Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kedatangan Raja Jesper


__ADS_3

Gerombolan para prajurit yang tidak dikenal berhenti disebuah depan gerbang kerajaan, prajurit kerajaan Majestic memberhentikannya. Mereka sama sekali tidak tahu dari mana mereka berasal.


"Kau baru disini?" sahut raja jesper.


Hal itu tentu membuat prajurit kerjaan Majestic seperti diledek.


"Tidak susah kan? kalian memberitahu kami, dari mana asal kalian?" ucap salah satu prajurit tersebut.


Tiba-tiba raja Gevarnest datang, ia sempat kaget saat melihat kain bersih yang menutupi tangan kiri Jesper.


"Kau tidak kenal adikku?"


Para prajurit yang menghalang jalan mereka lalu tersentak kaget, dan segera menundukan kepalanya.


"Maafkan kami tuan!" sahut salah satu prajurit tersebut.


Tanpa menjawab, raja Jesper masuk begitu saja diikuti para prajurit dibelakangnya, melewati para prajurit Mejestic yang tidak henti-hentinya menundukan kepalanya.


"Habis ini kalian bisa menemui aku!" sahut raja Gevarnest, beranjak pergi.


Tentu kedatangan raja Jesper membuat semua orang-orang kerajaan kaget, karena tiba-tiba tanpa kabar, bahkan semua sudah melupakan kejadian saat Aleris mengatakan jika raja Jesper akan memberitahukan kabar, namun tak disangka-sangka ia datang.


"Jesper?" ucap Mahagaskar setelah raja jesper dan para pasukannya, meletakan kuda mereka dan naik ke tangga kerajaan.


Raja Jesper yang terkenal ramah, menjabat tangan beberapa orang termasuk Leon, Mahagaskar, Jangsal, Varegar, dan lainnya.


"Aleris disini?" ucap jesper.


Namun dengan sigap raja Gevar segera menyuruh raja Jesper masuk kedalam ruangan.


Seraya berjalan, raja Jesper memandangi ruangan tersebut.


"Tidak berubah" gumam Jesper.


Raja Gevarnest mengisyaratkan para selir untuk membersihkan tempat rapat diruangan itu, tentu kursi dan meja yang masih berantakan.


Raja Gevar mempersilahkan raja Jesper duduk, diikuti Leon, Mahagasakar, dan Varegar disana.


"Dimana Carlota?"


Beberapa orang saling melirik satu sama lain.


"Dia sedang sakit, dan dia butuh istirahat yang sangat penuh" sahut raja Gevarnest.


"Baiklah, aku tidak masalah, semoga ia cepat pulih, lalu dimana Aleris dan Arvand?"


Karena suara ricuh dibawah, Arvand beranjak dan saat ia turun dari tangga ia melihat beberapa orang yang duduk dimeja bundar diruangan raja, ia menyipitkan mata.


"Paman Jesper?" gumamnya.


Ia segera lari dari tangga.


"Paman!" pekik Arvand.


"Wah, Arvand!!" ucap Jesper seraya berdiri dan siap untuk menerima pelukan dari Arvand.


Arvand berlari dan menabrakan diri didalam pelukan Jesper, namun hal yang tidak disangka-sangka saat Jesper menerima pelukan Arvand, semuanya terbelalak kaget.


"Tanganmu?" sahut raja Gevar.


Jesper segera melepaskan pelukannya, dan duduk dan menutupi tangan kirinya dengan kain.


"Ada apa dengan tanganmu?" ucap Mahagaskar.


"Akan aku jelaskan, tolong panggil Aleris..."


Leon dengan sigap, berdiri dan beranjak, segera mencari keberadaan Aleris.


"Kau kenapa sialan?" teriak Aleris dari balik pagar.


Aleris masih memberi makan kepada beberapa ikan dikolam ikan kecil belakang kerajaan, ia berdiri mendekat dan membuka pagar.


"Ada apa? kau rindu padaku?"


Leon melotot dan meledek Aleris dengan gerakan memutahkan angin dari mulutnya.


"Kau tidak tahu? hal yang kau tunggu-tunggu datang juga" sahut Leon.


"Apa?" ucap Aleris.


"Raja Jesper"


Aleris terbelalak, segera ia beranjak, menaruh mangkok berisi makanan ikan, di kedua tangan Leon.


"Apa-apaan ini!!!" sahut Leon seraya menumpahkan mangkok tersebut.


Aleris membuka gerbang, ia melangkah dengan cepat diikuti Leon dibelakangnya, ia menundukan kepalanya kepada raja Jesper, lalu raja jesper menyuruh Aleris dan Leon duduk dikursi depannya.


"Akhirnya aku datang kesini" ucap raja Jesper.


Arvand melirik kearah Aleris, tatapan Arvand sangat canggung, ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


Para selir yang datang membawakan beberapa makanan dan minuman dimeja tersebut.


"Ternyata, aku bisa menunggangi kuda kesini" sahut Jesper.


Ia lalu membuka kain tersebut, betapa kagetnya mereka saat melihat tangan kiri raja Jesper buntung.

__ADS_1


"Kau?" sahut raja Gevarnest.


Tentu hal itu membuat Aleris terbelalak tak percaya dengan apa yang disuguhkan raja Jesper didepannya.


"Tuan? ada apa denganmu?" sahut Aleris.


"Akan aku ceritakan secara detail....." gumam raja Jesper.


Raja Jesper menceritakan awal kejadian. Dimana saat Aleris meninggalkan kotanya beberapa hari kemudian, ada salah satu monster kelelawar yang datang lagi menyerang kota. Awalnya raja Jesper berhasil menyerang dan membunuh monster tersebut, namun ia baru saja tahu dari para Zero yang datang jika monster kelelawar tidak bisa mati.


Monster itu mengeluarkan asap hitam, dan terbang melayang di beberapa prajuritnya, dengan seperkian detik, kedua para prajurit itu berubah menjadi monster kelelawar, dimana monster itu tambah semakin besar.


Raja Jesper bersyukur ada para Zero yang datang dan menyenggel monster itu dengan cepat, dan mengeluarkan kedua para prajurit itu dari monster tersebut.


"Karena aku tidak bisa tidur selama beberapa hari, aku memutuskan mendatangi teluk alaska bersama para Zero...."


Mereka datang, dan betapa kagetnya raja Jesper saat Teluk Alaska sudah dipenuhi kekuatan sihir. Ia mengidari para monster gurita yang menyerangnya diudara, karena raja menggunakan alat transportasi elang miliknya.


Zero itu terbang melayang dan menyerang seekor gurita besar itu, ia berhasil memotong dua tentakel besar. Namun gurita raksasa itu tidak menyerang para Zero justru ia menyerang raja Jesper yang waspada dipunggung elang tersebut. Raja Jesper berusaha menghindar namun tentakel tersebut berhasil menyeret sayap elang itu, dan melahapnya dengan cepat, hal itu tentu membuat raja Jesper jatuh, dengan cepat Zero tersebut melempar serbuk yang menjadi kekuatan mereka, dimana serbuk itu bisa membuatnya terus melayang diudara.


"Cepat, cepat pergi dari sini!!!"


Bahkan beberapa kali raja Jesper mengeluarkan kekuatannya, agar monster itu berubah menjadi patung, namun hal itu sia-sia.


Gurita raksasa itu menyahut raja Jesper dengan kekuataannya, ia berhasil mendapatkan tangan kiri raja, karena serbuk itu, gurita sulit untuk mendapatkan tubuh raja, ia terus menarik, tapi serbuk itu menahannya.


Zero itu memutuskan untuk menebas tentakel yang menarik tangan kiri raja Jesper, kejadian tidak disangka begitu saja saat Zero menebas gurita tersebut ada suatu kekuataan sihir yang terjadi dengan secepat kilat. Gurita itu seperti mengganti tentakelnya dengan tangan kiri raja Jesper, Sehingga yang Zero tebas bukan tentakel gurita raksasa itu namun tangan kiri raja Gevarnest.


"Aku tahu butuh beberapa hari untuk menenagkan Zero itu, dia tidak berhenti meminta maaf kepadaku..."


Semuanya terlihat tercengang dengan cerita nyata yang dibawakan oleh Jesper.


"Kekuatan Sihir?" tanya Mahagaskar.


Dengan cepat raja Gevarnest menyahut, "Jadi? para prajurit suruhanku cepat mati gara-gara sihir itu?" ia menatap Varegar.


"Mungkin, karena aku pikir tidak butuh waktu lama mereka pergi sudsh kembali dalam posisi yang menyeramkan" lanjut Varegar.


"Sejak kapan Teluk Alaska memiliki kekuatan sihir?" tanya Aleris.


Raja Jesper menggeleng, "Aku tidak tahu ris, kau bisa cari tahu?"


Aleris menggeleng.


"Aku tidak punya kemampuan seperti itu"


"Aku belum memberikan kabar yang jelas terkait tentang iblis gila yang sedang mengguncang dunia.."


"Setelah aku teliti potongan samurai itu, memang sepertinya tubuhnya tidak bisa dibaca oleh alat-alat cangih milikku, sejak saat itu aku memikirkan apakah aku harus menjelaskan secara terperinci kepada Aleris.."


"Maksudmu apa? kau belum menceritakan sepenuhnya kepada Aleris?" pekik raja Gevarnest.


"Belum sepenuhnya.."


Raja Jesper beranjak dengan tergesa-gesa, sepanjang koridor kerajaan ia tidak sama sekali menoleh kebelakang dengan raut wajah yang muak, Aleris mengikutinya ia berlari dan menghadang raja Jesper.


"Begini saja?" ucap Aleris.


"Terus? apa yang bisa aku lakukan?" sahut Jesper.


"Tuan? kau menyuruh kita untuk diam menunggu saja? aku pikir kau memiliki kabar yang baik dari ini?" ucap Aleris.


"Aku hanya memiliki kabar seperti ini, mau bagaimana gaya pencarianmu, kau tidak bisa melihat para iblis dan tempat asalnya, karena itu aku didatangi oleh iblis didalam mimpi ku!"


Aleris menghelan nafas.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


Jesper tersenyum.


"Kenapa kau seperti ini? seperti tidak biasanya? biasanya kau tidak perduli dengan apapun tentang Majestic, biarlah Gevar yang memikirkannya!" pekik Jesper.


"Aku akan pulang Ris, kerjaku sudah selesai sampai disini kan, setelah ini aku berharap kotaku akan aman"


Jesper menyuruh Aleris untuk memunculkan elangnya.


Seraya menaiki punggung elang Jesper berkata,"Terima kasih tumpangannya" ucap Jesper seraya terbang ke udara.


Aleris masih menatap Jesper yang terbang melayang diudara, tatapan seperti tatapan kebingungan.


"Benar juga, kenapa aku harus pusing-pusing seperti ini?"


Diaebuah ruangan yang gelap, hanya ada obor yang remang-remang, raja Gevar duduk seraya menggengam liontin bulannya, hingga tanganya tak sadar mengeluarkan darah yang bercucuran dilantai. Tatapannya kosong menatap lukisan monster naga dan manusia raksasa yang berkelahi, ini adalah lukisan ayah dari raka Gevar yang sengaja ia lukis untuk kenang-kenangan.


Varegar membuka pintu, dan menundukan kepalanya kepada raja Gevar.


"Tuan? apakah kita akan diam saja sampai saat ini?"


Tiba-tiba raja Gevarnest melempar liontin itu kearah lukisan, untungnya lukisan tersebut tidak pecah.


"Kau tidak lihat selama ini aku diam kenapa? kau masih tidak paham juga?" sahut raja menatap Varegar yang ketakutan.


"Maksudku kau masih ingin menyembunyikan pria itu kepada orang-orang disini?"


Raja Gevar menghelan nafasnya.


"Aku sengaja melakukannya, bahkan mereka juga tidak tahu kan? kita punya ruangan penelitian dibawah tanah? kita juga punya sihir dipuncak menara dimana ini adalah sambungan energi dari ruangan bawah tanah, ini alasan aku menyembunyikan identitas pria itu" sahut raja Gevarnest.

__ADS_1


"Kita masih diam-diam seperti ini? para iblis sudah menyerang kita satu persatu!" pekik Varegar.


"Diam tikus busuk!!!!" pekik raja.


"Kau paham kan kenapa aku seperti ini?"


Beberapa menit kemudian, Leon mengentuk pintu, segera Varegar mengambil liontin bulan itu dan menyembunyikannya.


Leon menundukan kepalanya.


"Tuan, dibagian pojok kota Majestic terjadi pertumpahan darah dengan para pembisnis disana, para prajurit juga sudah saya perintahkan untuk segera datang kesana."


Raja Gevar dan Varegar melotot kaget, Varegar membuka gorden jendela dan melihat daerah pojok kota Majestic dan benar ada asap api disana.


Raja Gevarnest mendekat kearah Leon.


"Benar, kau bisa datang kesana? beritahu aku apa yang terjadi"


Leon menundukan kepalanya pamit.


Diikuti Jangsal yang juga menunggangi kuda mengikuti Leon, mereka berhenti turun dari punggung kuda. Suasana sudah sedikit membaik walaupun ada beberapa korban yang berjatuhan disana.


Ada beberapa orang yang menangisi bentrok tersebut.


"Bisa jelaskan kepadaku bu?" ucap Leon.


Seraya menangis dan mengendong anaknya ia menjawab.


"Saya sedang pergi kepasar untuk membelikan makanan untuk suami saya tuan, saat saya kembali ada uknum gila yang selama ini menyamar didesa, ternyata ia adalah seorang perampok ia mengambil alih bisnis suami saya" ucapnya menangis.


Jangsal menyentuh pundak ibu tersebut seraya menenangkannya. Leon mendekat dan masuk kedalam sebuah restaurant tersebut, ada banyak darah yang berceceran disana.


"Uang saya dan suami diambil, barang-barang berharga lainnya" gumam ibu tersebut.


Leon keluar, "Ini hanya perselisihan antar bisnis didalam perdagangan biasa, akuu pikir ini ada hubungannya dengan iblis"


"Lalu kau pikir jika tidak ada hubungannya dengan iblis kau tidak ingin membantu?"


"Kenapa kau berpikiran seperti itu? aku tidak akan melakukan hal gila seperti itu, kecuali kau mengatakan dengan Varegar maka Varegar akan menjawab 'Tentu aku tidak akan mengurusi permasalahan ini jika tidak ada hubungannya dengan iblis' kau tahu kan?"


Leon dan Jangsal menyuruh beberapa prajurit untuk membawa para korban dan membersihkan sisanya dihalaman.


"Siapa nama suami ibu?" Leon menyuruh ibu tersebut untuk duduk disebuah bangku dijalan.


"Jhony, suatu hari ada beberapa orang melamar bekerja dikedaiku, aku tidak pernah sekali datang membantu suamiku ke kedainya, karena aku juga jualan di pasar, aku hanya kenal salah satu dari mereka sda yang bernama Vin, dia adalah wanita yang baik menurutku"


Ibu tersebut menangis.


"Tapi perkelahian itu terjadi saat aku tidak dirumah"


"Ibu tahu sebelumnya apa yang terjadi?"


"Suamiku bercerita, jika Vin harus kembali ke kota asalnya, karena kedaiku sepi suamiku tidak bisa memberikan beberapa barang atau makanan kepada mereka, dan sepertinya memang ini permasalahannya"


"Baiklah, saya sudah menyuruh para prajurit untuk menangkap pelaku, anda bisa melihat jasad suami ada untuk terakhir kalinya disana" sahut Jangsal.


Ibu tersebut beranjak, Leon berdiri seraya menatap sekeliling perumahan tersebut.


"Kau sudah lama tidak bekerja seperti ini..." ucap Jangsal.


Leon hanya menoleh, karena Jangsal yang masih terduduk dibelakangnya.


"Kau sudah lama hiatus karena penyakitmu kan"


Leon hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.


"Aku sudah sembuh.." pekik Leon.


Jangsal lalu berdiri dan merangkul pundak Leon.


"Masih melanjutkan pekerjaanmu yang mana? mata-mata?"


Hal itu membuat Leon tersentak ia menatap sangat dekat kepada Jangsal, ia segera melepaskan rangkulan Jangsal.


"Kau tidak perlu tahu.."


Jangsal mendekat, "Tidak, aku hanya sangat bersyukur kau bisa pukih lagi, karena saat kau sakit pekerjaan ini sangatlah berat untukku"


Randi berlari kearah kerusuhan yang terjadi, saat melihat asap tebal seperti kebakaran diperumahan.


"Bukannya itu tempat tinggal Vin?"


Randi berlari hingga ia ditahan oleh para prajurit yang menjaga diarea tersebut, ia melihat ada beberapa orang kerajaan yang juga datang disana.


Ia berhasil lepas dsdi genggaman kuat prajurit, Randi berhenti didepan kedai yang sudah berantakan karena dilahap api.


"Ada apa? apa yang terjadi? kenapa? ada apa dengan Vin?"


Karena melihat seorang Pria yang menerobos masuk ke area, dengan tatapan yang sangat menyedihkan, Leon mendekat.


"Anda siapa?" ucap Leon.


Randi menatap Leon, lalu ia berdiri.


"Boleh saya bertanya? ini ada apa?"


Leon sedikit kesal, karena pertanyaanmu sama sekali belum dijawab oleh Randi.

__ADS_1


"Boleh saya tanya dulu? anda siapa?"


Dengan gagap, Randi menjawab, "Saya teman Vin"


__ADS_2