
Randi membuka matanya spontan, matanya melotot menatap atap, tubuhnya mengeluarkan banyak keringat, jantungnya bergetar dengan hebat, kedua jari tangan Randi bergetar, ia tidak bisa menggerakan tubuhnya, bahkan untuk mengeluarkan kata dari mulutnya sangatlah berat, ia hanya terdiam menatap atas, ia ingin membangunkan Gilang namun tubuhnya benar-benar mematung tidak bisa bergerak.
Air matanya jatuh dari ekor matanya, ia sangat merasa lega karena ini hanya mimpi, ia ingat sangat jelas bagaimana alur mimpi buruknya, di sangat merasakan bahagia ketika bertemu agil, namun kejadian mengerikan terjadi, hal itu yang membuat Randi berusaha untuk bangun dari mimpinya.
"Ran?" gumam Gilang, Gilang menatap khwatir randi.
Gilang berdiri, ia mendekat kearah Randi, ia bisa melihat Randi yang masih terdiam menangis menatap keatas, Gilang pikir ada sesuatu diatas namun ia tidak melihat apa-apa.
Gilang menampar Randi menyadarkan Randi, namun akhirnya Randi tersadar ia segera memeluk Gilang.
"Aku mimpi ketemu agil lang...." rintih Randi.
Mata gilang terbelalak, lalu Randi melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat bahagia bertemu dengan Agil lang saat itu, namun ia mengatakan jika kau dan Aleris adalah seorang iblis, Agil menyuruhku untuk pergi dari sini melarikan diri, tapi yang membuatku takut dengan agil ia berubah menjadi seorang yang kuat dan membunuhku..." ucap Randi.
Gilang terkejut saat mendengar cerita dari Randi, tapi Gilang meyakinkan Randi jika mimpi buruk itu adalah sebuah bunga tidur saja, bahkan yang terjadi didalam mimpi Randi tidak akan pernah terjadi.
"Dan aku juga Aleris bukan iblis, kalau memang iblis sudah sejak awal Aleris membunuh kita ran...." ucap gilang.
Karena mimpi itu randi sangat waspada untuk lanjut tidur, ia takut ia akan memimpikan hal yang buruk lagi. Malam itu Randi hanya terdiam ditempat tidurnya, menemani Gilang yang sudah tertidur sangat lelap.
"Aku tidak berani, untuk melanjutkan tidurku..."
Didalam benak Randi, ia sangat merasakan sakit hati karena mimpi itu, sempat beberapa kali ia berpikir jika ini adalah pertanda sesuatu.
"Apakah Agil akan menghianati aku dan Gilang?" ucapnya.
"Agil sudah mati? atau dia masih hidup?"
Lagi-lagi pikiran gila muncul diotaknya, ia sangat ragu tentang kedua hal itu, ia memang berharap sangat Agil bisa menyelamatkan diri dan berusaha untuk menyelematkan Randi dan Gilang, yang kedua Randi ragu tentang itu, secara logika tempat ini bukan tempat yang baik-baik saja seperti dunianya, didunia ini ketika kita keluar saja sudah banyak para monster yang berkeliaran.
"Argh!!!" pekik Randi meremas rambutnya.
"Baiklah! kau pasti selamat!"
Akhirnya dari perdebatan otaknya, Randi memilih untuk berpikir yang positif, ia yakin Agil tidak selemah yang dibayangkan, jika ia bertemu monster maka yang akan dilakukan agil adalah membunuhnya dengan kedua tangannya.
Sebenarnya Gilang tidak tertidur, ia hanya pura-pura memejamkan matanya, ia mendengarkan ocehan Randi, ia tidak kuasa untuk terbangun dan melihat wajah berantakannya, yang bisa dilakukan Gilang hanya pura-pura memejamkan matanya, seraya meneteskan air matanya.
Didalam hatinya, ia sangat merasakan ketakutan, beberapa kali ia membayangkan jika terjadi sesuatu kepada Randi dan Agil. Gilang tidak bisa untuk berada ditengah-tengah keduanya.
Jika selama ini yang ia lihat, seorang Randi yang tidak bisa mengontrol emosinya, saat dimana Randi menyerang Malucia, disaat itu lah Gilang sangat panik, jika suatu saat Randi melakukan sesuatu dengan nekat.
Disatu sisi Gilang memikirkan Agil, ia berdoa disepanjang malam, berharap jika Agil masih hidup, ia bisa menjaga dirinya sendiri, tapi jika ia sudah mati, tolong untuk tetap menjaga Randi dan gilang disituasi apapun.
Randi menangis, ia masih mengacak-acak rambutnya. Benar pergi dari keadaan ini tidak semudah itu, Gilang sampai berpikir jika ini adalah karma dari kehidupannya dulu.
Bahkan karena pikiranya sibuk memikirkan dunia aneh ini, Gilang tidak memikirkan keadaan dirinya sendiri, ia sering merasakan ketakutan dan panik secara bersamaan, jika ia melihat Randi seperti yang dilihat didepannya sekarang ini.
Pagi tiba, Aleris membuka pintu kamar Randi dan Gilang, mereka masih tertidur pulas, segera aleris membangunkan Gilang.
"Ah tuan?" ucap gilang seraya membersihkan kotoran dimatanya.
Aleris menatap Randi, lalu ia bertanya kepada Gilang.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aleris.
Gilang menundukan kepalanya, "Dia semalam bermimpi buruk, sesuatu yang mengerikan terjadi didalam mimpinya" gumam Gilang.
Aleris menatap tubuh Randi yang masih tergeletak ditempat tidur.
"Pasti semalam ia tidak bisa tidur..."
Gilang hanya mengangguk.
"Sebenarnya, hari ini aku ingin mengajak kalian ke kota Majestic.."
Gilang mengangkat kepalanya, "Kota Majestic?" Gilang terlihat bingung.
"Sepertinya aku lupa memberitahumu lang, jika ada kota majestic dinegeri ini, tempatku dulu pernah tinggal disana.."
"Ibu kota?" tanya Gilang.
Aleris hanya mengangguk.
"Sebenarnya Randi ingin sekali pergi ke kota itu, tapi sekarang ia masih tidur jadi mungkin aku tidak bisa mengajak kalian sekarang, jadi lain kali saja..." ucap Aleris.
Lalu ia beranjak pamit pergi, Gilang menatap Randi, bahkan air matanya sampai kering membekas dipipinya.
Aleris menyeruput air minumnya, seraya ia duduk dibalkon istana, ia sibuk membaca buku, sebuah buku tentang sejarah yang menceritakan tentang berbagai suku dinegeri ini.
"Masih tidak ada kabar ya?" gumamnya.
Ia sebenarnya sedang menunggu kabar dari raja jesper tentang masalah ini, masalah yang masih menimpa kota Majestic.
"Bukankah tinggal menunggu kabar saja? semuanya akan terselesaikan bukan?"
Aleris kembali melanjutkan membacanya, suasana siang hari yang begitu terik, namun teriknya sangat sejuk ditubuh. Langit biru yang dihiasi awan putih, seperti kasur empuk, bukankah suasana indah ini sering kalian jumpai? tapi rasanya enak bukan?
Saat tangan Aleris ingin meraih gelas minumnya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit membuat gelas itu jatuh kebawah lantai menumpahkan air dingin itu.
__ADS_1
Ia juga menjatuhkan buku yang nerada ditanganya, ia meremas rambut kepalanya, rasa sakit dikepalanya benar-benar sakit, bahkan semuanya terlihat sangat blur, ia mencoba menenangkan diri.
Ia menarik nafasnya, tapi sakitnya semakin menjadi-jadi. Tiba secepat kilat ada sesuatu memori yang terlintas diotak Aleris, ia melihat seorang berjubah hitam mendekati dirinya, hanya cuplikan memori yang bahkan Aleris saja tidak tahu, kenapa ia bisa melihat memori ini.
"BRUK!!!!"
Tubuh besar Aleris terjatuh, akhirnya ia pingsan ditempat itu.
"Bukanya kau tidak pintar memasak?" ledek Silas.
Lidra tidak menghiraukan perkataan Silas, ia hanya sibuk memasak makanan untuk Aleris, selain sombong dan arogan, Silas juga memiliki sifat konyol dan suka meledek.
"Coba kau bikin masakan" Sahut Ace.
Silas hanya tertawa, seraya duduk menyender ditangga. Ace lalu mendekat dan duduk didekat Silas.
"Kalau bisa masak bukannya Lin ya?" ucap Ace, ia juga ikut menggoda lidra.
Lidra masih sibuk memasak, menghiraukan perkataan gila Silas dan Ace.
"Kau pintar membuat ramuan kan? memasak bukan keahlianmu...." Silas tertawa begitu pun ace.
Lidra menghelan nafasnya, "Jika tujuan kalian memancing emosiku, kalian sebaiknya pergi!"
Silas tertawa.
"Kau menyiapkan makanan seperti ini tidak seperti biasanya hei!" sahut Ace.
"Tumben memang lidra memasak makanan seperti ini, nanti kita icipi saja masakannya apakah enak atau justru rasanya asin.."
Lidra yang tidak fokus karena mereka berdua terus meledeknya, akhirnya Lidra melempar panci berisi sup itu, didepan Silas dan Ace. Dimana bertepatan dengan Lin yang masuk seraya membawa nampan berisi buah yang sudah dipotong-potong. Namun sup dipanci itu mengenai buah yang dibawa Lin.
Mereka berempat membuka mulutnya, kaget.
"Lidra?" gumam Lin, ia masih terdiam karena supnya menumpahi buah yang dibawanya, tidak lupa sup itu juga menyiram tubuh Lin.
Masik syok, Lidra mendekat.
"Maafkan aku.....ah maafkan aku....." gumam Lidra seraya membersihkan tubuh Lin yang basah karena sub itu.
Rencana Silas dan Ace berhasil walapun sedikit tidak sesuai ekpentasi karena Lin yang tiba-tiba datang, mereka mengangkat tangannya untuk tos tangan, mereka karena mengerjai Lidra.
"Kalian!!!!!!!!!" teriak Lidra.
Karena kejahilan Silas dan Ace, Lidra menyuruh mereka untuk membersihkan tempat yang kotor karena sup itu.
"Kau mau aku dihukum oleh tuan?" ucap Lidra seraya menentengkan kedua tangannya.
Silas dan Ace masih sibuk membersihkan lantai itu, mereka menatap satu sama lain seraya tertawa.
"Apa apa?" tanyanya.
"Ulah mereka intinya!" jawab lidra.
Silas seperti tidak terima, "Tidak, kau yang menumpahkan masakannya hei!" pekik Silas.
"Apa!" sahut malucia.
Mereka bertiga tersentak karena nada bicara malucia sangat keras.
"Kenapa?" tanya Silas.
"Bukankah ini masakan untuk Aleris?" tanyanya.
Mereka bertiga mengangguk, Malucia memutar bola matanya.
"Bagaimana jika ia menunggu masakan ini!?!?" tanya malucia.
"Maafkan aku sebelumnya.." ucap lidra.
"Kalian terlalu banyak bercanda, jika bertemu..." sahut malucia
"Baiklah, kali ini aku akan memasak cepat...." Lidra beranjak.
Silas dan Ace menatap bingung Lidra.
"Aku akan ketempat aleris...." sahut Malucia beranjak.
Wajah Lidra terlihat melirik kearah Silas dan Ace yang masih sibuk membersihkan tempat itu, namun Silas dan Ace justri tertawa melihat tingkah lidra.
Memang, Lidra, Silas, dan Ace sering bertengkar jika bertemu, sikap Silas dan Ace yang sering menggoda Lidra membuat Lidra sangat muak jika harus bertemu mereka.
Mereka justru sangat menyukai untuk mengerjai Lidra, karena ia tidak pernah benar-benar marah jika mereka ledek.
Malucia tersentak kaget, melihat tubuh Aleris tergeletak, ia berlari mendekat mengangkat kepala aleris dikakinya, ia menyadarkan Aleris namun sama sekali tidak ada jawaban, malucia semakin khawatir.
Malucia memanggil Silas dan Ace yang tidak jauh dari tempatnya itu. Mereka datang dan kaget saat melihat Aleris yang terlihat tidak sadarkan diri itu, lalu mereka membawa tubuh Aleris kekamarnya.
Lidra menyentuh dahi Aleris, ia memeriksanya.
"Tuan tidak ada masalah apa-apa ia hanya pingsan karena kelelahan..."
__ADS_1
Silas dan Ace menghelan nafasnya lega, diambang pintu. Begitu pun Malucia yang duduk disamping Aleris.
"Tingkahnya seperti pasangan saja..." bisik Silas kepada Ace.
"Bukankah Malucia selalu seperti itu?" jawab Ace.
Karena tidak sefrekuesi, Silas memutar bola matanya.
Malucia masih setia menjaga Aleria dikamarnya, sudah dua jam aleris tidak sadar, sampai Malucia tertidur ditangan Aleris, dimana Malucia tidak bisa lepas menggengam tangan Aleris.
Aleris tersadar, ia kaget karena tangan kirinya tidak bisa bergerak, ternyata kepala Malucia yang menahannya, sepertinya malucia tidak sadar jika ia meniduri tangan Aleris, batinnya.
Aleris membiarkan tangannya ditindih oleh kepalanya. Aleris lalu memejamkan matanya, namun ia malah teringat kejadian tadi.
Yang sempat terlintas diotaknya, seorang iblis hitam yang datang kearahnya, Aleris sedang mengingat sesuatu, tapi sepertinya ia memang pernah melihat iblis itu didalam keadaan yang sama.
"Apakah aku lupa ingatan?" gumamnya.
Ia tidak yakin dengan itu, karena setelah diingat-ingat ia tidak pernah bertemu, tapi rasanya tidak asing. Ia teringat ucapan Randi, jika saat itu ia mengatakan jika aku seperti bertemu seseorang didalam hutan.
Tanpa basa-basi Aleris beranjak, bangun dari tidurnya, namun ia lupa jika Malucia masih tertidur ditanganya, hal itu membuat Malucia kaget dan ia terbangun.
Aleris bahkan tidak bisa menahan rasa gugupnya, bahkan saat bangun tidur pun Malucia sangat cantik.
"Ah kau sudah bangun?" ucap Aleris.
Seraya menggeliat, Malucia bertanya.
"Kau sudah sadar? kapan? kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Malucia.
"Aku pikir kau baru saja tertidur.."
"Sepertinya kau memang sedang banyak masalah kan? aku ingin kau istirahat yang cukup..."
Aleris mengangguk.
Malucia lalu berdiri, ia mengambil gelas air yang berisi ramuan buatan Lidra. Lalu Aleris meminumnya.
"Kau tidak mengingat sesuatu?"
Malucia memiringkan kepalanya bingung.
"Tidak, seperti kejadian yang membuat lengan Lidra terluka?" tanya Aleris.
Malucia mencoba mengingat, namun ia sama sekali tidak mengingat apapun.
"Kau mengingatnya?" tanya Malucia.
Aleris menggeleng berbohong, ia tidak akan memberitau Malucia, jika hal ini masih belum tentu benar, bisa saja ini hanya sesuatu yang gila muncul di otak Aleris, karena akhir-akhir iini ia memikirkan masalah iblis.
Malucia beranjak pergi, ia akan membiarkan Aleris beristirahat. Namun tiba-tiba saja Randi menatap Aleris diambang pintu seraya kedua tangannya melingkar diperut dan tubuhnya menyender dipintu.
Aleris melihat Randi, ia menyuruhnya untuk masuk.
"Kau kenapa?" tanya Randi.
Aleris bisa melihat wajah Randi yang berantakan, dan matanya yang bengkak.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa?" jawab Aleris.
"Aku hanya menangis tidak menemukan pasangan yang setia kepadaku..." ucap Randi bercanda.
Aleris tersenyum.
"Jelaskan kepadaku waktu kau melihat aku bertemu seseorang, katamu tubuhku terlempar ke bangunan istana?"
Randi memalingkan wajahnya.
"Hais kenapa? bukannya kau tidak tertarik dengan ini? bahkan kau bisa lihat luka Lidra dan bangunan istanamu yang rusak itu, kau malah memperintahkan orang-orangmu untuk segera memperbaikinya, malaj tidak penasaran dengan kejadian ini..." gumam Randi.
"Kau tahu!" ucap Aleris beranjak dan berjalan mendekati Randi.
"Aku benar-benar sangat malas membahas itu, saat itu, entahlah kau merasakan aku aneh kan?"
Randi mengingat sesuatu, memang benar seakan-akan aleris tidak peduli dengan kejadian ini.
"Saat itu yang aku pikirkan adalah, aku benar-benar tidak ada waktu membahas yang tidak aku ingat, karena aku seperti tidak melakukam hal itu!" pekiknya.
Randi masih menatap aneh kearah aleris, apa yang sebenarnya terjadi?
"Ceritakan kepadaku!"
Sayangnya yang Randi tahu dan tentang kesalahanya adalah, dia tidak berani mendekat melihat siapa yang ditemui Aleris.
"Saat kau terlempar keras dibangunan istana, ada Ace, Ned, dan Lin yang segera datang, namun kau seperti tidak merasakan sakit kau kembali menghampiri orang itu, aku memang mengikuti mu, tapi aku tidak ada tenaga untuk melihat dengan dekat...."
Seperti yang dikatakan Randi, apakah yang ditemui dirinya adalah seorang iblis yang terlintas dipikirannya tadi?
"Kau mengingatnya?" tanya Randi.
Aleris melamun, namun ia tersentak kaget setelah Randi menanyakan itu.
__ADS_1
"Tidak masih belum, aku hanya sakit kepala..."
Seperti sifat Aleris yang pintar menyembunyikan sesuatu, ia tidak akan memberitahu siapa pun soal ini, ia akan diam sampai salah satu memori muncul satu persatu.