
Karena raksasa normal itu terus melempar keberbagai arah, Leon berlari mendekat kearah raksasa itu, ia tepat berada dibawahnya, namun ia bersembunyi dibalik perumahan.
Ia lalu mengeluarkan kekuatannya, mengangkat kedua tangannya dan muncul tanah dari bawah mengarah kearah raksasa itu, tanah itu berbentuk tajam hingga bisa menusuk tubuh raksasa tersebut.
Leon kembali berlari menjauh, karena tubuh raksasa tersebut sudah tertancap dengan tanah yang Leon kendalikan. Raksasa tersebut berteriak kesakitan, walaupun banyak darah yang tusukan namun raksasa itu berhasil mencabut tanah tajam itu dan melempar ke berbagai arah, dengan amukan dan teriakannya yang super keras.
"Sialan..." umpat Leon.
"Kemana sang raja!" sahut Jangsal.
Mahagaskar menatap Jangsal, "Dia? dia sedang duduk dengan rapi menjaga kedua anaknya, tanpa memikirkan bagaimana situasi disini!" ucap Mahagaskar.
Mereka keluar dari tempat persembunyian, raksasa normal itu masih saya terus mengamuk dan berteriak seraya melempar-lempar.
"Bagaimana ini?" ucap Arvand.
Ekor mata Arvand melihat seseorang yang berlari kearah mereka, mereka berlari seraya bersembunyi-sembunyi dari tatapan raksasa itu. Arvand lalu menoleh.
"Ag...Agil!" teriaknya.
Membuat Leon, Mahagaskar, dan Jangsal tersentak kaget. Agil, Tea, dan Timandra berlari kearah mereka berempat.
Seraya nafasnya masih terengah-engah, mereka tak lupa menundukan kepalanya setelah sampai ditempat Arvand.
"Ini teman-teman yang kau maksud?" sahut Mahagaskar.
"Ini anak muda yang itu bukan?" ucap Leon.
Arvand mengangguk lalu ia berjalan mendekat kearah Agil.
"Kau dimana saja? dimana Aleris?" ucap Arvand.
"Pangeran, saya harus menyampai ini kepada kalian..."
Agil berjalan mendekat kearah Leon, Mahagaskar, dan Jangsal, melewati Arvand begitu saja.
"Mungkin ini akan membuat kalian semua terkejut, tapi kalian tahu bukan sosok Aleris? dia mendapatkan sebuah mimpi..."
__ADS_1
Leon terbelalak saat Agil mengatakan itu, karena saat ia juga sedang bermimpi ia bertemu dengan Aleris.
"Ia didatangi oleh iblis yang masuk kedalam anak kedua raja, ternyata iblis itu masuk kedalam tubuh anak kedua raja memang sengaja dan salah satu rencana sang raja..."
Arvand terkejut, lalu ia menyeletuk, "Apa-apaan ini? apakah kau bisa dipercaya?" Arvand mendekat.
Tea menyahut, "Entah ini akan dipercayai olehmu atau tidak, tapi apakah kita akan mengada-ada disituasi semacam ini?" seraya berjalan mendekat kearah Arvand.
Tea menatap Arvand dengan tatapan tajam.
"Aku tahu kau akan sang raja, tapi bukankah tindakan seprrti ini tidak bisa di normalisasikan hanya karena kau anak raja..."
Agil melirik sebentar kearah Tea, Arvand hanya terdiam, lalu ia menyengir.
"Kau pikir aku dipihak ayahku? jika aku ada dipihak ayahku kenapa aku disini bodoh!" ucap Arvand.
Tea hanya mengigit bawah bibirnya, karena ternyata pangeran Arvand berada dipihak mereka.
"Lalu apa?" tanya Mahagaskar.
Agil melanjutkan, "Rencana yang sudah dirancang raja lama adalah ini, bagaimana aku bisa datang dari dunia lain, mereka memiliki Matrix dimana mereka melakukan perjanjian dengan manusia dari duniaku, untuk membentuk suatu senjata, dan melakukan hubungan dengan matahari agar kekayaan dan sda disini tidak ada habisnya, tapi rencana mereka diganggu oleh datangnya para monster atau iblis dimana mereka akan balas dendam, mungkin kalian tahu karena masa lalu ini juga ada kaitannya dengan kalian, dan kalian tahu? teman baikku akan dipertaruhkan, dimana temanku bernama Randi akan dikorbankan, iblis yang ada ditubuh anak kedua raja akan dipindahkan ketubuh temanku, mereka akan menyerang para penganggu..."
Mahagaskar terdiam, Aku pikir semuanya sudah tak tersisa tak tak ada yang masih hidup, karena perang mengerikan itu bahkan membuatku trauma yang mendalam, tapi kenapa ternyata masih ada yang tersisa dan mencoba balas dendam.
Mahagaskar menyentuh kepalanya, Rencana? rencana gila apa ini? bagaimana aku tidak bisa mengetahui, bagaimana mereka bisa menyembunyikan dengan pintar-pintar.
Arvand menghelan nafasnya, ia lemas terduduk ditanah.
"Sungguh aku sebagai anakpun tidak tahu, tentang rencana jahat itu, jika awal-awal aku tahu aku pasti akan menghancurkan rencana mereka..." ucap Arvand.
Leon memejamkan matanya, *Aku sebagai mata-mata pun merasa sangat bodoh, karena selama ini apa yang aku mata-matai selama ini tidak ada hasilnya, dan ini kah hasilnya? benar bukan kataku? para manusia yang tersesat ini adalah salah satu perbuatan sang raja.
Bagaimana bisa? bagaimana bisa ini terjadi? siapa musuh kita sebenarnya*?
Jangsal menangis, seraya meremas rambut kepalanya.
"Pangeran! bagaimana bisa mereka....mereka....sungguh? apa yang akan kita lakukan? perjanjian dengan para manusia dari dunia yang berbeda hanya karena ia ingin kekayaan dan sda disini tidak ada habisnya, bagaimana bisa ia akan terhubung dengan matahari? apakah bumi dan seisinya akan hancur lebur? lalu setelah itu apa mereka memiliki kepuasan?"
__ADS_1
"Ayah sang raja dan kakeknya pernah berkata 'Jika kekayaan yang mereka miliki masih nol, mereka berharap saat Gevarnest menjadi raja kekayaan itu akan menjadi tumpukan sampai mereka tidak bisa memilih lagi karena sangking banyaknya, bahkan sesuatu kekayaan itu akan terus mengalir dengan usaha, maka semua bisa berkorban hanya karena kekayaan, karena kekayaan tidak akan ada habisnya, dibanding umur seseorang' awalnya aku tidak setuju, tapi secara logika memang benar bukan?" ucap Mahagaskar.
"Jika aku tahu ini terjadi! aku akan setuju jika Aleris menjadi raja!" ucap Jangsal.
Leon menatap Jangsal. Agil menundukan kepalanya.
"Karena raja kalian, temanku mendapatkan masalah besar, temanku menjadi korban bahkan temanku tidak ada hububgannya dengan masa lalu kalian, jadi apa yang harus kalian lakukan untuk menghentikan raja brengsek itu?" Agil menatap tajam Mahagaskar.
Arvand menoleh kearah Agil.
Timandra menyentuh pundak Tea, "Te, bagaimana ini?" tanya Timandra.
Tea mengenggam kedua tangan Timandra, "Jangan khawatir, Jay menjaga kita..." ucap Tea.
Tiba-tiba, sesuatu muncul dari balik menara kerajaan, sesuatu itu seperti monster dengan kedua sayap hitam, dan asap yang mengelilingi tubuhnya, bahkan saat dia muncul, menara kerajaan itu hancur karena dia muncul dari dalam kerajaan.
Sesuatu yang muncul tersebut seperti monster, karena wajahnya yang buruk rupa, bahkan tubuhnya sedikit lebih besar dari para monster yang sempat menyerang kota Majestic, yaitu kelelawar.
Bisa disebut monster, ia berteriak dengan suara yang sangat melengking. Agil terdiam saat ia tahu siapa yang muncul dan melayang diatas menara kerajaan.
Randi?
Semua orang kaget, terbelalak tak bisa berkata-kata lagi.
"Musuh kita yang sebenarnya adalah dia!" pekik Arvand.
Agil menoleh kearah Arvand yang berbicara, dengan tatapan tajam ia mendekat dan menghantam wajah Arvand dengan kepalan tanganya. Tea dan Timandra tersentak kaget saat melihat aksi tiba-tiba dari Agil.
Leon mendekat, "Apa apa ini!" pekiknya.
Arvand yang bingung apa yang terjadi menoleh kearah Agil seraya masih memeggangi pipinya.
"Ada apa?"
"Dia temanku!"
"Lalu?" tanya Arvand.
__ADS_1
"Jangan membunuhnya, tapi keluarkan iblis itu dari tubuh temanku!"