
Begitu rupawan bentuk langit yang muncul dipagi hari, bahkan Jay tidak ingin berkedip, menurutnya berkedip saja ia sudah kehilangan bentuk langit yang indah. Ia duduk disebuah bukit yang tidak begitu tinggi, ia menghembuskan nafasnya, ia mainkan nafasnya yang keluar dengan asap karena cuaca yang dingin.
Berharap ini segera berakhir, ia berdoa dipagi hari dengan cuaca yang sangat indah ini, ia ingin pulang dan tidur dengan nyenyak dirumah bersama kasur kesayangan, memulai kehidupan dengan damai tanpa ada masalah.
Langit jingga dan awan yang menggumpal seperti kapas yang terpencar kesana-kemari, ia ingin pergi keawan itu, berteriak meminta perlindungan kepada tuhan, ia ingin mengatakan jika tempat ini sangat mengerikan, jika ia diberi umur panjang, ia ingin segera pulang ke rumah, tapi jika umurnya pendek dan bisa mati kapan saja di tempat mengerikan ini, ia berharap hanya ia yang mati, manusia asing yang tersesat disini jangan sampai mati, karena ia sudah kehilangan sahabatanya ia tidak ingin kehilangan orang lagi didepan matanya.
Wajah cantiknya, bercahaya karena sinar matahari yang siap muncul dengan cahaya sempurnanya. Jay tersenyum, apakah ia bisa melihat langit pagi lagi setiap hari? ia sangat takut jika suatu hari ia harus mati karena mencoba keluar dari negeri mengerikan ini.
Ia kembali memainkan nafasnya, ia sangat suka melihat asap yang keluar dari mulutnya saat cuaca dingin.
"Kau menyukainya?" sahut seseorang tiba-tiba datang dengan suara serak karena baru saja bangun tidur.
Ia segera duduk disamping Jay.
"Agil..." gumam Jay.
"Ini alasan kau selalu bangun pagi..." ucap Agil, seraya menatap matahari yang mulai merangkak keatas.
Jay menatap wajah Agil yang disinari cahaya, benar-benar sangat tampan dan berkharisma, ia ingin memilikinya sampai akhir, rasanya ia sangat nyaman didekatnya.
Agil sadar ia sedang ditatap Jay, ia lalu pose dengan kedua telujuk berbentuk dua, dengan wajah yang sok imut. Jay tertawa.
"Kau tampan dan imut kok, mau disisi manapun..." gumam Jay.
Agil nyengir, ucapan Jay berhasil membuat jantungnya berdebar.
"Terima kasih Jay, kalau boleh jujur kau juga tipe idealku" ucap Agil menatap Jay.
Jay yang masih memaikan nafasnya, kemudian berhenti dan menatap Agil, bahkan cuaca dingin dipagi hari ini, membuat seseorang ingin kembali tidur lagi, namun Jay dan Agil tidak, mereka menyukainya, apa lagi ketika mereka berbicara asap kel
"Sungguh?" tanya Agil.
Agil mengangguk, "Kenapa aku sangat menyukai kau Jay, saat pertama kali menatapmu rasanya aku harus menjagamu, harus! dan harus! aku ingin pulang bersamamu..." ucap Agil menggadeng tangan Jay tiba-tiba.
"Aku juga, ingin, ingin pulang kerumah dan bisa bersama mu tanpa ada hal meengerikan seperti disini...."
Agil tersenyum, ia mengeggam erat tangan Jay.
"Jay jangan pergi...." ucap lirih Agil.
"Tidak, tidak aku tidak akan pergi, karena aku punya alasan untuk tidak pergi sekarang...."
__ADS_1
"Karena aku juga menyukaimu..." ucap Jay.
Agil mengigit bibir bawahnya, ia tidak kuasa menahan rasa saltingnya.
"Aku ingin membawamu kehadapan dua sahabatku, aku ingin memperkenalkan wanita kuat yang aku cintai..." ucap Agil tersenyum.
Jay tertawa.
"Janji, kau akan tetap bertahan sampai akhir." ujar Agil seraya mengangkat jari kelingkingnya.
Jay tersenyum, dan mengangkat jari kelingkingnya, berjanji kepada Agil jika ia akan bertahan hingga akhir, bersama Agil. Agil lalu merangkul punggung Jay dan memeluknya.
Jay menatap Agil, Agil menatap bibir Jay, dan seperti dorongan, bibir Agil mendarat kebibir Jay, dengan sempurna. Mereka memejamkan matanya seraya merasakan ciuman penuh cinta, ciuman yang memiliki makna.
Agil tersenyum ia melepaskan ciumannya, lalu kepalanya terangkat keatas, kemudian ia mencium dahi Jay.
"Aku ingin menangis, karena aku menemukan wanita kuat dinegeri mengerikan ini...."
"Aku juga ingin menangis karena aku menemukan pria hebat di negeri mengerikan ini..."
Agil menatap Jay dengan tertawa.
"Kenapa kau menirukan kalimatku? buat sendiri aku ingin dengar" ucap Agil.
Seraya menunduk Jay berkata, "Aku tak kuasa menatap pria disampingku ini, ketika menatapnya aku akan merasa sangat gugup dan jantungku berdegup dengan kencang."
Tiba-tiba Agil menerobos masuk, dan menempelkan telinganya didada Jay, seraya bercanda.
"Emmmm benar juga...." bisik Agil.
"Coba bilang begitu lagi, dan tatap aku..." ucap Agil.
Jay gugup, tubuhnya bergetar, Agil bisa melihat kedua tangan Jay yang bergetar, namun Agil memeggang kedua tangan Jay, berharap geroginya hilang.
"Tenang, kenapa kau bergetar begitu?"
Jay hanya mengangguk, "Coba tatap aku..." bisik Agil.
Agil tersenyum, hal itu membuat Jay semakin menjadi-jadi, ia sangat tidak bisa melihat pria yang ia suka tersenyum kearahnya.
"Ak tak kuasa menatap pria disampingku ini, ketika menatapnya aku akan merasa sangat gugup dan jantungku berdegup dengan kencang" Ucap Jay dengan sangat gugup dan gerogi menatap Agil.
__ADS_1
Agil tertawa bahagia, melihat tingkah salting Jay yang menggemaskan.
"Kau suka langit ya? Astrophile?" sahut Agil.
Jay mengangguk.
"Kalau aku, suka bulan, Selenophile"
"Ah, kau suka duduk disini malam-malam..." ucap Jay.
Agil menatap Jay penasaran, "Kau memperhatikanku setiap saat ya?" ledek Agil.
Jay memalingkan wajahnya, "Ih aku suka kalau kau sedang gerogi seperti ini!!! ya tuhan!!!! pertahankan wanita seperti untuk ku!!! jangan hilangkan dia dariku!!! aku tak kuasa!!!!" teriak Agil.
Membuat Jay tersentak kaget, dan berusaha menutup mulut Agil agar diam karena ia sangat takut, jika Kai, Timandra, Tea, dan paman Argus mendengar.
"Diam Gil......" bisik Jay.
"Kenapa sih? aku pengen semua orang tau kalau aku cinta kau kok, kenapa disuruh diem....." pekik Agil.
Jay menepuk dahinya karena pasrah, Agil terus berteriak.
"Tuhan! jangan hilangkan Jay dari aku! aku gamau! aku gamau tahu!! dia harus denganku terus! jangan yang lain, aku bakal cemburu, cemburu banget!!!! sampai mau nangis dan mengamuk seluruh bumi aku hancurkan!!! dia harus tetap disampingku sampai pulang!!! gamau tahu!!!!!"
Jay tertawa, Agil menatap Jay dengan tatapan riang.
"Ngakak banget gak? aku ngakak sih, kalau ada Randi sama Gilang disini, pasti aku bakalan diledek habis-habisan, karena aku bisa sebucin ini sama satu wanita, karena selama aku hidup dengan mereka, aku selalu lemah dan kalah soal percintaan..." ujar Agil.
"Sebenarnya banyak yang suka sama aku..."
Ucapan Jay dipotongan oleh Agil, Agil menyahut.
"Apa!!!!!!" teriak Agil.
"Iya, dulu tapi aku tidak pernah suka balik dengan mereka, karena aku tidak pernah nyaman dengan mereka..."
Agil mendekat, "Jadi, kau nyaman denganku? mau tidur denganku?" bisik Agil bercanda.
Jay melotot menatap Agil, lalu memukul lengan Agil dengan keras.
"Kau gila?" gumam Jay.
__ADS_1
Jay hanya tersenyum nyengir, "Maksudku, kalau sudah pulang kerumah, baru bisa..." Agil tertawa.
Jay hanya terdiam malu, seraya kedua pipinya sangat merah.