Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Malam itu tiba...


__ADS_3

"Katakan padaku apa yang harus aku bawa" sahut Jay.


Langkah Agil dan Tea berhenti, mereka menoleh. Tea hanya bisa menghelan nafasnya pasrah, Agil mendekat.


"Kau hanya perlu bawa busur panah saja, sayang.." sahut Agil.


Membuat Tea dan Jay, terkejut ketikan Agil mengucapkan sayang tersebut. Malam itu memang mereka akan menyiapkan senjata untuk rencana yang telah mereka buat tersebut, memang ada sedikit perselisihan saat itu, namun tidak mungkin jika rencana awal akan dibatalkam tentunya.


Setelah membahas beberapa jam berlalu, sudah saatnya mereka bergegas memburu, menyiapkan senapan yang sekiranya bisa digunakan, dan cocok melawan musuh didepan sana.


"Sudah kan? aku akan memancing para prajurit yang ada digerbang depan..." ucap Agil.


Saat ia melangkah, ada sesuatu yang membuatnya lupa, ia pun menoleh.


"Tunggu, sudah aku jelaskan kan, ada bagian ruangan yang sepertinya tidak ditempati, ada gerbang belakang, kalian bisa masuk kesana...." sahut Agil.


Saat Agil ingin beranjak, Jay menarik tangan Agil, lalu ia memeluknya.


"Hati-hati...." bisik Jay, Agil hanya membalas dengan senyuman.


Tea hanya bisa terdiam dan menatap kedua orang yang masih dalam masa percintaan itu. Malam itu dengan topeng kain yang menempel dibalik wajahnya, Agil berlari dan bersembunyi dipondasi rumah warga.


Malam yang sepi, dan hujan yang mengguyur tempat itu membuat tubuh Agil sedikit merinding untuk bergerak, namun ia tidak menyerah, ia melihat disudut gerbang seorang prajurit yang terduduk dan sedikit merasakan kantuk karena matanya yang seperti menahan kantuk.


Agil mengedap-endap, saat suasana disana sepi, hanya ada prajurit yang akan mulai tertidur itu, lalu dengan langkah kecil, Agil memeggang leher prajurit itu dengan erat membuat, nafas yang dibuangnya sesak dan pingsan seketika, dengan sengaja Agil mendubrak gerbang dengan keras, dan disaat itu lah para prajurit memnerontak datang, mereka melihat seorang prajurit yang tergeletak ditanah.


Dengan sengaja Agil memperlihatkan tubuhnya, dan segera ia lari, para prajurit itu mulai pengejarannya, mengejar Agil yang entah lari kemana.


Disatu sisi, Jay dan Tea yang sudah melihat aksi pelarian itu, mereka yang berdiri diatas genting rumah warga, berlari menuju pintu gerbang belakang, dimana sesuai perkataan Agil penjaga disana hanya salah satu, dan mereka sedang mengejar Agil disana.


Tea mengambil tali didalam tasnya, dan ia sangkutkan kedalam pondasi bangunan didalam kerajaan, namun saat tali tersebut telah sampai dan menancap, ada beberapa prajurit yang datang, seraya membawa senjata.


Dengan cepat Tea dan Jay, bersembunyi mereka berlari dari geting perumahan warga, turun kebawah, mereka bersembunyi dibalik tembok salah satu rumah warga.


"Te, bagaimana ini...." bisik Jay.


Seraya menatap dengan sembunyi-sembunyi, Tea hanya menjawab.


"Entahlah, tali itu sangatlah dekat dibawah mereka...."


Jay menepuk dahinya, bingung.


Salah satu prajurit itu, melihat sebuah tali yang disangkutkan didalam bangunan.


"Lihat, ada tali!" pekiknya.


Salah satu prajurit itu telah menduga bahwa ini adalah sebuah perangkap, dimana ini adalah rencana yang dibuat dengan aksi mancing seseorang.


"Kalian semua! jaga disini, kita akan masuk kedalam apakah mereka telah pergi masuk!"


"Baik!" ucap para prajurit itu serentak.


Agil masih berlari, walaupun banyak busur panah yang mencoba menangkapnya, beberapa busur yang telah berhasil ia hindari. Ia tetap berlari tanpa henti menghindari beberapa prajurit yang mencoba menangkapnya.


Ini sepertinya tidak sesuai dengan prediksiku? pasti aku telah dikepung.


Dan benar, didepannya saat ini ada beberapa prajurit yang mencoba menghentikannya, Agil berhenti dimana didepan dan dibelakangnya ada rombongan prajurit yang berusaha menangkapnya. Ia berlari kearah samping dimana, ia melewati hutan-hutan.


Ia menoleh beberapa saat, dan mengambil busur panahnya untuk menyerang namun, saat busur panah itu meluncur, busur panahnua meleset jauh dan mengenai batang pohon.

__ADS_1


"Ais!!! sial!!" umpat Agil.


Sialnya, Agil terjatuh saat kakinya tak sengaja menginjak batu kecil yang menyandungnya, hingga ia tersungkur tak sadar. Saat matanya mulai terpejam karena pingsan, matanya yang buram melihat seorang seperti pangeran yang ada didepannya, ingin rasanya Agil berteriak dan mencoba meloloskan diri, namun tubuhnya tidak bersahabatan, tubuhnya lesu dan lemas tak berdaya. Saat matanya mulai terpejam dengan pelan, ia mendengar suara yang tak cukup jelas.


"Siapa...siapa.." suara itu lebih tepatnya bertanya siapa Agil.


*Apakah aku akan mati? pada akhirnya aku tertangkap, maka mereka tidak akan membiarkan aku hidup dengan tenang, apakah aku harus pergi dan menyerang mereka, tapi tubuhku sangat berat dan mataku ingin terpejam padahal aku tidak menginginkan hal itu.


Kenapa aku diam saja? prajurit itu menyerangku, apakah aku pasrah saja? lalu bagaimana Jay dan Tea, apakah mereka berhasil masuk? yatuhan....apakah aku merancang rencana ini salah? bukankah seharusnya aku yang masuk kedalam kerajaan, tapi aku tidak bisa melakukannya, aku takut jika Jay dan Tea menjadi perangkap, maka nasibnya akan seperti ini*.


Dan saat itu Agil pingsan tak sadarkan diri.


Masih bersembunyi dibalik tembok, Jay memejamkan matanya seraya air matanya mengalir. Ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Agil.


"Bukannkah seharusnya kita menyelamatkan Agil!"


Sudah beberapa kali, kalimat itu keluar dari mulut Jay, Tea sangat muak mendengarkan kalimat itu.


"Sudah aku katakan! kita juga akan kena!" pekik Tea.


Jay menundukan kepalanya.


"Kau pikir aku tidak perduli dengan Agil?"


Yang hanya bisa Jay lakukan menangis disana, wajah Tea mendekat kearah Jay.


"Kita pulang ke penginapan sekarang..."


Jay tersentak, "Apa!?"


"Aku pikir aku akan menuruti kata-katamu?"


"Mencari Agil...."


Tiba-tiba Tea menampar pipi Jay, hingga Jay tersentak.


"Sadar! sadar! jangan karena cinta kau bodoh seperti ini!"


Agil membuka matanya, dengan lemas, dengan sedikit buram ia melihat ada beberapa orang yang menatapnya dengan sinis, pakaianya sangat mewah, Agil sudah menduga jika mereka adalah orang kerajaan.


Agil tersadar saat, kedua tanganya ditali dengan rantai yang erat, tubuhnya dimasukan kedalam sel penjara yang gelap, hanya tiga obor yang menempel di tembok, ia berdiri seraya tubuhnya yang mengambang karena kedua tanganya diikat.


Setelah matanya kembali cerah, ia kaget ada banyak orang-orang yang berdiri menatapnya disana.


Salah satu orang yang berpakaian berbeda dari yang lainnya mendekat, Agil sudah mengira itu adalah seorang Raja.


Apakah aku ada didalam kerajaan Majestic?


Ia memeggang sel itu, seraya menatap tajam Agil.


"Siapa kau?"


Agil tidak menjawab, ia masih diam menatap dengan tajam orang-orang didepannya. Lalu orang yang berawakan tinggi, dengan pleret alis kanannya itu mendekat.


"Jika kau masih diam, aku bisa membunuhmu..." pekiknya.


Lalu seseorang yang Agil anggap raja, menjawab.


"Hentikan Varegar, jangan terburu-buru...."

__ADS_1


Varegar?


"Perkenalkan, aku raja Gevarnest, ini Varegar, itu Leon, disana Mahagskar dan yang terakhir Aleris..."


Aleris terus menatap Agil tanpa berpaling, rasanya Aleris seperti berkaca, ia bisa melihat dirinya di pria itu, kenapa ada perasaan aneh saat ia menatap pria asing itu, seperti tidak asing baginya.


"Kita penjarakan saja dulu dia disini..." pekik Mahagaskar.


Agil sadar jika seseorang bernama Aleris itu terus menatapnya, pria itu tidak asing, seperti ia pernah melihat.


Ah, pria yang aku temui saat aku pingsan tadi.


"Kita akan menunggu kau menjawab pertanyaanku, ingat jika kau masih bungkam kita bisa saja membunuhmu!" pekik raja Gevarenest.


Lalu raja dan Varegar beranjak pergi meninggalkan mereka yang masih berada ditempat itu.


Mahagaskar lalu mendekat kearah Agil.


"Kau bisa mengatakan santai kepada kita, tapi sepertinya kau masih syok..." lalu ia menepuk pundak Leon dan mengajaknya pergi.


"Tunggu..." Leon menepis, dan menatap Aleris yang masih sibuk menatap Agil dengan tatapan Tajam.


"Kaui tidak apa-apa?" ucap Leon menepuk pundak Aleris.


Aleris tersadar.


"Aku tidak apa-apa, kalian duluan saja..." ucap Aleris.


Lalu Mahagaskar dan Leon berlalu begitu saja. Aleris mendekat seraya kedua tangannya terlipat didepan dadanya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab..." ucap Aleris.


Agil hanya terdiam, dan menatap bingung Aleris.


"Kenapa kau melakukan itu? kau tahu itu bahaya bukan?"


Ucapan Aleris membuat Agil sedikit memikirkan hal yang berbeda dari orang-orang tadi, kenapa nadanya seperti khawatir dengan Agil.


"Kau...Agil bukan?" sahut Aleris.


Agil terbelalak, mulutnya terbuka lebar, ia melotot menatap orang yang ada didepanya, jatungnya berdetak kencang.


Siapa, siapa diaaaaa kenapa dia mengenaliku?


Tubuh Agil seperti tersetrum, ia tidak bisa bergerak saat ucapan itu keluar dari mulut Aleris.


"Benar bukan?"


Agil menundukan kepalanya, ia memejamkan matanya, lalu ia mengangguk pelan.


"Sungguh kau Agil?" pekik Aleris.


Aleris sama-sama terkejut saat dugaanya benar.


"Kau? masih hidup?" ucap Aleris.


Tentu Agil sangat bingung, bagaimana ia bisa tahu tentang dirinya.


Bagaimana bisa, bagaimana bisa dia mengenaliku....

__ADS_1


__ADS_2