
Tubuh Aleris menabrak bangunan kerajaan hingga runtuh, raja Gevarnest mendorong tubuh Aleris yang melayang sampai keluar kerajaan dengan pengendalian elemen airnya. Lemas dan tak berdaya Aleris melayang diudara ia tidak bisa menyerang, elemen air itu terus mengalir dileher Aleris, raut wajahnya yang memerah dan sangat muram.
Sang raja menambah kekuataanya, ia semakin erat mengikat leher Aleris dengan kekuatan airnya. Ia tersenyum saat melihat Aleris sudah lemas tak berdaya.
"Pada akhirnya kau akan mati ditanganku...."
Aleris berusaha berteriak sekuat tenaga, ia berusaha melepaskan ikatan yang dikendalikan sang raja, air ini sangat keras menghantam lehernya.
"Aleris! kau tidak bisa pergi dariku!!!!!!" pekik sang raja.
***
Iblis Auvamor masih berbincang serius dan berdebat dengan Mahagaskar dan Leon, bahkan mereka akan memulai kembali pertarungan itu, tapi mata Auvamor terbelalak saat melihat sesuatu keluar dari menara kerajaan begitu saja, dengan kekuatan air yang mengikat di sesuatu yang keluar itu. Matanya berubah menjadi biru saat ia meliaht mangsanya berada dititik otaknya.
Tanpa basa-basi, ia pergi secepat kilat begitu saja, meninggalkan aura angin, kecepatan larinya bahkan seperti kilat, dan cepat sekedipan mata. Mahagaskar dan Leon yang tiba-tiba melihat Auvamor berlari secepat kilat. Lalu mereka tersadar dan tersentak saat melihat Aleris yang melayang diudara karena serangan sang raja tersebut.
Vin yang juga terkejut saat melihat apa yang membuat Mahagaskar dan Leon tersentak kaget.
Sesuatu seperti bola api yang datang mendekat menuju kearah kerajaan dan menghantam masuk, tiba-tiba bola api itu menabrak raja Gevarnest yang masih terdiam menyerang Aleris, hingga ikatan elemen air itu lepas, membuat Aleris terjatuh kebawah, tubuhnya jatuh ke reruntuhan rumah, para kawanan kelelawar mendekat dan mencoba menyerang Aleris.
Dan untungnya, dadi jendela kerajaan, Agil dan busur panahnya menyelamatkan Aleris, walaupun tambakan Agil masih gelagapan karena terlalu banyak monster, namun kali ini Agil harus fokus, karena Aleris tak sadarkan diri.
Agil terbelalak saat melihat Vin datang, seraya merubah wujudnya menjadi mosnter kelelawar, ia terbang dan menyemburkan api diseluruh kawanan kelelawar tersebut.
Raja Gevarnest menghantam bangunan kerajaan hingga hancur, karena bola api yang menabrakan diri ditubuhnya, ia mencoba beranjak dan segera melihat siapa yang berani menyerangnya.
"Apakah portal kerajaan sudah habis?" gumamnya, seraya mencoba berdiri.
Dari balik asap reruntuhan bangunan yang baru saja berjatuhan, seseorang dengan jubah yang menyembunyikan tubuhnya, ia berjalan dari balik asap tersebut.
Raja Gevarnest menyengir, "Auvamor?" gumamnya.
Ia berhenti saat ia sudah berdekatan dengan raja Gevarnest, lalu ia membuka jubahnya, memperlihatkan wajahnya. Wajah yang dikenal raja Gevarnest.
__ADS_1
"Kau ingin apa? datang menyerang? kalian lemah, aku mempersilahkan kalian datang ke kerajaan namun yang bisa kalian lakukan hanyalah diam seraya menyerang kota.."
"Para anak buahku menjadi patung karena Jasper sialan itu..."
Raja Gevarnest, tersentak saat ia kaget jika Jasper ikut andil didalam lapangan.
"Kau harus membayar! semuanya sialan!"
Auvamor mengeluarkan beberapa bola api dari balik tubuhnya, siap menyerang sang raja. Tak butuh waktu lama, Auvamor langsung menembak, bola api itu melayang mengarah ke sang raja. Dengan lincah sang raja berlari hingga menaik kebangunan kerajaan mencoba menghindar, bola api itu terus mengejar sang raja, hingga raja Gevarnest mengeluarkan elemen airnya, air dengan tekstur tajam menyerang Auvamor, Auvamor tentu berhasil menghindar ia melayang keatas.
"Teknik menghindarmu cukup bagus.." sahut Auvamor.
Tidak mendengarkan ucapan Auvamor, ia mencoba mengeluarkan elemen airnya lagi, namun Auvamor berhasil menghindar lagi. Hingga ia membangkitkan reruntuhan bangunan dari kerajaan, dan mengarahkan ketubuh sang raja, hingga reruntuhan itu menabrak dengan kerass menimbukan asap yang tebal, Auvamor menyengir, ia berharap tubuh Gevarnest tertimbun reruntuhan dan mati.
Saat Auvamor dengan santai tersenyum-senyum, karena sidah tidak ada lagi pergerakan, tiba-tiba reruntuhan bangunan itu menghantam tubuhnya tiba-tiba membuat Auvamor terpental dan tertimbun bangunan.
Dengan auman dan teriakan yang mengglegar, munculah drakula dari balik reruntuhan itu, Auvamor berusaha berdiri dan melihat dengan jelas siapa yang datang.
"Ah itu dia?" desah Auvamor.
"Lihat? siapa yang datang!!!!!" pekik sang raja.
***
Agil berlari untuk menyusul Randi, namun saat ia berjalan turun tangga, betapa kagetnya saat ada pertarungan sengit dihadapannya, tanpa berpikir panjang, ia kembali menyusul Fay dan Gilang yang menunggunya dikamar.
Agil berdiri, diambang pintu dengan panik, ia melihat Gilang yang menangis tak henti-henti karena melihat Randi baru saja, hingga pada akhirnya Randi pergi.
"Ada pertarungan mengerikan diruangan itu, dan Randi..."
"Suuutttt." sahut Gilang.
Sepertinya memang Gilang tidak ingin mendengar lagi tentang Randi. Fay berlari mendekat kearah jendela.
__ADS_1
"Aleris? sekarang dimana? apakah perempuan itu membawa ketempat aman?" sahut Fay.
"Sepertinya tempat ini tidak aman untuk kita, ayo pergi dari sini...."
Saat Agil berjalan, Gilang memeggang tangan Agil.
"Kau yakin? bisa menghentikan ini?"
Wajah Gilang yang sudah muram, dan depresi. Agil terduduk dan menyentuh kedua pundak Gilang.
"Lang, janji kepadaku kau akan terus bersamaku, kita harus pulang..."
Gilang menyahut, seraya melepaskan sentuhan Agil dikedua pundaknya.
"Aku tanya kepadamu!!!! apakah kau bisa menghentikan ini?!"
Fay masih memeriksa dengan waspada disekelilingnya, tentu masih ada banyak kawanan kelelawar diatas langit, ia bahkan melihat para raksasa itu yang masih berjalan menuju kerajaan dengan lemparan batu ke arah kota, ia kembali melihat bawah, berharap Aleris diselamatkan oleh wanita bernama Vin itu.
"Aku yakin aku bisa, pada nyatanya aku bisa menemukanmu kan? selama beberapa lamanya aku mencarimu, aku tidak mati aku maish hidup disini!!!" sahut Agil.
Gilang menangis, ia mengeluarkan air matanya sangat banyak berjatuhan dipipi.
"Aku berharap ini mimpi Gil, aku berharap aku sedang mimpi buruk, dan aku ingin bangun secepat mungkin, aku ingin kau dan Randi, ada didepanku, tapi bukan dengan situasi mengerikan seperti inii. Tadi saat aku datang Randi masih tak sadarkan diri, hingga ia terbangun dengan tersentak dan pergi begitu saja..."
"Rasanya aku sangat sakit, aku tidak ingin ini terjadi Gil, bagaimana bisa? bagaimana bisa kita ikut campur masalah besar dan mengerikan seperti ini?" sambung Gilang.
Agil tidak bisa menahan air matanya, ia ikut banjir air mata.
"Aku tidak bisa berpikir jernih Lang, sampai detik ini pun kau masih tidsk menyangka aku bisa bertemu denganmu, setelah rintangan mengerika yang datang menghantuiku, aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi Lang, aku tidak ingin. Aku hanya ingin kau dan Randi, pulang dengan selamat bersamaku, itu saja..."
"Bagaimana caranya!!!!!" pekik Gilang.
Membuat Fay tersentak kaget, "Kalian? sudah membaik? sepertinya tidak ada waktu banyak untuk ini, ayo cari sesuatu agar bisa turun dari jendela ini..." sahut Fay.
__ADS_1
Agil menyeka air matanya, ia berdiri dan mencoba mencari sesuatu seperti tali atau apapun agar bisa membuat mereka turun dari ruangan ini.