
"Tunggu..." pekik Vin.
Leon menoleh, ia berhenti dan menatap Vin.
"Ada keperluan apa tuan datang kemari?"
"Aku melihat ada banyak bercak darah dijalan, lalu darah itu membawaku kesini..."
Vin membenarkan posisi duduknya, "Ah maafkan aku...."
"Tidak apa..."
Vin berusaha untuk berdiri dan beranjak, namun Leon menyuruhnya untuk tetap duduk ditempat tidur.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Tuan sedang mencari sesuatu kah? hingga datang kepemukiman warga?"
Leon menundukan kepalanya, "Aku sedang mencari seorang pria yang hilang, ini adalah perintah Aleris, jika bukan perintah dia aku tidak akan melakukan hal ini..."
"Aleris?" tanya Vin.
Leon mengangguk.
"Apakah saya boleh tahu? yang dimaksud tuan Aleris itu siapa?" tanya Vin.
"Baiklah mungkin kau kenal..." Leon lalu menyodorkan sebuah kain dari saku celananya.
Betapa kagetnya Vin, setelah ia membuka kain itu, gambar wajah yang Vin kenal, tak asing lagi, dan itu adalah wajah Randi.
"Randi..." gumam Vin.
Leon terbelalak, "Kau kenal?"
Vin mengangguk, "Sempat kenal dengannya disini...."
"Boleh aku ikut mencari dengan kalian?"
Bahkan setelah ia berpisah dengan Randi, rasanya hidupnya hambar, semakin ia mencoba melupakan tapi pada akhirnya pikirannya lagi-lagi tentang Randi.
Leon berhenti saat ia melihat rumah bekas terbakar, dimana insiden tentang bisnis yang sempat ia datang untuk memeriksanya.
"Tuan" tanya Vin.
"Aku pernah ikut mencari pelaku disini, sampai aku keluar tembok, tapi aku tidak menemukan mereka, hingga korban mengikhlaskan semuanya, sedikit susah untuk menerima memang, tapi suatu saat jika aku diperbolehkan membuka kasus ini lagi, aku akan mencari pelaku itu...."
Vin menundukan kepalanya, bukankah ia adalah salah satu pelakunya? ia tidak henti-hentinya menelan air liurnya, sangat panik jika pada akhirnya mereka akan menemukannya.
"Aku juga berharap segera ditemukan..." gumam Vin.
Pada saat itu, Vin bisa melihat tuan Leon dan beberapa prajuritnya mencari pelaku dibalik kejadian ini memang, dan saat Vin tidak bisa menahan air matanya adalah ketika korban mengatakan jika, 'Dia sudah aku anggap anak, jadi biarlah dia pergi, dia akan bahagia karena aku juga sudah ikhlas'
Vin kembali teringat kalimat itu, ia tentu sangat merasa bersalah, karena tubuhnya pun ia tidak mengatasi, bagaimana ia mengatasi orang lain, karena kejadian itu Vin harus menyamar menjadi orang asing, dimana saat keluar jubah yang akan menutupi wajahnya.
__ADS_1
Sempat Vin ingin meminta maaf, tapi pada akhirnya egonya lebih besar, sebaiknya ia harus jauh-jauh, Vin juga sudah menganggap mereka keluarganya, tapi sesuatu yang mengerikan ada didalam tubuh Vin dimana hal itu membuatnya harus pergi.
Vin mengusap air matanya yang sempat jatuh, Leon menoleh.
"Kenapa?" tanya Leon.
Vin segera menyahut.
"Ah tidak ada.." ucap Vin beranjak.
"Tunggu...." Leon menghentikan langkah Vin.
Vin terbelalak, jantungnya berdegub dengan kencang, ia menoleh.
"Ada apa tuan?"
"Kau ingin mampir ke tempat korban musibah ini?"
Vin tersentak, "Tuan? bukankah kita harus segera mencari Randi?"
Leon memutar bola matanya, "Haisss aku harap dia sudah membaik..." gumannya.
***
Agil berdiri disebuah panggung yang berada dipusat kota berada, lagi-lagi kali ini ia harus menghentikan pencarianya, bukakah Aleris sudah membantunya? Dan karena kejadian ini banyak orang-orang yang mengaku menjadi seorang prajurit yang selama ini Agil cari.
Setelah berdiskusi dengan otaknya semalaman, pada akhirnya pencarian mengenai prajurit ini sebaiknya akan Agil batalkan, rasanya untuk menggali info dengan prajurit akan sangat susah terlebih sekarang bahkan semua orang tidak menemukan dimana dia, dan tentu berkat Aleris ia akan lebih mudah lagi menemukan Randi dan Gilang tentunya, walaupun didalam otak Agil ia masih tidak yakin apakah ia harus mengandalkan Aleris.
Orang-orang berkumpul untuk mendengarkan pidato Agil.
"Apakah prajurit itu sudah ditemukan?" sahut salah satu warga.
"Sepertinya saya akan membatalkan pencarian ini, karena sangat minim informasi..." ucap Agil.
Semua orang berbisik.
"Lalu apa imbalan kami?" pekik salah satu warga.
Agil tersenyum, "Saya tidak bisa untuk memberikan imbalan apapun.."
Semua orang tiba-tiba menyuraki Agil, karena pencarian mereka yang sia-sia dan tidak ada imbalan yang mereka dapat.
"Maafkan saya...." Agil menundukan kepalanya lalu ia berjalan turun.
Tentu masih dengan sorakan warga untuk Agil, Agil tidak perduli ia tetap berjalan seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Tiba-tiba langkahnya berhenti saat ia melihat seseorang menghalangi jalanya.
Agil menoleh, ia menatap pria yang menghalangi jalannya.
"Agil?" sahut Leon.
Vin terbelalak saat Leon memanggil nama pria yang ada didepannya.
Agil? bukankahh.....
__ADS_1
Agil membuang muka.
"Tenang, aku bukan bersengkongkol dengan mereka bahkan aku ikut serta dalam percarian Randi..."
Agik terbelalak, "Sungguh?"
Leon mengangguk, lalu ia menoleh kearah Vin dan memperkenalkan Vin kepada Agil.
"Dia teman baru Randi..."
Agil menatap Vin dengan tatapan heran, Vin hanya menundukan kepalanya, ia sangat tidak menyangka jika pada akhirnya ia menemukan Agil.
Agil lalu mengangkat tangannya untuk mengajak Vin bersalaman, Vin terdiam ia menatap tangan Agil.
Apa ini? kenapa aku bisa bertemu Agil disini? lalu Randi?
Vin menerima jabat tangan tersebut.
"Kau kenalan Randi disini? jadi kau tahu dimana Randi kan" tanya Agil.
Saat Leon ingin menjelaskan, Vin menepis, ia meminta kepada Leon, jika ia ingin ia yang menjelaskannya kepada Agil.
"Aku kenal dengan Randi karena aku menolongnya, aku berpisah dengannya, karena aku ada urusan, setelah perpisahan itu, selama aku berkeliling didalam kota Majestic, aku tidak pernah sekali pun bertemu dengan Randi lagi...."
Spontan Agil, memeggang erat kedua pundak Vin.
"Sungguh? ku mohon jangan bohong...." bisik Agil.
Vin menatap Agil, "Kau pikir aku bohong? lalu apa arti air mata yang aku tahan ini?"
Agil bisa melihat Vin yang menahan air matanya itu.
"Semua prajurit yang aku perintahkan sedang mengelilingi seisi kota Majestic ini, ku harap Randi segera ketemu..."
"Menurut kalian, dimana Randi?"
"Tidak mungkin ia keluar tembok, aku sudah memberitahu penjaga, pasti dia masih ada disekitar sini..."
Agil meremas rambut kepalanya, "Aku sudah jauh-jauh datang kesini, bahkan nyawa menjadi taruhanya, kalian bisa bayangkan? bagaimana aku datang kesini? bagaimana aku kelelahan didalam perjalan, bagaimana aku menyerang para monsnter mengerikan, bahkan aku bisa saja mati karena para monster, pada akhirnya jawabannya pun tidak ada disini..."
"Sebetulnya siapa yang memberitahumu jika jawaban yang kau cari-cari ada disini?" tanya Leon.
"Bukankah, ini adalah ibu kota? bagaimana pun ibu kita harus ikut serta, bukan?"
Leon menghelan nafasnya, "Teman-teman Aleris bukan sembarang teman..." bisik Leon.
"Maafkan aku...." gumam Vin tiba-tiba.
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Agil.
"Aku berpisah dengan Randi, kalau aku tahu ini akan terjadi aku akan menahannya pergi, aku tidak ingin berpisah dengannya..."
"Dengar, ini adalah takdir, dan ini bukan salahmu, mengerti?" sahut Agil.
__ADS_1