
Situasi menjadi gaduh diruangan itu, apalagi mereka melihat langsung seseorang yang tertusuk serpihan kaca lampu yang jatuh kebawah, dimana serpihan itu bisa melayang dihadapan merekan dan menyerang. Ada banyak orang-orang yang protes kepada raja dan ratu, mereka menganggap ini perbuatan mereka karena kaca yang melayang dengan sendirinya, karena banyak yang protes dan terlihat sangat gaduh diruangan itu, raja mengisyaratkan para prajurit untuk mengunci gerbang agar semua orang tidak pergi begitu saja tanpa penjelasan raja.
Raja meminta semua orang untuk diam dan raja mulai untuk menjelaskan permaslaah yang tiba-tiba datang, ia juga meminta para prajurit untuk membawa tubuh seseorang yang terkena serpihan kaca masuk kedalam.
"Maaf dengan kegaduhan ini, saya akan bertanggung jawab, ini bukanlah perbuatan yang disengaja oleh kami, kemi benar-benar tidak tahu" pekik raja.
Ratu Carlota lalu membawa bayinya masuk kedalam tirai. Sudah ada Mahagaskar yang lainnya disana.
Mahagaskar mendekat, menatap bayi itu.
"Tidak, tidak akan terjadi apa-apa..." sahut ratu.
"Biarkan kami lihat apa yang terjadi ratu..." Jangsal menyahut.
"Lihat, ini lihat, nyatanya bayi ku aku gendong biasa saja tidak terjadi masalah apa-apa" pekik ratu seraya beranjak pergi.
Majagaskar mengisyaratkan Arvand dan Jangsal untuk menjaga ratu dikamarnya.
"Pangeran, tetap tenang...." bisik Mahagaskar.
Arvand tidak begitu menggubris lalu ia beranjak pergi bersama Jangsal.
"Acara ini memang tidak akan berhenti begitu saja sebenarnya, tapi demi mematuhi apa yang baru saja terjadi aku akan mengakhirnya. Maaf untuk semuanya karena masalah yang tiba-tiba terjadi dan membuat semuanya khawatir, kalian semuanya akan saya bagikan sebuah souvenir, dan beberapa peralatan makanan yang juga sebenarnya akan saya kenalkan produk baru dari pabrik saya, Terima kasih"
Walaupun masih ada banyak seseorang yang merasa panik dan ketakutan, mereka juga tidak lupa memberikan tepuk tangan dan memberikan salam kepada raja atas undangan dan pemberiannya, mereka lalu pamit.
Aleris dan Leon turun kebawah, namun kali ini Aleris sudah tidak merasakan hawa panas lagi. Mereka melangkah mendekati raja.
Raut wajah raja sangat kecewa dan sangat geram.
"Bukan seperti ini perayaan yang aku inginkan..." gumam raja.
Pasti akan banyak berbincangan didalam kota Majestic karena masalah ini, raja yakin itu. Lalu ia segera datang menghampiri seseorang yang terkena serpihan kaca itu.
Diruangan sudah ada Fay dan dibantu para pelayan lainnya, dan seorang wanita dan anaknya menangis duduk disebuah kursi.
Raja lalu, mendekat memeggang pundak wanita itu.
"Ini adalah kesalahan saya, saya akan bertanggung jawab" gumam raja.
Lalu wanita itu segera menundukan kepalanya, "Bukan salah tuan, ini adalah kejadian yang tidak disengaja, maafkan saya saya yang membuat acara ini berantakan..."
Raja hanya tersenyum lalu mengampiri Fay yang masih memeriksa pria itu.
"Bagimana Fay?"
"Tuan, untung saja serpihan kaca ini tidak begitu dalam mengenai leher pria tuan, bersyukur masih bisa diselamatkan, pria ini pingsan karena ia terlalu syok"
Setelah selesai memeriksa, Fay lalu pamit dengan para selir itu, raja menyuruh beberapa selir untuk menyiapkan makanan untuk wanita dan anaknya ini.
"Maafkan saya ya, saya hanya bisa memberikan hal sederhana ini..."
Lalu wanita dan anak laki-lakinya bersujud terima kasih.
Aleris masih berdiri menatap ruangan gelap itu, seraya melipat tangan didepan dadanya, matanya tidak berhenti menelusuri bagian-bagian ruangan itu.
Didalam hatinya ia berkata, jika ada salah satu iblis yang menetap disini, ia ingin sekali menemuinya dan ingin mengatakan banyak hal.
Apa lagi didalam bayi itu, ia ingin mengeluarkannya bahkan dukun terkenal saja tidak bisa, lalu sehebat apakah iblis-iblis itu, berharap masalah ini segera selesai, Aleris tidak tahan harus terus dibuat gila.
Raja lalu melangkah membuka tirai mendekat dan berdiri disamping Aleris.
"Bagaimana menurutmu? seberantakan apa acara ini?"
Aleris menoleh, lalu ia kembali menatap kedepan.
"Apakah akan ada banyak isu yang beredar dimasyarakat?"
Raja mengangguk, "Tentu saja...."
"Apa yang akan kau lakukan?" sahut Aleris.
Raja tersenyum, "Bagimu aku akan terlihat lemah seperti ayahmu? tentu aku akan mengubur dan mengarang isu lagi dan lagi.."
Aleris tidak begitu menggubris.
"Sepertinya aku juga akan memanfaatkan iblis yang ada dianakku..."
Aleris tersentak, "Apa katamu?"
"Ya kau tahu, tidak mudah bagiaku dan istriku untuk membunuh bayi yang barus aja dilahirkan dengan susah payah, jika kau jadi ayah kau akan membunuhnya? ini bukan masalah sepele ris, ini benar-benar sangat besar, kita tunggu raja iblis untuk datang menyerang kita, bukankah mereka sedang pesta juga karena mereka telah berhasil membuat anakku seperti itu?"
"Aku juga setelah beberapa teka-teki yang dipecahkan, aku bisa menyakinkan diriku sendiri jika memang benar mereka suku itu, yang pernah aku kalahkan...."
"Jadi memang benar? mereka akan kembali?" tanya Aleris.
Raja Gevarnest hanya mengangguk.
__ADS_1
Ditirai merah yang masih terpasang diruangan itu, Varegar berdiri mengintip dan mendengarkan perbincangan antara Aleris dan raja Gevarnest, seperti sifatnya yang diketahui. Sifat iri Varegar melihat mereka berbincang-bincang didepannya membuat ia sangat cemburu, bukankah seharusnya membahas hal seperti ini tentunya harus dengannya?
"Tapi tidak apa....yang terpenting aku mendengarkan apa yang raja dan Aleris bontot itu katakan..."
Dipikiran Varegar, jika memang ini adalah suku itu, ini akan menjadi masalah yang sangat seru, ia akan bertanya sehebat apakah mereka sampai bisa berkerja sama dengan para iblis? bagaimana sekte yang mereka kumpulkan sampai seniat dan sehebat ini?
Varegar hanya tersenyum.
Ratu tidak berpindah sama sekali sejak bayinya ia pindahkan dikeranjang tempat tidur, ia masih bermain-main dengan bayinya, bayi itu tertawa karena ratu yang terus memainkan mainan bayinya.
Arvand mengintip diambang pintu, ia sangat merasa sedih harus menerima hal yang sangat pahit ini, sudah Arvand duga jika satu ora menolak maka semuanya akan kalah.
Ia bahkan ingin mengendong adiknya, tapi lagi-lagi ia tepis bukankah itu bukan adiknya? tapi jika melihat bayi itu tertawa gembira karena bercadaan ratu yang dibuat, membuat Arvand rasanya ingin memeluk tubuh mungil bayi itu, ia merasakan jika tidak ada iblis didalam bayi itu.
"Bukankah kau disitu terus melihat bayi ini?" pekik ratu.
Arvand melirik Jangsal, yang masih terduduk menyeruput kopi diambang pintu, Jangsal mengisyaratkan agar Arvand segera masuk kedalam kamar.
Arvand melangkah dengan langkah yang pelan, ia mendekat menatap bayi itu.
"Bukankah wajahnya sama dengan wajahmu?" sahut ratu.
"Selama ini, kenapa kau tidak menggendong adikmu?" ratu menatap Arvand.
"Masih berpikir bayi ini iblis?"
Arvand menelan ludahnya, "Karena aku pikir begitu..."
Ratu menyuruh Arvand untuk menggedong bayi itu, diturutilah oleh Arvand, ia menggendong dan mengangkat tubuh bayi ini.
"Kenapa sangat berat?"
"Entahlah, ia terlalu sehat...." sahut ratu.
Entah karena Arvand tidak pernah menggedong atau apa, ia merasakan pertumbuhan bayi ini sangat cepat, ia segera mengembalikan bayinya ketempat tidur.
"Ada apa?" tanya ratu Carlota.
"Tidak, aku hampir lupa aku ada janji dengan Fay..."
Arvand lalu beranjak pergi begitu saja, tanpa melirik Jangsal yang masih setiap menemani ratu.
Disebuah sungai yang mengalir dengan deras dan bening, Fay terduduk seraya menyuap sup daging sapi yang ia buat bersama para selir, dimana hutan tropis yang indah disamping kerajaan yang sering Fay kunjungi saat kecil, ia sangat merasa rindu dengan tempat ini.
Ia duduk dibatu, seraya menyuap sup yang masih panas itu.
"Bukankah sangat lama kita tidak mengunjungi sungai ini?"
Aleris mengangguk.
Fay ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya apakah pantas tiba-tiba mengatakannya.
"Kau masih menyukai peri itu?" tanya Fay, yang tanpa sadar ia mengalihkan pembicaraan.
Aleris seraya bermain air lalu mendongak menatap Fay.
"Kau bahkan tinggal dengannya kan? jadi ya aku masih menyukainya.." Aleris tersenyum.
Fay hanya mengangguk.
"Lalu?" sahut Aleris membuat Fay terlihat bingung.
"Apa?"
"Kau masih menyukaiku?" ucap Aleris tiba-tiba, membuat Fay terbelalak spontan memukul lengan Aleris yang masih diperban itu.
"Aw!" rintih Aleris.
Fay menutup mulutnya seraya meminta maaf.
"Kata siapa aku menyukaimu? kau sudah lama tidak bertemu denganku sekalinya bertemu mengatakan hal yang bukan kenyataannya hei..."
Aleris tertawa, "Pipimu...." gumam Aleris.
Spontan Fay memeggangi kedua pipinya.
"Tidak, aku hanya bercanda....."
"Kenapa kau sendirian disini?" tanya Aleris.
"Aku hanya..... masih memikirkan apakah aku harus kembali lagi ke desa itu...."
"Sedangkan masihada banyak orang yang membuthhkan ku disini..." lanjut Fay.
"Memang benar, ada banyak orang yang membutuhkan mu disini...." sahut Aleris.
"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Fay kepada Aleris.
__ADS_1
Aleris lalu menjelaskan kepada Fay, sebenarnya ia berkerja hanya kerena tuntutan, jika dibandingan dengan apa yang Fay lakukan disini jelas sangat beda, bukankan ini adalah rumah Fay? tidak banyak yang Aleris berikan motivasi kepada Fay, ia juga sudah memiliki istana dan mempunyai pekerjaan yang berbeda juga. Tidak jarang ia harus kembali ke kerajaan Majestic jika ada suatu hal yang penting ia akan kembali ke kerajaan, seperti sekarang ini, bahkan ia juga memiliki pasukan yang ia percayai setelah ia juga menjambat menjadi guru dan bisa meraih jabatannya seperti sekarang.
Menjadi seorang adipati yang dimana ia juga berkerja meneruskan ayahnya setelah perdebatan besar dari kakaknya yaitu Leon. Karena bencinya ia dengan orang dalam kerajaan ia ingin mendirikan istana semdiri jauh dari kota Majestic.
"Kau tahu? ada banyak orang-orang tersesat kedunia kita kan? dari mereka aku belajar banyak tentang pekerja keras, mereka memberikan banyak cinta kepadaku hingga salah satu dari mereka, akan membawaku jalan-jalan ke dunia mereka jika aku berhasil melakukan jawaban kenapa mereka ada disini....." ucap Fay.
Tentu sama halnya dengan Aleris, ia juga sedang mencari jawaban, dan ia juga memiliki teman baik juga diisnata, Randi dan Gilang yang kehilangan temannya. Aleris teringat tentang seorang yang bernama Agil.
"Kau kenal orang bernama Agil? aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana postur wajah atau tubuhnya karena aku tidak nelihat sebelumnya, tapi kata orang yang aku temui, ia sangat mirip denganku..."
Fay mencoba mengingat, tapi setahunya beberapa tahun ia bekerja ia tidak pernah mendapati seseorang bernama Agil.
Aleris menghelan nafas.
"Ada apa?" tanya Fay.
Aleris hanya menggeleng, ia sangat malas membahas ini.
"Hei kalian!!!!!" teriak Arvand berlari kearah mereka.
Ia langsung duduk disamping Fay yang masih tersisa banyak tempat duduk batu yang lebar.
"Kenapa kalian tidak mengajakku?" sahut Arvand.
Aleris menunduk, "Aku saja baru datang..."
Arvand menatap Fay.
"Ah...aku sebenarnya ingin sendiri duduk menikmati angin hutan disekitar sini....."
"Kalian sedang membahas diriku kan?" ledek Arvand.
Mata Aleris saling menatap Fay dan Arvand bergantian, "Kau pikir ada waktu untuk membahas itu?" ledek Aleris.
Entah lah tiba-tiba Arvand teringat sesuatu hal yang sangat menggelikan, bukankah sudah sangat lama ia tidak bisa membahas seperti ini seperti dulu kala?
"Kalian pernah melakukan beberapa kali?"
Tentu ucapan yang dikeluarkan Arvand sangat ambigu, apa lagi jika tidak membahas hal yang terjerumus langsung dihal itu? hal itu membuat Aleris canggung, pipi Fay juga sangat terlihat merah. Suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung.
"Ada apa, ada yang salah? sudah lama kita tidak membahas ini?" sahut Arvand.
Aleris dan Fay saling bertatapan.
"Hei pangeran, apa yang kau bahas?" ucap Aleris.
"Berhubungan itu?"
Fay kemudian menonjok lengan Arvand dengan keras hingga membuat Arvand kesakitan.
"Kenapa? aku hanya bertanya...."
"Aku pernah, dua kali atau tiga kali aku tidak ingat....." sahut Aleris tiba-tiba.
Membuat Fay terbelalak dan membuka mulutnya, Arvand yang kaget seraya tertawa. Bukan ingin pamer tapi bukankah hal seperti ini harus diucapkan saat orang-orang bertanya? batin aleris.
"Tiga kali? bukankah terlalu sedikit untuk ukuran tubuh besar sepertimu?" ledek Arvand.
Mata Aleris terbelalak, "Apa katamu?"
"Sudah hentikan!!" pekik Fay.
"Apakah selalu membahas hal yang seperti ini jika para pria bertemu?"
"Tentu saja tentu..." ucap Arvand mengangguk.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi" ucap Fay berdiri, namun dengan sigap Arvand menghentikannya.
"Ah maaf.. tidak, tidak akan kita membahas hal itu lagi...." sahut Arvand.
Entah mereka banyak bercanda saat itu, bahkan mereka sampai tidak memikirkan kejadian yang baru saja menimpa mereka. Bahkan jam dua malam mereka masih asyik berbincang-bincang, karena bulan yang bersinar terang dan ada banyak lampion yang tertata disetiap penjuru kerajaan.
Fay membahas tentang pekerajaannya selama ini, mengabdi dikota orang, dan menjadi ahli medis didesa, setelah dipindah alihkan. Ada banyak cerita yang Fay ceritakan, bagaimana ia bertemu irang-orang yang tersesat dan ada banyak para Elf atau Peri yang terluka karena tugas mereka, dan Fay yang harus mengobatinya.
Ia bahkan tidak tahu jika ada masalah sebesar ini dikerajaan Majestic, karena desa yang ia tempati sangat terpencil, bahkan selama ia bekerja ia tidak pernah melihat adanya monster yang tiba-tiba datang.
"Sebenarnya aku kasihan dengan para orang-orang yang tersesat itu, tapi bagaimana aku bisa menjelaskannya aku benar-benar tidak bisa menjawab dengan tepat...."
Arvand dan Aleris begitu mencermati setiao cerita dari Fay, cerita yang sangat menarik.
Ada banyak orang-orang yang ingin menjadikan Fay istri disana, bahkan remaja pun mereka banyak mengatakan cinta, tapi Fay tidak pernah membuktikan bahkan sebenarnya ia tidak nyaman, ia harus memperlakukan mereka seperti biasanya yaitu guru dan murid atau bidan dan pasien.
Ia juga menceritakan tentang seorang pria yang cukup terpandang didesa itu, dan cukup tampan menurut Fay. Ia pernah menyunting Fay didepan banyak orang, saat Fay mengobati banyak anak kecil yang terkenal penyakit seperti virus. Fay langsung menolak namun justru pria itu mengamuk, mau tidak mau Fay harus menerimanya.
"Kau tidak menyukainya, aku hanya menghargainya..." sahut Fay.
Fay berdiri dan mengajak pria itu kesebuah tempat, ia mengatakan jika Fay tidak menyukainya dan Fay juga menjelaskan ia tidak begitu tertarik dengan hal percintaan, ia juga tidak begitu ada waktu untuk soal percintaan semacam ini.
__ADS_1