
Raja gevarnest menatap tajam ritual yang dilakukan seorang dukun itu, didepannya sebuah bunga tujuh rupa dan sebuah dupa disamping kanan dan kirinya, dukun itu memejamkan mata dan kedua tanganya meraba-raba diatas bunga tujuh rupa itu.
Raja gevarnest seperti tidak yakin akan hak itu karena sejak dulu yang ditemuinya adalah dukun abal-abal dimana mereka hanya menginginkan harta pemberian raja padahal mereka bukan dukun yang asli.
Raja nenyenggol lengan varegar, "Kau cari dimana?"
"Didaerah sini....karena katanya memang ada seseorang yang pintar masalah seperti ini"
Tiba-tiba dukun itu berdiri, "Petunjuk ini......" ia terdiam.
"Ada apa?" tanya raja gevarnest.
Lalu dukun itu terdiam masih memejamkan matanya.
Sejak dulu, raja gevar tidak pernah mendapatkan dukun yang asli dimana ia selalu mendapatkan seseorang yang menyamar menjadi dukun, itulah sebabnya raja gevar tidak pernah percaya akan hal itu, namun varegar bersih keras.
"Aku belum bisa menemukan apapun......." ucap raja gevarnest.
"Apa maksudmu?" ucap raja.
Varegar lalu masuk keruangan mengambil kepala makhluk aneh itu yang sudah dipotong, betapa kagetnya dukun itu ketika melihatnya, ia tersungkur.
"Apa itu tuan....."
"Seharusnya dukun tidak kaget dengan masalah seperti ini" ucap raja mendekat kearah dukun itu.
"Saya memang dukun....."
Raja gevar menendang kaki kiri dukun itu dengan keras, dukun itu masih tersungkur lalu ia berdiri.
"Jika aku bukan dukun kenapa aku mau melakukan ini"
Raja gevarnest tersenyum, "Karena kau ingin mengambil harta dariku kan dimana setelah melakukan ritual kau ingin meminta bayaran kan"
Mata dukun itu terlihat panik, raja gevar menyadari itu.
"Apa yang akan kau minta dariku? jangan sok-sok menjadi dukun tapi kenyataannya aslinya kau sebenarnya ingin meminta bayaran kepadaku"
Dukun itu terdiam, lalu raja gevarnest tertawa memenuhi ruangan itu.
"Ngaku lah kalau kau bukan dukun asli maka aku akan memberimu emas yang banyak"
Dukun itu langsung sujud dihadapan raja, ia meminta maaf karena memang benar bahwa ia hanya dukun abal-abal, dia bukan dukun asli, ia memohon untuk bisa menerima permintaan maafnya.
"Dan tolong berikan aku emas tuan" ucapnya seraya mengusap-usap kedua tangannya.
"Tidak tahu malu kau" ucap varegar.
Raja gevarnest lalu menyuruh prajurit itu untuk mengambil emas, prajurit kembali dengan membawa kain berisi emas, mata dukun itu membelalak.
"Kenapa kau harus berbohong dulu kepadaku? kalau sejak awal jujur aku mungkin bisa langsung memberimu emas yang banyak"
"Wah aku sangat terhormat raja, kau sangat baik....."
Prajurit itu menyodorkan emas ke raja gevarnest, raja menerimanya, "Kenapa kau mengaku-ngaku? menjadi dukun"
"Ya seperti itu alasannya tuan saya butuh emas itu..."
"Baiklah" ucap raja.
Raja menyodorkan kain berisi emas itu, kedua tangan dukun itu siap menerimanya, namun dengan cepat prajurit dibelakang dukun itu mengeluarkan pedang dan tanpa aba-aba menebas kepala dukun itu.
Darah itu memunculkan percikan dan mengenai wajah raja gevarnest dan varegar, varegar melotot.
"Apa yang kau lakukan" ucapnya.
Raja gevarnest tersenyum, "Kau tidak lihat bodoh!!!!!!!!! dia membohongiku"
"Bukan seperti ini caranya"
"Oh kau mendukung dukun kotor ini?"
Varegar hanya memutar bola matanya, "Bersihkan kotoran ini" ucap raja gevarnest kepada prajurit lalu ia beranjak pergi diikuti oleh varegar.
__ADS_1
Raja gevarnest membersihkan diri, ia lalu mengembalikan emas ditempat pribadinya, wajahnya masih terlihat geram, ia mendobrak meja dengan keras.
Varegar yang terdiam duduk dikursi ruangan raja tersentak.
"Kau mencari kotoran itu dimana?"
"Aku mencari disekitar sini"
"Bisa-bisanya kau mendapatkan hal yang bodoh, buang waktu saja!!!!" teriak raja.
"Maafkan aku tuan... karena setahu ku ada seorang dukun yang sangat cerdas untuk melakukan ritual seperti ini"
"Tapi kau malah mendapatkan yang abal-abal?"
Raja gevarnest geram, tidak habis pikir kenapa dia ditipu lagi.
"Kau sudah menemukan orang yang pintar mencari buku yang disembunyikan bravogar"
Varegar menunduk, "Maaf tuan belum....aku sedang mencari"
"Aku berharap kau tidak mendapatkan seseorang seperti dia lagi" raja gevarnest lalu beranjak pergi.
Pangerana arvand beranjak pergi dari kerjaan tujuannya hari ini adalah untuk latihan memanah disebuah tempat seperti lapangan khusus untuk orang-orang yang sedang latihan bela diri, tidak jauh memang dari kerajaan, namun ia rasa ia butuh mencari angin dan ingin hidup normal dimana semua orang menganggapnya orang biasa.
Arvand membawa peralatan busur panah didalam tasnya, beranjak berjalan, disetiap perjalanannya banyak orang-orang yang menundukan kepalanya menghormatinya, hal itu yangmembuatnya merasa sangat bersalah, karena orang tua pun juga menunduk ketika arvand melewatinya.
Lapangan yang luas dan dikelilingi perkebunan, banyak orang-orang berlari bela diri disana, ketika arvand datang banyak orang yang menyambutnya, menunduk menghormatinya, arvand merasa sangat tidak nyaman, arvand tahu banyak pertanyaan dari orang-orang kenapa seorang pangeran berlatih ditempat seperti ini.
Seorang remaja laki-laki mendekat, "Pangeran kau ingin berlatih dengan kami?" ucapnya.
Arvand menggelengakan kepalanya, ia hanya ingin fokus berlatih memanah sedangkan mereka berlatih bela diri.
"Ah maafkan aku, kalian fokus saja dengan latihan bela dirinya"
"Suatu kehormatan kau datang ketempat ini pangeran.." ucapnya tersenyum.
Arvand menepuk pundak remaja itu, "Sekarang anggap saja aku temanmu ya tidak usah sungkan"
Remaja itu mengangguk lalu kembali berlatih bela dirinya, arvand mulai mengeluarkan busur panah, di lapangan itu memang sudah disediakan untuk latihan memanah, memang ini adalah tempat untuk rakyat-rakyatnya berlatih bela diri, memanah, dan lain sebagainya.
Mahagaskar dan leon masih sibuk mencari tahu tentang makhluk aneh itu, beberapa jam lamanya yang mereka lakukan adalah buka tutup buku dan beberapa peta tentang teluk alaska, memang ini adalah bukan keahlian mereka namun, kebingungan ini terus menghantui mereka.
Leon meletakan buku itu dengan keras dimeja, lalu menghembuskan nafas, "Kalau aleris ingin bergabung dengan kita, semuanya akan cepat terselesaikan"
Mahagaskar menghentikan membacanya, ia membuka kacamatanya dan sedari tadi ia pakai, "Aku juga tidak akan setuju jika dia ikut gabung dengan kita"
"Hei paman.... kita berkerja seperti ini saja tidak disuruh oleh raja ini kemauan kita sendiri"
"Terus?"
"Ya kita bisa bebas mencari tahu ke aleris..."
"Maksudku...... kau tahu kan aleris tidak peduli dengan masalah ini, toh kita juga harus mencari petunjuk tentang makhluk aneh itu kan.....apakah kau tidak penasaran dan merasa kawatir?" ucap mahagaskar kembali membuka buku peta.
Leon berdiri dan membelakangi mahagaskar, "Aku tidak bisa balas dendam..." ucapnya.
Mahagaskar menatap tubuh belakang leon, leon menoleh.
"Aku tahu siapa yang membunuh ayah dan bunda tapi aku tidak bisa balas dendam dengannya"
Mahagaskar berdiri, "Kau sudah tahu lama bukan?" ucap mahagaskar, leon mengangguk.
"Entahlah tiba-tiba aku mengingat ini, rasanya sudah sewajarnya ia membunuh ayah dan bunda....."
"Apa yang kau katakan?"
"Jangan salah paham paman aku bukan membela yang salah tapi aku lebih merasa jika mereka tidak melakukan itu makan tidak akan terjadi hal mengerikan itu"
"Tapi kan..... orang tuamu membenarkan yang memang kenyataanya"
Leon menghela nafas, "Kenapa ia rela melakukan itu jika nyawa taruhannya, apakah mereka tidak memikirkan aku dan aleris?"
"Kau tidak memberitahu tentang hal ini kepada aleris?" tanya mahagaskar, leon mengangguk.
__ADS_1
"Tidak penting juga untukku"
"Kenapa kau tiba-tiba membahas hal ini?"
"Karena ku pikir setelah kematian bravogar rasanya aku meneruskan tugas mereka, menjadi seorang mata-mata tapi setelah aku pikir kembali apakah aku rela mati untuk ini, tapi memang aku masih berkerja menjadi seperti ini"
"Saat melihat jasad orang tuaku mati dihadapanku rasanya aku malah menyalahkan mereka.... karena aku pikir kenapa mereka rela meninggalkan aku dan aleris sendiri padahal masih sangat kecil, dan mereka rela melakukan itu"
Mahagaskar menepuk pundak leon, "Memang jalan pikiran orang beda-beda kau memikirkan hal itu dengan sudut pandang yang berbeda, tapi kalau sudut pandang ku adalah, mereka rela mati untuk membela kebenaran..." ucapan mahagaskar dipotong oleh leon.
"Apakah sampai mereka mati kebenaran itu terungkap?!"
Leon tersenyum, "Saat ini memang aku sedang menjadi mata-mata paman, banyak pikiran yang harus aku lakukan setiap harinya, aku selalu panik setiap saat ketika melakukan pekerjaan ini, tapi jika tidak melakukan pekerjaan ini aku tidak tahu kebusukan raja"
Mahagaskar menunduk, "Aku tahu maksudmu leon, kau tidak menggunakan kata balas dendam dalam hal ini karena kau menghargai kedua orang tuamu"
Leon meneteskan air mata seraya memukul-mukul kepalanya, mahagaskar tahu tentang penyakit mental leon, ia lelu menahan tanganya dan memeluknya.
Leon berdiri mematung menatap langit sore dibalkon kamarnya, bahkan ia juga rela melakukan apapun, lihatlah mata dan beberapa luka besar ditubuhkan, ia juga sama saja dengan orang tuanya dan bravogar apakah nasibnya akan sama seperti mereka? pekerjaan ini memang sangat menyenangkan, tapi ketika kembali memikirkan tentang orang tuanya dan bravogar rasanya ia juga sama persis dengan mereka, tapi jika bukan dirinya siapa lagi yang akan memecahkan masalah ini, tidak mungkin aleris.
"Tidak.....aku tidak ingin membuatnya menjadi semakin mendapatkan masalah....karena diriku dia menjadi keras kepala seperti itu"
Bahkan sampai detik ini leon tidak memberitahu siapa yang membunuh kedua orang tuanya, yang selama ini aleris tahu mereka mati karena bunuh diri, saat itu leon ingin memberitahu aleris karena ia pikir ia tidak terima jika yang tahu sebenarnya hanya dirinya sendiri, tapi ...
Mahagaskar datang membawa buku peta itu, ia lalu menjelaskan.
"Aku pikir teluk alaska seperti itu karena sesuatu yang telah menghasut para monster itu"
Leon lalu menoleh seraya tersentak, "Apa katamu?"
"Aku masih belum terlalu yakin, karena jika dilihat tempat suku itu sudah tidak terdaftar lagi"
Leon menatap mahagaskar tersenyum, "Lalu apa hubunganya paman?"
"Mereka mengambil alih teluk alaska itu"
Leon memutar bola matanya, "Yang menjadi pertanyaan ku adalah apakah mereka masih hidup? tapi sejujurnya suku itu telah musnah, benar-benar tidak ada yang tersisa"
"Toh bukti yang kau dapat tidak akan dipercayai oleh raja" ucap leon beranjak pergi.
Mahagaskar terdiam, "Aku hanya tidak terlalu yakin, tapi suku itu benar-benar sudah tidak ada lagi dinegeri ini, benar-benar sudah musnah tanpa tersisa, tapi memang benar apa hubunganya? dengan teluk alaska, tapi pikiranya selalu kemana-mana jika suku itu datang lagi dan mengambil alih teluk alask, emm apa aku terlalu yakin jika makhluk aneh itu datang dari suku itu?" mahagaskar menggeleng.
Sudah setelah hari arvand berlatih, hingga tak terasa tubuhnya sudah basah kuyup karena keringat, ia tidak sama sekali berhenti untuk istirahat ia terus melakukan latihannya, hingga para anak remaja itu menyuruh arvand untuk duduk istirahat dengannya namun rasanya ia harus berlatih tanpa istirahat.
Hingga tiba-tiba raja gevarnest datang dengan para pasukannya dan kudanya, ia turun, dan para anak remaja itu menundukan kepala, tanpa basa-basi raja gevarnest mengeluarkan busur panah dan memanah salah satu anak remaja itu yang masih menunduk menghormatinya.
Arvand melotot dan tersentak, berteriak untuk menghentikannya, ia berlari menuju anak remaja itu, dimana anak panah itu menempel dilengan tangan kirinya, arvand menarik panah itu, dan menutupi luka itu agar darahnya berhenti mengalir.
"Apa yang kau lakukan!!!!!!!!!!" teriak arvand, para anak remaja itu bersujud meminta ampun, arvand melihat dengan heran.
"Apa yang kalian lakukan!!!!!!!!!" ucapnya geram.
Raja gevarnest mendekat, "Karena mereka kau berani pergi keluar sampai ditempat kotor seperti ini"
Arvand kaget dengan apa yang dikatakan ayahnya itu, "Kau seorang raja bukan? kenapa kau melakukan kejahatan seperti ini, rakyat mu!!!!!!! rakyatmu tidak salah apa-apa kenapa kau melakukannya"
Dengan santai raja gevarnest menjawab, "Karena mereka berani bermain dengan anak raja"
Arvand tersentak kaget, ia tidak bisa menjawab lagi kata-kata itu, apakah wajar diucapkan oleh seorang raja? ia melihat anak remaja itu yang masih kesakitan, ia kembali duduk untuk menutup luka itu, ia merobek kain bajunya dan menali luka itu berharap darahnya berhenti, arvand meminta para anak remaja itu untuk membawanya pulang.
Para prajurit itu seperti tahu apa yang dipikirkan raja, mereka menarik paksa arvand untuk kembali, arvand mencoba melepaskannya namun sia-sia para prajurit itu sangat kuat dan ada dua pranjurit itu yang menarik paksa arvand, arvand masih berteriak melihat anak itu masih merintih kesakitan.
Teman-temannya membantu anak remaja itu berjalan, anak itu menangis seraya memeggang tangan kirinya yang terus mengeluarkan darah, arvand mencoba memberontak namun lagi-lagi hal itu sia-sia.
"Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" ucap arvand.
Raja gevarnest hanya diam.
"Kaparat!!!!!!!" teriaknya, raja tersenyum dan tiba-tiba ia meninju wajah arvand dengan tanganya yang mengepal keras.
Dengan noda darah dimulutnya, arvand tertawa hal itu tidak membuatnya takut dan hormat kepada ayahnya.
"Jangan mentang-mentang kau seorang raja!!!!" teriaknya, lalu untuk kedua kalinya raja meninju wajah arvand lagi, dan akhirnya membuat arvand tersungkur pingsan.
__ADS_1
"Bawa dia keruangan ku" ucap singkat raja gevarnest.
Hanya karena masalah anaknya keluar bermain dengan anak desa, seorang raja rela menyusulnya dan melakukan hal keji dimana anak-anak itu tidak melakukan kesalahan apapun, arvand bisa melihat itu, ia asik bermain dan berlatih bela diri, mereka menghormati raja datang, tapi dengan mudahnya raja gevarnest memanah tangan anak itu, bahkan ia juga bingung dimana letak kesalahannya.