Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Rine


__ADS_3

Raja berhenti saat ia melihat atap kerajaan, dimana Matrix yang dipasang diatap kerajaan tiba-tiba mengeluarkan cahaya kemana-mana, tanda dari balik Matrix yang tiba-tiba muncul cahaya adalah tanda bahaya.


"Bukankah kita harus keruangan bawah tanah itu? panggil pria itu!" pekik Varegar.


"Kenapa kau buru-buru?"


Tiba-tiba seseorang prajurit datang kehadapan sang raja dan Varegar, ia menundukan kepalanya.


"Tuan, monster yang menyerang kerajaan tiba-tiba menghilang..."


Mereka berdua tersentak kaget, sang raja mendekat.


"Cari!!!"


"Maaf tuan, kami sudah mencari seisi kota dan luar tembok, tapi kami tidak melihat adanya jejak..."


Sang raja berteriak, ia lalu memerintahkan para prajurit untuk mencari kembali keberadaannya, lalu ia mendekat dan berbisik ketelinga prajurit tersebut.


"Suruh Mahagaskar mencari jejak monster itu dengan kekuataannya, jika ia menolak bunuh dia!"


Raut wajah prajurit itu sedikit ketakutan, namun dia tidak bisa mengatakan apapun, ia menundukan kepalanya pamit dan beranjak pergi.


"Hilang?" ucap Varegar.


"Kau tidak paham juga? kita harus segera membunuhnya!" ucap sang raja beranjak pergi.


Tak butuh basa-basi, sang raja dan Varegar masuk kedalam ruangan bawah tanah tersebut, mereka bisa menyaksikan banyaknya orang yang berkerja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi diatas mereka.


Mereka semuanya menundukan kepala, memberi salam kepada sang raja dan Varegar, Varegar melirik Randi yang masih sibuk bekerja memukul beberapa berlian diujung ruangan.


"Kau berhasil juga membuat Randi bergabung dengan kita, tapi jangan katakan kepadanya dia akan menggantikan anakku.."


"Kau sudah gila? mana mungkin aku memberitahunya?"


***


(Sebelum para monster datang)


Randi memutar beberapa mesin Matrix, ia terus memutar Matrix agar segera menghasilkan cahaya, dengan raut wajah yang tidak begitu menyenangkan.


"Kau tahu? sebagian yang berkerja disini adalah dari negara yang juga kau tempati" ucap Woro.


Randi menoleh, "Sungguh? kalian?" Randi tidak bisa berkata-kata lagi.


Ia masih tersentak kaget.


"Mereka semuanya berkerja keras, sesuai perjanjian sang raja, kita akan segera pulang kerumah tapi sampai detik ini kita masih disini..."


Randi meremas rambut kepalanya, ia sangat gila.


"Pada akhirnya aku mengatakan ini kepadamu...."


Rsndi kemudian menyentuh kedua pundak Woro.


"Janji, aku akan mengeluarkan kalian dari sini..."


Varegar datang dengan tiba-tiba, ia tersenyum kepada Randi, Randi sudah hafal kedatangan Varegar kemari hanya ingin berbicara empat mata kepadanya, Randi beranjak pergi.

__ADS_1


Dikamar Randi, Randi mengganti pakaianya, dan mengambil air minum lalu ia menyuruh Varegar duduk dikursi yang sudah disediakan di kamar Randi.


"Akhirnya kau sudah bisa beradaptasi..." ucap Varegar.


Randi tidak menggubris, ia hanya membuang muka.


"Langsung saja, karena aku tidak suka basa-basi..."


"Pilih mati disini dengan para manusia itu, atau pulang kerumah tanpa manusia-manusia lain, hanya dirimu..."


Tentu hal itu membuat Randi sangat bingung, apalagi dia adalah seorang yang labil dan mudah memepercayai omongan orang asing.


"Katakan kepadaku..." ucap Varegar.


Randi memejamkan matanya.


Apa yang harus aku pilih? jika aku memikih mati disini? bagaimana bisa? sia-sia aku berjuang, tapi jika aku pilih pulang sendiri? bagaimana dengan orang-orang dan kedua sahabatku? Agil dan Gilang?


Tentu Randi sangat tidak bisa menjawab kedua pilihan yanh diberi oleh Varegar, dengan ragu Randi mengatakan.


"Jika aku pilih satu? aku akan mati?"


Varegar mengangguk.


"Jika aku pilih kedua?"


"Kau bisa pulang kerumah dengan damai, kau hanya perlu mempertaruhkan nyawa teman-temanmu disini..."


"Tapi yang kau katakan awal-awal, kau tidak seperti itu?" ucap Randi polos.


"Aku tidak suka basa-basi, kau bisa langsunng pilih"


"Maka.... kau akan ku siksa sampai mati sampai kau merasakan sakit yang luar biasa sebelum mati!"


"Bukankah kau memiliki keluarga dirumah? bagaimana bisa kau akan tetap tinggal disini bukan?" lanjut Varegar.


Seperti biasanya, pertanyaan ini membuat Randi sangat bingung, apalagi sifatnya yang egois dan labil.


"Kau tidak akan kehilangan teman-temanmu, mereka akan tenang disurga, berkat dirimu..."


"Kau ingin kuat bukan?"


Selama ini yang Randi pikiran setiap malam adalah tentang kerinduannya terhadap rumah, tentang keluarganya yang sudah lama Randi tidak melihat mereka, bahkan ia bisa melakukan apapun demi keluarga.


Dengan sedikit ragu, Randi berdiri.


"Aku pilih kedua!" ucap Randi.


Varegar tersenyum, "Sungguh?" ia berdiri dan mendekat.


Randi tidak berani menatap wajah Varegar, ia hanya menunduk, Varegar menyengir.


"Ah ternyata kau masih ragu?"


"Jika aku ingin pulang, lalu apa yang harus aku lakukan!"


"Ikuti saja perintah ku dan raja, jika tidak mungkin keluargamu bisa mati dihadapanmu, karena aku tahu keluargamu, rumahmu! semuanya tentang dirimu.."bisik Varegar.

__ADS_1


Randi terbelalak ia sangat ketakutan.


"Bagaimana?"


Agil, gilang, Maafkan aku, aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain, kalian akan tetap bahagia disurga, entah aku tidak tahu rencana apa yang mereka sebenarnya sedang lakukan? selama aku disini aku tidak menemukan petunjuk apa-apa, maafkan aku!


"Baiklah!" ucap Randi menundukan kepalanya.


Varegar menyengir.


***


Sang raja tertawa, saat Varegar menceritakan perbincangan tidak penting dirinya dan Randi kala itu. Raja lalu beranjak turun menuju keruangan pembuatan Matrix itu, para pekerja menundukan kepalanya saat sang raja dan Varegar berjalan keruangan itu.


Mareka berhenti tepat didepan Matrix tersebut.


"Sudah bertahun-tahun lamanya, aku membuat ini, pada akhirnya aku akan bisa menggunakannya sesuka hatiku...."ucap sang raja.


Semua menundukan kepalanya, kecuali Randi yang masih sibuk bekerja tanpa tahu dang raja dan Varegar datang. Lalu Varegar mendekat dan memukul kepala Randi dengan keras.


"Aiss!! sakit..." Randi menoleh, ia tersentak saat melihat siapa yang ada didepannya, lalu segera ia menundukan kepalanya.


"Semuanya, menyingkirlah...." ucap sang raja.


Sang raja lalu mendekat dan mengambil serbuk kristal yang sudah dihaluskan, sambik tersenyum ia berkata.


"Sudah ada beberapa senjata ya? yang ia buat dinegerinya?"


"Yang terpenting Matrix kita yang lebih kuat..." sahut Varegar.


Sang raja, lalu mengambil serbuk kristal itu dan melempar kearah tubuh Matrix itu dengan kasar, lalu ia mengangkat kedua tanganya, seraya menutup kedua matanya dan membaca mantra.


Cahaya ungu, yang keluar dari kedua telapak tangan sang raja, vahaya itu lurus kearah atas menuju badan Matrix, membuat Randi terkejut dan tak henti-hentinya kaget, hanya dirinya yang kaget dan terkejut tak henti, semua orang yang melihatnya sudah tidak merasakan kaget sama sekali, membuat Randi terheran-heran.


"Apa yang ia lakukan?" tanya Randi kepada Woro.


Woro tidak menjawab.


Tiba-tiba portal dengan cahaya ungu muncul didepan sang raja, dimana dengan menghubungan serbuk kristal, Matrix dan bantuan sihir dari sang raja, Ia bisa mengeluarkan kekuatannya dan membuka portal menuju tempat atau dimensi lain.


Seseorang keluar dari portal tersebut, ia datang dari balik portal tersebut dan berjalan keluar dari portal tersebut.


Randi melotot saat melihat fenomena aneh yang baru pertama kal ia lihat didepan matanya, bahkan seseorang uang datang dari balik portal tersebut gelagaknya seperti tidak asing.


Setelah seseorang itu kelaur dari portal, dan sang raja mengakhiri portal dan membuat portal itu hilang, yang berhasil keluar dari portal dimensi adalah seorang pria yang seusianya tidak begitu jauh dari Varegar, mungkin dua tujuh tahun.


"Hah siapa dia? dia siapa? sialan siapa dia? dari mana? dari negara asalku?" tanya Randi.


Yang membuat Randi yakin pria itu dari negara asalnya, pakaian yang ia pakai, hoddie hitam dan celana jeans yang ia kenakan. Randi tidak perduli apa yang terjadi ia berlari mendekat dan mencekram kedua hoddie pria itu.


"Siapa kau? dari mana asalmu! kenapa kau datang dari balik portal itu? siapa sebenarnya dirimu!"


Varegar serasa sangat terganggu, ia menarik baju Randi kearahnya.


"Kau ingin mati?"


Randi masih mengatur nafasnya, karena emosi yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


"Kau Randi? senang berkenalan denganmu, aku Rine dari....emmm sama dari negara asalmu." ucap pria bernama Rine itu.


Randi melotot menatap pria bernama Rine itu, ia kaget seraya ia tidak bisa berkata-kata lagi.


__ADS_2