
Setiap hari, bahkan setiap detik pun Aleris tidak pernah lepas dari pelukan Malucia, setelah penantiannya dan setelah kalimat itu diucapkan, Aleris sampai saat ini merasakan hawa damai ketika bisa berdekatan terus menerus dengan Malucia, walaupun hubungan mereka masih menjadi rahasia, dan mereka masih menyembunyikannya kepada orang-orang istana.
"Kau tahu? aku sudah sangat menyukaimu lama sekali..." gumam Aleris.
Seraya meletakan kepalanya di pundak Aleris, Malucia menjawab.
"Aku sudah tahu sebenarnya, tapi aku lebih ke tidak yakin..."
Aleris tersentak lalu dengan sengaja menghindar dari kepala Malucia yang masih dipundak Aleris.
"Ahhhh" pekik Malucia.
Aleris menatap bingung ke arah Malucia.
"Beneran kau sebenarnya sudah tahu?" tanya Aleris.
Seraya cemberut karena tingkah Aleris tiba-tiba, Malucia hanya mengangguk.
"Ya aku tidak bisa mengatakannya langsung" sahut Aleris.
Bahkan keduanya hanya bisa melakukan adegan romantis ditempat biasa, tempat untuk melihat sunset dan sunrise disebuah bukit yang biasa mereka tempati.
"Aku dengar semuannya!" pekik Randi tiba-tiba datang.
Aleris dan Malucia tersentak tiba-tiba karena Randi yang muncul bergitu saja dibelakang pohon.
"Apa yang kau lakukan sialan!"pekik Aleris.
Randi melangkah mendekat seraya tersenyum.
"Aku sudah tahu sejak awal...." gumam Randi menatap bergantian Aleris dan Malucia.
"Apa?" Aleris melirik Malucia dan suasana menjadi canggung.
"Ah santai saja, mau kau pacaran dengan Malucia mau berbuat sesuatu juga bukan urusanku...." sahut Randi seraya melewati Aleris dan Malucia, ia lalu duduk disebuah batang pohon.
"Aku hanya ingin duduk menikmati sunset, karena didunia ku aku tidak bisa melihat dengan jelas seperti ini karena banyak gedung..."
Aleris menatap Malucia, lalu ia duduk didekat Randi. Malucia hanya berdiri.
"Kau bisa rahasiakan ini?..."
Randi hanya memejamkan matanya seraya mengangguk.
"Entah, aku atau Lidra atau Gilang sebenarnya tahu tapi mereka memilih diam..."
Aleris menghelan nafas.
"Kenapa sih kalau mereka tahu?" tanya Randi.
Aleris langsung menyahut, "Ya tidak apa-apa juga!" seraya menatap Malucia.
Bahkan sampai saat ini, Malucia dan Randi tidak pernah saling menyapa atau sekadar berbicara, Malucia bahkan sangat gugup untuk menyapa terlebih dahulu, ia juga tahu Randi sangat membencinya. Dan yang bisa ia lakukan sekarang adalah terdiam.
"Katanya kau akan mengajakku pergi ke kota Majestic...."
Aleris menatap Randi.
"Aku akan mengajakmu lain kali, aku tidak ingin kembali lagi ke sana, karena aku ingin istirahat..."
"Sejak saat kau pergi aku selalu penasaraan apa yang kau lakukan...."
Aleris menghelan nafas, namun Randi menoleh kearah Malucia, seperti mengisyaratkan agar Malucia beranjak pergi, Aleris menyadari itu.
Ia lalu mengangguk menatap Malucia.
"Baiklah..." gumam Malucia seraya beranjak pergi.
Aleris membenarkan posisi duduknya.
"Apa yang ingin kau katakan, sampai mengusir Malucia pergi?" sahut Aleris.
"Aku tidak mengusirnya...."
"Aku hanya ingin tahu bagaimana indahnya kota Majestic..." sahut Randi.
Aleris memutar bola matanya, "Aku kerap memberitahumu..."
"Kau memiliki liontin bulan?" pekik Randi.
Pertanyaan Randi membuat Aleris kaget, namun ia tersadar saat menemukan liontin bulan bukankah Randi juga melihatnya waktu itu.
Aleris mengangguk.
"Aku sempat tidak tidak perduli dengan itu, tapi sekarang aku penasaraan, kau tahu itu apa?"
Aleris menunduk, "Aku tidak, tapi sepertinya aku kenal liontin ini, saudaraku sangat menyukai liontin, tapi aku tidak yakin ini miliknya..."
Randi menghelan nafasnya, ia sudah sangat muak melihat Aleris bersikap seperti itu, membuat Randi sangat hafal sifatnya.
__ADS_1
"Hilangkah sifat tidak yakinmu itu, kenapa kau tidak cari tahu?" ucap Randi.
"Aku akan mencari tahu lain kali, karena saat ini aku sedang disibukan dengan masalah para iblis yang muncul, kau tahu itu kan?" ucap Aleris.
"Ya aku tahu juga aku tidak bisa membantumu kan...." gumam Randi.
Banyak pertanyaan yang Randi tanyakan kepada Aleris terkait tentang kota Majestic, membuat Aleris muak karena pertanyaan itu juga tentang bagaimana ciri-cirinya, bentuk, luas, panjang dan lebar kota Majestic.
Hingga pada akhirnya Randi menceritakan tentang kisah cintanya, pada saat umurnya masih remaja. Dimana ia menyukai wanita yang polos, sempat Aleris kaget saat Randi menyebutkan itu, karena Randi adalah seorang yang bisa dibilang matre, namun ia menyukai wanita yang polos, bukankah lucu?
"Kau hanya ingin pacaran denganku disini, hingga mengusir Malucia begitu saja?" ucap Aleris.
Membuat Randi terbelalak kaget.
"Pacaran?" ucap Randi raut wajahnya terlihat sangat geli.
"Aku sedang asyik pacaran disini, kenapa kau datang...."
"Ya karena aku ingin menanyakan sesuatu..."
Perbincangan yang sangat tidak masuk akal membuat Aleris sangat merasakan bosan, ia lalu berajak pergi diikuti Randi dibelakangnya.
"Urusan tentang iblis itu masih hangat ya dikota Majestic?" ucap Randi.
Mereka masih menelusuri hutan, seraya berjalan dengan sejajar.
Aleris hanya mengagguk. Lebih tepatnya ia juga malas membahas hal itu lagi-lagi.
"Dulu nenek moyang pernah bilang kepada petinggi kerajaan, akan ada saatnya dimana semuanya akan terbalik, jahat kembali baik, baik kembali jahat...."
Ucapan Aleris membuat Randi yakin dengan tulisan dibuku itu.
?
"Mitosnya, para raja dijaman kuno menyembah para iblis untuk kesejahteraanya, untuk awet muda, untuk perkembangan seksual mereka...."
Randi masih saksama menyimak cerita dari Aleris.
"Taoi tradisi itu kini hilang sejak bertambah tahun demi tahun...."
"Aku masih bingung kenapa ada dunia selain diduniaku, bahkan dunia ini juga berjalan seperti duniaku...." sahut Randi.
"Aku juga tidak menyangka ada dunia yang berbeda juga...."
Akhirnya tanpa sadar mereka telah sampai didepan gerbang istana. Perkataan itu membuat Randi terus memikirkan rencananya agar bisa menjadi lebih matang. Ia kembali ke kamarnya dan kembali membuka buku, ia bersyukur Gilang tidak ada diruangan itu.
Namun saat membuka buku tersebut, Randi kaget buku itu terlihat kosong lagi.
Randi berpikir mungkin tulisan ini muncul lagi jika Randi menyiram air dibuku tersebut, namun saat ia mengambil air dicangkir gelas lalu ingin segera menuangkannya, Gilang membuka pintunya tiba-tiba membuat Randi tersentak dan segera menutup buku itu kembali.
"Kau membaca buku yang tidak ada tulisannya lagi ya?" sahut Gilang.
Dengan senyuman palsu randi menjawabnya.
"Apa lagi yang harus aku lakukan kan?"
"Oh ya, kau dari mana lang?" lanjut Randi.
"Aku membantu Lidra, Ace, Silas, dan yang lainnya memasak, kau tahu kan aku sangat butuh hiburan juga...." sahut Gilang.
Randi berdiri dan mendekati Gilang, ia tiba-tiba memeluk tubuh Gilang.
"Maafkan aku ya lang...."
Hal itu membuat Gilang kaget, tidak biasanya Randi seperti ini, Randi adalah sosok yang selalu gengsi untuk hal yang berhubungan dengan yang semacam ini.
"Kenapa?" bisik Gilang.
"Aku hanya lelah saja, mencari jawabannya...."
Gilang menepuk punggung besar Randi. Lalu ia tersenyum.
"Tidak masalah, aku juga bisa membantumu mencari jawabannya kan?" Gilang melepaskan pelukannya, lalu ia memggang kedua pundak Randi.
"Jangan seperti ituuu, jangan lagi...." bisik Gilang.
"Soal Agil....aku sangat merindukannya..." sahut Randi.
"Aku juga Ran.... aku ingin menemuinya, dan pulang kerumah" ucap Gilang ia tidak bisa menahan air matanya.
Gilang menangis.
Seperti biasa, Randi selalu menjadi mata-mata berusaha untuk mencari tahu yang sebenarnya disembunyikan oleh Aleris, kali ini ia akan masuk kedalam kamar Aleris, ia tahu pagi ini Aleris tidak ada dikamarnya, hal itu membuat rasa penasaraan Randi bergelojak segera untuk mencari tahu.
Padahal ia sering berkecumbu dengan Aleris dikamar, namun rasanya Randi tidak sebebas saat ini. Ia masuk membuka lemari, laci dan meja disamping tempat tidur, ia menemukan sebuah liontin bulan dimana Randi tahu itu, dimana saat menemukannya Randi juga ada disana.
"Aku tidak tahu kenapa liontin ini ada dirumah kosong itu...."ucap Randi.
Ia tidak akan mengambil liontin itu, ia kembali meletakannya, dan beranjak mendekati sebuah lemari buku, Randi terkejut karena ada banyak tumpukan buku yang berjudul proses percintaan dan tentang geografis.
__ADS_1
Tapi yang Randi lihat ada banyak buku tentang cinta disana.
"Apakah dia masih polos jadi dia membaca buku ini sebelum melakukan?" gumam Randi.
Ia tidak menemukan hal yang mencurigakan dikamar Aleris, yang ia temukan adalah hal-hal yang tidak penting saja.
"Apakah manusia bisa bercinta dengan para peri?" tiba-tiba pikiran Randi mengada-ada.
Dilihat-lihat kamar Aleris ini memang terlihat sangat kuno namun jika ia hidup dimasa kini, mungkin ia akan memiliki kamar yang modis.
"Selain wajah tampan, kau juga terlihat modis...." gumam Randi.
Ekor mata Randi melihat seorang yang datang mendekati istana seraya membawa kuda, Randi sempat khawatir jika itu adalah musuh atau iblis yang tiba-tiba datang, namun jika dilihat dari sampulnya, orang itu seperti model orang kerajaan yang berwibawa.
Ia mengikat tali kudanya disebuah batang pohon, lalu ia melangkah naik tangga istana. Randi berjalan seraya mengendap-endap. Ia melangkah dan bersembunyi diambang pintu.
Tidak lama Aleris datang seraya masih telanjang dada, ia mendekati orang asing itu. Randi memang bisa mendengarkan perbincangan itu tapi sedikit samar.
Yang Randi dengar hanya tentang raja dan ratu, dimana ratu melahirkan anak iblis, Randi tersentak tidak habis pikir hal semacam ini masih masih ada didunia.
Setelah perbincangan itu, Randi melangkah pelan menuju diambang pintu kamarnya, karena ia melihat Aleris mendekat menuju kamarnya.
Sepertinya memang Aleris harus pergi ke kerajaan itu, tidak basa-basi ini adalah hal yang ditunggu-tunggu Randi, ia masuk kekamarnya untuk bersiap-siap ikut ke kota Majestic walaupun ia tidak yakin ia akan selamat atau tidak, karena mereka menuju kota Majestic dengan kudanya, sedangkan Randi jalan kaki.
Tidak butuh waktu lama, Aleris mengambil kuda dan pergi bersama orang itu, bahkan ia selalu tidak pamit dengan orang-orang diistana. Seraya membawa bekal didalam tasnya Randi juga menyiapkan surat untuk Gilang.
Dengan cepat, ia berlari mengikuti Aleris dan orang asing itu.
"Aku tidak yakin, ada banyak monster kan sekarang? taoi aku tetap akan mengikuti mereka walaupun aku sangat ketinggalan jauh...."
Memang, Randi hanya bisa berlari sedangkan Aleris dan satu orang itu, sudah sangat jauh jaraknya.
Didalam perjalanan, tidak habis-habisnya Randi memikirkan tentang orang asing yang memberitahu Aleris jika ratu melahirkan seorang bayi iblis, ia sangat merinding jika memikirkan ucapan orang yang menghampiri Aleris tadi.
Ia juga membayangkan ucapan Aleris kemarin, jika kota Majestic sedang banyak perbincangan tentang monster dan iblis, tapi lagi-lagi ia tidak akan bisa goyah dengan rencananya.
"Aku akan datang kekerajaan itu, dan menyelamatkan semuanya!!!"
Sudah hampir beberapa jam Randi berlari, namun ia masih tidak menemukan sosok Aleris, apakah Aleris sudah sampai dikota Majestic? untung saja jalan ini hanya lurus membuat Randi tidak harus berpikir dimana ia akan melewatinya.
Nafasnya terengah-engah, ia membuka tas dan mengambil botol air, namun tiba-tiba ia mendengarkan auman hewan, entah itu monsyer atau hewan yang terpenting saat ini Randi harus waspada menyelamatkan diri.
Randi berlari, hingga ia mendapati Aleris dan satu orang asing itu dengan melawan monster besar, Randi terbelalak saat monster itu menyerang Aleris.
Randi hanya bisa bersembunyi dibalik semak-semak, ia memejamkan matanya, ia memikirkan apakah ia harus kembali ke istana atau tetap akan pergi menuju kota Majestic.
"Apakah aku akan selamat?"
Namun sudah hampir beberapa jam, akhirnya Randi bisa menghelan nafasnya lega, ia melihat Aleris dan orang itu bisa mengalahkan monster, hingga ia pergi begitu saja.
Hal yang membuat Randi juga semakin ambis menuju kota Majestic adalah, Aleris dan orang itu harus berjalan karena kedua kuda yang mereka tumpangi kabur entah kemana.
Bukankah ini kesempatan Randi? ia akan berjalan dibelakang mereka tanpa ketahuan. Ia bisa melihat tubuh Aleris yang semakin lemah, mereka juga sudah kehabisan stok makanan, ingin sekali Randi menawari makanan, namun ia tidak bisa melakukannya.
Hingga malam tiba, seperempat malam mereka masih menelusuri hutan gelap, untungnya orang yang bersama Aleris membawa belati yang mengeluarkan api.
Sudah tidak heran lagi Randi tentang hal semacam ini, bukankah ada banyak orang-orang yang mempunyai kekuatan? lihat saja yang tinggal dengannya, Aleris.
Entah pukul berapa, tapi Randi merasakan kantuk, namun ia harus tetap berjalan, hingga matanya berubah drastis setelah melihat tembok besar yang berdiri didepannya.
Ia terbelalak kaget, melihat tembok besar bahkan melebihi tembok di china, ada sebuah jembatan yang menuju gerbang untuk bisa masuk ke dalam tembok itu.
"Apakah itu kota Majestic?" ucap Randi tak henti-hentinya terheran.
Ia tersadar, saat Aleris dan orang itu sudah memasuki gerbang dan para prajurit yang menjaganya sudah akan menutup gerbang tersebut.
Randi segera memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk bisa masuk kedalam, ia lalu mengambil beberapa batang kayu, untuk menyamar menjadi orang dalam yang sedang mencari kayu.
Ia melangkah mendekat, prajurit itu menghentikan langkah Randi.
"Anda siapa?"
Jubah yang menyelimuti wajah Randi lalu dibuka dengan prajurit itu, ia melihat wajah Randi yang sudah penuh kotoran dan tanah.
Randi masih terdiam karena ia sangat bingung dan takut untuk menjawabnya.
"Anda siapa maaf? punya token untuk masuk?"
Apakah ini tempat wisata?
"Aku orang dalam, ingin pulang kerumah karena aku baru saja mencari kayu bakar...." ucap Randi mengarang.
Kedua prajurit itu saling menatap satu sama lain.
Prajurit itu lalu memeriksa semua tubuh Randi dan tasnya, namun Randi tidak begitu khawatir karena didalam tasnya hanya ada sebuah belati dan bekal makanan, mungkin sebuah buku?
Prajurit itu membuka buku yang Randi bawa, namun seperti dugaan Randi, prajurit itu tidak akan merasakan aneh karena tidak ada catatan yang tertulis disana.
"Lain kali, jangan pagi-pagi buta baru pulang pak, sekarang masih banyak monster berkeliaran, jangan jauh-jauh mencari kayu bakar diluar tembok, didalam tembok kita sudah menyiapkan banyak kebun..." sahut prajurit itu, seraya membuka gerbangnya.
__ADS_1
Randi menundukan kepalanya, seraya masuk kedalam. Betapa takjubnya ketika melihat didepan matanya, seraya membuka jubahnya matanya bersinar karena kelap-kelip kota Majetic yang luas didepannya.
"Wahhh, gila ini yang disebut membosankan menurut Aleris?"