
Varegar terbelalak setelah terlalu lama tak sadarkan diri, Fay yang kaget dengan reaksi Varegar yang tiba-tiba bangun dengan kaget seraya melotot.
"Kak!" pekik Fay menyadarkan Varegar.
Varegar yang bingung ia sedang berada ditempat mana, tanpa merasakan sakit ia berdiri seraya keluar dari pintu. Ia melihat situasi disekitar kota.
"Apakah? iblis itu sudah musnah?"
Agil berdiri dan menyahut, "Sepertinya sudah, entah mati atau pun diseggel, Gevarnest yang melakukannya..." sahut Agil.
Varegar terdiam, kedua tangannya saling menggengam seperti merasakan emosi. Ia menoleh dan melanglah dengan cepat menuju meja. Ia mengambil sebuah kertas yang sudah tak berbentuk dan cat warna.
"Dengar! aku borokan dimana letak Matrix itu, kalian sudah tidak ada waktu lagi, setelah ini beritahu Aleris..." sahut Varegar.
"Tunggu? kau?" ucap Fay.
Varegar menoleh kearah Fay, "Aku bukan orang jahat yang ada dipikiranmu, aku hanya benci dengan semua orang dikerajaan, apa lagi Leon dan Aleris..." sahutnya.
"Bukankah sudah tidak ada waktu banyak lagi? cepat beritahu kami!" ucap Agil.
Malucia dan Lidra mendekat.
"Kalian masuk kerajaan, bunuh semua yang menghadang, masuk kedalam ruang penjara, disana akan ada ruangan bawah tanah, kalian telusuri jalan itu saja.." ucap Varegar seraya mencorat-coret bentuk denah dikertas tersebut.
Tiba-tiba Fay menyentuh tangan Varegar.
"Aku tidak percaya padamu..."
Agil menyahut seraya mengangkat satu tangannya, "Aku juga! beritahu kami, agar kami percaya kepadamu, bisa saja ini adalah jebakan..."
Varegar menghelan nafasnya, "Memang aku jahat! aku berada dipihak Gevarnest kala itu, kau tahu aku hanya memanfaatkan kekuatan Gevarnest untuk mendirikan Matrix, dan mengambil alih kerajaan, aku juga bahkan membuat Matrix itu dengan Gevarnest sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan sang surya, saat ini aku berjanji kepada diriku sendiri, sebelum aku mati aku akan mengalahkannya, karena kalian tahu? isi percakapan dia dan sang ratu?"
"Akan aku singkirkan Varegar dan Rine, bagaimana bisa dia akan ikut serta mendapatkan kekuatan dan kehidupan sang surya, terima kasoh sebelumnya sudah ikut serta bertahun-tahun mendirikan Matrix tapi kali ini, aku akan membunuh kalian agar aku abadi!" ucap raja Gevarnest.
"Aku tak pernah menyangka ini akan terjadi, bukankah aku bodoh? aku hampir tertawa karena pada akhirnya aku ada dipihak kalian..." gumam Varegar.
"Tidak masalah! kau memang sebenarnya baik! kau menepati janjiku...." sahut Fay.
Varegar menatap kearah Fay, lalu ia memeluk tubuh Fay dengan erat.
***
"Dengar, aku akan memancing raja sialan itu, kalian cari Aleris dan pergi menuju ketempat itu! hancurkan Matrix!"
Agil menatap Varegar, "Bagimana? bagaimana kita menghancurkannya?"
__ADS_1
Varegar mengigit bibirnya seperti berpikir, "Gevarnest pernah bilang, hanya pedang milik raja Jasper yang hanya bisa menghancurkan Matrix itu, tapi entah sampai detik ini aku tidak tahu, kalian coba saja taburkan serbuk kristal kedalam listrik saluran Matrix, Matrix itu sedikit demi sedikit akan hancur, tapi butuh waktu lama, makanya! kalian tidak memiliki banyak waktu!"
Agil melirik kearah Gilang yang masih duduk menjauh dari orang-orang seraya melipat kedua tanganya didadanya, Agil mendekat. Ia menepuk pundak Gilang.
"Lang, ayo!" ucap Agil.
Gilang menoleh, "Kau percaya orang itu?"
"Dia yang menyerang aku dan anak buah Aleris kala itu, ia menyiksa semua orang aku melihatnya!"
Agil menghelan nafasnya, "Kau tidak mendengar ucapanya tadi? ia juga dihianati oleh sang raja!"
Gilang melepaskan sentuhan tangan Agil dari pundaknya.
"Kau sekali percaya dengan omongannya?"
"Dengar Lang!!! tidak bisakah kau terus mengikutiku?" sahut Fay tiba-tiba.
"Aku paham kakaku, dia tidak bohong atau pun menjebak kita!"
***
Sesuatu batu besar tiba-tiba menghantam tubuh Gevarnest yang masih berdiri didepan Aleris seraya masih mengendong Randi. Tubuhnya terlempar hingga menembus tanah. Randi pun ikut terlempar jauh.
Betala terkejutnya dia saat, Varegar terbang melayang diatasnya.
"Apa-apaan..." gumam Aleris.
"Ternyata kau disini, pergilah Fay dan yang lain mencarimu..." ucap Varegar seraya mendarat ketanah.
Varegar menatap marah kearah Varegar.
"Kau tidak percaya padaku? buktinya baru saja, siapa yang aku serang?"
Varegar menoleh kearah dimana sang raja terlempar, karena asap bebatuan itu masih bermunculan disekitar, Aleris tidak begitu melihat dimana sang raja.
"Kenapa kau lakukan ini? bukannya kau yang lebih haus dari Gevar?" ucap Aleris.
Varegar tertawa, "Lebih haus? secara diam-diam aku hanya ingin mengambil seluruh hasrat yang Gevarnest punya, sialan...." sahut Varegar.
"Kau tidak usah banyak bacot, dan cepat pergi kaparat!" sambung Varegar.
Tanpa banyak basa-basi, Aleris langsung percaya dan ia beranjak pergi, namun ia berhenti saat melihat Leon diujung sana. Leon mengisyratkan Aleris untuk cepat pergi walau Leon tak tahu pasti apa yang dibicarakan Vareagar dan Aleris.
"Sial..." gumam Leon saat melihat Varegar.
__ADS_1
Aleris pun beranjak pergi.
***
Varegar merasakan sesuatu bergerak dari tumpukan tanah, dan yang pasti ia adalah Gevarnest, karena asap masoh berkeliaran disekitar, membuat penglihatan mereka tidak jelas.
Gevarnest berjalan dari balik asap, seraya dengan senyuman menyeringai.
"Sudah aku duga kau pengkhianat..." sahut sang raja.
"Karena tujuanku memang itu..."
"Lalu kembalikan pesawatku, kau gunakan pesawat itu seakan pesawat itu tidak punya tenaga sama sekali..." ucap Gevarnest.
Varegar menyeringai, "Pesawat busuk..."
Gevarnest, menaikan alisnya.
"Busuk? apa yang kau katakan?" tanya Gevarnest.
Varegar menyengir, "Kau sungguh akan menghubungkan Matrix itu dengan matahari?"
"Kau sungguh masih saja kurang dengan banyaknya kekayaan yang kau miliki..." sambung Varegar.
"Diam! setelah aku menyerang sang iblis gila itu, sekarang aku akan menyerang saudaraku sendiri yang pengkhianat kepadaku?"
"Dengarkan aku baik-baik, kau sudah berjanji kepadaku, ini semua juga adalah tentang kesepakatan kita sialan, kenapa kau tiba-tiba seperti ini...."
"Leluhurku tidak mengajarkan, bahwa sang surya memiliki kehidupan..." ucap singkat Varegar.
"Apa yang kau katakan?"
Varegar tertawa, "Selama ini, kau hanya menguras tenagaku saja kan? kau memperbudak diriku, aku sadar tak lama ini, pada akhirnya kau dulu yang mengkhianatiku!" sahut Varegar.
Gevarnest menahan emosinya, ia mendekat dan menarik kerah baju Varegar hingga tubuh Varegar nyaris melayang.
"Diam bodoh! ingat kesepakatan kita! kau mengatakannya jika kita akan segera menyelesaikan rencana yang sudah dibangun ratusan tahun, jika ini gagal maka aku tidak akan memiliki apapun, tapi lihat apa yang kau lakukan disini! kenapa kau menyerangku sialan gila!!!!" pekik raja Gevarnest.
Tiba-tiba Varegar mendorong tubuh Gevarnest dengan keras, hingga menjauh dari hadapannya. Varegar tidak menjawab ia lalu memejamkan matanya seraya menggengam kedua tangannya dan mengangkat tepat didepan wajahnya.
Mulutnya, komat-kamit seperti membaca mantra. Tanpa menunggu terlalu lama tiba-tiba punggung Varegar mengeluarkan asap banyak hingga sampai keterbang keatas, karena mantra Varegar juga, ia mendatangkan angin hingga debu bertaburan.
Raja Gevarnest masih diam, ia terbelalak melihatnya. Namun ia semakin melotot saat asap itu menghilang sedikit demi sedikit dari punggung Varegar. Ia melihat sebuah naga raksasa yang berdiri gagah dibelakang Varegar. Gigi runcing dengan warna tubuh yang hijau kuning, dengan tanduk yang berdiri tinggi dikepala naga tersebut. Tak lupa lidah yang menjalar keluar dengan panjangnya.
"Oh ini? yang kau rahasiakan dariku? pendamping jiwamu?" bisik sang raja.
__ADS_1