
Setelah mencari pelukis yang pintar dan juga sangat berbakat dalam melihat gambar secara batin, Leon memperintahkan beberapa prajurit untuk berkeliling ke seluruh penjuru kota Majestic, untuk mencari keberadaan Randi dengan lukisan yang sudah digambar sesuai permintaan Aleris.
"Kalau bisa kalian kelilingi seluruh kota Majestic!" perintah Leon.
Saat Leon ingin melangkahkan kaki, ia berhenti seraya memandangi lukisan yang ia bawa.
"Randi?" gumamnya.
"Aku harap aku segera menemukanmu, dan semoga kau tidak diculik oleh dua orang jahat itu.." lanjutnya.
Memang saat itu cuara tidak mendukung, dingin, dan salju masih turun dengan tipis-tipis, mau tidak mau ia harus senantiasa menjalankan tugasnya sampai akhir, bahkan baju hangat yang mereka bawa tidak menghalangi tugas mereka.
Saat perjalanan mereka telah sampai diperumahan penduduk, Leon menyuruh para prajurit untuk menghentikan langkahnya.
"Tunggu...." Leon menatap jalan yang dipenuhi salju itu.
Namun ada yang aneh, jalan yang dipenuhi salju tersebut terlihat ada beberapa bercak darah, dimana darah tersebut membuat jejak. Dengan sigap prajurit itu menyodorkan senjata, dan mengikuti Leon yang berjalan mengikuti bercak darah tersebut.
Darah itu berhenti disebuah rumah yang cukup besar.
"Tuan? apakah ini hanya luka goresan biasa?" sahut salah satu prajurit itu.
Leon menoleh, "Jika goresan biasa, kenapa darahnya bisa sebanyak ini?"
Leon masih menatap perumahan itu, hingga ia memutuskan untuk masuk kedalam dengan sendiri.
"Kalian tunggu sini, dan jaga situasi..." Leon beranjak.
Ia membuka pintu pelan, dan berjalan kearah tangga, karena saat pertama kali ia membuka pintu dan masuk, tempat itu benar-bensr sepi hingga Leon memutuskan untuk keatas.
Terlihat sangat sepi, namun Leon bisa sedikit mendengar suara rintihan seseorang menangis, suara lembut seorang wanita.
"Hallo!" pekik Leon.
Hingga ia berhenti tepat diambang pintu, melihat seorang wanita yang tersungkur seraya memeggangi lengannya yang terluka, segera Leon mendekat.
"Nona? nona?"
Wanita itu masih menangis dan merintih.
"Tuan... sepertinya anda harus pergi.." ucap wanita itu.
"Tapi kau terluka nona" sahut Leon.
Seraya masih merintih dan memeggangi lengannya, ia berbisik.
"Jika kau tidak pergi maka kau yang akan terluka..." ucap wanita itu.
Bukankah dia adalah tuan Leon? kakak dari Aleris? kenapa dia bisa menemukan aku disini?
Leon tidak bisa melakukan apapun selain mengajaknya pergi dari tempat ini, namun wanita ini terus menolak.
"Saya hanya luka dilengan saya, karena saya jatuh, jadi tidak masalah..."
__ADS_1
Leon lalu menatap tajam luka itu, itu bukan luka sembarang luka, seperti luka tebasan hebat yang ada dilengannya.
"Sebelum saya pergi, izinkan saya, mengobati luka anda...." sahut Leon.
Tenggorokan dan perut wanita itu sudah tidak tertahan lagi, ia berusaha menahan, namun nafsunya sangat kuat tidak bisa tertahan, mata wanita itu menatap tajam kearah Leon, ingin sekali memakan tubuh segar yang ada didepannya, aroma darah dan daging segar yang mendekat kearahnya, membuat nafsunya tidak bisa tertahan lagi.
Gigi wanita itu berubah menjadi runcing saat ia menatap Leon, Leon terbelalak dan tersungkur saat melihat apa yang terjadi kepada wanita, namun wanita itu tersadar dan ia membalikan badannya.
"Tuan....cepat pergi....cepat...." gumam wanita itu.
Leon masih terdiam, ia berdiri dan akan melangkahkan kaki keluar, namun ia tidak tega saat darah itu terus mengalir dari lengan wanita itu.
"Nona saya akan cari perban..." Leon menggledah seisi kamar tersebut.
Ia membuka laci meja, dan benar ia menemukan sebuah alkohol dan perban, Leon lalu mengambil dengan cepat dan menarik spontan tangan wanita itu.
Wanita itu mengeluarkan keringat deras diwajahnya, seperti menahan sesuatu, Leon tidak menghiraukannya, ia terus mrngobati lengan wanita itu. Leon menumpahkan alkohol diluka tersebut membuat wanita itu berteriak kesakitan.
Ia tiba-tiba mencengkram leher Leon tiba-tiba dengan kukunya yang runcing, dimana dalam satu kedipan mata, tubuh wanita itu berubah, gigi yang runcing dan kuku yang runcing juga, ia masih mencengkram erat, membuat Leon menahan sakit dan berusaha melepaskan.
Tahan Vin, tahannnn jangan, tahan nafsumu, jangannn, hentikan!!!!
Dan benar wanita itu adalah, Vin.
Secara mengejutkan wanita itu lalu melepaskan cengkramannya, dan jatuh tersungkur kelantai, tak sadarkan diri. Leon menghelan nafasnya saat cengkraman itu terlepas, ia sangat syok ketika wanita itu mencengkram lehernya.
"Nona.....nonaaaa...." ucap Leon masih dengan suara menahan sakit dilehernya.
Ia lalu mengendong tubuh wanita itu ketempat tidurnya, Leon menatap wajah wanita itu dengan lama.
Ia mengikat perban dilengan wanita itu.
"Tuan...." salah satu prajurit datang.
Leon berdiri, "Apa apa?" ucap Leon.
"Tidak tuan, apakah kita akan melanjutkan pencarian?" tanyanya.
Leon menatap wanita yang masih tak sadarkan diri itu.
"Kalian pergilah tanpa aku, carilah dengan benar.." ucap Leon.
Prajurit itu menundukan kepalanya pamit. Leon kembali duduk dipinggir tempat tidur, dan menatap wajah wanita yang ada dihadapannya.
"Sungguh aku sangat terkejut dengan aksinya tadi...."
Tak lama, Vin terbangun, ia menatap buram pria yang ada dihadapannya, hingga saat penglihatanya mulai jelas ia tersentak.
"Tenang....tenang....." sahut Leon.
Vin membenarkan posisi duduknya, ia melihat perban yang menempel dilengan kirinya.
"Terima kasih tuan...." rintihnya.
__ADS_1
Leon tersenyum, "Boleh aku tahu siapa namamu?"
Vin menatap Leon, "Vin tuan..."
"Tuan!" pekik Vin.
"Apa yang anda lihat tadi, tolong rahasiakan..." sahut Vin.
Leon masih terdiam menatap Vin, "Kau..."
"Iya!" sahut Vin.
"Saya monster...saya akui itu..."
Leon menundukan kepalanya.
"Tapi saya tidak jahat, sungguh saya tidak jahat!"
Leon menyahut, "Tenang, aku rahasiakan..."
"Kau kenapa? maksudku, lenganmu itu..." tanya Leon.
Vin menghelan nafasnya, "Saya sedang mencari makanan dihutan, tapi yang saya cium bukan aroma hewan tapi darah dan daging manusia yang segar, saya berusaha untuk menahan nafsu gila itu, saat aku menahannya, semuanya menjadi kabur dan aku sangat lemas, aku berlari untuk segera membawa seorang pria yang sedang memetik buah dihutan, tapi dia membawa belati, mengenai lenganku dengan tidak sengaja..."
"Aku pikir kau diburu..." sahut Leon.
Vin tersenyum, "Selama saya hidup disini saya tidak pernah diburu..."
"Kau dari teluk alaska?" tanya Leon.
Vin mengangguk. Leon menghelan nafasnya.
"Boleh aku tanya? dimana tempat para iblis itu?"
Vin menundukan kepalanya, awalnya ia Aleris saja yang tahu tentang ini, Vin sangat ragu apakah ia harus menceritakan ini kepala Leon.
"Ah kalau kau tidak ingin bercerita tidak apa, aku tidak memaksamu..." sahut Leon tiba-tiba.
Leon berdiri, "Baiklah, sepertinya aku harus pergi.."
"Dimana tuan?"
Leon hanya tersenyum, lalu ia merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah kain lukis.
"Kau pernah melihat pria ini?"
Vin membuka kain tersebut, dan Vib terkejut saat memlihatnya, wajah yang ia kenal dilukis dikain tersebut, sepertinya mereka sedang mencari keberadaan Randi. Mata Vin terbelalak.
"Apa? kau kenal dia?" Leon bertanya saat ia melihat raut wajah tak biasa dari Vin.
Vin menelan ludahnya, lalu ia menyodorkan kain itu ke Leon.
"Tidak! saya tidak mengenalnya...." ucap bohong Vin.
__ADS_1
Bahkan ia juga sedang mencari dimana keberadaan Randi.