkannya karena suara itu sangat keras, dimana kamar pangeran arvand jendela balkonya terbuka lebar.
"Aku tahu kau memang tidak ingin membunuh bravogar aku tahu....." gumam leon.
Leon memikirkan jika ia bernasib seperti orang tuanya dan bravogar, ia berharap semaunya sudah kembali seperti semula dimana ia ingin melihat raja gevarnest kalah, ia tidak ingin raja gevarnest kalah ditangannya, tapi leon ingin raja gevarnest kalah ditangan seseorang.
Leon pernah mdmbahas ini, sering sekali, ia selalu mengatakan tentang banyaknya orang-orang yang tersesat dinegeri ini, banyak orang-orang asing yang datang, sebagian mereka dari dimensi lain, tapi raja enggan untuk mencari tahu permasalahan ini, ia mengatakan jika semuanya memang takdir, dan ini adalah bukan tugasnya.
__ADS_1
Saat ini yang menjadi tugas leon adalah mencari tahu, tapi ia memang tidak ingin siapa pun tahu tentang tugasnya, jika bocor dan sampai ditangan raja mungkin leon akan bernasib sama seperti orang tuanya dan bravogar.
Rasanya ia ingin memberitahu aleris jika sebab kematian kedua orang tuanya adalah terbunuh, raja gevarnest membunuh kedua orang tuanya, entahlah sampai saat ini ia tidak tahu kejahatan seperti apa yang raja lakukan, seaakan semuanya telah dikubur dalam-dalam.
Aleris menyeruput gelas berisi air ramuan buatan lidra, dimana ramuan itu membuatnya terlihat kuat, memang sudah akhir-akhir ini aleris sering merasakan sakit kepala dan lemas.
Ia menyeruput seraya duduk di taman bunga dibelakang rumahnya memang dikebun bunganya terdapat tempat duduk, ia menatap bunga-bungan itu, seraya membayangkan jika ia sudah tidak lagi menanam bunga disini apakah istana miliknya akan terlihat begitu jelek.
Tiba-tiba malucia datang, ia duduk didekat aleris, aleris kaget tersentak karena malucia yang tiba-tiba datang, ia tersedak.
"Ah maaf" ucap malucia, ia lalu menyeka meja yang basah karena air yang keluar dari mulut aleris.
Aleris menyentuh tangan malucia, ia lalu menggeleng.
"Tidak...karena aku kau tersedak.."
Aleris meremas genggamanya, lalu menatap malucia, ia menggeleng, malucia lalu duduk seraya raut wajahnya kawatir.
"Kau baik-baik saja?"
"Menurutmu?" sahut aleris.
"Maksudmu?" tanya malucia.
Aleris menatap kedepan, raut mukanya datar.
"Tidak hanya saja kau bisa menyimpulkan apakah aku baik-baik saja setelah tersedak"
"Aku hanya ingin mengatakan maaf" sahut malucia.
Aleris menatap malucia.
"Soal kejadian malam itu, entahlah kenapa aku melakukan itu..." gumam malucia.
Tiba-tiba suasana menjadi canggunh, padahal aleris sudah melupakan kejadian itu tapi kenapa malucia datang dan membahasnya.
"Soal kejadian malam itu, aku yang salah aku yang mengajakmu....." ucap canggung aleris.
"Dan aku hanya ingi meminta maaf saja"
"Kau menyukaiku?" ucap spontan aleris, membuat malucia tersentak kaget, ia tidak bisa menjawabnya.
Aleris tertawa, "Sudah aku duga kau tidak bisa menjawabnya, dan saat itu kalau tidak salah aku bilang jika aku menyukaimu bukan? sebenarnya aku tidak menyukaimu" ucap aleris.
Malucia terbelalak, "Aku hanya ingin mengatakan kepadamu bagaimana jika siatu saat aku mengucapkan kalimat itu kepada seseorang yang aku cintai"
"Aku hanya sedang membayangkan saja"
"Ya jika kita saling mencinta rasanya aku tidak berhak karena aku adalah anak buahmu..."
"Kenapa jika kau anak buahku?"
"Rasanya tidak pantas"
Aleris tertawa, "Jangan dibawa serius karena malam itu aku tidak benar-benar mengatakan cinta kepadamu"
Rasanya memang berat untuk mengatakan jika aleris tidak menyukai malucia, ia memang harus berbohong, jika ia benar-benar tidak menyukai malucia.
"Kenapa kau kesini?" sahut aleris.
"Aku hanya ingin duduk bersamamu, setelah kejadian malam itu sepertinya kau menghindar dariku"
"Karena aku melalukan kesalahan kepadamu" gumam aleris.
"Jadi aku pikir menjauhimu adalah hal yang benar" lanjutnya.
"Tidak....tidak benar kau selalu datang padamu tapi setelah kejadian malam itu aku dan kau semakin menjaga jarak"
Aleris menatap malucia, ia bisa melihat wajah cantik yang bersinar, wajahnya sangat hidup, matanya sangat cantik karena dihiasi oleh sinar matahari, rambutnya acak-acakkan tidak ia rapikan.
Aleris masih menatap malucia ia tidak ingin menatap yang lain, saat ini ini ia hanya ingin menatap wajahnya, aleris merasa sangat tenang saat menatap malucia.
Rasanya pondasi yang ia bangun akhirnya runtuh, ia tidak bisa menjaga jarak dengan malucia, ia harus mengatakan jika ia memang benar-benar menyukainya, tapi....
"Tidak....." ucap aleris tiba-tiba.
Malucia terlihat bingung, "Kenapa?"
"Tidak aku hanya tiba-tiba mengingat sesuatu"
Hati aleris sakit, siapa sebenarnya yang membuat malucia tidak menyukainya, padahal dari sejak dulu ia merasakan jika malucia menyukai dirinya, apakah seorang yang bernama agil itu? temab randi dan gilang yang berpisah dengan mereka?
Aleris memang sudah menduganya, karena sejak awal malucia datang membawa dua pria itu sikapnya berubah, berusaha melakukan apapun demi mereka, aleris bisa lihat itu, namun pikiran aleris selalu aleris tepis, karena dalam hati aleris ia yakin malucia hanya menyukainya.
Saat ini aleris memang tidak begitu menggubris tentang masalah percintaan, ia memang menyukai malucia namun sepertinya ia harus menjaga jarak.
Gilang membuka matanya, ia melepaskan selimutnya entahlah siapa yang menaruh selimut ini ditubuhnya, walaupun malam tapi sangat panas hingga ia melepaskan bajunya, perasaan gilang ia tertidur tidak membawa selimut tapi kenapa tiba-tiba selimut itu sudah ada diatas tubuhnya.
Gilang bangun, ia menelusuri sekitar tapi tidak ada randi, ia membuka pintu mencari keberadaan randi namun ia tidak melihat randi, gilang berkeliling mencari randi namun lagi-lagi ia tidak melihatnya.
__ADS_1
Perasaan gilang sudah sangatt kawatir dan pikirannya sudah kemana-mana ia berlari kembali kedalam kamarnya, ia membuka lemari, tapi ia tidak menemukan pakaian randi dan tas pemberian malucia hilang, ia membuka lagi meja, dan benar buku itu hilang.
Gilang sudah sangat kawatir, apa yang dilakukan randi? apakah ia pergi mencari agil sendiri? dimalam-malam seperti ini? gilang beranjak dan berlari ia mengetuk pintu kamar malucia, ia terus mengetuk seraya merasa sangat kawatir.
Malucia membuka pintu, "Ada apa lang?"
Dengan nafas yang terengah-engah gilang berkata, "Randi pergi......randi pergi" ucap gilang seraya ia meneteskan air mata.
***
"Jika aku pergi kau akan ikut?" tanya randi tiba-tiba.
"Ya ikutlah, memangnya kau ingin pergi kemana ha?"
"Ya aku hanya tanya lang, dikeadaan yang seperti ini mana mungkin aku pergi denganmu kan?"
"Kita pergi sama-sama cari agil" lanjut randi.
"Tapi kalau saat ini jangan ya ran, kau ingin dilahap monster"
Randi pada saat itu memang terlihat tersenyum, seakan ia menghiraukan monster-monster itu, tujuannya memang mencari agil jadi ia tidak terlalu mengurusi para monster, tapi pada saat itu gilang menghiraukan karena gilang pikir randi tidak akan melakukanya.
Malucia lari menuju kamar aleris, ia mengatakan jika randi telah pergi malam ini.
"Randi?" ucal aleris.
"Kenapa?" lanjut aleris.
"Sepertinya ia memang ingin menyelamatkan teman saya" ucap gilang.
Lidra datang, karena ia mendengar suara berisik diluar.
"Cia ada apa?"
"Randi pergi......"
Tiba-tiba gilang menjatuhkan dirinya sujud dikaki aleris, ia menangis.
"Tolong selamatkan teman saya tuan" ucapnya.
Tanpa basa-basi lidra memejamkan matanya dan tanganya menyentuh tanah, ia akan melacak jejak randi, ia melihat randi berjalan menuju kesebuah hutan, dan randi sempat berhenti disungai itu, untuk membasuh muka, saat ini randi sedang berjalan dan masih tidak terlalu jauh dari istana ini.
"Kalian tunggu disini, dan kau lidra bantu aku"
Aleris memejamkan matanya, ia akan melakukan teleportasi, ia menyentuh pundak lidra dimana ia akan menyalurkan cakra agar lidra bisa teleportasi bersama aleris, benar mereka sudah ada dihutan namun ia tidak melihat randi, lidra mecoba memejamkan matanya lagi dan tanganya menyentuh tanah ia melacak jejak.
"Randi berjalan kearah selatan tuan...."
"Baiklah ayo"
Tiba-tiba mereka datang didepan randi, randi tersentak jatuh, ia kaget karena tiba-tiba mereka muncul didepan wajahnya, raut wajah randi berubah ketika melihat siapa yang datang.
"Kenapa kau kabur?" ucap aleris.
"Kau masih tanya?"
"Kenapa kau melakukan ini?"
Randi berdiri, "Karena kau sangat lamban bodoh, kau orang yang berkuasa namun kau bodoh menyelesaikan tugas seperti ini, apakah kau tidak bisa melihat? aku dan gilang sedang mencari temanku, tapi aku tidak bisa untuk diam saja diistanamu!!!!" teriak randi.
"Kenapa kau sangat lamban?"
"Aku sudah mencari keberadaan temanmu bersama malucia, aku kembali ketemlat dimana temanmu jatuh saat itu tapi kita tidak melihat apa pun disana" sahut lidra.
"Karena kau bodoh!!!!"
"Kau tidak bisa melihat situasi saat ini?" gumam aleris.
"Tidak karena aku tidak percaya dengan para monster-monster itu!!!!"
Aleris lalu membuka tanganya, ia memejamkan matanya, lalu tiba-tiba elang putih besar muncul tiba-tiba, randi menutup wajahnya dengan kedua tanganya, ia kaget.
"Lawan monster ini terlebih dahulu, lalu aku akan melepaskan mu, untuk mencari sendiri temanmu itu"
"Apakah ini penting bodoh"
"Penting! karena ada banyak monster disana, kau akan melawanya, dan coba kau lawan ini, kau tidak bisa melihat jasad monster aneh yang muncul waktu itu?
"Sosok mengeriakan seperti itu apakah kau bisa melawannya?" lanjut aleris.
"Makanya cari agil!!!!!!!!!!!" teriak randi dengan geram.
Tiba-tiba aleris menonjok wajah randi hingga randi tersengkur, lidra kaget ia menghentikan apa yang aleris lakukan, namun aleris menghiraukan lidra, ia melototi randi.
"Kau tidak bisa melihat situasi sekarang? aku sama seperti kalian tidak ada apa-apanya dengan para monster, aku menunggu waktu yang tepat untuk mencari teman mu yang bernama agil!!!!!!"
"Kapan!!!!!!!!! basi!!!!!" teriak randi seraya memeggang wajahnya.
"Jika tidak cepat ia akan mati!!!!" lanjut randi.
__ADS_1
Aleris menghilangkan elang itu, lalu ia menarik baju randi, wajah mereka sangat dengan, aleris berbisik.
"Aku yakin dia tidak mati, ia akan datang kepadamu!!!!!"