
Dihalaman yang luas itu hanya ada suara orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka, latihan mereka benar-benar sangat lincah, kekuatan yang mereka miliki sangatlah kuat.
Ada beberapa orang yang sibuk latihan memanah, begitu pun jay dan tea, lebih banyak perempuan untuk hal memanah, sedangkan untuk bela diri ada beberapa laki-laki dan perempuan tentunya yang tidak terlalu banyak, dan untuk latihan pedang ada sebagian perempuan dan tentunya lebih banyak laki-laki, dan untuk latihan pedang mereka membawa pedang kayu untuk latihan, ada juga orang-orang yang sudah senior seperti argus latihan dengan pedang sungguhan.
Karena hari ini adalah hari pertama agil bergabung, agil hanya menirukan gaya bela diri dari orang-orang itu, terlihat lucu karena sebelumnya agil tidak pernah berlatih bela diri atau sekadar melatih fisiknya.
Dari kejauhan tampak jay memperhatikan agil yang menirukan gaya argus bela diri, sangat lucu bahkan jay hampir tertawa keras.
"Hei!!" Tea menyenggol lengan jay.
Jay yang sedari tadi bengong menatap agil tersadar.
"Fokus, tujuanmu adalah fokus jay" tea mengarahkan kepala jay untuk fokus.
"Ada waktunya menatap orang itu" bisik tea di telingan jay dengan bercanda.
Jay hanya kaget.
"Kau mungkin pernah ikut sesuatu seperti bela diri? Silat?" Argus bertaya seraya ia mengajarkan bela diri itu dengan pelan.
"Kok paman tahu silat? Disini ada?" Tanya agil seraya mengikuti gaya argus.
"Hei sebentar tidak usah ikuti teknik ini, aku hanya pemanasan"
Dengan sigap agil berhenti.
"Aku tanya tea, ada banyak teknik bela diri di dunia mu ya? Silat contohnya disini tidak banyak hanya yang ku tahu dari nenek moyang hanya bergelut" argus tertawa.
"Memang ada banyak teknik disana, dan yang paman ajarkan adalah bela diri asal-asalan?" Celoteh agil.
Argus yang sedari tadi pemanasan berhenti lalu tertawa.
"Sialan"
"Iya asal-asalan" ucap argus seraya menekan tangan agil lalu memerasnya dengan kuat.
"AHHHHH!!!!!" agil berteriak.
"Asal-asalan ya gil?" Argus mendengus bahagia.
"Aduh, maaf-maaf" ucap agil seraya kesakitan.
"Tidak ada seni bela diri yang 'tepat' untuk dipelajari, yang ada hanyalah bela diri yang 'tepat' untuk kau"
"Pemanasan dulu gil" lanjut argus.
"Yang kau lakukan hanyalah, lari-lari sebentar dari sini"
"Nah gil, akan aku praktik kan, coba kau lihat lah baik-baik, hal pertama yang harus kau lakukan adalah fokus, sebenarnya ada bela diri bertipe keras, yang berfokus pada kekuatan, dan tipe halus yang berfokus pada manipulasi energi, dan akan aku ajarkan kau dengan tipe yang pertama" argus memulai dengan praktiknya.
Agil menatap tajam dengan dasar-dasar yang argus praktikkan.
"Pertama-tama, kau harus membangun blok dari bela diri yang akan dipelajari, perhatikan gerak kakiku, setelah tiap pukulan atau kombinasi, pastikan sikap mu sudah benar" argus mempraktikkan.
"Bayangkan lawan mu bendiri di depan, lakukan latihan memukul, tetapi dengan menjaga pertahanan tetap kokoh, oke!" Argus melanjutkan.
"Kenapa berhenti?" Agil bertanya.
"Kau tidak memperhatikanku? Aku sudah mempraktikkan dengan susah payah, dan kau bisa mencobanya sekarang"
Agil terdiam kaget, namun dengan sigap ia lalu mempraktikkan seperti gerakan argus tadi, ada banyak kesalahan memang namun agil dapat memepelajari kesalahan itu, awalanya ia ragu ia bisa, tapi setelah banyak di motivasi oleh argus, agil sedikit bersemangat untuk latihan, ia telah menyelesaikan latihan tahap pertama dengan argus, ia sudah mulai mengenal teknik yang diajarkan argus.
"Wahhhh, pamannn berhenti dulu paman" agil mendesah terlihat kelelahan.
"Bagaimana gil?" Tanya argus dengan tertawa.
"Lumayan, paman detail sekali aku jadi lebih mudah mengingat setiap gerakan walaupun tadi masih ada banyak yang kurang"
Argus tertawa.
"Ini masih satu hari gil, kau kalau mau santai-santai dulu juga tidak masalah"
Tiba-tiba agil kaget.
"Apa?! Kalau aku tahu boleh santai-santai dulu, aku tidak akan tergesa-gesa seperti ini"
"Bodoh!!" Gerutu argus.
"Satu-satunya cara untuk jago dalam seni bela diri adalah banyak latihan!" Lanjut argus.
"Capailah konsistensi saat latihan, contohnya saat kau memukul kayu, fokuskan semua pukulan pada satu titik, jangan sembarangan memukul tanpa target yang jelas, lakukan secara perlahan dan jangan terburu-buru"
Agil mengangguk tanda mengerti.
Sudah dua belas jam lamanya agil berlatih, hari semakin sore beberapa orang pun sudah kembali kerumah gubuk itu, hanya ada beberapa orang termasuk tea dan jay yang masih berlatih memanah.
Agil lalu beristirahat dibawah pohon dan duduk dipohon yang sudah tumbang, ia meminum botol pemberian dari argus.
"Cara memanipulasi energi mudah kan? Aku yakin walaupun tidak diajari kau mesti bisa gil" argus duduk disamping agil.
Agil terlihat sangat kelelahan ia lalu menutup mata sekadar mengembalikan tubuh yang lelah, beberapa kali menghembuskan nafasnya, karena dicuaca yang panas dan latihan yang cukup menguras tenaga, membuat beberapa kali agil terlihat sangat pucat dan sangat lemas.
__ADS_1
"Tubuhmu kalau dilatih bagus lhoh" ucap argus.
Karena nafas agil ngos-ngosan dan sangat lelah, ia tidak begitu menanggapi ucapan argus.
"Kau sangat lelah ya?"
"Iya paman" ucap agil seraya nafasnya yang berat.
"Waktu dirumahmu apa yang kau lakukan? Tidak pernah bela diri?"
Olahraga ya maksutnya, batin agil.
"Aku hanya sibuk dengan game... em maksutnya aku sibuk bekerja" ucap agil, agil tahu mungkin istilah game tidak ada artinya disini.
"Bekerja?"
"Iya paman, sangking sibuknya aku tidak bisa melatih tubuhku"
"Apa lagi perutmu yang seperti itu" agil menatap ke arah perut argus.
"Oh ini? Bentuknya keren" argus dengan bercanda memeggang perut kotak-kotaknya.
"Tapi seperti yang aku lihat, pemanasanmu tadi diam-diam aneh"
Agil menoleh ke arah argus.
"Apa?" Tanya agil.
"Oh itu" agil seperti mengingat kejadian tadi.
"Paman ngintip aku ya?"
"Karena tadi menunggumu sangat membosankan aku pergi sebentar untuk melihat leo, tapi setelah itu aku kembali? Apa aku tidak bisa melihatmu?"
"Sebenarnya aku jarang melakukan seperti gerakan pemanasan tadi, kalau dirumah aku jarang paman"
"Yaah intinya kau bukan tidak pernah melakukan, tapi jarang melakukan artinya tidak setiap hari kau lakukan tapi beberapa hari kau lakukan"
Agil hanya mengangguk pelan, mencerna perkataan argus.
"Mungkin itu adalah gerakan modern dari negaramu ya? Seperti yang kau tahu, mungkin kau kaget dengan dunia ini tapi didimensi yang berbeda negara ini lebih ke negara jaman dulu gil"
"Aku tahu paman, setelah ku lihat-lihat"
Tiba-tiba tea memanggil argus.
"Paman tolong latih aku dari tadi aku melatih jay dan orang-orang!!!!" Teriak tea dari kejauhan.
"Kau lihat gil? Aku sibuk hhahahaha" argus lalu beranjak ke arah tea.
"Gil" suara merdu itu mengaggetkan agil yang hampir saja terlelap.
"Eh jay" agil membenarkan posisi duduknya.
"Gimana latihannya?" Jay bertanya.
"Karena hari ini pertamanya aku berlatih, tubuh seperti ditancep jarum, sakit semua"
Jay hanya tersenyum manis, entahlah tapi agil sangat menyukainya ketika jay tersenyum.
"Lihat jay, didepan kita pemandangan yang indah, tebing-tebing yang saling berjajar, dan pohon-pohon yang menempel dibawah tebing, sungai yang terlihat kecil dari sini, bagus ya, kalau di kita seperti danau toba ya?" Ucap agil.
"Sepertinya, aku sebelum tahu ada ular besar disungai itu, pengen terjun dari tebing ini ke sungai itu" ucap jay polos.
"Apa?!" Spontan agil melotot kaget.
"Kalau ada alatnya sayangnya disini tidak ada"
Agil tertawa.
"Kalau dibayangkan tebing ini, kayak bukit ya ya mungkin bukit sih hahaha tapi kayak di puncak ini, apa lagi ini sudah sore jadi bisa lihat matahari tenggelam" celoteh agil.
Entah tiba-tiba mereka terdiam, seperti tidak ada pembahasan lagi, hanya suara angin sore yang lewat benar-benar hening.
Agil mulai gelisah, ia canggung ketika dengan orang yang baru dikenalnya, dan saling diam seperti ini, agil menunjukan kegelisahnya.
"Em anu..." kalimat itu muncul bersamaan dari mulut agil dan jay.
"Ahhh kau dulu" ucap jay dengan malu.
"Tidak mungkin ada yang penting?" Ucap agil seraya jantungnya berdebar hebat.
"Tidak tidak penting" jawab jay.
"Kau dan tea apakah sudah lama berteman?" Dengan perasaan yang campur aduk agil bertanya.
"Ah, aku dan tea sudah 3 tahun bersama dipelatihan jadi sudah seperti kakak ku sendiri"
Tiba-tiba keheningan itu datang lagi, mereka terdiam, seperti awal tadi agil panik, ia terus memikirkan apa yang akan ia tanyakan agar suasana aneh ini cepat terselesaikan.
"Ah gil" tiba-tiba kegelisahan agil terselamatkan oleh suara jay.
__ADS_1
"Iya?" Suara serak agil.
"Bagaimana perasaamu pisah dengan teman-temanmu?"
Agil seperti terdiam beberapa saat.
"Sulit, sangat sulit ingin mati waktu itu tapi tuhan masih sayang diriku, aku masih punya tugas yang harus aku kerjaakan"
"Aku yakin mereka baik-baik saja" agil melanjutkan.
Jay menepuk pundak agil.
"Benar mereka akan baik-baik saja"
"Aku pernah kehilangan teman kecilku" jay menunduk.
Lalu dengan nafas yang berat ia melanjutkan.
"Dia terkena kanker, dan aku tahu ketika sudah stadium akhir, dia tidak masuk sekolah satu minggu, karena aku adalah teman satu-satunya dan disekolah aku selalu menemaninya, aku panik kenapa dia tidak masuk seminggu, aku coba kerumahnya, ia pertama yang aku lihat adalah dia tertidur dengan tubuhnya yang sudah mulai terlihat kurus dan kepalanya yang sudah gundul" jay memejamkan mata.
"Setelah melewati perjalanan yang sulit, dia akhirnya meninggal, bodohnya aku dimana selama ini, kenapa teman mu yang paling dekat tidak pernah tahu tentang penyakitnya" jay meneteskan air mata.
Agil menundukkan kepalanya yang mencoba menenangkan jay, menepuk pundak jay dengan halus.
"Gil aku harap kau bisa menyelamatkan teman-temanmu, jangan terlambat, mungkin iya aku harus butuh tenaga kuat untuk menyelamatkan mereka, tapi jangan pernah mengabaikan sesuatu" ucap jay seraya beranjak pergi meninggalkan agil.
Agil yang masih duduk di pohon itu terdiam, ia seperti kaget dengan apa yang diceritakan jay, ia mengingat momen-momen ketika agil, randi, dan gilang masih bersama, momen konyol yang selalu mereka lakukan ketika bersama.
"Lakukanlah dengan lapang dada" tiba-tiba agil mengingat perkataan randi yang sering ia ucapkan ketika agil disaat-saat yang seperti ini.
Entah tiba-tiba air mata agil menetes pelan, agil tidak bisa menahan hatinya yang selama ini ia pendam, rasa sakit itu kembali lagi, kehilangan sosok teman adalah hal yang sangat sulit sangat menyakitkan, agil menangis, ia menutup matanya dengan kedua tangan agil berharap air mata itu tidak jatuh ia ingin, berhenti menangis, namun air mata ini semakin deras saja.
Argus masih melatih tea, namun mereka kaget dengan jay yang tiba-tiba menangis dan berlari kembali kehutan, argus lalu menghentikan latihan itu dan menyuruh orang-orang termasuk tea untuk kembali juga karena hari juga semakin sore, lalu argus berlari kearah agil yang masih duduk seperti tadi di batang pohon yang jatuh, tapi ada yang berbeda batin argus, sepertinya agil menangis.
"Gil?" Ucap pelan argus.
Agil yang masih sesengukan menoleh.
"Ahh paman?" Agil mencoba mengusap pipinya yang sudah deras air mata.
"Tidak apa-apa gil nangis sajaaa tidak apa-apa" argus duduk mendekat dan memeluk tubuh agil dari samping.
Karena perkataan argus, agil semakin menangis menjadi-jadi.
"Sepertinya aku harus cerita, mungkin kau penasaran dengan asal usul kami gil"
Agil masih menangis.
"Keluarga kami adalah dari suku serafina, dimana suku yang paling banyak perempuan, waktu itu dengan musim kehamilan di suku kami, dengan semangat para laki-laki sibuk dengan pekerjaan seperti bercocok tanam, menanam berbagai tumbuhan" argus mengelus kepala agil dengan lembut.
Argus melanjutkan, "Saat kembali ke rumah, aku dan teman-teman ku kaget, ada banyak suku entah dari mana asalnya mencoba membujuk kami untuk berkerja sama, karena kau tahu gil? Suku kami adalah suku ketinggalan jaman, tidak ada yang harus dikerjasamakan, karena kami menolak, beberapa perempuan kami yang sedang mengandung dibawa oleh mereka, terjadi perang antar suku waktu itu"
Agil lalu mendongak keatas, mencoba untuk melepaskan pelukan dari argus dan memahami cerita dari argus, argus melepaskannya lalu kembali bercerita.
"Dan apa yang lebih mengerikan lagi? Waktu kami mengejar suku itu, setelah sampai disuatu tempat ada banyak darah ditempat itu, setelah kami maju terus, perempuan kami dibunuh dan bayi itu diambil, dan yang tersisa hanyalah kami ada beberapa"
"Apa yang terjadi setelah itu" tanya agil dengan suara seraknya, sepertinya agil sudah mulai melupakan kesedihannya.
"Ya karena sedikitnya persenjataan, kami mengalah dan harus pindah dari tempat tinggal kami"
"Sudahi sedihmu, banyak yang lebih sengsara disini"
Setelah mendengar cerita itu, agil seperti menetralisir cerita itu.
"Dan? Apa yang membuatmu menangis? Ini saatnya aku mendengarkan ceritamu" argus menoleh ke arah agil.
"Kenapa diingatkan kembali sih paman, padahal sudah lupa karena cerita darimu itu" agil memalingkan wajahnya.
"Lhoh ini saatnya kamu mengeluarkan isi hatimu disini, tidak baik dipendam"
"Sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan keluarga ku paman, aku hidup dengan ayah dan adik tiriku, ibuku meninggal dua tahun yang lalu, tapi hatiku masih belum bisa menerimanya, setelah kematian ibuku, aku hanya lemas seperti tidak ada masa depan yang menantiku, seperti tidak hidup, sehari-hari aku hanya terdiam di kamarku, sengaja melakukan hal-hal bunuh diri, tapi selalu gagal, aku sangat membenci ayah dan adikku, karena mereka ibuku mati" agil kembali lagi menangis, entah ia merasakan kesedihan sampai menjalar ke keluarganya, ia tidak ingin menceritakan ia sedih karena randi dan gilang.
Argus dengan halus menenangkan agil.
"Aku ingin sekali hilang dari duniaku, tapi ketika di beri, aku malah merasa sangat bersalah"
"Terkadang banyak hati yang ragu, kesedihanmu itu adalah lebih tepatnya kebencian mu terhadap ayahmu, sebagaimana pun saat disituasi seperti ini, sebenci apapun dirimu kepada ayahmu, kau masih menyebutnya ayah, dia walaupun bukan darah daging mu, dia sangat sayang, karena aku belum pernah bertemu ayahmu, dan aku berharap bisa bertertemu dengan ayahmu, aku sangat tahu betul perasaan itu, perasaan ayah"
Agil hanya bisa menangis.
"Aku masih merasa benci dengan mereka tapi disituasi seperti ini aku merasa bersalah"
"Dan yang harus kau lakukan adalah berjalan penuh sampai kau menemukan jawabannya, kau ingin menyelamatkan teman-temanmu bukan?"
Agil mengangguk seraya mengusap pipinya yang basah air mata.
"Karena aku juga penasaran dengan hal ini, maka aku dan kau sepakat untuk tetap hidup"
Agil berdiri dan masih menatap argus yang duduk seraya dengan tatapan yang iba.
"Peluk paman" agil menyodorkan kedua tangan.
__ADS_1
Dengan senyuman hangat, argus berdiri dan membalas pelukan itu.
"Hahahah dasar bodoh"