
Sejak lama Randi selalu berusaha melakukan apapun demi melihat adanya catatan yang tertulis dibuku yang ia dan Gilang simpan, tapi tetap seperti semula seperti awal-awal ia tidak melihat adanya tulisan. satu kata pun lembaran demi lembaran sama sekali tidak ada kata yang tertulis dibuku itu.
Sempat Randi ingin membuang buku tersebut, tapi Gilang tidak setuju dengan Randi, Gilang menyahut jika apa yang terjadi didunia ini bisa saja tercatat di buku ini. Ada perdebatan setiap hari jika Randi dan Gilang sedang membahas buku tersebut.
Bahkan setelah apa yang terjadi kepada Aleris, Randi semakin penasaraan dengannya, apakah memang benar Aleris lupa atau sengaja melupakan kejadian saat mereka bertemu dengan seseorang ditengah hutan.
Randi tidak bisa memikirkan sampai kemana-mana, otaknya berhenti hanya disitu. Bahkan ia sangat bodoh saat ia hanya mengitip saja saat itu, bukankah jika ia ikut menemui orang yang ditemui Aleris ia akan menjadi sangat tahu apa yang terjadi? apakah Randi takut?
"Haisss!!!" pekik Randi seraya melempar buku itu kelantai.
"Gara-gara buku ini aku dan kau selalu ribut!" lanjut Randi.
Gilang menundukan kepalanya.
"Sekarang lupakan buku ini, jadi apa yang kau tentang Aleris Ran?" tanya Gilang.
Randi menghelan nafas panjang, ia bahkan sudah memberitahu apa pun kepada Gilang, bahkan sampai saat ini pun tidak ada rahasia yang Randi sembunyikan dari Gilang.
"Kau selalu datang kekamar Aleris, aku pikir datang rahasi baru lagi..." sahut Gilang.
Randi memejamkan matanya seraya menjatuhkan tubuhnya ketempat tidurnya. Ada banyak rencana yang Randi pikirkan membuatnya sangat terlihat muak.
"Apa yang membuat Aleris bisa melupakan hal itu? apakah ada sesuatu mantra yang membuatnya tidak mengingat sama sekali? apakah itu monster atau siluman yang menyamar menjadi manusia dan membuat janji dengan Aleris atau orang itu membuatnya lupa akan kejadiannya?"
Tidak henti-hentinya Randi memikirkan hal itu hingga malam tiba ia masih terjaga dan posisinya masih seperti semula, terpejam menatap atap istana.
Bahkan Gilang pun sudah memejamkan matanya, tertidur pulas disamping Randi. Entah rasanya sangat jenuh Randi lalu beranjak mengambil buku dilaci, dan beranjak pergi. Ia duduk disebuah kursi taman, hanya dihiasi lampu yang tidak begitu terang.
Hujan rintik-rintik membasahi tubuh Randi yang tiba-tiba muncul, namun hal itu tidak membuat Randi menepi, ia masih melihat dengan teliti buku itu, walaupun ia tahu tidak ada sama sekali catatan tersimpan disana.
Namun ia kaget, matanya melotot seraya mulutnya terbuka lebar. Randi melihat ada satu persatu kata yang muncul saat air hujan itu mengenai buku tersebut.
"Jadi cara melihat catatan ini dengan air?" batin Randi.
Karena hujan tak kunjung turun dengan deras, Randi lalu berdiri dan melangkah ia mendekati kolam ikan didepannya, lalu ia menenggelamkan buku itu, dengan cepat berharap kalimat itu muncul juga.
Ia membacanya dalam halaman pertama yang berbunyi.
*Aku seorang buruk rupa, seorang kurcaci murahan tidak memiliki kelebihan apapun selain menjadi mata-mata, tapi kali ini aku memata-matai seseorang yang kupercaya. Karena kejanggalan terus bertambah membuatku sangat sakit kepala untuk memikirkannya.
Ada satu hal yang harus aku catat. Yang pertama aku datang kesebuah teman masa kecilku ia adalah penyihir baik, ia bisa membantuku untuk merahasiakan catatanku. Aku sangat berterima kasih kepada Bulan, karena ia memperkerjakaanku menjadi mata-mata, hal itu yang membuatku menjadi pengkhianat.
Namaku, Bravogar. Salam kenal, kepada seseorang yang bisa menemukan dan membaca teka-teki gila yang aku buat. Karena sepertinya apapun yang terjadi akhirnya akan ketahuan juga*.
Randi lalu membuka lembar kedua.
Pekerjaanku sebelum menjadi mata-mata adalah, seorang pekerja pembuat besi dikota Majestic yang indah, entah karena apa, Bulan menyuruhku datang kekerajaan untuk, ya itu.
Pertama, aku akan memberikan sedikit bocoran tentang ada banyak warga asing yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Mereka mengaku tiba-tiba datang, dan sebab saat itu semua manusia dinegeri ini dipekerjakan untuk kenikmatan rajanya. Kau paham?
Maksutku adalah, semua orang yang masuk keportal sebenarnya kurang lebih mereka ada disebuah bawah tanah, kerajaan Majestic memperkerjakan Matrix.
Pertama, aku mendapatkan banyak liontin bulan, matahari dan bintang. Karena aku sangat menyukainya aku hanya bisa menuliskan disini, dan kau bisa cari apa yang aku inginkan karena disitulah jawabannya.
Liontin bintang adalah semua orang-orang yang tersesat, jika liontin bintang ini ada disebuah papan tulis raja, maka benar mereka memperkerjakan orang-orang asing itu.
Liontin matahari adalah Matrix, kau tahu? raja sedang berusaha melakukan hal gila dengan Matrix, aku tidak bisa menjelaskan detail. Maka aku ingin kau memecahkannya.
Liontim bulan adalah Sang Raja. Ia sangat menyukai bulan, jika ia selalu menggunakan liontin bulan maka, benar kejahatannya memang benar ada, karena disetiap ia memunculkan kekuatan disitu ia akan mengambil liontin bulan, dan akan memusnahkan semuanya.
Bagaimana aku tahu? ya, kalian bisa berpikir sendiri, sampai aku sudah tahu aku akan mati.
Raja bukan baik hati untuk rakyatnya, ia hanya ingin kekuasaan yang membuatnya bisa hidup bebas tanpa ia memikirkan banyak musuh didepan sana.
Aku hanya bisa memberikan sedikit informasi, dibuku tebal ini, walaupun tulisanku sangat sedikit dan pendek. Tapi aku yakin yang bisa memecahkan adalah orang yang sudah aku percaya.
Semoga dengan ini, negeri langit biru akan kembali seperti semula.
Randi meneteskan air matanya tanpa ia sadari. Akhirnya ia mendapatkan jawabannya walaupun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, bukannkah kalimat ini sangat sulit dicerna? bagaimana bisa Randi memecahkannya. Dari mana ia akan mulai.
Ia menutup buku itu, berharap tidak ada yang melihatnya, ia menyembunyikannya didalam perut, ia berdiri seraya membersihkan sisa air matanya.
__ADS_1
"Jadi? semua ini ulah raja yang dimaksut?" gumamnya.
"Bagaimana aku bisa memecahkannya, ini sangat sulit" lanjut Randi.
Didalam gelap, ia hanya terdiam menatap kolam ikan, ia melihat bayangannya diair, ia bisa melihat wajah Randi yang begitu mengerikan.
"Liontin?" gumamnya.
"Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana liontinnya, apakah ini masuk diakal, kenapa aku bodoh soal hal seprrti ini" Randi memukul kepalanya.
Dengan raut wajah yang ketakutan, ia berjalan tergesa menuju kamarnya, namun ditengah perjalanan Aleris mendapati Randi. Randi tersentak.
"Kenapa kau basah kuyup? kau hujan-hujanan?" tanya Aleris, tubuhnya menyender ditembok.
Randi menggeleng, "Minggir...."
Aleris menyipitkan matanya, "Kau kenapa?" sahut Aleris.
Namun Randi tiba-tiba teringat, bukankah dia sangat penasaran dengan kota Majestic.
"Aku ingin menanyakan sesuatu" ucap Randi.
Aleris berdiri tegak, ia mengangguk dan siap mendengarkan pertanyaan Randi.
"Apa yang kau rasakan saat mendengar kota Majestic.."
Mata Aleris terlihat sangat terintimindasi oleh perkataan Randi. Aleris memutar bola matanya seraya ia memikirkan apa yang ia rasakan saat mendengar kota tersebut.
"Hanya saja aku sudah kenal sejak aku kecil, jadi yang aku rasakan saat mendengarkannya adalah, kota kecilku..."
Randi masih menatap sinis kearah Aleris.
"Kau tidak niatan mengajakku ke sana kah?" ucap Randi.
Aleris terbelalak, "Aku sudah ingin mengajakmu waktu itu, tapi situasinya tidak mendukung..."
Randi menghelan nafasnya, "Minggir..." ucap Randi seraya beranjak pergi begitu saja meninggalkan Aleris.
"Apa yang terjadi dengan bocah itu?" gumamnya.
Malam hingga pagi, Randi tidak pernah lepas dari buku itu, ia masih melototi bacaanya, ia sedang berusaha memikirkan dan menetralisir.
"Tentang apa yang aku lihat, dan yang aku ragukan, apakah benar? tentang dunia ini yang masih janggal..." gumamnya.
Tidak begitu yakin apa yang direncanakan didalam otakknya, tapi yang bisa Randi ambil dari pikiran gilanya adalah apa yang selalu membuat penasaraan Randi, dan ia selalu menduga-duga tapi ternyata benar adanya.
*Tentang raja yang sudah aku duga ia mempermaikan dunia ini, tentang para monster yang sedang berkeliaran, aku tidak bisa menyebutnya siluman, monster atau iblis, tapi setelah aku membacanya, semua memang karena ulah raja.
Maka? apa yang akan aku lakukan untuk memusnahkan sang raja? aku sangat ingin balas dendam karena, raja yang menguasai dunia ini tidak memikirkan apa yang terjadi, sekarang? apa yang aku dapat, apa yang aku rasakan, apa yang selama ini aku pikirkan, benar-benar diluar akal sehat*.
Gilang tiba-tiba memukul meja dengan keras membuat Randi tersentak kaget.
"Siang-siang kau sudah melamun, kenapa Ran?" ucap Gilang.
Untungnya, Randi sudah menyembunyikan buku tersebut.
"Aku hanya, tidak bisa tidur semalam..."
"Kenapa?"
Randi hanya menggeleng tidak tahu.
Satu hari penuh ini, yang ada dipikiran Randi adalah mencari tahu sesuatu bukankah ini sudah saatnya ia beraksi?
Tidak, aku tidak akan memberitahu Gilang, aku akan memberitahu dia jika semuanya sudah terpecahkan.
Randi menatap Gilang, membuat Gilang sangat terlihat kebingungan. Randi beranjak ia akan menuju ke ruangan Aleris, ia bisa melihat Aleris sedang sok sibuk membaca buku menghadap jendela.
Tanpa mengeluarkan kata, Randi masuk begitu saja.
"Dengar!" sahut Randi tiba-tiba membuat Aleris menoleh dengan kebingungan.
__ADS_1
"Lain kali, kau bisa mengetuk pintu terlebih dahulu..." gumam Aleris.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu, aku masih penasaran dengan aksi gila yang sama sekali kau tidak ingat itu..."
Aleris menghelan nafasnya, "Sepertinya aku harus mengatakannya..." ucap Aleris berdiri.
Randi terbelalak, "Apa? kau tahu sesuatu?"
Aleris menggeleng, "Tidak, kau ingat kan aku pernah pingsan, saat itu aku melihat ada seorang laki-laki berjubah hitam mengerikan diotakku, tiba-tiba aku tidak bisa yakin siapa dia, apakah iblis yang selama ini membuatku pusing memikirkannya atau kah...." ucapan Aleris terpotong oleh perkataan Randi yang tiba-tiba menyahut.
"Apa? apa!" gumam Randi.
Aleris tersadar, ada satu kalimat yang telah ia lontarkan tanpa sadar, kalimat yang seharusnya tidak ia bicarakan dengan orang sembarangan.
"Tidak, aku hanya salah bicara..."
Randi melotot, "Tidak! aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan?"
Aleris memejamkan matanya, sepertinya memang ia tidak bisa menyembunyikan rahasia, apalagi dengan Randi. Ia ragu apakah ia harus mengatakannya atau tidak.
"Tidak, aku akan menjaga rahasia, mana mungkin aku akan membeberkan ke orang banyak, toh aku hanya orang biasa disini tidak ada apa-apanya" Sahut Randi.
"Saat ini yang sering aku ceritakan tentang banyaknya para monster, salah satu diantara mereka adalah seorang anak buah iblis, entah aku tidak bisa membedakannya, ada beberapa hal yang muncul berkaitan dengan iblis, tentunya kau tahu? monster aneh yang kita temukan, mereka adalah anak buah iblis.. entah aku sedang banyak pikiran jadi aku hanya bisa menjelaskan hal ini kepadamu..."
Randi seperti sedang memikirkan sesuatu, "Apakah yang kau temui adalah seorang iblis? logika saja, kau pingsan dan kau melihat didalam mata tertutup ada seorang berjubah hitam muncul, siapa lagi kalau bukan iblis yang datang?"
"Aku adalah orang yang, dimana jika tidak melihat dengan mata kepalaku langsung atau tidak ada bukti, aku tidak akan meyakinkan atau tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang-orang..." sahut Aleris dengan cepat.
"Apakah sejak kecil kau terlihat bodoh seperti ini?"
"Aku tidak akan yakin dengan keputusanku, jika belum aku lihat dengan mata kepalaku sendiri..."
"Tapi logika saja!!!" pekik Randi.
"Kenapa? kau ingin membantuku? memusnahkan para iblis itu?" ucap Aleris seraya melangkah maju kedepan wajah Randi.
Randi memejamkan matanya, "Semoga kau lekas pulih dari lupa ingatanmu..." ucap Randi seraya beranjak pergi.
Aleris meremas rambutnya, seraya mendesah.
"Kenapa mulutku sangat ringan...." gumamnya.
Benar, Aleris adalah orang yang sangat berhati-hati, sangking berhati-hatinya ia sangat terlihat bodoh. Tentu hal itu mengusiknya namun lagi-lagi ia tidak perduli, ia tetap akan menjadi seperti ini.
Bukanlah sifatnya yang seperti ini ia dapat dari ayahnya? seorang pekerja keras namun sangat hati-hati.
Randi berlari kearah kolam ikan tiba-tiba, dimana diarea itu ada dua seorang wanita yang masih terduduk untuk memberikan makan kepada ikan tersebut. Malucia dan Lidra mereka tersentak saat Randi berlari dari jauh dan kemudian lompat terjun ke kolam ikan tersebut, membuat airnya terlempar kemana-mana.
"Apa yang kau lakukan!!!!!" pekik Lidra seraya membersihkan bajunya yang basah.
"Yang benar saja....." sahut Malucia.
Randi masih berenang tanpa memikirkan celoteh mereka berdua. Kepalanya muncul lalu tersenyum seperti meledek.
"Kolam ikan ini kan juga bisa untuk berenang aku kan?" tanya Randi.
Lidra memalingkan wajahnya.
"Sangat segar dicuaca yang seperti ini..."gumam Randi.
"Kenapa kau? tidak seperti biasanya..." sahut Lidra.
Bukankah rencananya sangat mulus sekarang, tujuannya hanya satu pergi ke kerajaan Majestic dan menemukan jawabannya. Ia tidak akan pernah tahu bagaimana mengerikannya itu, tapi ini adalah untuk kebaikan apa yang tidak mungkin? semuanya bisa terjadi begitu saja.
Saat ini bahkan Randi sudah paham, siapa iblis yang sebenarnya, yaitu raja. Tidak henti-hentinya Randi tersenyum, apakah tidak akan lama lagi ia bisa kembali kerumah dan menjalankan aktifitas lagi, ia juga akan segera menemukan Agil dan pergi bersama untuk kembali pulang.
Dengan adanya buku ini, aku akan sangat berterima kasih, awalnya aku sangat muak karena aku tidak bisa melihat catatan yang ada didalam buku ini, tapi karena kecerdasanya ia akhrinya menemukannya, semesta memang sedang membantunya.
Ia akan pergi menuju kerajaan Majestic, ia akan memberikan jawaban kepada semua orang, kejahatan raja yang sebenarnya.
Bahkan tidak sebanding dengan orang-orang diduniaku.....
__ADS_1