Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Dimulai


__ADS_3

Argus menatap api unggun didepannya, ia menghembuskan nafasnya panjang, lalu kembali menatap agil.


Agil dengan sedikit takut lalu bertanya.


"Kenapa kita semua bisa tersesat disini?"


Argus mendengus.


"Akan ku jelaskan, bahwa alam mu dan alam ku itu berbeda alam ku seperti kau bisa melihatnya, tapi memang benar-benar ada, dimana pun kau mencari pasti ada, dan sesuai pertanyaan mu kenapa kau bisa tersesat disini, entahlah aku juga tidak tahu, kita akan mencari tahu kebenarannya bersama-sama, bukannya aku merahasiakan karena aku benar-benar tidak tahu, selama aku disini aku tahu ada alam yang berbeda disana tapi aku tidak tahu cara untuk menunju ke alam mu, paham? Aku harap kau bisa mencari bersama dengan kami, karena kami disini juga sedang mencari tahu" argus membuang muka menatap api unggun.


Mata agil seperti tahu apa yang dirasakan oleh argus itu, ia selama ini terlalu tidak sabaran, benar ini adalah perjalanan, seharusnya ia menunggu apa yang dikatakan oleh semua orang "kita akan mencari tahu" tetapi agil sesalu bertanya kepada orang baru seolah-olah mereka tahu, padahal mereka juga sedang mencari tahu.


Argus menepuk pundak agil.


"Tenang gil, kau akan selamat jika kau bersama kami, tujuan mu saat ini adalah mencari kebenaran"


"Lalu? Tujuan kita ke kerajaan itu?"


"Benar sekali, kerajaan alastor kalau kau belum tahu"


Dengan mata yang berkaca-kaca agil meminta tolong.


"Tolong teman-teman ku" matanya mengalir begitu saja, sudah sejak lama ia pendam.


"Mereka di culik oleh elang-elang raksasa"


Argus menatap tajam, lalu menepuk pundak agil.


"Kami tolong, tenang saja" lalu argus meninggalkan agil yang duduk menangis itu.


"Tapi tidak untuk saat ini, aku tahu mereka, teman-temanmu pasti akan selamat"


"Kenapa tidak untuk saat ini, jika kita telat?....."


Argus memotong pembicaraan agil, "Sebenarnya elang hitam itu diutus oleh seseorang, namun kami tidak tahu persis siapa mereka, kau dibawah oleh peri kan? aku yakin mereka membawa ketempat aman"


"Tapi aku ingin menolong mereka sekarang juga!"


Argus menyakinkan agil bahwa ini bukanlah hal yang tepat untuk menyelamatkan mereka, ada hal yang harus dilakukan disini jika ingin menyelamatkan seseorang.


Jay dari kejauhan menatap agil, ia menundukan kepala, ia juga merasakan kesedian agil, ia merasakannya, lalu jay mendekat.


Menepuk pundak agil dengan lembut dan duduk disampingnya, tiba-tiba kepala agil terjatuh di pundak jay, agil masih terisak, lalu dengan sigap jay memeluk tubuh agil dan menenangkannya.


***


"Kita ada dimana?" Gilang berucap.


Randi, gilang, dan malucia dibawa disuatu tempat yang gelap dan basah, sangat menjijikan, seperti ruangan bawah tanah? tangan mereka diikat dengan erat, mata mereka ditutup oleh kain.


Tubuh mereka tergelatak begitu saja, ruangan itu sangat sempit, seperti didalam goa yang gelap, ruangan yang bau, dan terdengar suara air beberapa kali berjatuhan, malucia seperti tahu tempat ini, diruangan bawah tanah, dimana kalau bukan di bawah tanah, karena tekstur tanah yang mereka injak basah, aroma tanah dan air mengalir dari sumber mata air.


Tiba-tiba datang seseorang, dengan kasar seseorang itu menarik kain dari mata mereka.


Mereka bertiga kaget dengan apa yang dilihat mereka dan benar mereka di ruangan bawah tanah seperti goa, tempat yang lembab dan bau, hanya ada beberapa obor dari kayu yang terselip dibagian sisi-sisi goa.


"Tempat apa ini!!!" Ucap malucia.


"Siapa dia?" Randi mengode menyenggol lengan malucia karena posisi tangan mereka masih diikat.


Malucia hanya menggeleng tanda tidak tahu.


Seseorang itu menggunakan baju seperti prajurit, dan wajahnya ditutup topeng, postur tubuhnya besar san ada jenggot yang mengintip dari bilik topengnya, dibelakang tubuhnya ia membawa wadah dan anak panah.


Orang itu hanya diam dipojok batu-batu goa.


"Aku tanya sekali lagi, siapa kau?" Teriak malucia.


"Kalian istirahat saja disini, kalau sudah waktunya, maka akan ku lepaskan kalian" ucap orang itu tanpa basa-basi, lalu ia beranjak mengeluarkan pisau dan memotong tali dari tangan randi, gilang, dan malucia.


Setelahnya ia hanya diam lalu beranjak pergi.


"Sialan, heiiii kau!!!! Kembaliiii dimana kitaa!!!!!" Malucia beranjak lalu mengejar orang itu.


"Breg!!!!!!"


Tiba-tiba orang itu menurunkan besi dari atas, dan benar mereka dikurung di goa itu, mereka seperti dipenjara di balik jeruji besi, dengan sengaja orang itu menutup dengan keras didepan mata mereka.


Apa kita dikurung? Batin malucia.


"Apa maksutnya ini?" Randi lalu beranjak dan berjalan menuju malucia yang masih bengong di depan jeruji besi itu.


"Kau membohongi kami?" Ucap randi.


"Ini kah akhirnya?" Lanjut randi.


"Tunggu....ak.." kalimat malucia dipotong oleh teriakan randi.


"AK APA?!!!!" Randi berteriak dengan keras.


"Kau menjebak kami kan? Elang-elang brengsek itu adalah anak buahmu bukan? Sudah aku duga kau tidak bisa di percaya sialan!!!" Teriakan randi memenuhi ruangan bawah tanah itu, bergema sehingga terasa sangat keras.


Gilang hanya duduk pasrah, melihat mereka, dipikiran gilang adalah randi benar kali ini.


"Kita kehilangan agil!!!! Agil!!!!!!!"


Beberapa kali umpatan randi yang randi keluarkan, emosi nya seperti bergelojak setelah mereka dibuang seperti ini, rasa sedih dan kecewa randi ia keluarkan di depan wajah malucia.


"Maaf" ucap lirih malucia, ia hanya mengucapkan satu kata seraya raut wajahnya yang kecewa.


"Maaf? Apakah cukup disituasi seperti ini bodoh!!!"


"Aku tanya? Apa yang akan kita lakukan disini? Coba kau bisa jawab pertanyaan ku" lanjut randi.


Gilang yang sendari tadi diam, lalu beranjak menyusul randi dan malucia.

__ADS_1


"Dibalik jeruji besi seperti ini, dibawah tanah yang kotor seperti ini, bau, basah, gelap, masih saja bertengkar dan tidak berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar?"


Randi menatap tajam gilang.


"Setidaknya kau berhasil mengeluarkan gejolak emosimu, aku setuju, tapi dikeadaan seperti ini, emosi bukanlah hal yang bagus untuk menyelesaikan masalah" ucap gilang.


"Aku tanya padamu cia, apakah kau bersengongkol dengan mereka?" Lanjut gilang.


Malucia dengan sigap menjawab.


"Tidak!!!! Aku benar-benar tidak tahu, benar aku tidak tahu, aku mohon kepada kalian percaya lah padaku"


"Kalau begitu buka besi ini dengan kekuatanmu" jawab randi.


"Kalau kau bisa tahu apa yang aku alami kau mungkin akan percaya, kekuatanku bukan kekuatan yang sangat kuat, ini adalah energi angin biasa" suara lirih terdengar diseluruh ruangan.


"Sial!!!!!" Randi mengumpat seraya membuka baju, mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya dan membanting nya.


Gilang dan malucia sontak kaget.


"Aku pikir buku ini dibawah oleh agil" tanya gilang.


"Aku yang membawanya" ucap randi malas.


"Bagaimana kau bisa?" Gilang seperti berfikir.


"Kau menyimpanya di celana dalammu?" Lanjut gilang.


Randi hanya mengangguk.


"Bagaimana bisa? Apakah nyaman?" Tanya gilang polos.


"Haisss!! Tadi sebelum mereka menangkap kita, aku simpan diperut, dan waktu mereka mengikat tangan kau, dengan cepat aku plorot ke bawah sampe ke ****** *****"


Tiba-tiba gilang menahan tawa.


"Sialan betapa lucunya kau disaat seperti itu ingin ku foto" gilang tertawa.


"Bukan waktunya tertawa sialan, tidak enak rasanya disimpan di ****** *****"


"Bau kah? Untung saja buku ini tidak terlalu besar, kalau buku ini besar mungkin punya mu yang tidak akan muat" Saut gilang.


Randi hanya melirik malas, sedangkan malucia hanya diam tanda mengerti dari arah percakapan mereka.


"Apa fungsi dari buku ini?" Tanya randi menatap malucia.


Lalu malucia meraih buku itu.


"Aku bukan teman dekat manusia kerdil itu, aku hanya mengenal dia sebagai juru kunci tempat hutan jamur itu" ucap malucia seraya membuka selembar buku satu demi satu.


"Bahkan dia tidak menjelaskan apa maksud dari buku ini, ia menyerahkan begitu saja, ditanya pun dia hanya diam seperti orang tertekan" lanjut randi.


"Bukunya pun kosong kan?" Sahut gilang.


"Aku harap agil masih hidup, dan menyelamatkan kita ran" suara lemas keluar dari mulut gilang.


"Aku pun, kalau kita yang keluar dari sini aku harap kita bisa menyelamatkan agil, aku yakin dia adalah manusia yang kuat"


***


Matahari menyinari wajah tampan agil, tanpa disadari dia tertidur di kursi kayu dekat api unggun, pantas saja semalam tidur agil merasa sangat dingin, hanya ada selimut yang tipis di tubuhnya.


Sinar matahari yang menyinari hutan lumut itu cukup leluasa, karena tempat yang agil singah adalah tempat yang sudah direnovasi sebagai tempat tinggal, jadi tidak gelap, tempat ini tidak seperti tempat indah ketika kalian bangun tidur dan membuka jendela, pemadangan di tempat ini hanya ada pohon berlumut, dan langit biru diatas sana.


Hutan berlumut ini seperti hutam tropis pada umumnya, tapi ingat ini bukan didunia kita, jadi simpulkan saja, sewaktu-waktu pohon ini bisa saja hidup haha.


"Sudah bangun?" Jay duduk disamping agil seraya membawa cangkir hangat.


Agil membenarkan posisi duduk lalu mengambil cangkir itu dan meminumnya.


"Kenapa tidak bawa tubuh ku ini masuk tadi malam?" Ucap agil.


Jay tersenyum.


"Kau berat, dan aku ambil selimut saja biar kau tidur disini"


"Bagaimana kalau aku diserang oleh elang tadi? Kau ingin membunuhku?" Ucap agil bercanda.


Jay hanya terkekeh.


Agil ikut tersenyum dan menatap wajah jay.


"Orang ini tidak cantik, tapi manis, senyumnya itu lho" batin agil.


Jay yang sadar agil menatap nya, lalu menepuk pudak agil.


"Ehh"


"Kenapa?" Tanya jay.


"Bingung aja, aku pikir ketika aku bangun aku sudah di kasur rumah ki, tapi masih di dunia ini" agil tersenyum lalu menunduk.


Jay hanya menatap agil, lalu agil melanjutkan.


"Lhoh iya, ini sudah siang kenapa tempat ini sepi?" Tanya agil.


"Aku disini ingin menjemputmu"


"Untuk? Pergi kekerajaan itu ya?" Sahut agil.


"Ayo" jay beranjak lalu diikuti agil.


Mereka berjalan menuju jalan setapak, hingga setelah 30 menit berjalan, betapa kagetnya agil ketika melihat apa yang ada didepan matanya, hamparan luas lapangan, dan beberapa tebing-tebing besar terlihat gagah disana.


Tak jauh dari tempat itu, agil bisa melihat pemadangan dari bawah tebing, sungai yang mengalir panjang dan hamparan hutan lumut berjejer di kanan-kiri sungai, kalau bisa dibayangkan sepeeti hutan amazon? Dilihat dari atas tebing betapa kecilnya sungai itu, dan betapa tingginya tebing yang sedang agil injak ini.

__ADS_1


Tak hanya kaget karena pemadangan ini agil kaget dengan orang-orang didepan matanya, mereka sedang melatih fisik mereka, seperti latihan memanah, bergelut, latihan pedang, dan lain-lain.


"Oh ini yang dimaksut latihan fisik dan mental?" Tanya agil.


"Tidak ada anak kecil ya disini?" Mata agil masih menelusuri tempat dan orang-orang hebat didepan matanya.


"Jay"


Jay menoleh.


"Kenapa kita tidak bikin tempat tinggal disini?"


"Setiap malam elang-elang yang menyerangmu biasanya mondar-mandir disekitar sini"


"Lhoh mereka emangnya tidak nyerang kita juga didalam hutan sana?"


"Waktu malam kau lihat sendiri kan, obor-obor di matikan? Ya mungkin itu sebabnya"


Tiba-tiba tea datang, dengan tubuhnya yang berkeringat, dan pedang yang masih ia pegang.


"Kenapa baru datang?" Ucap tea seraya dengan nada yang kelelahan.


"Jalannya jauh" agil beralasan, tapi memang benar.


"Ini setiap hari seperti ini?" Tanya agil.


"Ya setiap pagi hingga sore, yang hanya dilakukan oleh orang-orang didepan mu adalah melatih fisik, coba kau lihat postur tubuh mereka entah laki-laki atau perempuan"


"Mereka tidak memiliki anak?" Agil bertanya polos.


"Aku tidak tanya dulu waktu itu, tapi setahu ku, mereka sudah dimasa tua, dan lebih memilih seperti ini?" Tea menjelaskan.


Agil terdiam.


"Tidak paham?" Tanya jay.


"Sudahlah tidak penting" ucap tea.


Tiba-tiba argus datang.


"Agil!" Panggilnya.


"Kau sudah bangun kawan" argus mendekat.


Agil hanya tersenyum.


"Paman, jelaskan semua padanya, ini waktunya jay untuk latihan, tidak bersama dengan laki-laki ini terus" tea menyindir lalu beranjak diikuti jay.


"Siap komandan!" Argus tersenyum tipis.


"Panggil aku paman saja gil" lanjut argus.


Seraya berjalan, melihat-lihat sekitar argus juga menjelaskan maksud dari latihan ini, ini adalah bentuk latihan bila mana ada musuh yang tiba-tiba melawan, karena didunia ini berbeda dengan dunia mu katanya.


"Tidak paman, sama saja hanya saja mereka memiliki kekuasaan besar dari kami" celoteh agil.


Argus hanya diam, ia menjelaskan tentang tempat yang mereka tinggali dan tempat seperti apa ini, ia menjelaskan tentang cara memanah, cara menggunakan pedang, cara bergelut yang sempurna.


"Lihat gil, sungai yang terlihat kecil itu dari sini" argus berhenti ketika perjalanan mereka sampai di ujung tebing.


"Paman tolong berhenti jangan terlalu mendekat" ucap agil ketakutan.


"Kau ingin kesana bukan? Rasanya seperti segar kalau berenang disana ya?"


"Yang kau tahu ada ular besar yang hidup disungai sana"


Agil melotot kaget.


"Setiap hari pemandangan dari sini memang indah kau bisa menyaksikan terbitnya surya dari sini, sayang kau masih tidur tadi, tapi tak lupa agil ada yang menyeramkan di bawah sana"


"Sama seperti hidup mu" argus mendekat yang menempelkan telapak tangannya di dada agil.


Agil menatap tajam argus.


"Cara yang ampuh melewati ular itu dengan cara kau berlatih menggunakan semua yang sudah aku jelaskan tadi, sama serperti hidupmu"


Mata agil tidak bisa bohong, ia masih menahannya.


"Kau lihat timandra?" Argus menunjuk timandra yang sedang berlatih bergelut.


"Dia hebat bukan? Dia sudah mengalahkan beberapa elang hitam yang biasanya mondar-mandir disini"


"Dan itu, Kai" argus menujuk laki-laki yang sedang berlatih memanah.


"Dia sangat kuat, lihat tubuhnya yang kekar, dia berambis mengalahkan ular yang dibawah sana"


"Masih banyak yang hebat-hebat disini, banyak ya gil? Mau milih yang jadi gurumu tidak?" Tanya argus.


"Kalau bisa si jay" jawab polos agil, argus tertawa terbahak-bahak.


"Jay masih terlihat pemula"


Agil yang mendengar sontak kaget.


"Pemula?"


"Terlihat hebat dimatamu tapi tidak dengan mataku, dia masih butuh latihan, yang sudah membunuh beberapa elang saja masih giat latihan" jelas argus.


"Lihat mereka? Benar-benar giat bukan?"


Agil hanya meenghembuskan nafas panjangnya.


"Baiklah paman dimulai dari mana?"


Argus tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2