
Randi turun dari punggung elang diikuti aleris dibelakangnya, aleris mengangkat tangannya untuk melenyapkan sosok elang itu, mereka berjalan menuju ke dalam istana, raut wajah randi sedikit kecewa karena apa yang didapatnya tidak ada sama sekali.
Gilang yang sudah menunggu lama randi dibalkon istana lari menuju kearah randi, ia memeggang pundak randi seraya bertanya bagaimana perjalananya, sempat gilang merasa bingung karena yang mereka bawa kembali adalah tangan kosong.
"Agil?" tanyannya.
Randi tidak menjawab, ia menatap kebelakang menatap aleris yang juga terlihat datar, ia lalu menggelengkan kepalanya, gilang sudah paham betul, gilang berjalan mengikuti randi masuk keruangan mereka.
"Maaf ya lang, kau pasti menunggu aku"
Gilang menepuk pundak randi, "Aku lebih kawatir lagi jika tidak kembali ran, aku bakalan hidup disini sendirian"
Randi merebahkan tubuhnya kekasur, ia memejamkan matanya.
"Apa yang kau lihat dalam perjalananmu?" ucap gilang.
Randi terdiam lalu ia membuka matanya, "Setiap perjalanan aku hanya ingin melihat agil, tapi ternyata aku tidak melihatnya"
"Lalu, lalu......dihutan itu? kau tidak menemukan agil?"
Randi membenarkan posisi duduknya, lalu ia menggeleng.
"Aku bahkan kembali ke hutan jamur berharap agil disana, tapi..." randi menggeleng.
Mereka terdiam sejenak, lalu randi berkata, ia mendekat ke arah gilang yang duduk dikursi.
"Sekarang begini lang, jika memang agil masih hidup aku berharap kita bisa bertemu lain waktu lagi, dan jika dia...." randi tak kuasa, rasanya ia tidak bisa melontarkan kalimat, namun gilang seperti paham ia melanjutkan perkataan randi.
"Tapi jika dia sudah mati.....aku berharap kita bisa bertemu juga dilain waktu dan di dunia yang berbeda"
Randi menunduk, "Tapi ran....jika tidak ada agil bagaimana kita bisa keluar dari negeri ini?"
Randi memejamkan matanya, ia meremas rambut kepalanya, "Lang, dalam perjalanan aku hanya memikirkan jika agil masih selamat, jadi yang akan menyelamatkan kita adalah agil, tapi jika agil.....mati... jadi kita yang akan menyelamatkan diri kita sendiri"
Gilang beranjak, "Caranya?"
Randi teringat sesuatu ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku itu, ia menyodorkan buku itu ke gilang, namun gilang memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.
"Sepertinya memang ini bukan buku sembarangan lang, setelah aku pikir-pikir..."
Randi melanjutkan, "Aku tahu tidak ada isinya memang tapi sepertinya...."
Gilang memutar bola matanya, "Aku sempat menyuruhmu untuk menyimpan buku itu memang, dan kau tidak percaya jika buku itu ada sesuatu, tapi kali ini aku juga berpikir seperti itu, maksudku memang ada sesuatu didalamnya, tapi bagaimana kita bisa membacanya?" gumam gilang.
Randi menggeleng, "Kita simpan saja dulu...."
"Ran kita bakalan nunggu sampai kapan ya?" gerutu gilang.
Randi menoleh, "Aku yakin habis ini kita akan menemukan jawabanya"
Aleris membuka bajunya, ia akan membersihkan tubuhnya, dikamar mandi istana, dengan sower yang dingin mengguyur tubuhnya yang kekar, memang tidak seperti kamar mandi rumahan dan sower rumahan, ini adalah sebuah istana dimana mereka dibuat sangat sederhana.
Aleris merintih beberapa kali ditubuhnya terdapat banyak luka, salah satunya tangan kirinya, rasanya seperti tulangnya sedang ada masalah, masih bisa digerakan namun jika mengangkat barang, rasanya aleris tak kuasa.
Ia beranjak membawa handuk dipinggangnya, ia berjalan menuju kamarnya, untuk memakai pakaiannya, tapi tiba-tiba ia teringat ketika ia bertelanjang seperti ini, dimana ia teringat malucia, ia teringat adegan malam itu bersama malucia.
Spontan aleris menjerit meremas rambutnya, ia sangat malu jika teringat hal itu, ia mengigit bibirnya, lalu ia berkaca.
"Lihat....seharusnya kau tidak malu karena kau sangat tampan..." gumamnya.
Aleris tidak henti-hentinya memuji diri sendiri, ia memang sangat tampan dan berwibawa, dulu sebelum masa kejayaannya saat ini, saat ia masih tinggal di kerajaan majestic, banyak wanita-wanita yang terpesona dengannya, tapi aleris tidak pernah menanggapi, ia sudah terlalu sombong untuk mengakui jika dirinya tampan.
"Emm......sangat tampan memang.." gerutunya.
Ada satu cerita tentang kisah percintaanya, dimana untuk pertama kalinya aleris bisa merasakan jatuh cinta, menurutnya itu adalah kesan yang sangat mengerikan, karena ia harus jatuh cinta dengan seseorang yang lebih tua sepuluh tahun darinya.
Ketika mengingat kejadian itu, rasanya aleris ingin lenyap dari bumi, seketika ia merinding ketika mengingat kejadian yang baginya sangat indah untuk aleris yang masih kecil, dimana ia mencintai wanita itu ketika berumur enam belas tahun.
Aleris tepis pikiran itu, lalu ia segera memakai pakaianya, aleris terdiam ia teringat liontin bintang itu, ia segera mencari keberadaanya, ia lupa jika ia masukan kekantong pakaianya yang kotor, ia berjalan dengan tergesa-gesa untuk mengambil liontin itu, namun tiba-tiba ia tersandung dan jatuh, membuat tangan kirinya semakin terasa sangat sakit.
"Sial!!!" gerutunya, ia memeggang tangan kirinya, rasanya tulang tangannya sudah tidak bisa digerakan.
Malucia yang sedang lewat melihat aleris yang tersungkur dilantai, segera malucia membantu aleris untuk berdiri, namun seperti disambar petir, justru mata aleris tidak berkedip menatap wajah maluciia sedekat ini, ada beberapa menit aleris menatap wajah malucia itu.
"Hei...." ucap malucia, aleris tersadar.
"Kenapa bisa jatuh?" ucap malucia.
Aleris menjawab dengan gugup, namun ia bisa mengatasinya.
"Sepertinya tangan kiriku luka dalam, kau bisa mengobatinya untukku?" ucap aleris.
Malucia lalu mengangguk, ia membantu aleris berdiri, dan masuk kedalam kamar aleris, malucia mencari kotak obat, lalu ia duduk dan menyentuh lengan kiri aleris.
__ADS_1
Mata aleris tidak berkedip ia masih sibuk menatap wajah malucia yanh cantik, malucia memeriksa lengan aleris.
"Sepertinya tulang lenganmu tergeser sedikit"
Lalu malucia memijat lengan aleris berharap tulang itu bisa menyatu dengan sempurna lagi, usaha malucia selesai ia memijat dengan benar bahkan membuat aleris tidak sadar jika pijatan malucia membuat lengannya sedikit tidak merasakan sakit lagi jika dipeggang.
"Kau memang pintar jika masalah seperti ini...."
Malucia hanya tersenyum, lalu ia berdiri dan beranjak untuk pergi, namun ditahan oleh tangan aleris yang memeggang tangannya.
"Ada satu pertanyaan..." gumam aleris.
Malucia masih membelakangi aleris ia tidak menoleh.
"Apa ada seseorang yang kau cintai?"
"Agil?" lanjut aleris.
Malucia tersentak, ia melepaskan genggaman aleris ia menoleh.
"Bukan urusanmu, karena ini adalah tentang perasaanku"
Aleris muak, lalu ia berdiri seraya berteriak.
"Menjadi urusanku karena aku menyukaimu!!!!" pekiknya.
Malucia terdiam rasanya ia tidak bisa berkata-kata.
"Aku menyukaimu....." lanjut aleris.
"Lalu?" jawab singkat malucia.
Aleris tersadar ia lalu menyentuh dahinya, "Aku hanya ingin mengatakannya"
Malucia menghelan nafasnya lalu ia beranjak pergi, aleris masih terdiam tidak seharusnya ia berbicara itu lagi, bukanlah seharusnya ia sudah melupakannya, ia seperti kerasukan, karena ketika ia melihat wajah malucia rasanya ia tidak sadarkan diri.
Aleris duduk menatap liontin bintang itu, ia masih memikirkan apakah liontin ini milik bravogar, tapi setahu aleris bravogar memiliki liontin bulan, tapi bukankah ini juga sama saja? bukankah bintang dan bulan terlihat sama?
Ia tidak bisa mencari tahu detail lagi tentang liontin ini, "Apakah aku harus bertanya dengan paman mahagaskar? dan leon?" terlintas dipikiranya, namun segera ia tepis, ia tidak ingin kembali kekerajaan itu lagi.
"Sayang gagak milik leon aku bunuh...." ucapnya lirih.
Randi mengikuti setiap langkah lidra, ia masih sibuk memetik buah dibelakang istana namun randi menganggunya, tidak seperti biasanya batin lidra karena saat lidra memetik buah randi hanya menatap jauh dikursi istana tidak menganggunya seperti ini.
"Kau tahu?" ucap randi tiba-tiba membuat lidra kebingungan.
"Saat kau memetik bunga untuk aleris sebenarnya ia pergi kemana?"
Lidra menghentikan kegiatanya, ia menatap malas randi, ia bisa melihat wajah randi yang sedang tersenyum menatapnya membuat lidra semakin muak.
"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku tidak tahu.." ucapnya lalu ia kembali melakukan kegiatanya.
"Kau tahu, aku ingin mencari tahu kenapa aku bisa tersesat disini, aku ingin kembali dan bertemu dengan keluargaku....kau tidak tahu perasaanku saat aku mencari agil? rasanya aku ingin berteriak karena aku tidak bisa menemukannya, tapi aku sadar berteriak saja tidak akan membuat agil ketemu" ucap serak randi.
Lidra menghentikan aktifitasnya ia menoleh, lalu randi melanjutkan.
"Dimana kerajaan utama negeri ini?" tanyanya.
Lidra paham ia tidak akan memberitahu tentang kerajaan majestic karena ia paham dengan randi.
"Aku tidak tahu... maafkan aku"
Randi melotot.
"Aku memang tidak tahu apa-apa...."
"Aku harus mencari orang-orang yang tersesat seperti ku....."
Ada rasa iba terhadap randi, "Aku hanya bisa memberitahumu sedikit, namanya kerajaan majestic, dan itu sangat jauh dari sini"
Lidra menatap wajah randi, seperti ada sesuatu yang direncanakanya.
"Apa yang kau rencanakan?" tanya lidra.
"Kau tahu sendiri"
Karena muak dengan tingkah randi, lidra meletakan keranjangnya, lalu ia memeggang dagu randi, dimana hal itu membuat mata mereka bertemu dengan dekat, randi terbelalak kaget.
"Aku tahu saat kau mencari agil kau pasti menemui banyak monster, itu tidak ada bedanya dengan kerajaan majestic" ucap lidra.
Wajah mereka sangat dekat membuat randi bisa merasakan nafas yang keluar dari mulut lidra, jantung randi berdetak sangat kuat, pipinya terlihat panas dan memerah.
"Aku hanya ingin kau harus bertahan hingga kau menemukan jawaban walaupun butuh waktu yang lama, sabar, dan aku tidak ingin kau mati secepat ini, karena...." lidra menghentikan perkataanya, mata lidra menatap bibir randi, membuat randi semakin tidak karuan.
__ADS_1
Randi justru menutup matanya, membuat lidra tertawa, "Aku tidak ingin menciummu bodoh, mulutmu bau...."
Randi terbelalak lalu melepaskanya, "Apaan sialan!!!!" ucap randi memaki.
Lidra hanya tertawa menatap aneh randi.
"Karena apa?" tanya randi.
"Karena kau memiliki badan besar, makanya kau harus mati diakhir-akhir" gumam lidra.
"Omong kosong, kaparat!!!" ucap randi mengumpat.
"Kau tidak bosan mengumat terus?"
"Tidak karena itu bahasa sehari-hariku" jawab randi cepat.
Karena tidak ada jawaban yang dapat dicerna oleh randi, randi memutar bola matanya, yang ia dapat justru rasa canggung dan gugup karena tingkah lidra.
Lidra meneruskan kegiatannya memetik buah apel, randi mengikutinya.
"Kau pernah melakukanya?" tanya randi tiba-tiba, lidra lagi-lagi dibuat bingung oleh randi, ia menghentikan aktifitasnya.
"Apa?"
Randi mengisyaratkan tentang gerakan ciuman, membuat lidra ertawa terbahak-bahak.
"Aku pikir seorang seperti kau tidak melakukan hal itu, kau kan peri"
Randi lalu melajutkan perkataanya setelah ia teringat kejadian malucia dan aleris, "Ah bahkan manusia dan para peri bisa melakukanya"
Lidra berhenti tertawa, ia tersentak dengan ucapan randi.
"Aku melihatnya, aku mengitip dijendela..." ucap polos randi membuat lidra mencubit perutnya, randi merengek kesakitan.
"Kau tidak tahu?" tanya randi.
Sebenarnya lidra sudah mengetahui sejak lama, tapi karena menurutnya itu bukan urusannya jadi lidra membiarkan hal itu terjadi, tapi setelah randi datang lidra kerap merasakan was-was.
"Kau diam saja bisa kan?"
"Tidak bisa" ledek randi seraya ia mengeluarkan lidahnya karena mengejek lidra.
Lidra kaget karena tingkah randi, baru pertama kali ia melihat randi yang sikapnya kekanak-kanakan, apakah selama ini yang selalu dilihat dari randi adalah tampangnya yang seperti preman? membuatnya tidak sadar jika randi memiliki sifat lembut didalamnya.
"Apa yang kau lakukan barusan?"
Randi mengedipkan matanya sebelah, "Penasaraan?"
Lidra memukul perut randi, "Gila apa sifatmu sebenarnya memang seperti ini?"
Randi hanya menjawab, "Ya karena kau sudah tahu berati kau sudah dekat denganku"
Lidra terdiam, ternyata memiliki sisi kelembutan, selama ini ia hanya melihat randi dari sisi gelapnya saja.
Tiba-tiba randi berteriak, "Malucia dan aleris melakukan...." teriakan randi dihentikan oleh lidra, lidra merasa was-was langsung menutup mulut randi dengan telapak tangannya.
"Hentikan bodoh....." bisik lidra, randi tertawa.
"Kenapa kau takut?"
Lidra menatap kearah istana ia berharap teriakan randi tidak sampai ditelingan mereka.
"Karena hal itu tidak wajar kau pamer-pamerkan"
"Apa karena kau tidak pernah melakukan seperti itu?" ledek randi, membuat lidra menonjok perut randi untuk kedua kalinya.
"Tonjokanmu tidak membuatku sakit perut malah aku meraskan geli"
Dengan spontan lidra menggelitiki perut randi, berharap ia bisa kapok karena tingkah keterlaluannya, namun lidra malah asyik dan menikmati momen itu, bercanda dengan randi, gelitikan lidra membuat randi terlihat sangat lemah ia hanya tertawa dan berusaha melepaskan tangan lidra.
Lidra sangat bersyukur bisa melihat tawa randi, selama ini ia tidak pernah melihat randi segembira ini, yang selama ini lidra lihat adalah tentang raut wajah randi yang selalu marah dan kecewa, lidra pikir sisi gelap randi adalah memang dirinya, namun hari ini ia melihat jika sebenarnya randi tidak semengerikan itu.
Lidra berharap senyuman dan tawa randi tidak luntur dari dirinya, lidra berharap randi bisa melupakan agil temannya, dimana ia bisa tertawa lepas disini hingga ia melepaskan agil, entah kenapa lidra sangat bahagia ketika randi yang sebenarnya telah muncul, ia tidak tahu randi bisa semenyenangkan ini.
Lidra menghentikannya, lalu ia berkata, "Tidak seperti biasanya kau seperti ini.."
Randi terengah-engah, "Tunggu kau hebat juga menggelitikiku..." lidra hanya tersenyum.
"Aku hanya sedang mencari angin dan perasaanku sedang baik, lalu kau datang dan nyambung denganku...jangan kaget kalau aku sebenarnya seperti ini"
Lidra tersenyum, "Aku senang kau seperti ini ran, aku berharap kau bisa tertawa lepas seperti ini selamanya"
"Tapi hal ini tidak membuatku melupakan agil..." ucapnya lirih membuat lidra menatap randi.
__ADS_1
Randi langsung mengalihkan pembicaraan, "Sumpah apa yang kau lakukan barusan kepadamu....seperti anak kecil!! bodoh" gerutu randi.
Lidra tersentak, "Aneh juga tiba-tiba aku menggelitikki mu...." sahut lidra.