
Dengan wujud manusianya Randi mendekat kearah sang raja. Ia berdiri disamping raja Gevarenest.
"Aku akan menyelesaikan ini..." sahut Randi tanpa menoleh kearah wajah sang raja.
Sang raja masih menatap serius kewajah Randi.
"Tentuu, kau harus menyelesaikannya bukan? terima kasih lhoh, anakku baik-baik sekarang..."
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Apa?" tanya sang raja.
"Kenapa jiwa anak keduamu kau masukan jiwa iblis disana?"
Sang raja Gevarnest justru tertawa terbahak-bahak.
"Andai kau tahu, keturunan ku sudah gariskan dan yang untuk terakhir kalinya mereka tidak mendapatkan warisan kekuatan dsri asal manapun, aku sudah tahu ini akan terjadi dan pikir ini adalah salah satunya..."
"Kau salah besar, karena pada nyatanya orang lain yang akan mendapatkan warisan iblis ini dari anakmu, aku adalah korbannya..."
"Kau janji kepadaku? kau akan mengembalikan semua orang yang tersesat disini?"
Raja Gevarnest tersenyum, "Apakah aku janji?.." sang raja menghelan nafasnya.
"Aku memiliki rencana besar setelah ini selesai, aku ingin mengalihkan kehidupanku dan kupertaruhkan jiwa bumi kepada matahari..."
Randi mendesah, "Tradisi disini memang tak masuk akal, jika dipikir didunia ku, matahari tidak bisa ditempati, matahari sangat panas bahkan..."
Setelah mendengar hal itu, sang raja marah ia menarik kerah baju Randi dengan melotot.
"Jangan menyebutkan hal yang tidak nyata seprrti itu, kau tahu apa!"
"Tanyakan kepada Rine saja...." ucap Randi santai.
Sang raja melepaskan gengamannya dari kerah baju Randi, ia lalu berjalan mendekat kebalkon dan melihat kearah depan jika situasi semakin memanas, ia sudah tidak bisa terdiam dengan senyum setiap saat, sudah waktunya ia harus menyelesaikan masalah ini.
"Dengar, serang dia sekarang! kau tahu siapa musuhmu? Aleris dan yang lainnya, dan tentuuuu si iblis jadi-jadian ituuu AUVAMOR!" pekik Gevarnest.
"Dengar, aku akan tetap melakukan perintahmu, tapi aku tidak akan membunuh teman-temanku, dan tentu juga jangan sentuh keluargaku! ini sudah janji jika aku mengiyakan rencana bejatmu..."
Tiba-tiba Randi melompat dari balkon dan berubah menjadi drakula raksasa dan terbang menuju segerombolan raksasa tersebut.
***
"Dimana teman-temanmu?"
__ADS_1
Zero itu menatap keatas, "Sepertinya mereka sedang menyerang para kelelawar yang susah mati ini, salah satu dari mereka juga menyerang para raksasa yang tidak normal, mereka sangat banyak dari ujung gerbang, dan sebagian telah mati karena teman-temanku membuat segel batu itu..."
Aleris mengangguk, "Tuanmu mati..." sahut Aleris.
Zero itu menundukan kepalanya, "Iya tuan Aleris, kami mendapatkan sinyal dari tuan Jasper, dan kita datang kesini, maafkan aku jika aku telat datang.."
Aleris mendekat, dan menepuk pundak Zero itu.
"Ikut aku, aku sudah membuat rencana..."
Kemudian Leon seraya membawa tubuh Mahagaskar, dan Vin, serta Zero tersebut mengikuti langkah Aleris, hingga tak lama Aleris berhenti tepat didepan rumah.
Malucia dengan panik membuka pintu tersebut, Aleris yang menatap Malucia langsung menabrakkan diri ditubuh Malucia, mereka saling berpelukan.
Semua orang yang melihat aksi Aleris hanya membuang muka, Silas menyengir seraya menatap Kai seperti mengisyaratkan agar melihat aksi Aleris didepannya.
Argus dengan cepat membantu Leon membawa tubuh Mahagaskar.
"Tuan Aleris apa yang terjadi diluar sana? apakah kau menemukan Agil?"
"Bukankah Agil? dan Tea bersama mu..."
"Apa maksutmu? Agil? bersama dengan aku didalam kerajaan, dan Tea? memangnya kemana dia?"
Leon masih dengan nafas yang terengah-engah ia berdiri.
Argus terbelalak kaget, tentu Lidra, Ace, Ned, Silas, dan Kai terkejut saat mendengar hal itu.
"Apa katamu?" sahut Kai.
Leon mengangguk, "Salah satu wanita mati karena serangan iblis itu ia berusaha menyelamatkan wanita yang bernama Tea.."
Argus menatap Kai dengan tersentak, Kai terdiam membeku. Aleris mendekat kearah Leon.
"Dimana sekarang mereka!"
"Aku pikir saat aku membuka pintu ini aku berharap sudah ada pangeran Arvand dan Tea disini tapi mereka masih diluar sana!"
Aleris meremas rambut kepalanya, "Sialan!"
Zero itu mendekat kearah Aleris.
"Tuan biar saya yang mencari mereka...."
Aleris menoleh, "Aku ikut denganmu..."
__ADS_1
"Tidak, kau baru saja datang!" Malucia menyahut.
"Lalu bagaimana? kau punya solusi?"
"Sekarang begini rencanaku!" sahut Aleris tiba-tiba.
"Tuan? sungguh kita akan menggunakan rencanamu lagi?" sahut Silas.
Aleris yang mendengar ucapan Silas tidak enak hati, rasanya ia seprrti terledek namun lagi-lagi Aleris harus sadar tidak ada waktu untuk berdebat.
"Las, dengarkan."
"Kalian lihat Zero ini yang datang kepadaku? mereka datang tiba-tiba dengan banyak dikota ini mereka sedang berusaha menyerang kawanan monster disini, rencanaku adalah tetap menyerang para monster ini sampai mati dan tersegel..."
Kai berdiri, "Tuan? bagaimana dengan drakula mengerikan itu? katamu musuh sebenarnya adalah drakula itu?"
Aleris menatap Lidra, Lidra juga menatap Aleris seperti mereka saling mengode. Vin menatap Aleris dan Lidra.
"Aku akan pergi mencari keberadaan Arvand, Tea, Agil, Gilang, dan Fay"
Silas tepuk tangan, "Bukankah tujuan para monster ini membunuh musuh yang sama dengan kita? bagaimana jika kita juga ikut menyerang tuan? kau masih berusaha untuk bisa menyadarkan sang raja tanpa membunuhnya?"
"Tuan, sungguh aku memang lantang seperti ini, tapi kali ini aku setuju dengan Silas, jika kau tetap ingin menyadarkan sang raja tentu itu sudah tidak bisa dinormalisasikan lagi, tujuan kita sebenarnya memang sama persis dengan para montser itu..." sahut Ace.
"Kalian paham selama kalian menjadi kesatria? bukankah kesatria adalah seorang yang berwibawa dan sangat kuat? pikiran mereka juga cerdas, memang musuh kita sang raja, tapi apakah kalian tidak berpikir tentang para warga disini?"
Silas mendesah. Malucia menatap Lidra masih terdiam tak bersuara.
"Tuan? apakah kau yakin rencanamu ini tidak semakin sulit dan terbelit-belit nantinya? apakah kau sudah yakin tentang rencana yang kau rencanakan ini, dan kau sudah siap konsenkuensinya?" Argus mendekat.
"Saya sudah kehilangan banyak orang terdekat saya, saya tidak ingin kehilangan orang terdekat saya lagi, apa lagi ini Timandra anak saya, dia mati bahkan saya juga tidak tahu..." ucap Argus.
Aleris masih terdiam.
"Dengar, aku mendengar dan saling berbicara dengan iblis bernama Auvamor tersebut secara langsung, ia sama sekali tidak ingin berkerja sama dengan kita atau bahkan mereka sangat membenci kita disini, tujuannya menghancurkan semuanya, ia anggap musuhnya tidak hanya sang raja, tapi semua yang ada dikota Majestic ini..." sahut Leon.
"Dia sangat kuat, aku tidak yakin dengan kecerdasan Aleris atau dengan kekuataan yang kalian punya bisa membunuh atau menyengel iblis itu..." sambung Leon.
"Apakah aku boleh tahu? dimana Agil sekarang?" sahut Malucia.
Aleris menoleh kearah Malucia, "Ini salahku, Agil dan yang lainnya masih berada dikerajaan.."
Tiba-tiba Kai, melempar sebuah gelas kaca kelantai, dengan emosi dan tenaganya yang kuat, seraya menangis dan kedua mata yang berkaca-kaca ia berkata.
"Bagaimana bisa aku harus berpikir jernih disituasi seperti ini tuan Aleris?! saya kehilangan Timandra saudara saya, kembaran saya, adik saya. Apakah saya harus patuh lagi dan lagi dengan rencanamu itu, jika bisa pun saya ingin kembali kerumah, tapi masalah ini juga mempengaruhi semesta, saya juga ingin menghentikannya...!!!!!"
__ADS_1
"Diam!!" pekik Aleris.