
Aleris berteriak dengan tenaga yang seadanya, karena seluruh badanya sudah semakin melemah, nata aleris masih nenatap nata kelelawar itu, berharap apa yang dilihatnya tidak salah, tapi setelah monster itu mendekat, aleris yakin ada sosok para zero itu yang masuk kedalam tubuh monster itu.
Monster itu mengaum dan menghentikan langkahnya, ia kaget karena teriakan aleris yang menggelegar tiba-tiba, aleris tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan, lalu ia memejamkan matanya, ia berharap ditenaga yang kian terkuras dan melemah kekuatan teleportasinya bisa diajak kerja sama.
Karena kekuatan teleportasi aleris tidak bisa berkerja dengan baik jika aleris melemah, namun sebisa mungkin aleris memejamkan matanya, akhirnya ia bisa melakukanya, ia sudah berada di belakang tubuh monster itu, monster itu mencari keberadaan aleris, ia menoleh namun dengan cepat aleris mengeluarkan kekuatan tanahnnya, dimana tanah itu bisa menembus tubuhnya, hingga monster itu mengeluarkan banyak darah dari perutnya.
Aleris yakin monster itu sudah mati, karena tidak ada tanda-tanda bergerak atau mencoba melawan, memang seharusnya mati karena tanah aleris menembus perut monster itu.
Aleris menatap monster itu yang akhirnya tergeletak tak bernyawa, namun ketika ia sedang melihat-lihat, tiba-tiba sesuatu muncul dari tubuh monster itu, yaitu ketiga zero itu.
Aleris tersentak kaget hingga ia tersungkur, para zero itu lalu mengeluarkan diri dan langsung sujud dihadapan aleris.
"Kenapa ini ada apa?" ucap bingung aleris.
Ketiga zero itu masih terdiam, tidak ada suara, aleris hanya mendengarkan suara rintihan.
"Kau bukan anak kecil lagi jadi hentikan tangisan kalian" ucap aleris berdiri.
Ketiga zero itu lalu menjelaskan jika mereka memang terlambat menolong para penduduk didesa ini, namun ini bukan monster biasa dimana monster itu bisa masuk kedalam raga manusia dan mengendalikanya, seperti apa yang aleris lihat, jiwa dan raga ketiga zero itu seperti dikendalikan oleh monster itu.
"Tuan..." salah satu zero itu mrnyodorkan botol yang berisi mutiara.
Aleris menerimanya dengan kebingungan.
"Karena kekuatan kami terkuras, kami meminta bantuanmu...."
"Jika kau tempelkan mutiara itu kedahinya, maka monster itu akan berubah menjadi asap, dan bisa kau masukan kedalam botol ini..."
"Apakah monster ini tidak bisa mati?" ucap aleris terbelalak.
Para zero itu mengangguk seraya menahan sakitnya, aleris lalu melangkah menatap heran monster didepannya, tepat didepan wajah mengerikan itu aleris menempelkan mutiara itu dan benar terjadi, ia berubah menjadi asap, lalu aleris membuka botol, dan memasukan asap monster itu.
Ketiga zero itu tersungkur disebuah semak-semak, seraya menahan sakit, aleris mendekat dan menyodorkan botol minuman, zero itu menerimanya.
"Jelaskan aku tentang monster itu, selama aku hidup aku tidak melihat adanya monster seperti itu..." ucap aleris seraya menyodorkan botol berisi asap itu, untuk dikembalikan kepada sang pemilik.
"Maaf sebelumnya tuan kami terlihat tidak sopan..." gumam salah satu zero itu, namun aleris tidak merasa keberatan.
"Namanya monster Chimera..."
Dimana monster itu hidup disebuah goa didekat teluk alaska, dimusim manca roba seperti ini membuat mereka keluar untuk mencari mangsa atau mencari makanan mereka, namun seperti yang dikatakan sebelumnya jika monster yang tinggal di teluk alaska sebagian besar memiliki kekuatan yang bisa dirasakan oleh makhluk lainya, seperti monster chimera ini, ia bisa masuk kedalam jiwa dan raga manusia lalu mengendalikanya.
Salah satu monster terlangka diteluk alaska, karena habitatnya kian musnah seiring berjalanya waktu.
"Jadi para monster diteluk alaska sedang berkeliaran dinegeri ini?" pekik aleris.
Zero itu menggeleng, "Tidak tuan....hanya ada beberapa yang pergi berkeliaran mencari mangsa, karena semua jenis monster diteluk alaska berbeda, chimera ini tipe monster yang selalu tidak tahan berada dalam tempat tinggalnya..."
"Lalu mutiara ini?" tanya aleris.
Salah satu zero itu menjawab, "Priest kami yang membuatnya tuan....butuh waktu yang lama membuat sebuah mutiara agar bisa menyenggel para monster namun ini sangat terbatas, tidak semua monster bisa disegel dengan mutiara, dan priest kami mengatakan jika mutiara ini juga sangat terjangkau"
Memang tubuh monster itu sebagian besar terdiri dari asap membuat lebih mudah untuk membuat mutiara tersebut.
Aleris tiba-tiba teringat, tentang makhluk seperti duyung itu yang ia temukan.
"Kalian pernah melihat makhluk mengerikan berbentuk seperti duyung?"
Ketiga zero itu saling menatap satu sama lain, hingga mereka mengatakan jika selama menjadi hero mereka belum pernah menemukan seperti yang dikatakan aleris.
Aleris mengakui jika teluk alaska memang rumah para monster yang sangat mengerikan bahkan mereka memiliki kekuatan satu sama lain, aleris tidak pernah membayangkan ketika para prajurit saat itu datang, dan mereka langsung dimangsa oleh gerombolan monster.
Aleris membayangkan saja sudah menggelidik ngeri, ia melawan monster kelelawar sendiri saja sangat gelageban, padahal ia juga memiliki kekuatan, namun ia masih saja kesusahan.
Ketiga zero itu lalu berpamitan memutuskan untuk pergi, sebelumnya sudah beberapa lamanya aleris berbincang-bincang dengan mereka, hingga zero itu pulih dari sakitnya, aleris banyak bertanya tentang teluk alaska dan beberapa kali ia bertanya, sudah berapa kali mereka menemukan monster yang mengerikan ini, membuat mereka sadar jika hari sudah sore.
Aleris menyuruh para zero itu untuk melaporkan kejadian ini, dimana penduduk asli disini telah dibantai habis-habisan, memang aleris tidak ada hubunganya, tapi melihat desa didepanya hancur lebur membuat hatinya sakit.
Bagaimana saat dibantai monster mengerikan itu, ada seorang bayi yang meminta tolong, ia sampai heran kenapa tidak ada satu pun yang tersisa, andai saat itu aleris tidak tertidur, dan ia datang tepat waktu, aleris rela melawan sendirian.
Mata aleris tidak bisa ia bendung, apakah mereka pantas menerima ini? banyak anak-anak, orang tua, yang sedang asyik bermain dengan kegiatan mereka, mereka bahagia dengan hidup mereka, namun tanpa mereka sadari ada sesuatu yang menimpa mereka hingga mereka harus mati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Tuan....kami berharap kami bisa bertemu dengan anda lagi lain kali...." ucap salah satu zero itu.
__ADS_1
Mereka lalu memunculkan elang dan pamit kepada aleris dan terbang pergi.
Aleris masih terdiam mematung, lalu ia mengambil botol minum ia tumpahkan mengelilingi tempat itu, lalu aleris duduk ia memggengam kedua telapak tangan ia memejamkan matanya, ia berdoa, lalu ia bersujud.
"Seperti itu kah ketika semesta sedang sangat kejam dengan kita?" gumamnya.
Aleris berharap dengan kejadian ini, membuatnya harus terus waspada, tidak semua orang tahu kapan ajal menjemputnya, aleris lalu memunculkan elang putihnya, ia beranjak menaiki punggung elang, lalu ia beranjak terbang.
Didalam perjalananya, ia masih tidak menyangka apa yang ia lakukan tadi, apa yang ia lihat tadi, seperti tidak nyata, karena yang membuat aleris berpikir, tidak ada satupun manusia yang tersisa, jadi bagaimana lahapnya monster itu?
Aleris mencoba melupakan kejadian itu, ia harus fokus pada tugasnya kali ini.
Prajurit berlari kearah kamar raja, ia mengetuk pintu, lalu segera raja buka, prajurit itu mengatakan jika sebuah desa yang tidak jauh dari kota majestic, terjadi sesuatu yang menbuat desa itu hancur habis tak tersisa, raja sudah menduga yang melakukan hal ini adalah monster.
Raja langsung memerintahkan pasukanya untuk menjaga disetiap ujung tembok kota majestic, dan memastikan rakyat tidak tahu kejadian ini.
"Kau sudah survey tempat itu?"
"Sudah tuan...benae tidak ada yang tersisa, kami hanya melihat jejak monster itu..."
"Perintahkan semua prajurit untuk menjaga total kita majestic dari segala penjuru!!!" pekik raja.
Prajurit itu menundukan kepala lalu segera beranjak pergi, arvand yang mengintip disebuah ambang pintu terbelalak, bahkan monster-monster itu sudah berani datang memunculkan sosok mereka, entah apa yang terjadi sudah beberapa tahun lamanya negeri ini tentram tidak ada monster yang berkeliaran namun kenapa saat ini mereka kembali lagi?
Apakah arvand harus memberitahu aleris? apakah ia sudah tahu? tapi setidaknya arvand harus pergi berkunjung diistana aleris.
"Aleris....alerisss.." gumamnya seraya beranjak, namun varegar tiba-tiba datang menghalangi jalan arvand.
Dengan muka songongnya ia menundukan kepala kedepan arvand.
"Maaf mengaggetkan anda tuan....tapi sepertinya kau sedang menyebutkan nama aleris beberapa kali? sudah berapa lama berteman?" ledek varegar.
"Penting buatmu?" ucap singkat arvand beranjak pergi, namun lagi-lagi langkah arvand berhenti setelah tangan varegar menyetuh pundak arvand.
"Dia sedang ada tugas..." bisiknya.
Arvand menatap varegar.
"Ia sedang jalan-jalan...." lanjutnya.
"Kau ingin menyusulnya?" ledek varegar.
"Kau seharusnya lebih sopan lagi denganku" ucap arvand beranjak pergi.
Varegar menatap arvand, matanya tidak bisa berpaling, walaupun perban menempel dimatanya tidak berpengaruh untuknya.
Akhrinya yang dinanti aleris ia sudah melihat luasnya kota lander, dikelilingi pondasi putih yang mengkilap disetiap ujung kota lander membuatnya memiliki ciri khas, banyak sebuah patung senjata yang tertanam didepan gerbangnya, penduduk kota lander memang sangat bersih dimana semuanya serba putih.
Aleris lalu mendaratkan elang miliknya disebuah lapangan didekat istana lander, ia melihat ada beberapa elang juga disana, tidak begitu aleris gubris, lalu ia mengikat tali, dan beranjak masuk kedalam.
Para prajurit yang menjaga gerbang menundukan kepalanya lalu membukakan pintu, aleris berjalan, dipejalannya aleris dibuat takjub ada banyak perhiasa yang menempel disetiap pondasi membuat tempat itu berwarna emas mengkilap.
"Kapan-kapan istana ku akan kubuat seperti ini" gumamnya.
Prajurit membuka pintu masuk keruangan raja, dan aleris dipersilahkan masuk, namun ia langsung disambut oleh raja jesper.
"Aleris....." ucapnya seraya berjalan dan melentangkan kedua tanganya untuk segera memeluk siapa yang ada didepannya.
Aleris menundukan kepala, lalu ia menerima pelukan itu.
"Sudah lama aku tidak melihat anak dari mendiang arthur, kau sudah sangat besar ya" ucap raja jesper.
Seperti punya ciri khas yang sama, bisa dideskripsikan raja jesper ini sangat ramah, dan perlawakan tubuhnya tinggi besar, sebelas dua belas dengan raja gevarnest.
"Raja gevarnest bagaimana dia masih tampan seperti dulu bukan?" ucap raja jesped seraya bercanda.
Aleris membalas didalam hatinya, jika raja gevarnest semakin licik.
Lalu raja jesper mempersilahkan aleris duduk, raja menyuruh selir untuk mempersiapkan hidangan yang special, karena ia sedang kedatangan tamu yang istimewa.
"Aku bahkan tadi hampir tidak mengenalimu lhoh..." gumam raja.
Aleris tersenyum, "Ah jangan!! kenapa kau sangat tampan ketika tersenyum bahkan tidak tersenyum saja sudah sangat tampan...." gumam raja jesper, membuat aleris tersenyum malu beberapa kali.
__ADS_1
Raja jesper menanyakan banyak pertanyaan, dimana ia menanyakan leon, dan mahagaskar, lalu aleris mengeluarkan potongan samurai yang dilapisi kain itu, ia menyodorkannya kepada raja jesper.
"Samurai?" tanyanya.
Aleris mengangguk.
Raja jesper menatap potongan samurai itu dengan tajam.
"Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya, kau dapat dari mana?"
Lalu aleris menjelaskan semuanya dengan detail, dimana pertama kali ia mendapati seekor siluman duyung yang tiba-tiba muncul, sampai ia menjelaskan secara detail tentang potongan samurai ini.
Raja jesper menghela nafasnya, "Aku akan membawa potongan samurai ini ditempat kerja teman-temanku.." ucap raja jesper.
Lalu ia menyuruh para selir untuk membawa potongan samurai ini ditempat penelitian teman-teman raja.
"Kau pasti tidak asing dengan teluk alaska bukan?" ucap raja seraya menyeruput minumanua setelah selir itu datang membawa hidangan yang lezat.
Aleris menatap dengan saksama, lalu raja jesper melanjutkan.
"Entah sedang musim apa, tapi setahu memang pancaroba, monster-monster diteluk alaska keluar dan sedang berkeliaran disini.."
"Tapi tuan apakah ini ada hubunganya dengan suku yang itu..." ucap aleris.
Mata raja jesper spontan menatap aleris, "Tidak, tidak mungkin.." jawabnya cepat.
"Tapi yang sudah aku ceritakan tadi....hanya kota majestic yang mengalami kejanggalan ini.."
"Dengar aleris, jangan menyimpulkan seperti ini jika kita belum mengumpulkan cukup bukti!" pekik raja jesper.
Agil tersungkur dikursi setelah ia menghabiskan tiga mangkuk makanan, jay dan tea beberapa kali menertawakan agil yang sering bersendawa tanpa memikirkan keaadan disekitar.
Argus keluar dari rumah makan, ia menatap luas kota lander, akhirnya setelah perjalanan panjang, argus telah sampai dengan selamat dikota lander, mungki jika tidak ada para zero itu, mereka masih merengek mencari jalan keluar.
Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu, sangat bersih dan segar, setiap kali argus datang ia selalu tak henti-hentinya tersenyum sepanjang perjalannya dikota lander.
Namun yang membuat berbeda dari kota lander, ada sebuah patung kelelawar raksasa yang dipajang ditengah-tengah kota majestic.
"Apakah jesper sengaja membuat patung mengerikan ini?" ucap argus menatap patung yang tidak lumayan jauh dari hadapanya.
Tiba-tiba agil merangkul pundak argus, seraya berbisik.
"Sangat menyenangkan ternyata setelah sampai dikota lander, kalau bisa tinggal disini saja" gumam agil.
Sepanjang ia turun dari punggung elang, mata agil bisa memejamkan mata atau berkedip, seperti istana dinegeri dongeng, agil bisa masuk kedalam negeri dongeng, tidak henti-hentinya agil menatap sekiling kota lander yang bersih dan berseri itu, matanya tidak bisa bohong agil sempat meneteskan air mata.
Dimana ia tidak menyangka telah sampai dikota yang dituju, setelah ia melewati beberapa rintangan yang mengerikan, rintangan yang membuatnya ingin menyerah, namun ketika hal itu datang dipikirannya ia segera menepis, dan ia berusaha mengingat randi dan gilang.
Didalam perjalananya menuju pasar kota lander untuk mengisi perut, agil masih melongo seraya bergumam pada dirinya sendiri, membuat jay, tea, dan argus tertawa geli karena tingkah kampungan agil, maklum karena baru jali ini agil melihat istana dongeng yang indah didepan wajahnya.
"Seandainya ada kalian, randi dan gilang pasti kau juga akan sama sepertiku yang bertingkah kampungan ini..." gumam agil.
Setelah berbincang banyak, raja jesper memutuskan untuk mengajak aleris jalan-jalan, ia tidak ingin membahas masalah tentang suku itu, dimana membuat raja jesper langsung flasback kemasa itu, lalu ia memutuskan untuk mengajak aleris jalan-jalan, ia mengatakan akan merenungkan dan membahas bersama lagi jika potongan samurai memunculkan jawaban.
Banyak pertanyaan yang aleris tanyakan seputar perubahan kota lander kepada raja jesper, perubahannya tidak jauh berbeda, hanya semakin terlihat bersih dan mengkilap, aleris memang tidak pernah datang ke kota lander, dulu ia datang kemari ketika masih kecil dengan orang tuanya.
Perjalanan mereka sampai dipertengahan kota majestic, mereka masih berbincang-bincang, hingga argus tiba-tiba datang mengaggetkan nereka berdua.
"Argus!?!" pekik raja, argus menundukan kepalanya, lalu raja jesper memeluknya.
"Sudah lama sekali ya kau tidak datang kesini" ucap raja jesper seraya menepuk pundak argus, argus tersenyum.
Aleris menyapa argus dengan senyuman, lalu raja jesper memperkenalkan argus kepada aleris.
"Al ini sahabat kecil aku..." ucap raja jesper.
Tidak kaget karena tanduk dikepala argus, aleris justru kaget jika raja jesper memiliki sahabat orang-orang sekitar, setahu aleris raja jesper memang ramah tapi untuk soal sahabat setahu aleris ia tidak memiliki banyak.
"Argus....kau mungkin tidak tahu karena kau dari plosok kan? dia anak bangsawan lah intinya....." pekik raja seraya bergurau.
"Oh ya?" tanya argus, dengan cepat argus menundukan kepala.
"Maaf tuan..." lanjut argus.
__ADS_1
Aleris menerima salam argus dengan rasa yang tidak nyaman karena, bukankah dia dan aleris lebih tua argus?