
Siang itu, Randi memutuskan untuk tetap memaksakan diri memejamkan matanya, walaupun ia sudah tahu hari sudah sangat siang, bahkan rasanya sangat panas dikamarnya.
Ia berusaha memejamkan matanya, tapi kebisingan yang ia dengar membuat ia sangat muak. Kebisingan para pekerja diruangan bawah tanah tersebut.
"Tidak bisakah mereka diam?" gumam Randi seraya menutup wajahnya dibalik bantal.
"Aiss kenapa aku mau saja ikut kesini sialan?" gumamnya lagi.
Randi beranjak, ia membuka sebuah lemari seperti kulkas, ia mengambil sandwich kemarin sore yang sempat ia tunda makan. Ia melahap makanan itu, dan ia mengangguk, ternyata masih enak juga.
Randi kembali berbaring seraya menyantap sandwich itu, namun tiba-tiba seseorang membuka pintunya, Randi menoleh ia nergegas untuk kembali duduk.
"Kau sudah bangun" ucap Varegar seraya duduk disebuah kursi.
Randi hanya mengangguk seraya mulutnya penuh dengan roti.
"Bagaimana? hari ini kau sudah siap kan?"
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku sudah menjelaskannya kepadamu kan? kau hanya perlu memasukan serbuk kristal kesebuah mesin, cukup begitu saja, kau ingin meminta apa lagi?"
"Tidak, tidak...."
Varegar berdiri, "Kau tidak ingin menemui teman barumu itu?"
Randi menoleh, "Siapa?"
"Aleris?"
Randi memutar bola matanya.
"Bosan..." ucapnya seraya melepaskan bajunya.
"Kau sudah tidak berteman dengannya?"
Randi menggeleng, Varegar tertawa.
"Apa yang ku katakan kan? Aleris memang semembosankan itu"
"Bukan bosan, hanya saja aku selalu tidak setuju dengan opininya"
Varegar mengajak Randi untuk turun kebawah, disana banyak orang-orang yang berkerja, didalam sana sistemnya seperti berkerja dilaboratorium, karena mereka juga berkerja seperti experimen atau sejenis yang lainnya.
"Dimana kalian mencari orang-orang pintar seperti ini?" ucap Randi seraya ia mengikuti Varegar yang berjalan seraya memperkenalkan ruangan untuk Randi.
"Awalnya aku, jadi mereka semua belajar dariku"
"Kenapa tidak kau saja?"
Varegar berhenti melangkah ia menoleh kebelakang.
"Kenapa kau banyak tanya?"
Setelah Varegar menjelaskan cukup banyak tentang seisi ruangan tersebut, ia lalu menyuruh Randi langsung berkerja dilapangan.
__ADS_1
"Banyak bahan kimia disini, jadi aku harap kau bisa berhati-hati, sudah aku bilang yang perlu kau lakukan adalah memasukan serbuk kristal yang sudah dipecah, lalu kau menganduknya..."
Randi menghelan nafasnya.
Disebuah ruangan yang cukup gelap, minim cahaya, mereka semua bahkan terdiam dan sibuk dengan pekerjaannya, hanya satu dua diantara mereka yang sadar akan kedatangan Randi dan Varegar. Didalam ruangan tersebut memang sangat persis dengan ruangan penelitian atau laboratorium, namun yang menjadi berbeda seperti yang dijelaskan Varegar jika, kekuataan kimia mereka juga berhasal dari kekuatan murni dari yang mereka keluarga, seperti kekuatan angin atau kekuatan air yang mereka miliki.
Tentu Randi sering memutar bola matanya saat mendengarkan hal itu, tapi seeiring berjalannya waktu, rasanya hal ini sangat menyenangkan, terlebih bukankah seperti yang dikatakan sang raja? ini adalah salahh satu cara agar bisa kembali kedunia Randi.
"Kau ditemukan dimana?" ucap salah satu seseorang berjenggot panjang yang berdekatan dengan Randi, mereka berkerja sama menganduk adonan kristal tersebut.
Karena sedikit tidak nyaman dengan apa yang dilihatnya, karena tubuh yang kotor dan tubuh yang bau, Randi hanya membalas dengan jawaban.
"Diatas.."
Dia tersenyum, "Kau tidak nyaman karena melihat penampilanku?"
"Apa kau tidak mandi?"
Dia tertawa, "Sudah hampir satu bulan aku tidak mandi"
Randi terbelalak, "Kau yakin?"
Kemudian ia mengambil adukan dari Randi dan menghentikan mesinnya.
"Sudah selesai..." sahutnya.
Randi kaget, bukankah ia melakukan pekerjaan baru saja kenapa selesai? Randi melihat keatas, sebuah Matrix berkilap itu pun berhenti bergerak.
"Kau dari mana?" ucap Randi.
"Ini apa?" ucap Randi.
Dia mempersilahkan Randi duduk.
"Namaku, Woro..."
"Aku tidak bisa menjelaskan dari mana asalku, aku akan dihukum oleh tuan Varegar"
Randi yang mendengar itu lali ia terkejut, "Tunggu? kenapa memangnya?"
Woro hanya terdiam, ia kembali menutut rempah itu didalam coek.
"Ini jelaskan ini untuk apa?"
"Ini ramuan kok, salah satu pekerja kami sakit keras, dan kami belum bisa menemukan obatnya, yang bisa aku lakukan hanyalah mengambil daun min diseberang kota Majestic karena ini bisa mereda nyeri penyakitnya..."
Randi seperti tidak perduli dengan penyakit apa itu, dan siapa yang terkena, ia lebih perduli dengan siapa orang ini.
"Katakan padaku? kau dokter? apakah orang-orang disini dokter? kenapa kalian bisa menghidupkan Matrix dan bisa berkerja dilaboratorium seperti ini? tapi kenapa ak..."
Ucapan Randi dipotong oleh teriakan Woro.
"Diam!" pekiknya.
Randi tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku ingin menjelaskan padamu tapi bukan saatnya..." sahutnya.
Ia berdiri dan melangkah kesebuah kamar yang ditutup gorden, Randi sama sekali tidak berpaling ia terus menatap Woro sampai Woro masuk kedalam gorden tersebut.
Randi menghelan nafasnya, ia terdiam sejenak menatap suasana diruangan tersebut, seraya meneliti satu persatu, teknik bekerja yang mereka lakukan.
Siapa mereka? aku masih penasaraan, tapi sebentar? saat aku membaca buku itu? yang hanya ditulis disana hanya liontin lalu apa artinya? apakah penelitian ini salah satu kejahatan Raja. Sialan aku tidak bisa yakin! aku kehilangan buku itu!
Tiba-tiba Woro menepuk pundak Randi hingga Randi tersentak. Woro lalu duduk dan mengambil batang rokok, lalu menghirupnya.
Ia menyodorkan kepada Randi, namun Randi menolaknya.
"Kenapa? tidak pernah?" ucap Woro.
"Bukannya aku tidak mau, aku sering merokok, tapi sekarang aku tidak percaya dengan alat, bahan, semuanya disini, bisa saja semuanya ini hanya palsu dan racun..."
Seraya menghisap rokok tersebut, Woro tertawa.
"Santai, tidak kok...."
"Lagi pula aku menyukai pekerjaan ini...."
"Apa yang raja katakan padamu? hingga kau setuju bekerja disini?"
"Sudah aku katakan aku tidak bisa mengatakan terlalu dini kepadamu..."
Tiba-tiba Randi mendubrak meja, ia sangat geram dengan jawaban Woro, semua orang kaget saat mendengar suara riuh tersebut.
"Lalu tujuan ku disini apa? aku bekerja untuk mencari tahu jawabanya sialan! kau hanya laki-laki tua bau busuk! kau hanya diam seperti ini untuk apa? aku hanya bertanya sialan kau tinggal jawab apa susahnya!"
Salah satu pria yang datang untuk mengusir benalu (Randi) diruangan itu ditahan oleh Woro, dia sangat geram dengan teriakan Randi yang tidak memiliki sopan santun.
"Kenapa? dia benalu..." ucapnya.
Woro berdiri ia lalu mendekat kearah Randi.
"Kau pernah mendengar kata 'Diam adalah Emas?' ku pikir kau mungkin tahu?"
Nafas Randi terengah-engah.
"Lebik baik diam tapi tahu, dari pada bicara tapi tak mengerti apa yang dibicarakan"
"Karena aku, juga sedang berusaha asal kau tauu..." ucap Woro lalu ia beranjak pergi.
Ia menyuruh semuanya untuk melanjutkan pekerjaanya, Randi terdiam tak butuh waktu lama ia berlari untuk kembali kekamarnya, ia membuka dan menutup pintu dengan keras.
Disisi lain, seraya menghisap rokoknya, Varegar tersenyum miring dengan apa yang ia lihat didepannya. Varegar duduk dibangku tak jauh dari kamar Randi.
Ia tak henti-hentinya tersenyum serapa asap rokoknya berterbangan diwajahnya.
"Mungkin kau sudah tahu?" gumamnya.
Randi segera melepas bajunya, lalu ia banting kelantai, entahlah teriakan itu membuatnya sedikit berpikir, rasanya Randi sangat sedih, bahkan matanya penuh dengan air mata, hingga menunggu saja kapan air mata itu akan jatuh.
"Kenapa hatiku sakit!! rasanya aku tidak bisa terlalu memikirkan siapa mereka apa tujuan mereka, seperti yang dikatakan Tuan Varegar, aku hanya perlu bekerja tanpa memikirkan yang lain..."
__ADS_1