Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Buronan


__ADS_3

Vin menoleh kearah Aleris sebelum pergi, ia merasakan gugup, lalu ia kembali melangkah mendekat.


"Belum saatnya aku mengatakannya..."


Aleris hanya mengangguk, "Tidak masalah... " jawab Aleris.


"Satu lagi!" sahut Vin.


"Awalnya Randi memalsukan nama aslinya...."


Aleris terbelalak, ia terkejut.


"Siapa?"


Awalnya Vin sedikit ragu untuk mengatakannya, namun ini bukanlah masalah besar, dan sepertinya ia harus mengatakannya, karena ini hanyalah penyamaran Randi.


"Saat awal bertemu ia mengatakan jika namanya adalah 'Delon' aku percaya saja saat itu, tapi setiap malam aku datang ke penginapannya, dan Lidra sering kali memanggilnya dengan sebutan Randi, entahlah aku tidak tahu kenapa ia seperti itu...."


Aleris menghelan nafasnya, "Tidak usah dipikirkan, ia sering kali seperti itu, mungkin ia menjadi lebih tenang jika ia tidak menyebar identitas aslinya..." gumam Aleris.


Malam itu, setelah kedatangan Vin, monster kelelawar yang baik. Sedikit harus hati-hati memang dengan Vin yang tiba-tiba datang, Aleris sangat takut jika ia hanya ingin menjadi mata-mata, tapi sekali lagi Aleris tegaskan, cara bicaranya sangatlah tulus.


Aleris menutup jendelanya, ia masih terdiam menatap kaca jendela yang banyak salju yang menempel, ia memejamkan matanya.


"Lalu? jika benar dia hanyalah orang yang telah menjadi penghianat dari para iblis itu, dan memilih pergi, aku harap aku bisa mempercayaimu, tapi jika sebaliknya aku akan membunuhmu..."


Tiba-tiba sesuatu pikiran yang muncul diotaknya.


"Dia membeberkan rahasia para iblis itu, kau masih ragu dengannya?"


Aleris terbelalak, dan segera menutup jendela dan gorden, pikirannya seolah terbelah menjadi dua. Ia kembali tidur.


Semalaman, hingga siang ini yang hanya dilakukan Agil hanyalah terdiam disudut ruangan, matanya sangat penuh amarah dan kekecewaan. Dengan sengaja Jay datang ia membawakan air hangat.


"Kau masih memikirkan omongan bapak itu kemarin?" ucap Jay seraya duduk disamping Agil.


"Ya bagaimana aku tidak bisa memikirkannya? setelah sampai disini? apa yang harus kita lakukan? sampai otakku berhenti disuatu kalimat 'Randi dan Gilang mati' kau tidak berpikir sampai itu?" pekik Agil.


Jay hanya terdiam, "Tapi bisa saja apa yang dikatakan oleh prajurit itu tidak benar, bagaimana bisa suatu kerajaan yang sejahtera berhubungan baik dengan para iblis hanya untuk urusan mereka sendiri?"


"Oh kau masih tidak tahu apa yang aku maksud? Jay?"


Tiba-tiba tubuh Jay memeluk tubuh Agil, ia memeluk dengan erat, matanya tak bisa dibendung lagi, Jay ikut menangis.


"Dulu, aku berambisi untuk datang ke sini, karena seperti yang dikatakan oleh orang-orang semua masalah bisa kau tanyakan kepada kota Majestic, tapi setelah aku datang kesini, sesuai dengan kata raja Jesper, ini semua sama saja..."


Jay melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Agil.


"Dengar, hilangkan tentang kalimat yang berhenti diotakmu tentang 'Randi dan Gilang mati' kita sudah sampai disini, dan tujuan kita adalah mencari jawaban kan?"


Agil menunduk seraya meneteskan air mata.


"Seperti yang dikatakan bapak-bapak itu, tentang seorang prajurit yang melarikan diri, ia mengatakan semua yang ia lihat didalam kerajaan itu, lalu ia bercerita kepada semua orang, hingga akhirnya raja mengklarifikasi kalau itu tidak benar, sampai disini aku berpikir aku harus percaya dengan siapa? hingga saat ini prajurit itu masih menjadi buronan, kalimat itu yang membuatku jadi berpikir, apakah Randi dan Gilang memang benar berada disini? ia dibawa oleh elang besar hitam mengerikan, dan aku tidak tahu dimana mereka, akhir-akhir ini aku sulit untuk percaya Jay, hatiku sudah mati..."


Jay menundukan kepalanya, "Aku jadi berpikir apakah Randi dan Gilang dibawa dikerajaan itu? ditumbalkan? atau disiksa atau diapalah? setelah mendengar bapak itu bercerita tentang prajurit itu, aku ingin sekali memberontak..." gumam Agil.


Jay menepuk kedua pundak Agil, lalu ia menyentuh kedua pipi Agil. Matanya sayu menatap Jay, ada air mata yang berhenti diekor matanya, lalu Jay membersihkannya.


"Kau berjanji kan? kau akan membuat semua orang yang tersesat disini akan kembali kedunia mereka? maka lakukanlah sekarang, kenapa kau sedih hanya karena perkataan bapak itu? yang sama sekali ini tidak ada hubungannya denganmu kan? yang harus kau lakukan hanyalah fokus saja Gil, tidak lebih, jangan terkoyah dengan ucapan semua orang, yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu, jangan kau masuk kedalam perangkap, yang kau anggap ucapan semua orang itu ada hubungan denganmu, itu salah besar...."


Agil tidak bisa menahan lagi, ia memeluk Jay dan menangis didalam pundak Jay, Jay mengelus rambut kepala Agil.


Tea berjalan disebuah koridor penginapan itu, seraya membawa keranjang pakaianya, ia sedikit kesal karena ia ingin mencuci bajunya namun tidak ada sama sekali air yang muncul.


Ia turun tangga dan datang ke remaja yang duduk menatap salju dijendela, itu adalah seorang kasir.


"Dek?" sahut Tea.


Remaja itu terkejut, lalu menundukan kepalanya salam.


"Iya kak? ada yang bisa aku bantu?"


"Kenapa ya? kok air di kamar mandi mati?"


"Ah benarkah?" remaja itu lalu berlari keluar.


Seperti sedang memeriksa saluran air. Tak lama ia kembali.


"Ah maafkan saya kak, sepertinya saluran air sedang ada masalah..."


Tea menghelan nafasnya, bahkan sudah ada banyak pakaian yang kotor dikeranjang. Kemudian remaja itu tersadar.


"Kalau boleh, ada sebuah pancuran air hangat didekat sawah kak..."


"Sudahlah tidak usah, cuaca yang dingin bersalju seperti ini, membuatku malas..."


Remaja itu lalu dengan spontan menyahut, kerajan yang Tea bawa, membuat Tea terbelalak kaget.

__ADS_1


"Hei?" sahut Tea.


"Akan saya bantu kak!" sahut remaja itu seraya menundukan kepalanya.


Tea memutar bola matanya, "Baiklah, tunjukan jalanya ya?" remaja itu mengangguk.


Memang dingin hawa diluar, saat ia berjalan ditanah setapak ditengah sawah, yang diselimuti salju, betapa takjupnya saat ia melihat hamparan salju dan beberapa rumput yang masih kelihatan kehijauannya.


Tak lama, remaja itu berhenti disebuah sungai kecil, dan ada sebuah pancuran kecil dibebatuan.


"Dek? itu air hangat?"


Seraya meletakan kerajang, remaja itu mengangguk.


"Ini asli kak.."


Tak lama, Tea langsung mencuci bajunya, memang benar airnya bahkan sangat hangat.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" ucap remaja itu duduk didekat batu.


"Iya, apa?"


"Apa yang akan kakak lakukan, jika sudah tidak bisa untuk menghormati lagi kepada pimpinan yang selama ini kakak percayai?"


Tea tiba-tiba menghentikan aktifitasnya, ia teringat perkataan bapak-bapak kemari tentang isu yang telah tersebar luas.


"Apakah yang kau maksud tentang isu itu?"


Remaja itu mengangguk cepat.


"Awalnya, dulu keluargaku tidak bisa diterima dikota ini karena, ayahku sakut keras mereka menolek habis-habisan, dan juga kita tidak memiliki apapun yang bisa membuat membuat pembayaran agar kita bisa hidup disini lebih lama, sejak saat itu aku sudah kehilangan rasa simpati kepada raja Gevarnest, tapi pangeran Arvand membantuku, ia menyembuhkan ayahku, dan memberikan pekerjaan kepada aku, ayah, ibu dan kedua adikku, tapi pada akhirnya ada rumor yang sudah menjalar keseluruh kota Majestic tentang ia berkerja sama dengan para iblis hanya untuk urusan mereka sendiri tanpa memikirkan warganya, aku jadi..."


Tea memotong ucapan remaja itu.


"Suuutt...." ucap Tea.


"Apa yang harus aku katakan ya? karena aku juga baru saja mendengar rumor itu, dimana membuat aku dan teman-temanku menjadi banyak pikiran setelah itu, tapi karena aku kesini bukan untuk melakukan hal-hal yang lain, jadi aku dan teman-temanku fokus kepada tujuan selama ini, dengar ya dek, fokuslah kepada apa yang menjadi urusanmu, mau bagaimana pun tengang rumor itu, bukanlah raja sudah menelak jika itu tidak benar? berati secara tidak langsung raja, ingin membuat warga tidak khawatir tentang itu..." ucap Tea seraya menepuk kedua pundak remaja tersebut.


Setelah mencuci baju, selama kurang lebih satu jaman, Tea dan remaja itu kembali, pada akhirnya Tea merasa lega telah mencuci bajunya yang sebanyak itu.


Tea menaiki tangga, ia berhenti saat ia melihat Jay keluar dari kamar Agil.


"Jay?" tanya Tea kaget.


Jay membuka mulutnya lebar, "Ah tidak!"


Jay lalu mendekat ketelinga Tea ia berbisik, "Nanti malam, kita susun strateginya..."


"Secepat ini!?!?" teriak Tea spontan, membuat Jay memukul lengan Tea agar Tea berhati-hati.


"Secepat ini? aku tidak salah dengar? tujuan kita disini kan memang ini yang harus kita lakukan? kan?" sahut Jay.


"Memang benar, setelah kita beristirahat dan mengisi amunisi disini bukankah ini waktunya kan?" ucap Tea.


Jay mengangguk.


Malam itu, di kamar Agil, tepat tengah malam, Agil membuka buku yang ia bawa, seraya mencorat-coret bagaimana mereka harus beraksi dalam melakukan rencana mereka.


"Aku berharap, kita tidak tertangkap, karena tujuan kita ada disana!" Agil menujuk kesebuah jendelan yang terbuka, yang memperlihatkan kerajaan Majestic yang terlihat kecil disana.


"Besok malam, aku ingin Tea dan Jay yang terus berjalan menuju kerajaan itu, aku yang akan memancing para prajurit itu..."


"Tunggu! kau menyuruhku dan Jay masuk kekerajaan itu? sungguh?" Tea menghelan nafasnya.


"Terus apa tujuan aku dan Jay masuk kekerajaan?" sambung Tea.


"Selama ini kau tidak paham kah!?!?" Agil berteriak.


"Sudah aku katakan kau adalah beban disini..." lanjut Agil.


Karena Tea tidak terima dengan perkataan Agil yang meledek dirinya, Tea memukul meja dengan keras.


"Ya! apa maksudmu!"


"Hentikan..." gumam Jay.


"Dengarkan aku Te, kita masuk ke kerajaan karena mencari..."


Tiba-tiba Tea memotong pembicaraan Jay.


"Jelas saja aku tidak tahu! kalian yang merencanakan tanpa sepengetahuan aku!" guman Tea seraya tersenyum sinis.


"Dengarkan aku Te!!!" teriak Agil.


"Ini bukan saatnya untuk emosi, emosi, dan emosi!!!! kita akan menyusup kekerajaan itu, kita cari yang sekiranya mencurigakan, dan! yang terpenting kita cari Randi dan Gilang disana!"


Tea terbelalak, "Kau yakin mereka ada disana? kau bahkan belum yakin!"

__ADS_1


"Ya kita berusaha mencari dan mencoba Te!!!! karena itu tujuan kita kan!!!!" teriak Agil.


Malam itu hanya teriakan Agil dan Tea yang terdengar dikamar itu, mereka berharal tidak ada seseorang yang mendengarkan ocehan mereka.


Tea pasrah ia kembali duduk.


"Dengar, kau dan Jay akan menyelinap masuk kedalam kerajaan itu, kalian cari pintu yang bisa dibuka atau jendela, yang sekiranya sepi, aku akan memancing sebisa mungkin agar kalian tidak ketahuan!"


Tea hanya mengangguk, "Kalau kita ketahuan?" tanya Jay.


Agil menatap Jay, "Itu tidak mungkin..."


Tea yang sedari tadi diam lalu beranjak.


"Bagaimana kalau bertanya kepada orang-orang terlebih dahulu? ada sebuah tempat dipusat kota dimana disana kau bisa mencurahkan curhatanmu kepada semua orang, karena tempat itu adalah tempat persidangan untuk warga-warga..."


"Te bagaimana kau tahu?" tanya Jay.


"Aku tahu karena remaja disini..."


"Jadi maksudmu aku bisa mencari tahu disana? ah tidak maksudku aku bisa berpidato disana? atau memberikan informasi disana?"


Tea mengangguk, "Cobalah untuk itu terlebih dahulu, bisa saja warga disini dengan kau menceritakan ciri-ciri Randi, mereka tahu?"


"Baiklah, tapi rencanaku tidak diubah, besok pagi aku harus datang kesana mengumpulkan warga, untuk mendengarkan informasi yang aku beberkan disana, kalian tentu mendampingiku dan tetap mengawasiku, setelah itu malam hari waktunya kita beraksi!"


Jay dan Tea saling tatap, "All right!" teriak Tea.


Jay mengangguk, Agil menatap Jay.


"Jay hati-hati, kau tahu kan?" bisik Agil.


Suasana pagi memang menjadi ciri khas jika dingin selalu menyelimuti semua orang yang beraktifitas pagi, dengan tergesa-gesa Agil memakai senjata yang ia simpan didalam bajunya, seraya membaca kertas catatan untuk ia pidato nanti.


Memang sudah ramai orang-orang dipusat kota, Agil menatap salah satu pria tua yang sedang berdagang dipinggir gubuk, Agil mendekat.


"Pak, saya hanya ingin izin untuk berpidato dipanggung itu, berikan saya waktu..."


Pria itu mengangguk dengan cepat, mengiyakannya.


Agil menghembuskan nafasnya beberapa kali, ia lalu dengan percaya diri melangkah maju menaiki tangga. Orang-orang terheran-heran dan bertanya-tanya siapa yang datang dipanggung itu.


Semua warga tiba-tiba berkumpul disana, melingkar menatap Agil yang sudah berdiri diatas panggung itu.


"Sebelumnya saya meminta maaf, karena pagi-pagi seperti ini saya harus menganggu aktifitas warga disini..."


Namun pembukaan Agil sudah dipotong oleh warga disana, dimana mereka hanya ingin mendengarkan keintinya saja!


"Hei anak muda! cepatkan ada informasi apa yang ingin kau bagikan?" teriak pria setengah tua.


Agil tak henti-hentinya, menghelan nafasnya berusaha terlihat tenang.


"Saya telah kehilangan dua teman saya, saya kesini untuk mencarinya..."


Namun lagi-lagi warga memotong pembicaraan Agil.


"Dengar nak! kalau kau tidak memberikan ciri-ciri bagaimana bisa kita tahu! pekik seorang ibu.


Agil mencoba terlihat tenang, tak lama Agil melihat sudah ada banyak orang dibawahnya, ini adalah masalah yang besar, dimana dia baru pertama kali bertatapan dengan orang-orang banyak disini, sebelumnya yang Agil rasakan hanyalan presentasi diruang kelas, yang dimana tidak ada orang yang sebanyak ini.


Dengan tubuhnya yang bergetar, Agil mencoba mengeluarkan suaranya lagi.


"Ciri-cirinya, dia memiliki tato pedang! dilehernya dan....dan.. dia adalah mantan prajurit!"


Semua orang terdiam dan berbisik, keriuhnya mulai berdatangan. Jay dan Tea terbelalak kaget disebuah gubuk tua, mereka dari sejak tadi memperhatikan Agil, namun ini bukanlah rencana yang ada ditulisan mereka.


Tea berdiri dengan emosi, namun Jay menahannya.


"Apa kau tidak dengar? dia mengarang! dia mengarang Jay apa yang dia lakukan!!!!" pekik Tea.


Jay hanya terdiam, menatal Agil yang masih berdiri dipanggung tersebut.


"Apakah aku salah? tidak ini benar! aku sudah melakukan yang terbaik..." gumam Agil, ia melirik kearah gubuk dimana ada Tea dan Jay disana.


"Maafkan aku....tapi sepertinya aku harus bertemu dengan prajurit itu..."


Semua orang tiba-tiba ramai, dengam bisikan- bisikan mereka.


"Hei anak muda! kau tidak tahu ya! dia sedang dicari! kenapa kau ketinggalan berita!"


Tiba-tiba Agil merogoh sakunya, dan mengeluarkan bongkahan kristal yang mengangkatnya keatas.


"Barang siapa! yang menemukannya aku akan memberikan Kristal berlapis emas untuk orang yang telah menemukannya!!" teriak Agil.


Jay dan Tea terbelalak, mereka tidak menyangka Agil melakukan hal yang diluar rencana mereka.


"Tidak bisa dibiarkan Jay, dia keterlaluan!" pekik Tea.

__ADS_1


__ADS_2