
Argus duduk disamping agil yang masih sekarat merasakan sakit ditangannya, argus mencoba membantu agil untuk membersihkan diri, namun agil menolak, agil bisa membersihkan diri walaupun tangan kirinya tidak bisa digerakan, wajahnya banyak luka memar, satu mata kanannya memar, ia membersihkan wajahnya yang penuh darah.
"Kau mencoba kembali? Kau bisa melawan monster-monster?" Sahut argus.
Agil diam karena ia masih merasakan sakit seraya membersihkan lukanya.
Argus melanjutkan, "Kalau kau tidak keras kepala aku bisa menjelaskan nanti saat yang tepat"
Lagi-lagi agil hanya diam, "Kau tidak ingin mengembalikan tulang tanganku? Dibanding banyak omong?"
"Oh ini sifat sebenarnya?" Sahut argus.
Tiba-tiba jay datang membawa peralatan pengobatan, wajahnya terlihat sangat kawatir dan ketakutan, segera ia mengobati luka wajah agil.
"Kenapa kau kemari?" Tanya argus.
Jay duduk membersihkan wajah agil seraya berkata, "Tak henti-hentinya aku melihat kalian dari jauh ingin aku hentikan tapi sepertinya tidak bisa"
"Arghh" ucap agil kesakitan.
"Wajahmu benar-benar banyak luka memar gil, matamu biru dan banyak benjolan"
"Its okay" ucap singkat agil.
"Kalau tidak begitu tidak laki-laki, kau tidak akan membersihkan lukaku?"
Jay hanya diam, "Tangan kirimu?"
Agil hanya mengangguk, dan jay sudah tahu itu.
"Baiklah gil, tahan sebentar tidak akan sakit"
Jay memeggang tangan agil lalu memutar tangannya dilain arah, jay dan agil bisa mendengarkan bunyi dari tulang yang dibetulkan seperti semula.
Agil merengek kesakitan, tapi setelah itu agil bisa merasakan tanganya kembali ia bisa menggerakan tangannya.
"Kau pintar sekali" sahut agil.
"Iya aku pernah ikut les seperti ini dipelatihan" ucap jay seraya memperban tangan agil.
"Sementara kau tidak boleh melakukan hal-hal yang berat dengan tangan kirimu" agil tersenyum menatap wajah jay.
Jay lalu melakukan hal yang sama membersihkan luka diwajah argus.
"Lukamu tidak parah seperti agil"
Agil hanya memutar bola matanya seraya masih merasakan sakit diwajahnya.
Tiba-tiba sesuatu bergerak didalam tanah, mereka pikir itu adalah gempa tapi setelah diperhatikan kembali pergerakaanya seperti berjalan didalam tanah.
"Kemasi barang-barang kita pergi dari sini!!!!!"
Argus, agil, dan jay mengemasi barang-barang, namun ketika mereka melangkah, sesuatu tiba-tiba muncul dari tanah, seekor hewan besar, lebih tepatnya monster.
Wajah monster itu seperti singa berwarna coklat dan disertai hitam, memiliki taring yang besar dan gigi yang runcing, memiliki tanduk yang melingkar besar diatas kepalanya, monster singa itu memiki sayap namun sepertinya ia tidak bisa menggunakannya lagi, sayapnya hanya memiliki satu dilengan kananya, monster singa itu juga memiliki ekor panjang.
Tiba-tiba monster itu mengaum, lalu kembali kedalam tanah dan berjalan kearah istana kuno itu, dengan cepat argus berlari dan meneriaki tea dan kakek-kakek itu didalamnya.
Tea mendengarnya, ia juga sudah merasakaan getaran munculnya monster itu, disalah satu istana terdapat tempat berteduh diatas, tea dan kakek itu menyembunyikan diri dari monster itu diatas, dengan peralatan yang seadanya tea mengeluarkan panah api, ia menempelkan kain dan sebuah alkohol lalu ia menyalakan api dan ia siap memanah monster itu.
Monster itu tiba-tiba muncul lagi dari tanah seraya mengaum, tea mengarahkan panah tersebut kearah matanya, namun tidak pas, monster itu kembali berjalan kedalam tanah.
Argus, agil, dan jay berlari menuju istana, tiba-tiba tanah kenbali tenang, tidak ada tanda-tanda getaran yang memunculkan monster itu, dengan cepat mereka bertiga menuju istana itu.
"Naik naik!!!!" Teriak tea.
Mereka bertiga naik keatas, "Sial.." umpat agil.
Jay menoleh kebelakang, "Ada apa? Kau terjatuh?"
Ditangga agil sempat terjatuh namun agil bisa mengatasinya.
"Apakah kau melihatnya tadi?" Ucap argus.
"Anakku.....anakku..." kakek itu terus merengek.
Agil hanya duduk dipojok ruangan memutar bola matanya, merasakan muak terhadap kakek-kakek itu, jay menenangkannya.
"Aku sudah merasakan getaran itu, aku pikir itu gempa" sahut tea.
"Apakah itu monster yang dimaksut?" Tepis agil.
Argus hanya menggeritkan dahi.
"Katanya ia pernah disegel, kenapa muncul lagi?"
"Aku pikir ada seseorang yang membuka segel itu"
__ADS_1
Argus menatap kakek itu, lalu ia bertanya, "Apakah anda tahu kenapa monster ini bisa keluar dari segelnya?"
"Aku tidak tahu...." ucap kakek itu.
"Sudahlah kenapa kau masih menginginkan anakmu kembali, dia sudah mati" gerutu agil.
"Apa?" Ucap lirih kakek itu.
"Kau tidak pernah kehilangan seseorang ya? Sampai kau berbicara seperti itu?"
Agil terdiam, "Aku berharap anakku masih hidup"
"Sudah hentikan kakek tua!!!!! Bagaimana bisa anakmu masih hidup ha? Kau lihat dengan jelas tubuh monster itu dan suaranya?" Pekik agil.
Kakek itu hanya merintih menangis.
Argus menjelaskan untuk segera pergi dari sini sebelum mereka menghadapi monster mengerikan itu, namun disaat mereka mengemasi barang-barang getaran dari tanah muncul lagi, dan monster singa itu menampakan dirinya lagi.
"Dimana kau menyimpan kain dan korek api" argus dengan sigap mengambil busur panah, memasang kain dan korek api, ia mengarahkan tepat disayap kanan monster itu yang masih utuh.
"Karena sayapnya tipis dan ringan itu mempermudah untuk membakarnya"
Benar sayal itu terbakar hingga monster itu meraung kesakitan, dan kembali ketanah.
"Percuma ia akan kembali ketanah api itu mati juga kan?" Agil menimpali.
"Setidaknya kita sudah mencoba" jawab argus.
Mereka lalu turun dari istana, ketiak mereka sampai digerbang kelaurnya, monster itu muncul kembali, sekarang ia menyerang bangunan dari istana itu hingga runtuh seketika dibagian sampingnya.
"Jangan lari!!!!" Teriak argus.
"Kau bisa mengalahkan kecepatan? Ia berlari ditanah seperti berenang di air" lanjut argus.
Karena keras kepala agil, agil berlari, monster itu melihat tubuh kecil agil yang masih berlari, tanpa basa-basi monster itu mengejar agil dengan metodenya, berjalan didalam tanah.
Karena kecepatan monster itu, agil bisa merasakan tubuhnya mengambang ketikan monster itu sudah mendekat.
"Agil!!!!!!" Teriak argus, jay, dan tea.
Monster itu menanduk tubuh agil dengan tubuhnya hingga agil melayang terbang, disaat agil terbang melayang monster itu membuka mulut besar penuh gigi runcingnya.
"Agil tidak!!!!" Teriak tea.
Dengan cepat argus mengambil busur panahnya, ia mengambik tiga sekaligus, tanpa babantuan api, busur itu pas menancap mengenai mata kanan monster itu, dan kedua busur itu menancap dibagian perut monster, ia meronta-ronta dan menoleh kebelakang, tidak menunggu waktu lama ia mengejar seseorang yang melukainya.
Agil terjatuh tepat disebuah tanah yang tidak begitu keras, ia tidak menyangka bisa setinggi itu dihantam oleh monster hingga tinggi, dan ia selamat sampai detik ini, dalam posisi tubuhnya yang masih banyak luka.
Agil melihat, argus, jay, tea, dan kakek itu menghindari monster itu, agil berpikir percuma mereka menyerang menggunakan senjata yang tajam, binatang itu tidak akan bisa mati.
"Woyyyyyyy disini!!!!!" Agil menyerahkan tubuhnya.
Monster itu lalu berhenti dan kembali mengejar agil, agil terus berlari, dan dengan mulus menghindari cakaran maut dari monster walaupun sempat beberapa kali jatuh namun agil bisa melanjutkan berlarinya dan menghindar.
"Jika seperti ini terus bagaimana kita bisa membasminya paman!!!! Lihat agil" ucap tea.
Argus masih diam, hingga sesuatu seperti angin besar menghantam monster itu dadi langit membuat monster itu tersungur kedalam tanah, agil ikut terdorong melayang jauh.
Tubuh agil terjatuh, dengan cepat ia membangkitkan tubuhnya dan melihat apa yang terjadi, seperti angin ****** beliung yang datang tiba-tiba.
Agil menyipitkan matanya karena melihat samar tiga seseorang yang datang menggunakan jibah, agil tidak bisa melihat dengan jelas karena debu dan angin yang masih menyapu tempat itu.
Tiga seseorang itu datang menghampiri argus, jay, tea, dan kakek itu, mereka memperkenalkan diri.
"Maaf datang tiba-tiba mengejutkan kalian, kami Zero". Ucap salah satu zero itu.
"Zero?" Tanya jay.
"iya"
Mata tea dan jay melotot ketika menatap zero itu melepaskan jubah kepalanya, perawakan wajah yang kuat dan tampan dicamlur menjadi satu, terlihat wajah mereka yang berexpresi gigih dan dingin, membuat mata mereka tidak berkedip.
"Hei!!!" argus menyetuh pundak tea yang masih melongo.
"Apaan sih paman"
"Disaat kita kelelahan seperti ini, sepertinya itu tidak mempan untuku karena seseorang yang datang kesini"
"lihat paman wajahnya yang gigih itu"
Argus hanya mengangguk, "Untung saja kita tidak mati ya te, kalau udah mati kau tidak bisa melihat mereka"
Tea tersadar, "Sumpah kita tadi melawan monster itu?!?!?"
Zero itu lalu menjelaskan bahwa mereka adalah pembasmi monster yang diutus oleh atasnya, tujuan mereka adalah membasmi monster yang ada didunia ini.
"Apa memang benar adanya?" Tiba-tiba agil datang dengan suara lirihnya, seraya tubuhnya yang kotor dan lemas penuh luka.
__ADS_1
Jay mendekat kesamping agil, "Kau tidak apa-apa?"
"Untungnya tubuhku kebal jay, jatuh berkali-kali masih kuat jalan kesini, kalau gak bisa jalan kesini kau akan menyusul tidak?" Agik tersenyum, tea hanya bisa memutar bola matanya.
"Apakah kau bisa menyelamatkan putriku?"
"Dimana?" Jawab zero itu.
"Sudah tiga bulan anakku ditangkap oleh monster itu.." kakek itu berlutut di depan ketiga zero itu.
"Maaf, tapi putrimu seharusnya sudah mati"
"Tidak!!!!!! Tidakkk!!!!!!" Teriak kakek itu, ia berdiri dan menarik jubah salah satu zero itu.
"Apa aku akan percaya dengan kalian? Kau tidak menghadapinya ketika putriku ditangkap kenapa kau yakin seperti itu?" Ucap kakek seraya melotot.
"Hei kakek tua, bukanchanya anakmu saja, aku dan orang-orang disini jika ditangkap monster gila itu pasti akan mati" tepis agil.
"Jangan ikut campur anak dekil!!!"
"Aaapaa.....dekil?" Ucap agil membuang muka.
Tiba-tiba monster itu kembali bangun dari tidurnya, ia mengaum dengan keras.
"Bersembunyilah dibelakang kami" perintah zero itu.
Salah satu zero itu mengeluarkan kekuatan dsri tanganya, dengan pengendalian api, tanganya me dorong api itu hingga api itu mengenai tubuh monster itu, karena masih bisa menyerang, zero itu mengeluarkan sebongkas batu besar yang tiba-tiba muncul didepan mereka.
Zero itu mendorong batu besar, dan mendorong melawan monster, monster itu mendorong balik batu besar itu, hingga ketiga zero itu akhirnya menyatukan kekuatan mereka.
Tiba-tiba kakek itu berlari kearah monster itu dan mejatuhkan diri ke monster yang masih mengaum manahan batu itu.
"Tunggu tidak!!!!!!" jay berteriak.
"Ia lepas dari genggamanku!!!!" tea berteriak.
Para zero melayang, lalu dengan kekuatan extra mereka, karena kakek itu konsentrasi monster itu teralihkan dan dengan mudah batu itu terjatuh menindih monster itu dengan sekejap, dan terakhir ucapan yang didengar adalah mengaumnya monster itu kerena telah disegel.
"Kakek!!!!!!!" teriak jay.
Angin dan debu yang berhamburan setelah batu itu menindih kuat monster dan seorang kakek tua, ada perasaan sakit dan sedih melihat apa yang mereka lihat didepan mata mereka, namun ada perasaan lega karena monster itu berhasil disegel.
Jay masih menatap kosong didepannya, seperti kehilangan sosok berharga, argus menepuk pundak jay, "Ini pilihan yang tepat untuknya"
"Maaf kami tidak punya pilihan lagi" ucap zero itu.
Jay menjatuhkan tubuhnya, masih tidak menyangka yang ada didepannya.
"Jay kita tidak bisa membantunya karena kemaunanya untuk berlari kearah monster itu, itu bukan salah kita" ucap agil.
"Aku berusaha memeggang kuat tanganya, tapi...."
"Te yang sudah biarlah, kita doakan saja setelah ini" sahut argus.
Agil mendekat dan berbisik ke wajah para zero itu, "Sebegitu saja!?!?!" Ucap bingung agil.
"Kalau kita punya kekuatan mungkin akan semudah itu gil" jawab argus yang mendengar bisikan agil.
"Sebenarnya monster ini tidak begitu mengerikan dibanding dengan monster-monster yang kita temui dulu-dulu" sahut zero itu.
"Sewaktu-waktu dia akan bangkit kembali karena kekuatan kami sudah habis, jadi kami tidak menyengel kuat" ucap salah satu zero itu setelah turun dari melayangnya.
"Terima kasih" ucap tea.
"Kami dengan senang hati ingin mengajak kalian semua untuk ikut bersama kami dikuil kami, tempat ini seperti tidak ada tujuan, kalian bisa pergi bersama kami"
"Kemana tujuan kalian?" Tanya argus.
"Dikuil kami, kalian bisa istirahat disana"
"Tapi tolong apakah kalian bisa menunggu kami?" ucap agil.
"Kami akan mendoakan kepergian kakek kami disini" lanjut jay.
Para zero itu hanya mengangguk, mereka bersujud dan mendoakan kakek itu, sebenarnya berat hati harus meninggalkannya disini tidak dikubur yang layak, namun bagaimana bisa melepaskan batu itu? sedangkan kita lebih membutuhkan monster itu disegel.
Ada perasaan yang sedih mengingat kembali orang-orang yang meninggalkan agil, ia teringat kembali disaat berdoa, pikiran itu memenuhinya, "Maafkan anak dekil ini kek, sering keras kepala dan berteriak didepanmu, semoga kau tenang disana...." ucap agil.
Jay dan tea hanya bisa berdoa seraya mengeluarkan air matanya tak henti, mereka menganggap kakek sebagai keluarga barunya, tea teringat ketika suatu pagi ia terbangun, kakek itu oernah berkata padanya, "Semua yang kau alami akan menjadi cerita begitu indah saat kau mati, percayalah dengan jalan hidupmu" tea merasa sangat bersalah karena peggangan tea dan kakek itu terlepas.
Tea menutup matanya, argus masih bersujud, ia berharap setelah ini tidak akan terjadi kejadian yang seperti ini, cukup hanya ini, ia senang bisa mengenal kakek, walaupun waktu terasa singkat, semoga kakek tenang disana, batin argus.
"Sepertinya doa kalian sudah cukup" sahut zero.
Lalu salah satu zero itu tiba-tiba mendatangkan dua ekor elang putih besar, hanya sekali tepukan tangan mereka, didepan argus, agil, jay, dan tea.
Mereka melotot kaget karena tiba-tiba elang itu sudah muncul didepan mereka, tidak untuk mata agil, agil sama sekali tidak kaget, ia hanya menghembuskan nafasnya karena melihat elang itu lagi, pikiranya kembali kesaat-saat itu, saat dimana ia berpisah dengan randi dan gilang.
__ADS_1