Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Iblis


__ADS_3

Agil terbangun ia mendengar suara auman monster, ia tersentak. Jay dan tea mengatakan jika argus sedang mengurus hal penting dikerajaan, agil mencari-cari keberadaan argus memang dipenginapan tidak ada sosok argus.


Namun ia teringat dengan kejadian tadi malam, dimana ia melihat seorang wanita yang sedang mengejar seorang berjubah, agil pikir itu tidak terlalu mengerikan, karena dipikirannya adalah seorang pasangan yang sedang berkelahi, namun saat matanya menatap wanita itu rasanya ada perasaan yang aneh.


Saat itu agil sangat ketakutan ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam.


"Sialan..." umpatnya ia beranjak.


Jay ikut beranjak menghalangi agil diambang pintu, agil menatap jay.


"Kenapa jay?" gumam agil, jay hanya menggeleng.


"Paman menyuruhmu untuk diam disini, tidak usah banyak bertanya dan patuhi saja...." ucap tea seraya menyeruput air minum.


Agil yang tidak terima dengan perkataan tea barusan membuatnya geram.


"Diam saja?" mata agil melolot.


Jay memeggang kedua pundak agil, ia menahan agil untuk tidak mengeluarkan emosinya.


"Gil ada urusan rahasia mungkin yang tidak mungkin kita ketahui jadi ia menyuruh kita untuk diam disini..."


Tapi lagi-lagi agil menduga ada hal yang terjadi disana, entahlah ini ada hubunganya dengan wanita itu atau bukan yang terpenting, agil harus datang menjemput argus.


"Jay..aku hanya ingin melihat paman, tidak akan lama..." ucap agil.


Jay menatap tea, namun karena pasrah tea mengiyakan seraya memutar bola matanya.


Agil lalu keluar seraya mengambil busur panah ditasnya, sempat ditahan oleh jay, namun sekali lagi agil menyakini jika ia mengambil busur panah hanya untuk berjaga-jaga.


"Sebegitu kawatirnya kah kepadaku?" gumamnya diperjalanan seraya tersenyum.


Agil tersentak ketika melihat seekor monster mengerikan yang sedang mengamuk didepan kerajaan. Agil yakin jika argus pergi saat ini, berarti artinya ia ikut membantu.


Dengan kekuatan yang seadanya, agil nai keatap rumah lalu ia menuerang dengan busur panahnya, hingga monster itu bisa mati dengan tangan agil.


"Siapa yang memanah tepat sasaran?" tanya raja kepada aleris.


Aleris masih duduk terdiam menatap jendela, ia berharap monster itu tidak hidup lagi, mereka sedang menunggu para zero datang untuk menyenggel mosnter ini.


Aleris tersadar ketika raja menepuk pundak aleris, membuatnya tersentak.


"Maaf tuan....." jawabnya singkat.


"Kau tahu siapa yang memanah itu?"


Aleris menatap raja jesper, "Aku juga tidak tahu....."


"Aku akan mencari diseluruh kota lander, apakah masih ada yang tersisa disinii..." ucap raja jesper beranjak.


Para prajurit itu lalu bergegas untuk mengelilingi setiap ujung kota lander, mencari apakah masih ada yang tersisa monster disekitar.


Aleris beranjak menatap senggelnya didepan, ia berharap seggelnya ini bertahan lama, aleris juga tidak bisa memprediksi kapan para zero itu datang. Karena mereka satu-satunya yang bisa menyenggel monster kelelawar ini.


"Apa yang membuat kalian menyerang saudara-saudaraku? apakah ada sesuatu yang aku tidak tahu? bukankah aku sudah tahu semua?" gerutu aleris.


Tiba-tiba para zero itu datang, mendaratkan elang miliknya, ketiga zero itu lalu menundukan kepalanya.


"Akhirnya kalian datang kesini..."


"Waktu aku sedang salam perjalanan, aku bertemu dengan anggota kalian, mereka menyenggel monster dengan mutiara didalam botol.."


Salah satu zero itu langsung menyahut, "Iya tuan...itu merupakan mutiara buatan priest kami..." ucapnya.


"Kalian membawanya?"


"Pasti tuan.." zero itu mengangguk.


Lalu aleris memejamkan matanya, ia akan menghancurkan tanah yang menjadi segel monster itu, tapi ketika segel itu hancur monster itu berubah menjadi seeorang wanita.


Para zero itu tersentak, "Kalian pernah melihat seperti ini bukan? seorang manusia yang bisa berubah menjadi monster..."


Para zero itu mengangguk, namun mereka mengantakan jika wujud wanita ini baru pertama kali mereka jumpai. Aleris lalu menceritakan tentang monster kelelawar waktu itu, dimana ia melihat tiga para zero berubah menjadi seekor monster, namun ternyata mereka telah dimasuki oleh monster kelelawar tersebut.


Para zero itu juga menjelaskan jika memang ada banyak jenis monster, jika mereka tidak hati-hati dalam penyerangan, maka yang akan terjadi adalah seperti yang dialami oleh anggota mereka.


"Tuan kami memang dalam misi penyelidikan, tapi yang telah kami dapatkan adalah ada tiga jenis monster kelelawar. Yang pertama adalah berbentuk asap dimana ia bisa merasuki jiwa dan raga manusia, yang kedua berwujud manusia yang mengeluarkan api, dan yang ketiga adalah wujud dari monster kelelawar yang memiliki tiga kepada yang tumbuh dari lehernya, masih sedikit anggota kami yang menjumpai monster yang ketiga ini, karena semakin hari monster kelelawar mudah kita jumpai tapi hanya dua jenis saja, apa karena sedang musim seperti kelelawar banyak yang berlalu lalang..."


"Tidak.. aku yakin mereka iblis...." sahut aleris.


Para zero itu saling menatap, "Beritanya masih simpang siur tuan...tapi saya janji ketika kami yakin dengan penyelidikan kami, kami akan memberitahu tuan aleris" ucap para zero itu, lalu aleris mengangguk.


Dengan cepat, zero itu menempelkan mutiara kedahi wanita itu, tanpa adanya asap, seketika tubuh wanita itu masuk kedalam mutiara, dan ia masukan kedalam botol.


Para zero tanpa basa-basi langsung berpamitan untuk pergi. Aleris masih berdiri.


"Kenapa ada banyak monster!!!!!! membuatku semakin pusing!!!!" pekiknya.


Ada banyak prajurit yang memasuki rumah penduduk satu sama lain, pencarian itu dilakukan hingga pagi tiba, tapi mereka tidak menemukan tanda-tanda adanya sisa monster disana, terutama aleris ia tidak merasakan adanya hawa panas atau monster lagi disini.


"Kau kerumah bordil itu lalu kau menemukan wanita monster itu?" ucap raja jesper tanpa merasa bersalah, dimana ia mengatakan hal itu saat ada banyak penduduk dan para prajurit.


Aleris memejamkan matanya malu, lalu ia mengangguk.


"Akhirnya kau tergoda, yang kau ajak kekamar wanita itu?" ucap raja, ucapanya semakin menjadi-jadi membuat aleris semakin terlihat malu.

__ADS_1


"Tuan kecilkan suaramu......"


"Baiklah aku harap tidak ada lagi monster disini yang menyamar menjadi manusia, pencarian kita, kita hentikan disini.....warga-warga mohon maaf atas ketidaknyamanannya, tapi saya ingin kalian melapor ke prajurit, jika ada keanehan"


Lalu warga-warga menundukan kepalanya, untuk menghormati raja jesper yang beranjak pergi.


"Aku ingin datang ketempat argus, kau ingin ikut?" ucap raja jesper didalam perjalanan.


"Tapi tuan...aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu.." ucap aleris.


"Kau akan pulang kan hari ini?" tanya raja jesper.


Aleris mengangguk.


"Baiklah bicara sekarang disini..."


"Saat aku dalam perjalanan kesini, aku menyerang monster kelelawar sama dengan wujud itu, tapi bedanya ini berbentuk asap.."


Aleris menceritakan secara detail dimana saat ia menyerang monster itu, ia menjelaskan tentang jenis-jenis monster yang sempat para zero itu ceritakan kepadanya.


"Zero itu sudah menyenggel?" tanya raja jesper.


"Jika ini ada hubunganya dengan suku itu.... maka cara balas dendam mereka sangat lah mengerikan..." lanjut raja jesper.


Mata aleris terbelalak.


"Jika memang ini ada hubunganya...akan segera terpecahkan, akan ku kabari...." ucap raja jesper beranjak pergi.


Aleris merasa sangat bingung dengan jawaban sederhana dari raja jesper, "Apakah sebenarnya ia tahu semua apa yang terjadi?"


"Tuan....terima kasih!" pekik aleris, raja jesper tanpa menoleh ia melambaikan tangannya.


Agil masih terduduk, ia masih terbayang-bayang tentang seekor monster mengerikan itu, ia sangat terkejut jika busur panahnya bisa mengenai mata monster itu, tak pernah terbayangkan jika ia berhasil mengalahkan monster itu.


Diluar kamar, disebuah koridor penginapan, agil terduduk ia biarkan sinar matahati menyinari tubuhnya, toh ini sangatlah hangat, dimana pagi hari sangat baik untuk waktunya menjemur tubuhnya.


Agil berdiri setelah tabib itu keluar dari kamar diikuti tea dan jay.


"Apakah dia baik-baik saja?" ucap agil.


"Hanya lengannya retak sedikit, sudah aku obati, dia harus lebih banyak istirahat dan meminum ramuan yang sudah aku berikan" ucap tabib itu, seraya beranjak pergi, tea mengantarkannya.


Agil menatap jay dengan tersenyum.


"Kau sudah sangat keren gil..." ucap jay.


"Kan semuanya berkat dirimu jay..."


Tiba-tiba jay memeluk agil, ia menabrakkan diri kedada agil yang bidang, ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


Masih terkejut dengan apa yang jay lakukan, agil lalu menerima pelukan jay, ia memejamkan matanya seraya mengelus kepada jay dengan lembut.


"Eekkhemmm..." ucap tea yang tiba-tiba datang.


Masih tidak digubris dengan agil, namun jay yang mulai sadar ia mencoba melepaskan namun agil menahannya, ia tidak memperdulikaj tea, ia masih ingin memeluk jay.


"Eekkhem..." namun tiba-tiba suara ini semakin berat, berbeda dengan suara tea.


Agil membuka matanya, lalu ia terkejut saat siapa yang datang, ia mendorong jay spontan hingga ia hampir terpeleset, lalu mereka menundukan kepalanya.


Raja jesper datang dengan kedua prajurit dibelakangnya.


"Maaf tuan..." ucap agil seraya menundukan kepalanya.


Raja jesper tertawa, "Hahahah tidak apa-apa aku sering melakukan itu...." ucap raja jesper, lalu tea mempersilahkan masuk.


"Jay, jay...maafkan aku, aku terlalu keras ya mendorongmu?" ucap agil kawatir.


Jay hanya tersenyum.


"Kau baik-baik saja?" tanya raja jesper, tea mempersilahkan raja duduk.


Argus masih terduduk seraya menyandarkan kepalanya ditembok.


"Maaf membuatmu jadi begini..." ucap raja jesper.


Namun segera argus membantah.


"Tidak! bukankah ini karena kemauman ku sendiri...."


Raja jesper mengisyaratkan agar tea pergi, namun tea masih tidak sadar.


"Em tea...." ucap argus.


"Ah iya!!" lalu ia berdiri dan menundukan kepalanya pergi.


"Kau bisa datang ke kerajaan dan aku bisa mengobati lukamu" ucal raja jesper.


Argus tersenyum.


"Siapa monster itu?" tanya argus.


Raja jesper menjelaskan asal mula yang terjadi.


"Beritanya masih simpang siur, tapi kau tahu kan? monster itu asalnya dari mana? yap betul sekali teluk alaska, aku harap aku bisa menemukan jawabanya segera, dan aku kasih kabar.."

__ADS_1


Argus mengangguk.


"Kenapa mereka datang menyerang kerajaanmu?" ucap argus.


Raja jesper menggeleng, "Karena bukankah mereka memiliki akal? dimana mereka pasti akan menyerang simbol dari kota lander yaitu kerajaan kan?" ucap raja jesper.


Argus sadar ada yang disembunyikan, namun sepertinya argus tidak berhak ikut campur.


"Aku sudah mengatakan beberapa kali, jika kau dengan anggotamu untuk tinggal disini...bukankah lebih aman disini?" ucap raja jesper.


"Setelah kejadian itu, aku hanya ingin hidup menderikan serikat sendiri, jadi aku tidak ingin menggantung orang lain..."


Raja jesper memutar bola matanya, "Dengar akan ada banyak monster yang datang sekarang, aku ingin kau membawa semua pasukanmu kesini..."


Namun argus selalu menggeleng jika ia tidak perlu untuk tinggal disini.


"Dengar kau akan lebih mudah mendapatkan senjata..."


"Aku masih penasaran dengan monster itu bisakah kau menceritakan kepadaku?" ucap argus mengalihkan pembicaraan.


Raja jesper menghela nafas.


"Aku masih bingung dengan adanya orang-orang asing tersesat disini, ditambah lagi berita adanya monster yang semakin hari semakin datang berlalu lalang disini, karena hal itu aku sedang mencari tahu....."


Argus mengangguk, "Baiklah...."


"Kau bisa kan tinggal disini? aku tidak ingin kau merasakan kesedihan lagi.."


"Jadi kau mendoakan terjadi sesuatu dengan anggotaku?"


"Tidak!" raja jesper menyahut cepat.


"Maaf sebelumnya karena aku terbawa emosi, tapi aku mohon aku sedang dalam masa pemulihan, kalau sudah tidaka da yang penting kau bisa pergi" ucap argus menundukan kepalanya.


Dengan menghelan nafas karena perkataan argus, raja jesper lalu pamit, ia membuka pintu.


Ia sudah disambut agil, ia menghalangi langkah raja, "Tuan maaf sebelumnya saya ingin bertanya.."


Jay dan tea terkejut saat tiba-tiba perlakuan agil lancang.


"Baiklah..." jawab raja.


"Saya hanya ingin bertanya tentang ini..kau tahu kan aku dan mereka bukan asal dari negeri ini, kami tersesat..."


Mata raja jesper melirik sebentar kearah jay dan tea.


"Jadi kenapa bisa kami berada disini?"


"Dengar karena aku juga sedang mencari tahu tentang masalah ini, jadi aku tidak tahuuu..."


"Lalu kau tahu teman-temanku? seseorang yang dibawa oleh elang hitam? apakah mereka ada disini?" ucap agil, nada bicaranya berubah.


Raja jesper yang tadinya beranjak pergi, lalu ia menghentikan langkahnya.


Tanpa menoleh raja jesper berkata, "Tidak ada siapa-siapa yang datang kesini...." ucapnya seraya beranjak pergi.


"Tapi kau mengetahui jika ada manusia yang tersesat disini...... menjadi budakmu!!" teriak agil seraya mengikuti langkah raja, namun jay dan tea berhasil menahan agil.


Agil menjatuhkan tubuhnya, "Kaparat!" agil mengumpat.


"Sudah aku katakan bukan dikota lander jawabanya...."


"Kota majestic ibu kota negeri ini..." lanjut tea.


Agil mendengarkan nada bicara tea yang seperti meledek dirinya, lalu ia berdiri dan menampar tea.


"Sudah aku biarkan kau berbicara seenaknya denganku!!" pekik agil.


Jay yang terkejut lalu menghentikannya, ia memeggang lengan agil.


"Lepaskan aku jay!!!"


Tea memeggangi pipinya.


"Lagi!!!!!! lagi!!!! tampar aku, tonjok aku!!! bunuh aku kalau perlu!!!" teriak tea seraya memukul-mukul pipinya, mengisyaratkan agar agil melakukan yang tea suruh.


"Hentikan.." teriak jay membuat agil mundur.


Jay lalu memeggang lengan tea dan membawa tea masuk kedalam kamar.


Agil masih terdiam disana, ia memejamkan matanya, rasanya ia lelah harus menunggu waktunya tiba, bahkan seseorang yang berkuasa disini saja tidak tahu ala yang terjadi.


"Sebenarnya apa yang disembunyikan? kenapa masalah tidak berkurang namun malah semakin bertambah?" gumam agil.


Jika agil mati maka ia tidak akan bisa menyelamatkan randi dan gilang, lalu ia tidak akan mendapatkan jawaban tentang negeri gila ini, tapi jika ia masih bertahan sampai saat ini, kapan? kapan ia akan tahu jawabanya.


Semuanya seakan musnah dimata agil, dimana tidak masalah ini saja yang agil rasakan, semakin ia tinggal dinegeri ini ada banyak rintangan yang tidak masuk akal menurut agil.


Dimana ia seperti bermimpi, tidak pernah ia bayangkan akan menjadi seperti ini, kenapa ia harus berpisah?


"Kenapa!!!!!" teriaknya memenuhi tempat penginapan itu, ia tidak perduli dengan omongan orang-orang disana, yang menyuruhnya untuk diam.


"Apakah aku harus diam bodoh disituasi seperti ini?!!" teriaknya.


Ia meneteskan air matanya, kali ini ia benar-benar menangis sejadi-jadinya, ia sangat lelah fisik dan mentalnya, rasanya ia tidak bjsa menyelamatkan randi dan gilang, bayangkan agil ia tidak akan bisa menyelamatkan randi dan gilang, pikiran agil selalu terlintas jika pada akhirnya ia akan mati.

__ADS_1


__ADS_2