
Agil pergi dari kedua hadapan Randi dan Gilang, ia berlari seraya memangis, berkali-kali ia dibohongi oleh egonya sendiri, membuat ia sangat sulit membedakannya, dimana yang asli dan hanya ilusinya sendiri. Ia mencoba menyadarkan dirinya, berharap ia segera sadar, ilusi ini membuatnya terkadang tidak bisa membedakannya.
Ia sering kali membuat ilusi dari dirinya sendiri, tanpa ia sadar ia terus melakukannya, sampai ia tidak bisa membedakan yang aslinya. Agil masuk kedalam sebuah rumah, ia menyenderkan tubuhnya seraya duduk tergeletak dirumah kosong yang sudah berantakan.
"Dari mana saja kau?" ucap tiba-tiba seseorang datang dari balik pintu.
Agil mendongak, "Refa?"
Refa datang kearah Agil, seraya membawa nampan tak mangkok berisi mie kesukaan Agil, Agil berdiri tidak yakin jika ini memang benar-benar nyata.
Sempat Agil mencoba menampar pipinya untuk sadar, tapi ia masih berada ditempat ini, tapi yang membuat Agil semakin aneh, ilusi yabg ia buat sendiri tidak pernah seperti ini, jadi ini ilusi bukan ilusi Agil.
"Kau kemana saja? kenapa baru pulang?" ucap Refa meletakan nampan dimeja lalu mendekat.
Agil masih terdiam, ia menatap mata Refa yang penuh air mata.
"Kenapa kau terus pergi? kami juga keluargamu disini..." ucap Refa.
Tiba-tiba tubuh Refa jatuh dipelukan Agil, ia memeluk Agil dengan erat.
"Jangan pergi lagi..." bisik Refa.
Tidak, ini bukan refa.....
"Kau tidak merindukan aku?" ucap seseorang datang.
Ayah? ehh..om Salman
"Ayah Gil..." tiba-tiba Refa menyahut seperti tahu isi hatinya, ia membenarkan.
Ayah tirinya mendekat, "Sudah sangat lama kau pergi...." ucap ayah tirinya seraya memeggang kedua tangan Agil.
"Selamat datang kembali kerumah...."
Agil tidak bisa menahan air matanya lagi, ia menangis, ia memejamkan matanya berharap mimpi ini segera berakhir, ia tidak ingin melihat sesuatu yang ia rindukan, membuatnya sakit.
"Hentikan!!!!!!" teriak Agil.
"Hentikan sialan!!!!" umpat Agil seraya ia melempar nampan yang dibawa oleh Refa tadi.
Ia berlari masuk kedalam rumah, ia membuka pintu dengan kasar. Agil masih menangis namun tiba-tiba ia mendengar langkah kaki mendekat kearahnya, membuat Agil tersadar.
"Kenapa kau datang kemari? bukankah tempat mu bukan disini? perjalananmu masih panjang...."
Suara itu sangat Agil kenal, ia mendongak keatas saat kedua orang itu sudah berdiri didepannya. Agil tidak bisa menahan tangisanya saat kedua orang tua kandungnya berada didepannya.
"Sungguh? sungguh aku bertemu dengan kalian?"
Ayahnya menepuk pundak Agil.
__ADS_1
"Kenapa datang kesini?"
Agil menunduk, "Seharusnya aku yang tanya seperti itu dengan kalian, kenapa kalian muncul disini? kalian tidak tahu? aku sedang berjuang? lihat aku!!!! aku sangat menderita kenapa kalian tega meninggalkanku? ha? kalian sudah bahagia disana! sedangkan aku? selama hidup aku tidak pernah bahagia!!!"
Agil terjatuh seraya ia menangis dan berteriak dihadapan orang tuanya. Ibunya duduk lalu ia memeluk tubuh Agil.
"Kenapa? kenapa kau berkata seperti itu? kau harus hidup, harus, banyak orang-orang yang menyayangimu lebih dari apapun! jangan ucapkan kalimat itu lagi!" bisik ibunya.
Agil masih menangis, dadanya sangat sesak.
"Tolong aku.... aku ingin pergi dari dunia ini, mungkin jika bisa aku lebih baik mati dan bertemu kalian!"
"Kau tidak dengar ucapan ibumu? jangan katakan kalimat itu!" ucap ayahnya.
Agil berdiri seraya emosinya sudah diujung.
"Maka! bantu aku keluar dari tempat ini!! kalian tidak mengerti rasanya! karena kalian sudah mati!" pekik Agil.
"Kalian tidak tahu setiap hari aku merindukan kalian, berharap bsia bertemu lagi, memang benar aku bertemu kalian disini tapi....bukan ditempat seperti ini..." bisik Agil menundukan kepalanya.
"Aku kehilangan Randi dan Gilang, dan asal kalian tahu aku bertemu dengan seorang perempuan luar biasa, hingga aku jatuh cinta, tapi pada akhirnya ia pergi untuk selama-lamanya!" ucap Agil, ia mendongak tapi ia terdiam kaget.
Saat melihat kedua orang tuanya sudah tidak ada dihadapannya, ia berlari mencari diseluruh ruangan rumah itu, namun ia tidak menemukan seseorang disana.
Ia tergeletak dilantai seraya menangis dan berteriak, ternyata benar ini hanyalah ilusi semata, tapi.....ia merasakan keanehan karena ilusi yang biasa ia buat tidak seperti ini.
***
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan membuka, Aleris menoleh dan kaget siapa yang datang.
"Kau sudah makan?" ucap Bravogar.
Aleris terkejut tak sengaja dan tak sadar air minum ia tumpah kelantai kamarnya.
"Hei? kenapa kau?" ucap Bravogar.
Aleris melangkah mundur seraya menggeleng-geleng kepalanya.
"Tidak, tidak mungkin...."
"Ada apa? kau kenapa?" ucap Bravogar.
"Ini sungguh kau?" ucap Aleris.
Bravogar mengganguk cepat. Kemudian Aleris berlari dan memeluk tubuh Bravogar. Tapi ia sadar Bravogar sudah tiada, tapi mengapa ia memeluk Bravogar rasanya sangat nyata.
Ia berdiri dan memukul wajahnya sendiri, namun ia merasakan sakit.
"Kenapa aku?...." ucap Aleris.
__ADS_1
Ia berlari meninggalkan Bravogar, ia lari dari kamarnya turun kebawah, dan betapa kagetnya saat ia melihat kedua orang tuanya yang berdiri diambang pintu menatap dirinya yang baru saja datang.
Entah Aleris harus menangis kaget, bahagia atau merasakan keanehan, ini jelas sangat tidak masuk akal, apakah ia sudah mati? sempat terlintas dipikiran Aleris.
"Nak!" panggil ayahnya melambaikan tanganya.
Aleris masih terdiam.
Jika ini mimpi kenapa ini sangat-sangat nyata, sampai aku benar-benar bisa merasakan sakit.
Ibunya tersenyum kearah Aleris membuat Aleris tidak bisa menahan air matanya, yang ada dipikiranya sekarang setelah melihat kedua orang tuanya, ia tidak perduli ini mimpi atau bukan, ia berlari dan kemudian memeluk kedua orang tuanya.
Ia menangis dipelukan kedua orang tuanya.
Aku tidak tahu apakah ini ilusi atau mimpi, tapi aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka dalam keadaan aku yang sudah dewasa, tapi jika aku memang sudah mati dan bertemu dengan mereka, aku tidak akan menyesal, karena tempat yang paling indah sebenarnya disini bersama mereka.
..."Ayo pulang..." ucap Leon yang tiba-tiba datang....
"Pulang?" sahut Leon.
"Ini ilusi iblis, kau tidak tahu?"
Aleris terbelalak, "Sungguh?" pekik Aleris.
"Sudah aku duga jika ada ilusi ilusi seperti ini, pasti aku akan bertemu denganmu..." ucap Leon memalingkan wajahnya.
"Mau bagaimana pun, mau mimpi atau ilusi, aku bertemu dengan ayah dan bunda...."
Leon menatap tajam Aleris, ia mendekat dan menampar wajah Aleris.
"Dengar, mereka bukan ayah dan bunda! ini ilusi yang dibuat iblis!"
Aleris menundukan wajahnya, "Tapi kau tidak rindu mereka? setidaknya kita bisa melihat mereka saat diusia kita yang sudah dewasa ini...." ucap Aleris.
Leon memalingkan tubuhnya, seraya kedua tangan ia lipat didepan dada.
"Aku tidak akan mudah dibohongi, jika mereka bukan ayah dan bunda asli, maka aku tidak bisa, tidak bisa merindukan mereka..."
"Kau sudah tidak ingat ayah bunda ya?" ucap Aleris.
Leon masih membelakangi Aleris, raut wajahnya berubah.
"Lupakan!" ucap Aleris beranjak pergi.
Leon menoleh ke arah kedua orang tuanya, ia menangis.
"Kenapa ya? setiap aku bertemu Aleris aku pura-pura tegar? apakah ayah dan bunda tahu alasannya? kenapa aku sok kuat dihadapanya? kenapa aku begitu?"
Ibunya mengelus kepala Leon, "Kadang kau harus begitu, tapi kau ingat jangan pernah sendiri, jika kau sedih keluarkan saja jangan dipendam....."
__ADS_1
Ayahnya mendekat dan menepuk pundak Leon, "Jaga adikmu, jangan jauh-jauh darinya..."