
Malam tiba, Mahagaskar membawa Leon, masuk kedalam rumah seraya mengobati tubuh Leon, Jangsal dan Arvand yang menjaga pintu rumah seraya menyodongkan senjatanya, jika alih-alih raksasa itu berjalan mendekat.
"Sedang apa raksasa itu?"
Arvand menundukan kepalanya, seraya raut wajahnya berubah.
"Dia memakan raja Jasper..." gumam Jangsal.
Arvand sudah kehabisan kata-kata lagi, ia tidak bisa berbicara, ia hanya bisa terdiam menangis. Mahagaskar menghelan nafasnya.
"Dimana Aleris?"
Jangsal menggelengkan kepalanya. Arvand terbelalak dan menyahut.
"Dia menyerang para raksasa itu, dan ia terlrmbar jatuh entah apakah dia masih hidup atau tidak, aku harap masih Aleris tidak selemah itu!" sahut Arvand.
Bahkan sudah tiga hari tiga malam kota Majestic dipenuhi serangan yang mengerikan, selama tiga hari tiga malam, setiap harinya banyak korban yang berjatuhan, apa lagi para prajurit hingga Mahagaskar memerintahkan mereka untuk tidak maju menyerang didepan, ia memerintahkan para prajurit untuk tetap menjaga kerajaan saja dan menyiapkan senjata yang kuat.
"Sudah berapa kali aku tidak tidur? sudah berapa kali aku melihat malam dengan mata yang terbuka lebar-lebar.." ucap Jangsal.
"Sepertinya ada banyak orang yang juga ikut andil dalam serangan ini, aku melihat ada banyak orang, kan pangeran?"
Arvand mengangguk, "Ada banyak! dan sebagian mereka seperti kesatria, kalian lihat itu kan? raksasa yang jatuh itu? aku harap kita bisa istirahat sementara, kalian mereka juga ikut menyerang, dan..."
Jangsal mendekat saat Arvand memotong prmbicaraanya, "Dan apa?"
"Ada banyak anak buah Aleris yang sedang disandera, aku harap mereka bisa keluar, karena mereka juga sangat kuat dan hebat!" ucap Arvand.
Mahagaskar mengangguk, "Aku harap seperti itu..."
Mahagaskar berdiri, ia mengintip dijendela rumah, raksasa normal itu tidak ada ditempatnya, Mahagaskar semakin dibuat panik, ia kemudia keluar dan memanjat keatas atap, dan benar tidak ada raksasa normal yang ada disana, hanya ada para raksasa tidak normal yang terus berjalan mendekat kearah kerajaan dengan lamban.
Mahagaskar, terdiam ia akan mencoba menggunaka kekuatannya lagi, kekuatan melihat jejak, ia memejamkan matanya, awalnya memang sangat berisik dan berantakan saat Mahagaskar memejamkan matanya. Namun ia kembali bisa melihat jejak lagi setelah sekian lama.
Ia melihat, raksasa normal itu berusaha menghancurkan beberapa raksasa yang tidak normal yang sudah berubah menjadi patung, namun yang Mahagaskar lihat, patung itu benar-benar hancur tidak bisa membuat raksasa itu kembali hidup lagi, raksasa tersebut berteriak karena tidak membuahkan hasil, dan Mahagaskar membuka matanya.
"Bukankah ini kesempatan?" gumamnya.
Ia turun kebawah, "Leon apakah kau sudah membaik?"
Leon menggeleng.
***
Fay dan yang lainnya, pada akhirnya sudah sampai didepan rumah persembunyian itu, Timandra membukakan pintu walaupun tadi sedikit ada cek-cok dengan para warga. Mereka menolak menahan personil didalam rumah tersebut, mereka juga berhal khawatir.
"Silahkan masuk, tapi mereka semua masih ribut..." ucap Timandra.
__ADS_1
Fay menoleh ke belakang, "Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi aku akan membujuk semua warga"
Fay masuk, lalu ia meletakan tas yang ia bawa "Ada makanan, roti, dan air tentunya, ini bisa membuat tiga hari kedepan, kalian bisa memakannya..."
Lagi-lagi, bapak perut buncit mendekat, "Jangan harap, kita akan menerima makanan kalian, kita tentu menolak mereka masuk, toh cepat! buang jasad itu!"
Namun warga justru, tidak setuju dengan pendapat bapak buncit itu, mereka senantiasa menerima makanan tersebut dan menerima beberapa orang yang dibawa Fay.
Kai dan Tea menuntun Gilang berjalan, diikuti Lidra, Silas, Ace, Ned dan lima orang lainnya, mereka masuk namun Malucia tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Lidra.
"Baca jejak cepat!" ucap Malucia.
Lidra lalu mengiyakan, ia menyentuh tanah dan memejamkan matanya, Lidra melihat Aleris dan satu wanita aneh, dimana Lidra beranggapan itu adalah monster, namun karena ia melihat Aleris terluka parah Lidra langsung menyudahi membaca jejaknya.
"Tuan Aleris, tak jauh dari sini! ia terluka parah!"
"Ayo, ada apa dengan kalian!" sahut Silas diambang pintu.
"Dimana! dimana!" Malucia terlihat khawatir.
"Tujuh rumah dari sini....."
Tiba-tiba tanpa menjawab, perkataan Lidra, Malucia berlari begitu saja.
"Hei! Kau!!!!" sahut Silas.
***
Vin membersihkan luka dan darah kering diwajah Aleris dengan kain yang dioleskan air.
"Ris, lukamu sobek lebar banget...." sahut Vin.
Aleris masih khwatir dengan serangan raksasa itu tidak sadar dengan ucapan Vin barusan.
"Ya!" sahut Vin seraya menepuk lengan Aleris.
"Aku tidak merasakan sakit sama sekali, aku..aku hanya panik serangab raksasa itu, kita harus cepat!" ucap Aleris.
Aleris berusaha berdiri, namun ditahan oleh Vin.
"Setidaknya aku obati dulu, dadamu yang sobek itu..."
Aleris menatap Vin, lalu Aleris membuka baju dan memperlihatkan dada bidangnya, Vin sama sekali tidak terganggu ia tetap mengobati dan membersihkan luka tersebut.
"Kau sungguh tidak tahu? asal usul raksasa itu?" tanya Aleris.
__ADS_1
Vin menggeleng cepat, "Aku hanya tahu para monster kelelawar ini, mereka teman-temanku...."
Tiba-tiba Aleris terdiam bengong, ia sudah mengingat perkataan iblis saat ia masuk kedalam ilusi tersebut, saat ingin mengatakannya kepada Vin, tiba-tiba ada batu sedikit besar yang terlempar dan jatuh dibelakang mereka, jatuh diperumahan warga, membuat mereka tersentak kaget dengan cepat mereka beranjak menghindar.
Aleris lalu memanjat keatap rumah, dan melihat jika ada sepuluh raksasa yang berjalan mendekat, ia sedikit heran karena raksasa normal tidak ada disana, bahkan hanya ada sepuluh saja yang mendekat kearah sini.
"Aku sudah lelah" gumam Aleris.
Ia lalu mengangkat kedua tangannya, mengeluarkan kekuatan tanah, tanah yang raksasa itu injak tiba-tiba keluar dan membentuk bentek pertahanan, mengelilingi sepuluh raksasa itu, hingga mereka terkurung didalam tanah yang sudah Aleris buat seperti benteng.
"Sialan!"
Aleris turun, "Kau tidak apa-apa?" tanya Aleris.
Vin mengangguk, Aleris melangkah kearah rumah untuk masuk kedalam namun ekor matanya melihat seseorang berlari kearahnya, ia tidak asing, hingga wanita itu berlari dengan cepat dan memperlihatkan tubuhnya, ia menabrakan diri ketubuh Aleris.
"Ris......" ucapnya.
Nafasnya tersengah-engah, seraya menangis tersedu-sedu. Diikuti Lidra dibelakangnya, ia menundukan kepalanya salam kepada Aleris. Vin terdiam dan syok saat melihat apa yang ada didepannya.
Ia menundukan kepalanya, seraya dengan senyuman yang ia paksa. Aleris tersentak kaget dan menerima pelukan Malucia ia memeluk erat, dan mencium leher Malucia seraya air matanya jatuh kepipi.
Aleris melepaskan pelukannya, dan menyentuh kedua pipi Malucia, "Sungguh aku melihatmu disini? aku tidak mimpi?"
"Tidak, kau tidak mimpi kau melihat aku disini..." ucap Malucia.
Lidra mendekat kearah Vin dengan sedikit panik, "Kau tidak jahat?"
Vin terbelalak, saat perkataan itu muncul dari mulut Lidra, namun yang bisa Vin katakan hanyalah tidak.
Sungguh aku mencintai Aleris atau? Randi? aku tak yakin.
Tak jauh, Agil melihat kedua manusia yang sedang berpelukan mesra, ia melihat Malucia disana, dengan tatapan yang sedikit mengintimindasi, dimana senyuman Malucia yang membuatnya rindu atau entah benci karena, persoalan yang menimpa, Agil, Randi, dan Gilang. Didalam hati Agil berbicara.
*Ucapan Aleris semakin membuatku yakin Gilang dan Randi masih hidup, karena melihat Malucia yang masih hidup sampai sekarang.
Apakah mereka memang memiliki hubungan? Cia? kau tidak mengingatku ya*?
Dan atau mungkin? ia kaget, karena Aleris dan Malucia memiliki hubungan special, yang tak terduga dihadapan Agil, Agil sudah tahu itu. Ia menundukan kepalanya, ia masih tak menyangka jika yang ia lihat Malucia.
"Pasti ada Gilang?" gumamnya dengan diri sendiri.
Argus menepuk pundak Agil, "Kau kenal?"
Agil menoleh, lalu ia menggeleng.
"Raksasa itu sudah dibentengi oleh tuan Aleris, ayo kembali dan mendoakan Jay..."
__ADS_1
"Dan sepertinya, raksasa yang kuat itu pergi, aku harap hari ini, perang berakhir" lanjut Argus.
Agil menatap Argus, lalu tanpa jawaban ia beranjak pergi begitu saja.