Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Aku menyukaimu


__ADS_3

Malucia membuka matanya, saat ia mendengar suara seseorang bersuara disampingnya, ia membuka satu matanya, saat ia tersadar ia berada didalam sebuah rumah, ia menoleh kekiri, melihat Lidra yang masih memejamkan matanya, seraya perban dikepalanya.


"Kau sudah sadar?" sahut Fay.


Malucia lalu membenarkan posisi duduknya, tersentak kaget saat melihat Fay, Agil, dan Gilang dihadapannya. Agil duduk didekat jendela seraya membersihkan pedangnya, Gilang duduk menatap Malucia, dan Fay yang memyodorkan minum kepadanya.


"Entah lah, gimana situasi diluar sana, tapi sekarang malam, kita sudah beberapa hari tidak tidur..." ucap Fay.


Malucia melirik kearah Agil, tapi Agil sama sekali tidak menatapnya. Malucia menerima gelas berisi air hangat itu.


"Katanya kalian ke kerajaan? apa yang dikatakan sang raja?"


"Yang bisa kita katakan hanyalah hal yang sangat perlu dikatakan, aku percaya kepada sang raja..." ucap Fay.


Gilang memutar bola matanya.


"Kau yakin?" ucap Malucia seraya menyurup air hangat itu.


"Aku yakin, dia aku mempercayainya.."


"Entahlah, apakah aku harus ikut-ikut kau!" ucap Agil berdiri menatap Fay.


"Jika tidak ada yang berani menyerang, maka aku akan serang raja, bagaimana bisa kau mempercayai pria jahat itu, bagaimana jika tiba-tiba sang raja menyalakan Matrix itu, dan hancur semesta ini..." pekik Agil.


"Kau mau tanggung jawab? padahal hanya aku dan teman-temanku ingin pulang itu saja!" sahut Gilang.


"Aku sudah kehilangan banyak teman dekatku! jika aku melihat lagi seseorang yang dekatku mati, kau ku bunuh..."


"Apa maksutmu!" Fay yang awalnya duduk, ia berdiri dan menantang Agil.


"Lhoh? apa maksutnya? kenapa kau membunuhku? apa hubungan aku denganmu!" ucap Fay.


Agil hanya menyengir. "Aku kehilangan orangyang aku cintai, aku berjanji akan pulang bersama!!!!" pekik Agil seraya memukul tembok dengan tangannya.


Malucia menatap Agil, setelah mendengar perkataannya.


Siapa?


"Kita juga kehilangan teman dekat, Randi kau bisa lihat? dia berubah menjadi monster!" sahut Gilang.


Fay meremas rambut kepalanya, "Lalu apa yang harus aku lakukan sialan, aku juga korban disini!"


Fay melangkah mendekat kearah jendela, dan menatap ke langit kota Majetic.


"Dulu aku pernah saling berbincang dengan kakakku, aku mengatakan dengan sungguh-sungguh, tentang nasib aku dan kakakku, karena aku dan kakakku dibesarkan oleh kedua orang tua Aleris...."


"Bagaimana jika aku akan mati?" ucap anak kecil dengan kucir kuda yang menghiasi kepalanya.


Kedua tangan yang sengaja ia angkat tepat didepan api unggun, lalu seorang laki-laki yang mendekat, dan memberikan sepotong kue, ia menyahut.


"Mati? dari kemarin kau mengatakan itu terus, tidak boleh tahu..."


Anak kecil itu, menyenderkan kepalanya dibahu.


"Kak, janji jangan tinggalkan Fay sendirian...."

__ADS_1


Varegar tersenyum bugar, "Tidak lah, janji juga kau jangan sering mengatakan tentang kematian..."


"Jika suatu saat nanti ada kejadian yang mengerikan, apa yang kakak akan lakukan?"


Fay berdiri ia menatap Varegar. "Apa maksutmu kejadian mengerikan?"


"Kalau ada kedua belah pihak yang saling bermusuhan, tapi sebenarnya saling berhubungan, dan memiliki sisi buruk dan baik, kakak akan melakukan apa?"


Varegar tersenyum, "Aku tidak tahu maksutmu, tapi.....aku tidak akan berpihak keduanya, aku akan memperbaiki sendiri, tanpa harus berpihak kepada siapa-siapa...."


"Jika keduanya itu Fay dan Raja Gevarnest?"


Ucapan Fay membuat Varegar berhenti, raut wajahnya datar menatap Fay.


"Apa maksutnya itu?"


"Jawab saja..."


Varegar menundukan kepalanya, lalu ia menghelan nafas.


"Tentu aku memilihmu, kau adikku hei..."


"Aku tidak yakin dengan jawaban kakak, karena selama ini kakak selalu sibuk dengan raja..." jawab Fay dengan antusias.


Varegar justru tertawa, "Kakak hanya berlatih, kau cemburu?"


"Bagaimana aku tidak cemburu? setelah kematian kedua orang tua Aleris aku tidak memiliki apa-apa sekarang yang aku butuhkan hanyalah kakak seorang..."


Varegar memeluk Fay dengan erat, "Kakak janji, kakak akan selalu ada buat Fay, akan selalu ada dipihak Fay, akan selalu dengenrin ucapan Fay.."


***


Agil duduk didekat jendela seraya menatap gelap langit kota Majestic, berharap segera semuanya kembali normal, dan Agil bisa kembali kekehidupannya lagi.


"Gil?" sahut Malucia tiba-tiba, duduk didepan Agil.


Agil hanya menoleh lalu kembali menatap jendela.


"Bagaimana kabarmu?" gumam Malucia.


Agil masih terdiam, "Maafkan aku..."


"Kenapa minta maaf?" sahut Agil menatap Malucia.


"Tentu ini semua salahku..."


Agil menghelan nafasnya, "Ini semua terjadi karena aku..."


"Aku bersyukur akhirnya aku melihatmu..." sahut Agil tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Malucia mendongak, kaget.


"Selama aku menghilang aku sangat ketakutan, pikiranku kemana-mana, aku takut kau dan teman-temanku mati karena elang hitam itu..."


"Ternyata, elang itu justru menyelamatku aku, Gilang, dan Randi, kami selamat, selama kami selamat kami juga banyak berdebat, berusaha untuk menyelamatkanmu, dan aku sungguh sangat berterima kasih kau bertahan..."

__ADS_1


Agil menunduk, ia lalu kembali menatap luar jendela. Tiba-tiba hening, Malucia masih menatap Agil.


"Lalu? apa hubungannya kau dan Aleris?" gumam Agil, awalnya Agil menahan pertanyaan ini, tapi sepertinya rasa penasarannya lebih kuat.


Malucia mengigit bibirnya, "Aku..."


"Kau tak perlu mengatakannya deng, aku juga tidak mau tahu..."


Malucia menundukan kepalanya, ia sangat gugup dan canggung.


"Kau dimana? saja?"


Agil menatap Malucia, dengan mata sayunya, ia tidak kuat menahan rasa rindu menatap Malucia, Begitu pun dengan Malucia.


"Aku diselamatkan oleh orang-orang suku didekat hutan, ya seperti itu lah..."


"Aku juga berharap, mereka datang, menyelamatkan kita disini...." sambung Agil.


"Siapa?"


"Para manusia kerdil itu..."


"Setelah musnah para raksasa, dan jiga manusia kelelawar walaupum banyak yang menjadi korban jiwa, aku berharap mereka datang, dan membantu kami..aku tidak percaya dengan omongan Fay, bahkan dia menahanku untuk menyerang sang raja, aku terlalu lelah, maka aku diam saja kali ini, aku berharap omongan Fay dapat dipercaya karena dia seyakin itu..."


Malucia mendesah, "Aku juga berharap, kau selamat, Randi dan Gilang, agar kalian pulang...."


Keheningan datang lagi, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, membuat Agil sangat canggung.


"Kau!" ucap Agil dan Malucia seraya bersamaan.


"Kau dulu.." sahut Agil.


Dengan malu-malu, Malucia bersuara.


"Aku merindukanmu Gil...."


Suara itu membuat Agil terdiam membeku, menatap wanita dihadapannya dengan tatapan yang sangat membuat jantung Agil berdegup dengan cepat.


Agil mengigit bibirnya.


"Aku....aku menyukaimu..." sahut Malucia.


Agil terbelalak, saat mendengar ucapan Malucia tiba-tiba.


"Ap....apa?" ucap Agil gugup.


"Ini mungkin terlihat sangat memalukan, tapi aku menyukaimu sejak saat itu, sejak kau mengajariku arti jatuh cinta, dan aku memeperlihatkan kekuatanku kepadamu..." sahut Malucia.


Agil bengong, kedua pipinya memerah, ia lalu spontan berdiri.


"Tidak, bagaimana dengan Aleris!" sahut Agil.


Tiba-tiba sesuatu datang dan menghantam rumah yang ditinggali mereka, suatu jatuh dengan keras hingga samping rumah yang ditinggali mereka hancur lebur. Benda jatuh dengan keras itu memunculkan api dan ledakan tiba-tiba.


Hingga Agil mendengar jeritan Fay.

__ADS_1


"Kakak!!!!!"


__ADS_2