
Agil mendekat kearah Argus dan Timandra yang terduduk ditempat duduk yang terbuat dari kursi didepan perumahan, ia berdiri dihadapan mereka.
"Aku dari mana?" ucap Agil tiba-tiba.
Membuat Argus dan Timandra terdiam, bingung saling tatap.
"Maksudmu?" tanya Timandra.
"Aku baru sadar setelah Aleris berteriak, lalu aku mendekat kearahnya, aku tanya di kenapa, tapi ia juga tidak tahu?"
Agil menatap Aleris yang masih tergeletak dihalaman, seraya Fay dan Arvand yang tiba-tiba datang, dan mengobati luka Aleris Agil tidak mengenal mereka.
Monster-monster yang berkeliaran dilangit Majestic, sudah tidak terlihat lagi, mereka semua berhasil diserang oleh Aleris, hanya ada beberapa dari mereka yang masih menyerang beberapa prajurit, namun mereka berhasil mengatasinya.
"Apakah aku tertidur?"
Tanya Agil lagi-lagi, Argus berdiri dan menepuk pundak Agil.
"Kau hanya duduk sendiri disini, kau tidur?" tanya Argus.
Timandra terdiam, ia seperti mengingat sesuatu, lalu ia berdiri.
"Paman! tapi aku juga seperti melihat sesuatu tadi, entah mimpi atau bagaimana? yang aku ingat aku berkumpul dengan warga Serafina..." sahut Timandra.
Argus seperti memikirkan sesuatu, ia menghelan nafasnya.
"Aku tidak melihat apapun? apakah hanya aku?" tanya Argus.
"Aku tidak ingat kau ingat?" ucap Agil kepada Timandra.
Timandra menggeleng.
Argus kembali menepuk kedua pundak Agil.
"Aku sudah menjadwalkan, jika perang ini selesai, aku ingin berbincang empat mata denganmu Gil, ada banyak yang harus ku tanyakan kepadamu...." ucap Argus.
"Yah, aku juga sudah menyiapkan pertanyaan dan jawaban..." ucap Agil, duduk.
Raut wajah Agil tiba-tiba berubah, Timandra tahu betul, sepertinya ia masih sedih karena kepergian Jay.
"Aku akan mencoba mengingat..." gumam Agil.
"Kekuatan tuan Aleris memang bukan main, sekali ia mengelurkan jurus semua monster ia terjang habis-habisan..." ujar Timandra, ia berdiri dan menatap Aleris.
Aleris tergeletak, ia pasrah diobati, luka banyak yang membuat ia harus diperban, tatapan Aleris kosong, ia berusaha mengingat ilusi iblis yang ia terima ini.
"Kau ada banyak luka sialan, kau tidak merasa kesakitan?" ucap Arvand.
Ia kebingungan, saat melihat wajah Aleris dengan tatapan kosong. Arvand lalu menampar pipi Aleris dengan sengaja.
"Hei!" sahut Fay saat ia melihat tamparan Arvand terlalu keras, tapi segera Aleris tersadar.
"Kau kenapa?" tanya Aleris.
Fay masih mengobati luka dilengan Aleris, lalu Aleris menatap Fay.
"Fay, sudah, aku tidak apa-apa..." ucap Aleris.
"Serius?" tanya Fay.
Aleris mengangguk, "Bagaimana para prajurit? kau sudah mengobati mereka?" tanya Aleris.
__ADS_1
Fay hanya mengangguk, Aleris lalu berdiri.
"Apakah kalian juga masuk kedalam ilusi iblis" tanya Aleris tiba-tiba.
Arvand ikut berdiri, ia menatap tajam kearah Aleris.
"Ilusi iblis? bukankah itu adalah kita masuk kedalam mimpi buatan?" tanya Arvand.
Fay berdiri dengan kaget, saat ia mengingat.
"Mimpiku hanya seputar pekerjaanku.." ujar Fay.
Arvand melotot, "Kenapa aku tidak ingat?"
Aleris menatap Arvand, "Sama, aku juga tidak ingat..."
Aleris laku beranjak pergi, dan menuju kearah Agil, Timandra, dan Argus berada.
"Kalian masuk kedalam ilusi iblis? maksudku seperti mimpi buatan?" tanya Aleris.
Agil yang mendengar langsung berdiri, "Apa? ilusi iblis?" tanya Agil.
"Bukankah kalian masuk kedalam sebuah mimpi? sebangsa mimpi? itu adalah mimpi buatan yang dibuat oleh ilusi iblis, biasanya semua warga disini, juga merasakannya, dan masuk kedalam ilusi ini, bukan hanya aku atau warga kerajaan..."
Fay dan Arvand datang, mereka mengikuti Aleris yang bergabung dengan Agil.
"Dengar, aku merasakannya! jujur tapi aku tidak terlalu ingat aku sedang mencoba mengingatnya!" ucap Agil.
"Gil, bukannya kita juga pernah seperti ini? paman? kau ingat kan?" ucap Timandra.
Agil melotot dan terheran, ia baru saja teringat momen itu kembali, dan ini terjadi lagi.
"Iya, aku ingat itu, tapi kali ini aku sama sekali tidak mengingat apapun dari memoriku.."
"Kalian? pernah merasakan ini sebelumnya?" tanya Arvand.
Agil menyahut, "Iya! dan sampai sekarang pun aku masih tidak mengingat ilusi itu!"
Argus mendorong kepala Agil, untuk menundukan kepalanya, karena Argus tersadar ternyata dia adalah pangeran Arvand.
"Aduh..." rintih Agil saat kepalanya dipaksa menunduk oleh Argus.
"Ah! tidak apa! aku justru malu jika ada orang yang seumuran aku atau lebih tua hormat kepadaku, tidak masalah kok, jangan diulangi lagi..." sahut Arvand.
Argus hanya tersenyum ramah menatap Arvand.
Fay berbisik, "Hanya kau yang malu jika orang pada hormat kepadamu..."
Vin datang, setelah ia melawan beberapa monster diarah lain, tidak ada luka namun nafasnya sedikit engap, ia mendekat.
"Aku sudah mendengar tadi, jadi memang ada ilusi iblis ya baru saja?"
Semua orang menatap Vin yang baru saja datang.
"Vin kau juga?" tanya Agil mendekat kearah Vin.
"Tidak karena aku bukan manusia..." bisiknya kepada Agil.
"Kau tahu? apa ilusi iblis ini?" tanya Agil.
Vin berjalan melewati Agil, ia tidak menjawab, ia langsung menjelaskan.
__ADS_1
"Aku tahu ilusi iblis ini, ada dua jenis yang pertama ilusi berat dimana butuh beberapa minggu atau bulan untuk mengingat lagi, yang kedua ilusi ringan, dan sepertinya kalian mendapatkan ilusi ringan kalian akan mengingat momen mimpi buatan ini, selang beberapa jam, ini memang jurus andalan para iblis untuk mengalihkan perhatian atau mereka sedang terhubung dengan para manusia, dan ini efeknya.."
Aleris mendekat, "Vin? sungguh?" tanya Aleris.
Vin tersenyum.
Akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi dengan dekat, walaupun wajahmu penuh luka.
Arvand menepuk pundak Aleris, seraya menatap Vin.
"Kau siapa?" tanya Arvand.
Argus kemudian mendekat, dan mengandeng tangan Vin segera.
"Em... mungkin kita bisa beranjak ketempat aman sekarang, bukankah sudah aman?" tanya Argus.
Agil mendekat, "Aku ingat sekarang...." rintih Agil, setelah ia terdiam beberapa saat.
"Aku bertemu kedua sahabatku, Randi dan Gilang..."
"Dan?" tanya Argus khawatir.
Agil mendongak, lalu ia menggeleng, "Masih samar, aku akan mencoba nya lagi...."
Aleris menyentuh kepalanya.
Tolong, datanglah ingatan itu, aku mohon, sebelum terlambat akan aku selamatkan semuanya.
Fay terlihat khawatir, saat melihat Aleris menyentuh kepalanya, ia lalu memeggang lengan dipelukannya.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Fay.
Vin melihat itu, melihat Fay yang menggandeng lengan Aleris dan memeluknya, Vin hanya membuang muka.
Apakah aku menyukai Aleris?
Timandra, menatap kearah atas, saat ia sedikit merasakan hawa aneh, karena malam sudah datang, langit memang sedikit petang, tapi Timandra menyadari ada yang tidak beres, seperti sesuatu akan datang lagi kekota Majestic.
"Tunggu! kita bisa ketempat aman sekarang juga!"
"Ada apa?" tanya Argus.
Semua orang menatap kearah Timandra. Timandra panik.
"Aku takut, sepertinya sesuatu akan datang kesini..."
Agil melotot, ia mendekat kearah Timandra.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Agil.
Timandra terdiam, ia mencoba merasakan kembali apa yang aneh, ia memejamkan matanya, namun saat ia memejamkan matanya, getaran tanah kota Majestic terasa sangat keras, sepertu gempa bumi.
Bahkan semua orang merasakannya.
"Ris, ada apa ini Ris!!!!" pekik Arvand.
Bahkan getaran hebat ini sangat terasa, mereka ketakutan.
"Apakah ini gempa bumi?" tanya Arvand.
Tiba-tiba teriakan keras datang, entah datang dari mana, tapi suara keras itu seperti amukan.
__ADS_1
Aleris terdiam, ia terbelalak.
Raksasa?