
Dari balik bukit malvory sudah terlihat hamparan luas tanah kering berbatu, seperti jalan tanpa ujung, kering dan gersang, mereka harus melewati tempat itu, tempat yang tidak tahu arah dan tujuan, hanya hamparan bebatuan yang tidak ada gunanya.
Agil berpikir apakah ini benar, jalan yang ditempuh mereka, mereka kawatir jika mereka akan tersesat lagi, namun lagi-lagi argus menyankinkan mereka.
Mereka berjalan dan terus menatap hamparan luas bebatuan, tidak ada sama sekali jiwa yang hidup atau makhluk yang hidup disana, mungkin lebih detailnya lagi, seperti bebatuan planet mars, kering dan gersang tidak ada tanda-tanda kehidupan, cuaca yang panas dan jalanan yang kering gersang membuat agil, tea, dan jay beberapa kali berhenti.
"Tidak ada jalan lain paman?" tanya agil.
Argus hanya menghelan nafas panjangnya seraya menatap ujung tanpa ujung tempat itu.
"Ini sudah hampir malam tiba paman, dan kita masih saja disini" sahut tea.
"Tapi aku tahu tempat ini" argus berjalan.
"Ini adalah tempat monster kuno disegel disini, karena tidak bisa mati"
Agil, tea, dan jay melotot kaget dan serontak berdiri.
"Apa-apaan?"
"Dimana paman?" Tanya jay.
"Disekitar sini, tapi aku tidak tahu persis dimana itu"
"Wah sialan monster apa lagi itu"
Tanpa memikirkan dimana letak tempat monster itu disegel, mereka berempat berencana melanjutkan perjalanan mereka walaupun hari sudah malam, betapa terkejutnya mereka ketika mereka melihat kearah langit, bintang, bulan, planet-planet yang tidak pernah mereka lihat akan terlihat sangat jelas ditempat itu walaupun planet itu memperlihatkan setengah dari tubuhnya, benar-benar indah, agil bisa menghitung beberapa planet dan agil sudah tahu diantara planet itu ia bisa menemukan planet saturnus planet kesukaanya.
"Apakah hanya disini kita bisa melihat planet dengan jelas"
"Mungkin ditempat kalian ini terlihat tidak nyata" ucap argus.
Memang benar seperti tidak nyata, pemandangan yang menanjukkan pertama kali ia lihat, sebuah hamparan bebatuan yang luas tanpa ujung, dan sebuah galaksi bersinar diatas sana, tidak lupa galaksi yang menyinari planet-planet itu.
Memang benar agil merasakan bahwa ini adalah negeri dongeng, ia sedang tersesat, bahkan cahaya bulan kalah terang oleh galaksi dan planet-planet itu.
Sudah hampir lima jam mereka berjalan tanpa melihat adanya tanda-tanda kehidupan, mereka hampir menyerah, namun lagi dan lagi mereka terus diyakinkan oleh argus, hingga mereka melihat sebuah istana yang hanya berdiri ditempat itu sendiri tidak ada sama sekali bangunan lain yang menemani.
Bangunan itu seperti bangunan mesir kuno, yang berdiri ditengah-tengah padang pasir, argus tidak tahu benar tentang cerita istana itu, memang istana itu terlihat sangat kuno namun bagunan itu masih berdiri kokoh.
Mereka mendekat dan memasuki istana itu dengan berhati-hati, bagunan itu hanya memiliki dua bagian ruangan, dan bangunan itu memiliki postur bangunan yang sangat tinggi bahkan bebisik saja terdengar bergema.
Tiba-tiba dipojok ruangan ada sebuah obor yang dinyalakan, dan dibelakangnya ada sesosok manusia, ia mengeluarkan suaranya, "Tolong....tolong anak sayaa"
Suaranya terdengar sangat lirih dan serak, seperti sudah lama ia tidak menelan makanan dan minuman, dengan cepat argus mendekati orang itu.
Seorang kakek-kakek yang kusut dan kotor yang duduk di pojok ruangan itu, ia sempat membawa bekal namun sudah habis, argus bisa mencium bau busuk di dekatnya karena bau air kencing dan lain-lain menyatu, jay mengeluarkan botol minumnya dan membersihkan tubuh kakek-kakek itu.
Mereka berempat lalu membawa kakek itu ketempat yang lebih bersih dan memberikannya makanan, kakek itu menceritakan kisahnya, ternyata ia bukanlah warga istana ini asli, ia kemarin istana ini sudah terlihat kosong.
Pada suatu ketika mereka sedang melakukan perjalanan bisnis, kakek dan satu anak perempuanya, kehidupan ekonominya termasuk sangat buruk dimasa itu, mau tak mau mereka harus mencari nafkah, hingga mereka melewati tempat tanpa ujung ini, dan monster yang berpuluh-puluh tahun dikubur bangkit dan menerkam anaknya dan membawanya masuk kedalam tanah ini, sampai saat ini.
Dua bulan lamanya kakek ini menunggu anaknya kembali, namun sampai saat ini monster itu tidak menampakan diri.
"Anakmu sudah mati kek" ucap agil.
"Tidak!!! Tidak!!!! Sampai aku belum melihat darahnya berarti anakku beum mati"
Argus menenagkan kakek itu, hari semakin malam mereka memutuskan untuk beristirahat ditempat itu, bagaimana mereka tega melanjutkan perjalanan mereka dan meninggalkan seorang pria tua disini.
"Apa rencanamu paman?" Tanya agil, ia masih membuka matanya.
Argus berdiri dan duduk didepan wajah agil.
"Kau akan membasminya?" Agil membuang muka.
"Kita bisa mati!" Lanjut agil.
"Kenapa kita tidak coba?" Jawab argus.
"Coba? Tidak ada hal seperti ini untuk dicoba, hal yang menyangkut nyawa dicoba? Semuanya kau basmi monster gila itu kau basmi dan setelah monster itu mati kau tertawa seperti kau hebat"
"Aku tahu aku tahu, kita tidak bisa membasmi semua monster....."
"Kita yakinkan saja pria tua itu untuk ikut kita ke kota Lander" tepis agil.
"Kau bisa meyakinkannya? Baiklah aku akan melihatnya besok" argus lalu berdiri dan menatap tubuhnya bersiap untuk tidur.
"Paman!!!! Paman!!!!" Agil masih meneriakinya namun argus sengaja tidak mendengarkannya.
"Kenapa aku ada disini!!!!" Teriak agil.
Pagi tiba, agil bangun dari tidurnya, matahari belum menampakan dirinya, ia bergegas membersihkan tubuhnya, dan memasukan barang-barangnya ke tas, agil memutuskan untuk kembali ke kedesa serafina itu, ia rela mendaki, menuruni bukti sendiri, dan ia bisa berkelahi dengan moster-monster.
Ia tidak bisa untuk terus menunggu tanpa tahu tujuan sebenarnya, sebenarnya agil tahu tujuan perjalanan ini adalah untuk mendapatkan senjata di kota Lander, ia mendengarkan percakapan tea bahwa tempat yang mereka lewati sebenarnya adalah untuk pertama kalinya bagi argus, yang menjadi pertanyaan agil, selama ini agil tak pernah tahu jalan yang lebih baik dari ini, mengapa argus menyembunyikannya.
__ADS_1
Rasanya agil sudah muak, apakah mereka memanfaatkan agil? yang harus ia lakukan sekarang adalah menyelamatkan randi dan gilang, dan pergi dari dunia gila ini, ia tidak akan goyah dengan tujuannya, dan ia tidak akan peenah berpikir panjang tentang mereka, agil yakin mereka memanfaatkan agil.
Agil membangunkan jay, "jay....jay.. kau ingin ikut denganku?"
Jay membuka matanya masih dengan mata yang sipit karena bangun tidur jay bertanya, "Mau kemana gil?"
"Pergi" ucap singkat agil.
"Kalau kau ingin ikut kemasi barangmu" lalu agil beranjak.
Karena kawatir dengan agil, jay yang masih mengumpulkan nyawa lalu berlari menyusul agil yang sudah beranjak, lalu ia menahan agil memeggang tanganya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? bukannya sudah jelas ya jay?" ucap agil.
Jay hanya menggerutkan dahinya tanda tidak mengerti dengan perkataan agil.
"Kau tidak lihat? semua yang kita lakukan membahayakan nyawa kita jay, katanya kau sering datang ke kota Lander, tapi ini pertama kalinya kalian melewati jalan ini, berarti ada jalan lain kan? kenapa kalian membohongi aku?"
"Gil.... tidak, tujuan paman membawamu kesini karena untuk melatih mental dan berlatih fisik kamu gil...."
"Gak gini caranya jay"
"Kau ingin ikut aku atau kau ingin melanjutkan perjalanan dengan mereka" sahut agil tanpa basa-basi.
Jay masih menatap agil dengan tatapan kosong, "Gil perjalanan ini akan menjadi penting nantinya saat kau keluar dari dunia ini, dalam setiap perjalanan akan membentuk kisah yang harus kau pelajari"
Agil hanya terseyum kecut, dan membuang mukannya.
"Terima kasih motivasinya tapi tidak mempan untukku"
Agil melanjutkan, "aku akan pergi menyelamatkan randi dan gilang tanpa bantuan kalian" agil lalu meninggalkan jay sendiri.
Jay berlari masuk kedalam dan membangunkan tea dan argus, jay menjelaskan tentang perdebatan yang jay lakukan dengan agil tadi.
"Sudah aku duga" argus beranjak.
"Paman kau juga kenapa? kenapa menyembunyikan rahasia yang tidak penting-penting amat" gerutu tea.
Argus hanya diam, lalu ia berjalan menyusul agil.
"Aku ikut" jay berdiri.
"Tidak jay, kau temani saja kakek ini dengan tea"
Argus berlari, hingga ia sudah dibelakang agil, beberapa cm saja.
"Gil" argus bersuara.
Agil masih melanjutkan perjalananya, tanpa menoleh dibelakang.
"Gil!!!"
Agil hanya diam, sengaja menghiraukan suara yang ada dibelakangnya.
"Gil!!!!!" teriak argus memenuhi tempat yang luas ini.
Agil berhenti tanpa menoleh.
"Kenapa?"
"Kenapa kau bilang?"
Argus mendekat menepuk pundak agil dengan kedua tangan, agil melepaskannya dengan kasar, agil menoleh.
"Mau tanggung jawab kalau aku mati?"
"Apa maksudmu?"
"Nyawa taruhannya, dan aku muak"
Agil membuang muka, "Tidak bisakah kau jelaskan kenapa melewati jalan yang bisa merengang nyawa seseorang? dibanding melewati jalan yang indah tanpa rintangan apa-apa?"
"Jelas aku marah dan kecewa dengan paman, hal semacam ini tidak bisa disebut hal yang tidak penting" agil melanjutkan.
"Gil aku jelaskan semua"
"Paman sama sepertiku kan? pernah kehilangan keluargakan? bisa merasakannya kan?"
"Kau bahkan ingin melawan monster-monster tanpa berpikir panjang"
"Aku ingin melatih fisikmu gil"
"Melatih fisik?" hina agil dengan senyum miring.
__ADS_1
"Kau tidak pernah tahu cara melawan monster, melawan orang-orang yang mengerikan disaat ingin menyelamatkan teman-temanmu!!!!!" teriak argus sepertinya kesabaran argus sudah habis.
Dengan spontan agil menyodorkan pisau kedepan wajah argus.
"Katanya kau menghargai setiap nyawa, kau tidak menghargai nyawaku?" tanya argus.
"Aku menghargai nyawa yang tidak memanfaatkanku"
Argus menghelan nafas, "Apakah aku terlihat memanfaatkan mu?"
"Jika tidak mungkin kau akan memberitahu aku semuanya kan?"
Argus memejamkan matanya.
"Apa? kau menganggap remeh tentang masalah ini?" ucap agil.
Argus lalu memeggang tangan kanan agil yang masih memeggang pisau, ia putar tanganya hingga pisau itu terjatuh, agil berteriak kesakitan.
"Kau ingin menyelamatkan teman-temanmu dengan cara yang seperti ini?"
Agil berdiri, "Aku bisa!!! aku bisa, nyatanya aku bisa membunuh monster ular itu!!!!"
Agil menunduk dan tersenyum, "Kalahkan aku" ucap argus.
Wajah agil berubah, "Apa?"
"Lawan aku" ucap singkat argus.
Agil terdiam beberapa saat, tiba-tiba agil mengambil batu didekatnya dan melempar kearah argus, dengan cepat argus tangkis dan kembali ia lempar ke arah agil.
Agil menghindarinya, ia tertawa.
"Jelas yang kalah siapa kan?"
Argus mengambil pisau milik agil yang terjatuh, ia lalu menyerang agil, agil lebih fokus untuk menghindarinya, disaat menghindarinya, agil menendang perut argus dengan kakinya, membuat argus berhenti menyerah dan terdorong kebelakang.
Argus tersenyum, "Hanya begitu kah kekuatanmu"
Agil berlari kearah argus, dan menyerang argus menggunakan tinju tangannya, mereka berkelahi tanpa menggunakan senjata, argus meninju wajah agil hingga agil mengeluarkan darah dari mulutnya.
Agil menyerang balik meninju wajah argus namun argus bisa menepisnya, agil kemudian menarik belakang kaki argus dengan kakinya, itu memang tidak mudah, karena butuh otot kaki yang luar biasa, hingga argus kehilangan keseimbangannya dan duduk terjatuh, hal itu membuat agil mudah meniju wajah argus.
Agil meninju wajahnya dengan sikut, hingga argus memutahkan darah dari mulutnya.
Agil berhenti, argus tertawa, "Kau mulai hebat, padahal aku sudah mengalah saat kau menarik belakang lututku untuk sengaja kau jatuhkan, aku bisa saja melakukan hal yang sama, karena kaki kananku nganggur"
Argus berdiri, ada keheningan tiba-tiba, namun dengan spontan argus meninju wajah agil, hingga agil terjatuh.
Agil tertawa terbahak-bahak, "Benar aku akan kalah"
Walaupun tenaga agil yang sudah terkuras habis-habisan, ia masih saja melawan, ia kembali menyerang argus, namun lagi dan lagi agil terjatuh, hingga wajah agil yang penuh darah dan luka memar.
"Lihat tubuhku? kurus kering kan beda dengan tubuhmu yang kekar dan berisi otot-otot" suaranya habis ia kehilangan kesadaran karena emosi dan energinya yang terkuras.
"Hentikan semua ini gil, ikut dengan kami"
"Aku tahu aku tahu" agil berdiri dan kembali menyerang argus.
Kali ini, argus hanya diam terjatuh, dengan sisan energi agil masih meninju wajah argus dengan kedua tanganya hingga wajahnya sama-sama terlihat luka memar.
Agil masih memukulinya, menduduki tubuh agil yang besar, ia tidak berhenti-henti, hingga argus menahan tangan agil yang masih ingin terus meninjunya, argus mengangkat kepalanya dan membenturkan dahinya ke hidung agil, hingga agil terdorong dan terjatuh, ia memenggag hidungnya, darahnya mengalir deras dari hidungnya.
Argus berdiri, "Kalah?"
"Lihat wajahmu berantakan, banyak darah dan luka memar dimana-mana"
Entah memiliki energi dari mana, agil berdiri seraya mengambil pisaunya yang dari tadi tergeletak ditanah.
Agil melempar pisau itu, dan mengenai tangan argus yang berusaha menangkapnya namun malah terlewat, argus menyerang dengan meninju wajah agil lagi hingga ia tersungkur, agil yang sudah kelelahan dan masih ingin menghabisi argus, sedangkan argus masih terlihat bugar.
"Kau tidak sadar kau sudah kehabisan energi, jalanmu sudah sempoyongan"
Agil tidak menanggapi, "Tangan terluka karena pisaumu" argus melanjutkan.
Dengan berjalan sempoyongan, agil masih ingin menyerang argus, ia mangarahkan kakinya tepat diwajah argus, namun argus berhasil menghindarinya, argus kembali mengarah tangan agil, ia menarik tanganya dan kembali memutar tangan agil hingga agil berteriak kesakitan dan terjatuh.
Agil masih berteriak, merasakan nyeri ditangan kirinya, sepertinya tulangnya meleset karena argus yang meremasnya dan memutar tanganya dengan keras.
"Kau menang!!!!!!!!"
Argus mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya yang ia bawa, ia menyodorkan minum ke arah agil, namun agil hanya diam ia lalu mengangkat jari tanganya, dan menyodorka jari tengah kearah argus.
Argus membuang muka seraya tertawa, "Masih sempat kau menghina aku?"
Agil masih merasakan kesakitan ditangannya, rasa sakit diwajahnya yang penuh dengan luka memar disebanding dengan sakit ditanganya, sakit seperti ini seperti jatuh dari atas ke bawah dan yang mendarat terlebih dahulu adalah tangan.
__ADS_1
"Aku kalah paman, aku tahu aku kalah, karena kau memang sudah hebat mana bisa aku mengalahkanmu"